afwan, ada 2 berita bagusnya: 

1. kesaksian org2 yg bebas dr keterlibatan konflik (insya Allah fair & jujur)
2. isyu Gaza jatuh ke tangan yahudi ternyata bohong belaka

utk semakin meyakinkan saja, bahwa mereka berupaya menciutkan nyali & mental
para pendukung mujahid lewat berita negatif. sejatinya mereka sadar, do'a ummat 
Islam itu seantero dunia itu bukanlah senda gurau. walau mungkin semudah bacaan 
al-Fatihah utk jama'ah muslim di sana, setiap lafadznya pasti Didengar-Nya.

mudah2an kita senantiasa terikat bathin dgn mereka sepanjang masa ...


a'udzubillahi min asyatahaani rajiim,

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua 
golongan 
(yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak 
mempunyai kekuatan semnjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk 
membenarkan 
dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan 
yang 
hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang 
berdosa (musrik) 
itu tidak menyukainya. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada 
Tuhanmu, 
lalu diperkenankan-Nya bagimu :"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan 
kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut". Dan Allah tidak 
menjadikannya 
(mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimua 
menjadi 
tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. 

Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Anfal:7-10)



salam,
Fahru
---
Dokter Yordania: Kota Gaza Belum Jatuh

Minggu, 18 Januari 2009 | 04:17 WIB
RAFAH, MINGGU - Sebuah
kesaksian dari sejumlah dokter Yordania yang selama sepekan berada di
Kota Gaza, Palestina menyebutkan kota yang menjadi pusat pemerintahan
pejuang Hamas itu belum jatuh ke tangan agresor Israel.
     
"Israel
hanya menguasai pinggiran di jalur utama di Gaza," kata dr Hosam Zaga,
relawan kemanusiaan dari Yordania, setelah tiba di pintu gerbang Rafah,
perbatasan Mesir-Palestina, Sabtu petang pukul 17.00 waktu setempat
(22.00 WIB).
     
Bersama dengan dokter lainnya, mereka bekerja
di Rumah Sakit (RS) As-Shifa di Kota Gaza guna membantu menangani warga
Palestina yang mengalami luka-luka akibat agresi negara Zionis itu.
     
Ia
mengemukakan, setelah Israel menyerang Gaza dengan bombardir bom yang
dijatuhkan dari pesawat tempur sejak tanggal 27 Desember 2008, pasokan
listrik dan air terhenti sehingga rakyat Palestina kian menderita.
    
"Listrik
dan air hanya ada di RS As-Shifa, sedangkan di tempat lain, semuanya
terhenti pasokannya," tambah dr Hamdi, sejawat Hosam Zaga. Menurut dia,
saat ini tenaga dokter dengan spesialisasi bedah tulang (ortopoedi)
juga amat dibutuhkan karena banyak korban luka patah tulang.

Relawan Indonesia
     
Sementara
itu, "Medical Rescue Commite" (MER-C) Indonesia, menjadi tim pertama
asal Indonesia yang akan masuk ke Jalur Gaza di Palestina. Tim yang
terdiri atas tiga dokter dan seorang yang bertugas mendukung keperluan
logistik itu masuk ke gerbang perbatasan Kota Rafah, sekitar pukul
15.20 waktu setempat ( 20.20 WIB), Sabtu.
      
Relawan yang
masuk itu --setelah mendapat rekomendasi KBRI Kairo, Bulan Sabit Merah
Mesir dan Mendagri Mesir-- adalah Presidium MER-C dr Jose Rizal
Jurnalis, SpOT, dr Indragiri, SpAN, dr Syarbini Abdul Muradz dan Moh
Mursalim (logistik).
      
Sedangkan satu anggota relawan
lainnya Ir Faried Thalib (logistik), yang juga sudah mendapat izin
masuk, tetap tinggal di Kairo dan El-Arish, karena harus
mengoordinasikan bantuan yang akan dikirim masa mendatang, seperti
mobil ambulans dan obat-obatan.
      
Setelah melalui prosedur
pemeriksaan dokumen yang dibutuhkan, empat relawan MER-C Indonesia itu
dipastikan menyebrang masuk ke Rafah Palestina untuk menuju Jalur Gaza.
Pada pukul  17.10 waktu setempat  (22.10 WIB) dengan menggunakan bus
"Gaza City" dengan nomor 08-2822616, tim relawan itu dipastikan sudah
menyebrang dari wilayah Mesir dan masuk ke Palestina.
      
Jose
Rizal Jurnalis menyebut tim pertama itu sebagai "tim bedah", dan akan
bertugas warga Palestina yang banyak mengalami luka dalam dan patah
tulang.
      
"Tim ini akan mencari informasi kebutuhan apa yang
paling dibutuhkan," katanya. Tim relawan Indonesia itu, setelah naik
bus kemudian dipindahkan ke mobil ambulan untuk menuju Jalur Gaza.


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke