Ini judulnya “Latihan Sholat” atuh…. JJ

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of saidi
Sent: Tuesday, February 10, 2009 1:56 PM
To: [is-lam]
Subject: [is-lam] Fw: Mengukur kadar keimanan

 

 

----- Original Message ----- 

From: Suzarah <mailto:[email protected]>  

To: undisclosed-recipients: 

Sent: Monday, February 09, 2009 3:21 PM

Subject: Mengukur kadar keimanan

 

Mengukur kadar keimanan

Sering kita merasa sudah menjadi orang yang beriman karena sudah sudah masuk 
Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat atau mempercayai apa-apa yang 
dinyatakan dalam rukun iman. Padahal keimanan harus dibuktikan dengan 
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya.

Di dalam ayat-ayat Al Qur'an, banyak disebutkan perintah dan larangan yang 
harus ditaati agar kita menjadi orang yang beriman, misal:

􀂃 Harus berpuasa (Al Baqaran [2]: 183)

􀂃 Harus banyak berzikir. (Al Ahzab [33] : 41)

􀂃 Harus menjadi saksi yang adil (Al Maa'idah [5] : 8)

􀂃 Dilarang merendahkan orang (Al Hujuraat [49] : 11)

􀂃 Dilarang menyakiti orang yang diberi sedekah (QS Al Baqarah [2] : 264)

Ayat-ayat tersebut, umumnya diawali dengan kata panggilan, "Hai orang-orang 
yang beriman …". Jika perintah dan larangan tersebut diabaikan, maka bisa 
dikatakan kita tidak termasuk orang yang beriman, karena kita bukan orang yang 
terpanggil oleh ayat-ayat itu. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita, dapat 
diukur dengan seberapa lapangnya hati kita mengikutinya. Orang yang tinggi 
imannya akan melaksanakan perintah dan larangan tersebut dengan senang hati. 
Mereka yakin, perintah dan larangan tersebut pasti sesuatu yang baik bagi 
dirinya sendiri. Selanjutnya, perintah dan larangan tersebut akan menjadi sikap 
hidupnya sehari-hari. Orang yang lebih rendah imannya akan melaksanakan 
ayat-ayat tersebut karena takut dosa dan neraka. Dia akan melaksanakan ayat 
tersebut meskipun terasa tersiksa hidupnya. Sedang orang yang rendah imannya 
akan menganalisa dan melakukan banyak pertimbangan untung-ruginya, sebelum 
melaksanakannya. Dia memilih ayat-ayat yang menguntungkannya, seolah-olah dia 
lebih pandai dari pada Allah dalam mengatur alam semesta.

Selain itu, ada juga ayat-ayat bukan berupa perintah atau larangan, tetapi 
banyak juga ayat-ayat yang menggambarkan suasana kejiwaan dan sikap orang yang 
beriman. Ayat-ayat tersebut juga penting kedudukannya dalam Al Qur’an, karena 
dengan bercermin kepada ayat tersebut, kita juga dapat mengetahui sampai dimana 
kadar keimanan kita. Apakah diri kita memiliki ciri seperti orang yang 
dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut., misal:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian 
mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka 
tiada (pula) berduka cita. (QS Al Ahqaaf [46] : 13)

Salah satu ciri orang beriman adalah tidak pernah merasa khawatir dan tidak 
pula berduka cita. Hidupnya selalu bahagia. Kebahagiaan itu sudah dirasakan 
sejak hidup di dunia hingga nanti diakhirat. Mereka sangat percaya kepada 
firman Allah yang tertulis di Al Qur'an. Mereka percaya, bahwa Allah Maha 
Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin Allah akan merugikan hamba-Nya. 
Mereka tidak pernah khawatir akan masa depan, karena tahu bahwa Allah telah 
menjamin rejekinya sejak lahir sampai mati nanti. Ketika masih menjadi bayi 
yang tidak mampu mengurus diri sendiri, Allah telah mengirimkan kepada kita 
orang-orang yang menyayangi kita. Memberi makan, memandikan, mengasuh, hingga 
kita mandiri. Lalu Allah memberikan kepandaian, kekuatan dan rejeki terus 
menerus hingga menjadi dewasa seperti sekarang ini. Setelah kita hidup dan 
menikmati rejeki dari Allah, kenapa kita masih saja tidak percaya bahwa Allah 
Maha Pemberi Rejeki?

Ketika terjadi musibah, orang beriman tidak berduka yang berkepanjangan. Mereka 
sabar dan tenang menghadapinya. Mereka percaya, bahwa ini adalah ketetapan yang 
terbaik dari Allah SWT, karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk 
hamba-Nya. Karena itu mereka menunggu denan penuh harapan, kebaikan apa yang 
akan Allah berikan setelah musibah ini berlalu.

Dengan melihat ayat itu, maka jika kita selalu khawatir akan apa akan terjadi 
atau terlalu sedih dan menyesali terhadap sesuatu yang telah terjadi, hal itu 
menandakan ada sesuatu yang salah dalam keimanan kita. Kita belum sepenuhnya 
percaya, bahwa Allah mampu mengatur alam semesta dengan sempurna.

Sekarang marilah kita melihat lagi salah satu ciri dari orang yang beriman yang 
disebutkan dalam Al Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah 
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman 
mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS : Al 
Anfaal [8]:2).

Berdasarkan ayat tersebut, salah satu ciri orang beriman adalah jika disebut 
nama Allah maka hatinya akan bergetar. Apa yang Anda rasakan ketika melakukan 
Latihan 1 tadi? Apakah hati Anda bergetar? Mudah-mudahan Anda merasakannya.

Dari pengalaman saya mengajak orang melakukan Latihan 1, sangat sedikit sekali 
yang merasakan dadanya bergetar. Beberapa merasakan "seeerrr", ingin menangis 
atau merasa ketenangan. Sebagian besar tidak merasakan apa-apa. Apakah mereka 
yang tidak merasa apa-apa artinya tidak beriman? Bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, bahwa Anda yang membaca tulisan ini termasuk orang yang beriman. 
Tapi kenapa tanda-tanda orang beriman tidak muncul ketika kita menyebut nama 
Allah? Apakah hati kita telah sekeras batu? Atau kita termasuk orang munafik?

Mari kita lihat dimana letak permasalahannya.

Dzikirlah sebanyak-banyaknya

Ketika tadi Anda berdzikir, manakah yang lebih diperhatikan : hitungannya atau 
Allah-nya?.

Seringkali kita tidak sadar, ketika berdzikir, kita terlalu memperhatikan 
jumlah hitungan yang harus dicapai. Seolah-olah jumlah hitungan itu sangat 
penting sehingga kalau meleset, gugurlah pahala dzikir kita. Kita menjadi lupa, 
bahwa tujuan berdzikir adalah untuk mengingat Allah bukan menghitung bacaan.

Saya tidak menampik banyak hadits yang mengajarkan kita untuk berdzikir dalam 
jumlah tertentu. Ada yang hanya 3 kali, 33 kali, 100 kali, atau bilangan 
lainnya, tetapi Al Qur'an menganjurkan lebih dari itu :

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir 
yang sebanyak-banyaknya. (QS : Al Ahzab [33] : 41).

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu 
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS : An Nisaa' [4]:103)

Kesemuanya mengajarkan dzikir tanpa hitungan, sebanyak-banyaknya dan setiap 
saat. Salahkan Rasulullah mengajarkan hitungan? Tentu tidak. Seperti halnya 
tidak bersalahnya orang tua kita, yang pada waktu kita masih kecil, menyuruh 
kita berpuasa setengah hari lamanya. Semuanya semata-mata agar kita belajar dan 
segera memulai perbuatan baik yang diperintahkan Allah. Selanjutnya harus tahu 
dan berusaha mencapai target sesungguhnya yang Allah ajarkan.

Setelah selesai berdzikir sebagaimana Latihan 1, apa yang Anda rasakan?

Apakah ada rasa "seerrrr" di dada Anda?

Apakah Anda seperti mau menangis?

Apakah dada Anda terasa seperti bergetar?

Atau malah biasa saja rasanya? Tidak terasa apa-apa.

Simpan dulu jawaban Anda. Mari kita lanjutkan dulu pembahasan kita.

Pada setiap raka’at shalat, kita diwajibkan membaca surat Al Fatihah. Sadar 
atau tidak sadar, setiap kali kita membacanya, maka pada 2 ayat terakhir kita 
memohon kepada Allah:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau 
beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula 
jalan) mereka yang sesat.

Seperti apa orang yang diberi petunjuk, orang dimurkai Allah dan orang yang 
tersesat dapat kita lihat pada surat selanjutnya. Surat Al Baqarah langsung 
membuka dengan membagi manusia menjadi 3 golongan, yaitu :

􀂃 Orang beriman (Al Baqarah : 2-5)

􀂃 Orang kafir (Al Baqarah : 6-7)

􀂃 Orang munafik (Al Baqarah : 8-20)

Masing-masing dilengkapi dengan ciri-cirinya serta akibat yang akan ditanggung 
oleh masing-masing golongan manusia tersebut3.

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang 
bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan 
shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. 
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu 
dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya 
(kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan 
mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al Baqarah [2]:2-5).

Orang beriman misalnya, ciri-cirinya adalah percaya kepada yang gaib, 
mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rejekinya untuk bersedekah/zakat, 
percaya kepada kitab-kitab suci dan hari akhir. Mereka dinyatakan sebagai orang 
yang selalu mendapat petunjuk dan beruntung.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan 
atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah 
mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan 
bagi mereka siksa yang amat berat (QS. Al Baqarah [2]:6-7).

Orang kafir cirinya adalah tidak bisa lagi melihat kebenaran. Diberi peringatan 
atau tidak sama saja karena Allah telah mengunci mata, pendengaran dan hati 
mereka. Dan bagi mereka siksa yang berat.

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari 
kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. 
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya 
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (QS. Al Baqarah [2]:8-9).

Orang munafik dikatakan sebagai orang yang mengaku dia beriman, tapi sebetulnya 
tidak. Akibatnya, orang munafik ini lebih sulit dikenali. Jika untuk orang 
beriman hanya perlu

3 Bahan Pengajian Ar-Rahman pimpinan ustad Bahtiar Nasir kelas Basic 1

menggunakan 4 ayat dan orang kafir hanya 2 ayat, maka untuk orang munafik Al 
Qur’an memerlukan 13 ayat untuk menjelaskannya. Beberapa cirinya antara lain, 
mereka biasanya tidak sadar atas keburukan sifatnya sendiri, bahkan merasa 
dirinya yang lebih benar sehingga dapat menyesatkan orang lain. Mereka merasa 
lebih pintar dari orang beriman. Mereka suka mengolok-olok orang beriman. 
Akibat perbuatannya itu, Allah akan mengganjar mereka dengan siksa yang pedih.

Dari 20 ayat pertama di surat Al Baqarah, kita sudah dapat menilai seseorang 
dan juga diri kita sendiri termasuk pada golongan mana.

Selanjutnya ciri dan penjelasan tambahan untuk masing-masing golongan dapat 
ditemui pada bagian lain di Al Qur'an. Ciri-ciri yang dijabarkan tersebut akan 
semakin menambah kejelasan bagi kita untuk menilai setinggi apa keimanan kita 
saat ini dan sejauh mana kebenaran dari pelaksanaan peribadatan yang telah kita 
lakukan.

Contoh, 

jika seseorang mengaku beriman tetapi jarang melakukan shalat 5 waktu, termasuk 
golongan manakah dia? Salah satu jawabannya, bisa kita lihat di surat An Nisaa' 
[4] : 142 :

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas 
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan 
malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah 
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali

Jika kita malas shalat, shalat karena ingin dilihat orang lain, atau lebih 
banyak memikirkan hal-hal selain Allah ketika shalat, maka sadarilah, bahwa 
diri kita telah menunjukkan ciri-ciri orang munafik. 

Waspadalah …. waspadalah ….. waspadalah.

 

www.shalatcenter.com

http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/files/ (member milis dzikrullah)

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke