Komentar saya: Rupiah akan terus melorot, karena pemerintah tidak berlakukan
Blanket Guarantee, maka importer/ exporter tidak berani menyimpan duitnya
didalam negeri, dana tersebut diparkir di LN, akibatnya dollar makin langka
sementara permintaan bertambah demand/suplly . Disamping sekarang akan masuk
bulan Desember kebutuhan akan devisa akan makin banyak apalgi 2009 ada
PilPres maka rupiah semakin loyo. Tapi diharapkan prediksi saya tersebut
akan meleset, sehingga rupiah akan menguat lagi setidak tidaknya mendekati
10rb/dollar.

Copas dari SP.

 

Saham Asia dan AS Anjlok Lagi, Rupiah Tembus 13.100/dolar AS

 

SP/Ignatius Liliek
Nasabah mengambil uang dolar AS di ATM dolar BII, di Jakarta, Kamis (20/11).
Pada pembukaan perdagangan valas hari ini, rupiah makin terperosok 250 poin
ke posisi Rp12.200 per dolar AS. [WASHINGTON] Harga-harga saham di Asia dan
Amerika Serikat kembali anjlok, menyusul turunnya harga minyak dunia hingga
di bawah US$ 50 per barel. Harga saham juga terpengaruh oleh pernyataan
Pemerintah Taiwan dan Singapura yang memperkirakan mereka akan mengalami
kontraksi ekonomi, sedangkan Amerika Serikat menyebutkan bahwa tingkat
pengangguran mereka mendekati angkat tertinggi dalam 26 tahun belakangan
ini. Keadaan tersebut, sebenarnya kembali memberi tanda akan makin menyeret
ekonomi global semakin dalam. Tidak heran bila Presiden Bank Dunia
memperingatkan, jangan sampai krisis finansial ini beralih ke krisis
kemanusiaan. "Kami harus mengingatkan bahwa akibat krisis ini negara-negara
miskin telah menghadapi kesulitan yang serius," kata Robert Zoellick,
Presiden Bank Dunia, Kamis (20/11) di Frankfurt, Jerman, pada Forum Bank
Dunia Jerman ke-10. Karena itu, menurutnya, tindakan yang diluncurkan oleh
pertemuan G-20, akhir pekan lalu di Washington, Amerika Serikat, untuk
mengasah kembali arsitek finansial internasional telah memberikan harapan.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali turun sampai sempat di
bawah US$ 50 per barel di London dan New York pada perdagangan Kamis waktu
setempat. Penurunan itu akibat melemahnya permintaan. Di New York, minyak
jenis light sweet, untuk pengiriman Desember, merosot menjadi US$ 49,91 per
barel. Ini adalah harga terendah sejak 18 Januari 2007. Minyak jenis Brent
North Sea di London, untuk pengiriman Januari 2009 turun menjadi US$ 48,20
per barel. Kontrak telah ditutup di posisi US$ 51,72 per barel pada Rabu
(19/11). Di bursa Tokyo Indeks Nikkei 225 turun 2,8 persen menjadi 7.487,09.
Di Amerika Serikat, Indeks Standar & Poor 500 anjlok 6,7 persen. Ini
merupakan angka terendah dalam 11 tahun. Sedangkan Dow Jones, turun 445 poin
atau 5,6 persen mencapai titik terendah sejak Maret 2003. Penurunan itu
membuat Dow Jones, dalam dua hari ini, turun sebesar 873 poin (10,6 persen).
Keadaan tersebut, ditambah turunnya harga minyak dunia semakin
mengkhawatirkan Pemerintah AS atas program penyelamatan ekonomi dalam negeri
mereka. Sementara itu, pelemahan rupiah semakin signifikan pada perdagangan
sesi pagi, Jumat (21/11). Hingga pukul 10.30 WIB, rupiah tercatat menembus
level Rp 13.100/dolar AS. Sentimen negatif yang terus bermunculan mengenai
meluasnya krisis global dari AS ke Eropa dan negara-negara maju di Asia,
membuat pelaku pasar memilih menahan dolar untuk mengantisipasi kondisi
perekonomian ke depan yang belum pasti. Hal itu, membuat rupiah tak mampu
melawan tekanan dolar AS. Pada perdagangan valas pukul 07.45 WIB, data CNBC
menunjukkan rupiah melemah 250 poin ke posisi 12.200 per dolar AS. Pada
penutupan perdagangan Kamis, rupiah berada di level 11.945/dolar AS. "Pelaku
pasar domestik dan global cenderung melihat potensi terjadinya krisis yang
semakin parah, jadi untuk aman mereka mengoleksi dolar sebagai antisipasi
kondisi ke depan," kata analis pasar uang, Toni Maryano dari Integral
Investama, kepada SP. Dia menjelaskan, dalam kondisi seperti sekarang, mata
uang dolar menjadi pilihan investasi yang paling aman karena sewaktu-waktu
dapat dikonversi ke mata uang apa pun dengan nilai yang tinggi. Selain itu,
kondisi bursa dan sektor rill juga sedang terpuruk, sehingga pelaku pasar
tidak memiliki alternatif investasi lain yang tetap menjanjikan keamanan.
Sedangkan instrumen obligasi, cenderung tidak likuid, sehingga tidak dapat
dengan mudah ditransaksikan, jika sewaktu-waktu pelaku pasar membutuhkan
cash (dana tunai). Pelemahan rupiah juga diikuti indeks harga saham gabungan
(IHSG). Pada perdagangan sesi pagi, IHSG langsung terkoreksi ke zona negatif
mengikuti bursa regional Asia. Pelaku pasar ramai-ramai melepas saham dan
memilih keluar dari bursa. Hal itu, tercermin dari volume saham yang
ditransaksikan mencapai 1,061 miliar lembar, namun nilainya hanya Rp 366,4
miliar. Hingga pukul 10.45, IHSG tercatat melemah 45,788 poin (3,96%) ke
level 1.109,108. Saham-saham Grup Bakrie masih menjadi pemicu pelemahan IHSG
karena terus alami tekanan jual. [DPA/Ant/AFP/AP/Bloomberg.com/E-4/J-9]

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke