Kiriman dari teman, semoga bermanfaat.... ----- Original Message ----- From: altaufan_riza To: saidi Sent: Tuesday, November 25, 2008 8:57 AM Subject: Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA
Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA
KOMPAS IMAGES
Dubes Inggris Archibald Ford (kiri) ketika menyampaikan nota diplomatik tentang
kebijaksanaan baru pemerintahnya kepada Menlu Adam Malik, disaksikan Dirjen
HESBLN Deplu Dr BS Arifin (kanan) pada 1975.
/
Artikel Terkait:
a.. Sutiyoso Terima Adam Malik Award 2008
Senin, 24 November 2008 | 08:04 WIB
JAKARTA,SENIN-Adam Malik, wakil presiden kedua RI disebut-sebut sebagai agen
CIA (Central Intelligence Agency/dinas rahasia AS). Pahlawan nasional ini
bahkan disebut sebagai pejabat tertinggi yang pernah direkrut CIA di Indonesia.
Adam Malik yang dijuluki Si Kancil ini mendampingi Presiden Soeharto pada
periode 1978-1983. Salah satu pendiri LKBN Antara ini pernah menjadi diplomat
kunci dalam kebijakan luar negeri RI awal Orde Baru dan dubes untuk Uni Soviet.
Ia meninggal pada September 1984 atau setahun setelah tidak menjabat wakil
presiden.
Keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA itu disebutkan wartawan New York
Times, Tim Weiner, dalam bukunya Legacy of Ashes, History of the CIA
(diterjemahkan menjadi Membongkar Kegagalan CIA).
Dalam buku itu, Weiner mengutip pernyataan pejabat tinggi CIA Clyde McAvoy
dalam wawancara pada 2005 yang menjadi bahan buku itu. Disebutkan, McAvoy
bertemu Adam Malik pada 1964, atau setahun sebelum prahara politik September
1965. ”Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” kata McAvoy dalam wawancara
waktu itu.
McAvoy mengatakan, setelah berhasil merekrut Adam Malik, ia mendapat
persetujuan untuk meningkatkan program rahasia buat mendorong persetujuan
operasi rahasia di Indonesia, terutam terkait dengan persaingan di spektrum
politik kanan dan kiri.
Weiner, menyebut setelah Adam Malik direkrut Clyde McAvoy menjadi agen CIA, ia
berperan menggulingkan Soekarno, dan menumpas PKI. CIA pun membentuk trio yang
kelak berkuasa pascatumbangnya Soekarno, yakni Adam Malik, Sultan
Hamenglubuwono IX, dan Soeharto.
"Sang Duta Besar mengatakan dia bertemu dengan Adam Malik "di sebuah lokasi
rahasia" dan mendapatkan "gambaran sangat jelas tentang apa yang dipikirkan
Soeharto dan Adam Malik, serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan" buat
membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka
pimpin, yang disebut Kap_gestapu," tulis Tim Weiner (halaman 331).
Pada pertengahan Oktober 1965, Adam Malik mengirimkan seorang pembantunya ke
kediaman perwira politik senior Kedubes AS, Bob Martens, yang pernah bertugas
di Moskow, kota tempat Adam Malik pernah bertugas sebagai duta besar.
Martens menyerahkan kepada utusan Adam Malik itu sebuah daftar yang tidak
bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah daftar yang telah
dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar. "Dokumen itu sama sekali bukanlah
daftar orang yang akan dibunuh," ujar Martens.
Klaim bahwa Adam Malik merupakan agen CIA sangat diragukan sejarawan Asvi
Marwan Adam. Asvi beranggapan, selain bahwa klaim itu tidak didukung dokumen
yang kuat dan saksi, Adam Malik juga telah meninggal. "Jadi ini hanya
pernyataan sepihak pada seseorang yang sudah tidak mungkin memberikan
konfirmasi atau jawaban," ujar Asvi, Minggu (23/11).
Asvi menduga, klaim McAvoy untuk itu demi mendongkrak popularitasnya saja.
"Akan terdengar luar biasa kan kalau seorang petinggi negara lain pernah dia
jadikan agen. Mungkin dia hanya cari nama saja,” kata Asvi.
Asvi juga menyorot bagian dalam buku itu yang menyebut bahwa CIA menggelontor
dana sebesar 10.000 dolar AS pada rezim yang dikendalikannya untuk menumpas
PKI. "Amerika Serikat berkepentingan dengan pemberantasan komunis, mereka bukan
hanya menyumbang uang tapi juga senjata," ujarnya.
Atas terbitnya buku itu, kata Asvi, keluarga Adam Malik dan pemerintah harus
bersikap, antara lain dengan mengeluarkan bantahan. Alasan Asvi, Adam Malik
adalah tokoh yang harus dijaga nama baiknya. Apalagi saat ini akan dibangun
bandara udara di Sumatera Utara bernama Adam Malik. Penarikan buku dari
peredaran, kata Asvi juga bisa jadi alternatif untuk menghentikan tuduhan pada
Adam Malik ini.
"Mungkin pemerintah melalui departemen sosial dan menteri sekretaris negara
harus membantah, kalau perlu menanyakan kepada penulisnya apa bukti, dokumen
atau saksi atas pernyataan yang dibuatnya," ujar Asvi.
Sepakat dengan Asvi, pengamat intelijen Wawan Purwanto mengatakan rekrutmen
agen CIA tidak mudah dan dilakukan dengan sangat rahasia. Dokumen rekrutmen itu
pasti ada.
"Paling tidak ada surat tugas atau surat keputusan yang jelas tentang
kebaradaan agen tersebut," ujarnya.
Namun Wawan tidak sepakat dengan gagasan penarikan buku. "Kalau dilakukan akan
memperlaris buku, sebab orang jadi bertanya-tanya apa isi buku itu," ujarnya.
Menurutnya, yang bisa dilakukan keluarga dan pemerintah adalah klarifikasi.
Misalnya dengan menerbitkan buku putih atau paling tidak konferensi pers untuk
membantah tuduhan ini.
Gagasan penarikan buku juga dipandang sebelah mata oleh Kejaksaan Agung
(Kejagung) yang lebih suka menyerahkan masalah itu kepada keluarga Adam Malik.
"Itu masalah pribadi. Belum bisa dikategorikan sebagai menggangu ideologi,
politik, sosial, budaya dan pertahanan-keamanan," tegas Kepala Pusat Penerangan
Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Jasman Panjaitan.
Lagi pula, menurut Jasman, buku Membongkar Kegagalan CIA tidak termasuk dalam
barang cetakan yang mengganggu ketertiban umum yang selama ini dijadikan
patokan Kejagung untuk membredel buku. Kendati demikian, apabila pihak keluarga
Adam Malik merasa keberatan, mereka bisa mengadukan ke Kejagung.jbp/yls/ti
Nilai 5 - Beri Rating Artikel - ---------- Sangat Baik Baik Cukup Kurang
Sangat Kurang A A A
Ada 17 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
amor @ Senin, 24 November 2008 | 10:19 WIB
P'Asvi..klo ingin klarifikasi ato counter yang dengan wacana/ opini publik yg
membangun bukannya dgn penarikan/pembredelan buku...itu melanggar hak
intelektual..kalo anda tak sepakat yg fair caranya..
pemudagagah @ Senin, 24 November 2008 | 10:19 WIB
namanya agen rahasia, semua boleh berpendapat yang belum tentu benar
gun @ Senin, 24 November 2008 | 10:13 WIB
pasti dibantah dong pahlawan nasional kok agen cia krn belum ada bukti
Neo @ Senin, 24 November 2008 | 10:09 WIB
Jika wujud negara yang kita inginkan seperti yang ada sekarang ini (Bebas dari
PKI/Komunis), maka yang dilakukan oleh para pendahulu kita pada erah tahun
65-67 adalah benar. Hidup Pancasila! Hidup Indonesia!
route @ Senin, 24 November 2008 | 10:01 WIB
Yg pasti lebih hebat dari kasus Munir. Sampe begitu lama ngga ketahuan, ini
juga karna dibocorin. Kalo kasus Munir mah operasi baru belajar. Masa ninggalin
jejak komunikasi no telp.<<logo_surya.gif>>
<<reg_pol.gif>>
<<icon_digg.gif>>
<<icon_delicious.gif>>
<<icon_reddit.gif>>
<<icon_stumble.gif>>
<<star.gif>>
<<icon_print.gif>>
<<icon_mail.gif>>
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
