________________________________

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, December 09, 2008 8:33 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Saksi] Di Ujung Ekstrimitas

 


Di Ujung Ekstrimitas 

Di ujung segala ekstrimitas selalu ada bencana. Tapi juga kesadaran
untuk kembali ke jalan keseimbangan. Dahulu kita merindukan kebebasan.
Kemudian kita kewalahan mengendalikan kebebasan itu sendiri. Kita
kemudian sadar bahwa kebebasan ternyata memerlukan batasan. Dahulu kita
ingin ada partisipasi politik yang demokratis dan kesempatan yang luas
untuk berserikat. Kemudian kita menyadari betapa tidak sederhana
membangun masyarakat dengan ratusan partai. 

Dahulu orang merindukan kesendirian dan privacy yang mutlak. Kemudian
lambat laun orang merasa sepi serta merindukan kegembiraan kolektif
serta ketersambungan social. Pada suatu masa kita menginginkan
kemandirian ekspresi, menolak peran ulama atau pembimbing agama, atas
nama hak asasi dan independensi. Kemudian setelah segalanya melaju ke
jurang kekacauan, dengan malu-malu kita merasa perlu dengan nasihat
agama. 

Dahulu kita mengejar kecepatan demi kecepatan. Kemudian kita merindukan
penghargaan kepada jenak-jenak yang lambat. Tidak selalu dalam
pengertian malas. Tapi kesempatan untuk meresapi, waktu untuk
menghayati, dan jenak untuk memberi makna yang lebih mendalam atas
segala tindakan yang kita ambil. 

Pada akhirnya hidup tidak akan bisa dijalani di ujung-ujung ekstrimitas.
Kita memang makhluk ambigu. Tapi ambiguitas penciptaan adalah modal
untuk mengendapkan keseimbangan. Bukan untuk hidup di ujung-ujung
ekstrimitas. 
Seperti itu pula cara kita menatap beban berat kehidupan bersama di
negeri ini. Setiap entitas kita memang punya identitas. Kita larut
menonjolkan keakuan. Tapi diakui atau tidak, lambat laun kita merasa
betapa terlalu berat beban itu untuk kita tanggung sendiri. Terlalu
melelahkan untuk kita hadapi sendiri-sendiri. Krisis ekonomi kedua yang
terus melambai paksa semakin menjelaskan satu logika besar: bahwa
membangun negeri ini memerlukan spirit kebersamaan yang luar biasa. 

Bersatu tanpa perbedaan memang mustahil. Tetapi berbeda bukan berarti
tak bisa bekerjasama. Siapapun tidak akan bisa mengurus negeri ini
sendirian. Landscape kehidupan kebersamaan ini tidak bisa dimonopoli
oleh persepsi tertentu atau pihak tertentu. Ini bukan domain pemerintah
sendirian. Atau partai maupun ormas saja atau pengusaha semata. Bahkan
tentara dan intelijen sekalipun. Bedil dan senapan mungkin bisa
menghalau demonstran atau membunuh separatis, tapi sesudah itu
bagaimana? 

Perjalanan terberat akan dimulai dari definisi kita tentang diri kita
sendiri. Bila pemerintah menganggap setiap kritik adalah oposisi yang
mengganggu, aparat keamanan menganggap potensi kebaikan sebagai bibit
subversif, umat Islam menganggap segala yang datang dari orang lain
harus ditolak, masyarakat selalu apatis kepada segala harapan, maka
mimpi tentang Indonesia masa depan akan mati sebelum lahir. Dibunuh oleh
kegagalan kita mendefinikan identitas diri kita sendiri. Juga kegagalan
kita untuk tidak terseret ujung ekstrimitas keakuan yang angkuh. 

From: Majalah Tarbawi 
Edisi 192 th 10, Dzulhijjah 1429 

_______________________________________________
EMAIL DISCLAIMER 
 
This email and any files transmitted with it is 
confidential and intended solely for the use of 
the individual or entity to whom it is addressed. 
Any personal views or opinions stated are solely 
those of the author and do not necessarily 
represent those of the company. 
 
If you have received this email in error 
please notify the sender immediately. 
Please also delete this message and 
attachments if any from your computer. 
_______________________________________________
_______________________________________________
Saksi mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://ji-indonesia.com/mailman/listinfo/saksi_ji-indonesia.com
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke