israel,
makin latah pamer kekuatannya semakin kalah. insya Allah ...
a'dzubillahimin asyaithaani rajiim,
Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu
kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka membuat ma'siat
dengan sungguh-sungguh, maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan
siksa terhadap mereka,karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya
(hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti. (Maryam:83-84)
salam,
Fahru
---
Mengapa Israel Tak Mungkin Menang
Perang Israel melawan Hamas telah menjadi semakin
berisiko. Israel tetap menggempur Jalur Gaza kendati Dewan Keamanan PBB
telah mengeluarkan Resolusi Nomor 1860 yang menyerukan gencatan
senjata. Bagaimana konflik di Jalur Gaza itu akan berakhir?
Majalah Time menurunkan laporan mengenai mengapa Israel tidak bisa memenangi
pertempuran itu.
Faktanya,
apa yang didapat Israel tampaknya semakin kecil dibandingkan dengan
ongkos yang semakin besar. Ketika melancarkan serangan ke Jalur Gaza
pada 27 Desember 2008, ”cita-cita” Israel adalah melihat para komandan
Hamas keluar dari bungker-bungker di bawah tanah dengan tangan
terangkat ke atas.
Sayangnya, yang didapat Israel pada akhirnya
justru tidak memuaskan. Akhir yang realistis paling-paling hanya
gencatan senjata yang menyisakan Hamas yang terluka tetapi tetap hidup
dan mampu bangkit kembali. Israel pun hanya bisa sementara waktu aman
dari gangguan.
Serangan membabi buta ke Jalur Gaza hanya akan
menurunkan kemampuan Hamas untuk menembakkan roket ke Israel. Namun,
serangan itu tidak akan bisa memadamkan semangat ideologi Hamas.
Kalaupun
ada keuntungan bagi Israel, jika benar-benar bisa menghentikan tembakan
roket Hamas, adalah bagi para politisi yang akan maju pemilu nasional,
bulan depan, seperti Menteri Luar Negeri Tzipi Livni atau Menteri
Pertahanan Ehud Barak. Tidak lebih.
Barangkali, yang lebih
mengancam Israel saat ini bukanlah tembakan roket itu sendiri,
melainkan kekuatan untuk menggertak (power of detterence) Israel yang
mulai diragukan.
Semula kekuatan penggertak itulah yang menjadi
kunci bagi Israel untuk menjaga lawan-lawannya tetap berada di sudut
yang jauh. Kekuatan itu mulai terkikis tahun 2006 saat Hezbollah di
Lebanon selatan mampu bertahan dari gempuran Israel.
Seperti
halnya Hezbollah, Hamas akan menyatakan dirinya menang. Hamas
menunjukkan diri mampu bertahan menghadapi gempuran langsung dari
kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Justru Israel berisiko
kehilangan sekutu-sekutu Arab, yang semula telah melunak dan bersedia
mengakui Israel. Bagaimana mungkin kini mereka mau bekerja sama dengan
Israel saat mendapati saudara-saudara Arab mereka dibantai di Jalur
Gaza.
Tidak kalah
Satu hal yang perlu diakui
para pemimpin Israel adalah Hamas tidak akan bisa dikalahkan dengan
kekuatan militer. Pelajaran dari serangan terhadap Hezbollah tentu
tidak mudah dilupakan Israel.
Israel harus merangkul Hamas
secara politik. Itu artinya, Israel harus bersedia berurusan dengan
semacam pemerintahan persatuan yang meliputi Hamas di dalamnya.
Apalagi
Israel juga harus menghadapi kenyataan bahwa negara yang
dicita-citakannya, negara Yahudi yang terbentang dari Sungai Yordan
hingga Laut Mediterania, tidak akan terwujud tanpa berdirinya negara
Palestina yang merdeka.
Israel harus berhitung dengan populasi
Yahudi di negaranya yang suatu saat bisa kalah jumlah oleh bangsa Arab
di tanah itu. Israel, yang mendefinisikan diri melalui kepercayaannya,
yaitu Yahudi, tentu tidak ingin melihat kaumnya menjadi minoritas di
tanah mereka sendiri.
Mantan PM Israel yang paling keras
sekalipun, Ariel Sharon, takut akan hal ini. ”Jika kita ingin
melestarikan Yahudi dan demokrasinya, kita harus melepaskan sebagian
tanah air kita,” katanya.
Kompromi menyakitkan
Artikel di majalah Newsweek edisi
12 Januari 2009 menyebutkan, ada empat persoalan utama yang perlu
segera diselesaikan, yaitu soal wilayah, keamanan, status Jerusalem,
dan pengungsi Palestina. Mengurai persoalan dan mencari solusi
menang-menang harus dimulai kembali dari keempat persoalan pokok itu
yang kini malah terabaikan sejak tahun 2000.
Kompromi yang
menyakitkan bagi kedua pihak harus ditempuh jika perdamaian abadi ingin
diwujudkan. Fakta bahwa Ehud Olmert bersedia bernegosiasi, Presiden
Palestina Mahmoud Abbas juga bersedia berunding, menggarisbawahi
hubungan keduanya. Yakni, hanya ada satu jalan menuju perdamaian, kedua
pihak mengetahui jalan itu, tetapi keduanya tidak bersedia untuk
menjalaninya.
”Waktu tidak lagi berada di pihak Israel,” demikian Newsweek.
Sejauh
ini, pertumpahan darah di Gaza tidak banyak mengubah perimbangan. Hamas
kehilangan banyak secara fisik, tetapi dia memenangi simpati. Namun,
bukan tidak mungkin warga Gaza juga mempertanyakan, untuk apa semua
penderitaan yang mereka alami.
Majalah The Economist edisi 3-9
Januari 2009 menyebutkan, ada konsesi yang diperoleh warga Gaza,
seperti pelonggaran blokade oleh Israel yang telah membuat mereka
menderita secara ekonomi. Gerbang perbatasan dengan Mesir pun
kemungkinan akan dibuka.
Selama 60 tahun, konflik mendera tanpa
ada akhir. Dewan Keamanan PBB sekalipun tidak digubris. Kekerasan akan
menjadi lingkaran yang tidak terputus di wilayah itu selama tidak ada
ruang bagi kompromi dan ketulusan.(fro)
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam