hitam dan putih itu nyata berbeda, spt halnya pahit & manis.
samakah si kulit hitam & si kulit putih bagi AS?
kalau iya, berarti ladang jihad masih seluas yg dulu ...
salam,
Fahru
---
Jumat, 02 Januari 2009 pukul 11:05:00
Obama Tetap Bungkam Menurut pengamat, sikap diam mencerminkan kehati-hatian
sekaligus kuatrnya lobi Zionis.
WASHINGTON
-- Presiden terpilih AS, Barack Obama tetap bungkam atas serangan
Israel ke Jalur Gaza yang kemarin telah memasuki hari keenam. Ia yang
masih berlibur di Hawaii, mengabaikan tekanan agar segera bersuara
merespons serangan Israel yang telah menewaskan 380 orang itu. Padahal
sebelumnya, ia segera berkomentar atas serangan di Mumbai, India pada
26 November 2008 lalu. Direktur Conflicts Forum, Washington, Mark
Perry, kepada Aljazeera mengatakan sikap diam Obama seakan memperlihatkan
keterlibatannya dalam serangan itu.
''Sikap
diamnya, terlihat seperti ia terlibat. Obama pernah mengatakan, Israel
berhak mempertahankan diri dari serangan roket (Hamas). Namun
pertanyaan saya, apakah ia percaya bahwa rakyat Palestina juga memiliki
hak mempertahankan diri?'' tanya Perry.
Banyak kalangan di AS
mendesak Obama untuk bersuara mengenai serangan di Gaza. Pada Senin dan
Selasa lalu, kantor pemerintahan transisi Obama di Washington, dan
rumah tempat Obama berlibur di Hawaii, didemo. Pengunjuk rasa meminta
Obama bertindak.
''Pemerintahan Obama bekerja sama dengan
Bush. Tak ada alasan mereka tak bisa bekerja sama untuk mewujudkan
sesuatu terjadi,''kata Mike Reitz, seorang pegawa pemerintah federal
saat berunjuk rasa di depan kantor pemerintahan transisi Obama, terkait
serangan Israel atas Gaza.
Pengunjuk rasa lain, Reza
Aboosaiedi, juga menyesalkan sikap bungkam Obama. ''Inikah perubahan
yang Anda (Obama, red) bicarakan?'' tanyanya. Namun ada sebagian orang
lainnya yang masih melihat harapan pada Obama dan yakin Obama bisa
membuat perbedaan.
''Menurut saya, ia akan lebih aktif
dibandingkan Bush dalam upaya mendorong agar Israel dan Palestina
melakukan pembicaraan damai. Saya memang tak tahu pasti. Namun saya
seorang yang memiliki rasa optimistik,'' kata Bob Malone, seorang
pengacara.
Menurut sejumlah pengamat, sikap diam Obama
merupakan sikap kehati-hatian Obama dalam memberikan respons. Tak hanya
itu, sikap ini juga diyakini sebagai pengaruh dari kuatnya lobi Zionis
atas dirinya. Termasuk saat terpilihnya dia menjadi presiden. Hassan
Nafaa, Sekjen Arab Thought Forum, memperkirakan Obama akan terus diam.
''Ia
ingin berhati-hati dalam memberikan respons atas masalah ini. Saya
pikir dia akan tetap berhati-hati sebab konflik Arab-Israel bukan
menjadi prioritasnya,'' katanya.
Sedangkan Hilal Khashan,
pengamat politik dari American University of Beirut, mengatakan posisi
Obama memang sulit. ''Lobi Yahudi mengingatkan keberhasilan terpilihnya
dia menjadi presiden dan maka ia memilih tetap diam,'' ungkapnya.
Selama
masa kampanye pemilihan presiden, Obama memang beberapa kali menyatakan
dukungannya terhadap Israel. Ia juga mengatakan Israel merupakan sekutu
terbesar AS dan menyerukan untuk menjamin keamanan Israel.
Obama
bahkan menyatakan kepada kelompok lobi Zionis bahwa Jerusalem mestinya
tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Isarel. Pada Juli 2008, ia
melakukan kunjungan ke Sderot, kota paling dekat dengan Gaza, untuk
memberikan dukungan kepada warga di sana. Saat kunjungan tersebut,
Obama diperlihatkan roket-roket Palestina yang ditembakkan ke Sderot.
''Obama mengatakan jika roket-roket ditembakkan ke rumahnya pada saat
dua anak perempuannya sedang tidur, ia akan melakukan apa pun yang ia
bisa untuk mencegahnya,'' kata Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak.
reuters/fer
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam