saya juga gak ngerti nih. topik ttg pendidikan ini arahnya kemana. apakah isu soal tarifnya atw keahlian pengajarnya? kayaknya kawan2 pd lieur baca posting AlKhoir .... termasuk saya ... %...@! ---
1. apa yg saya sampaikan itu dari sisi keahlian bahwa tidak semua org bisa jadi guru karena ada masalah kejiwaan sbg pengajar agar transfer ilmu itu smooth. itu bisa dipelajari dlm ilmu psikologi pendidikan. 2. kedudukan guru itu sendiri mestinya disikapi sbgmn perawat atw dokter. apa yg dilakukankan adlh pelayanan jasa BUKAN buruh. kalo pemerintah mau, ya harus memposisikan mereka seistimewa mungkin dibanding PNS yg lain. kemudahan2 ... (spt pd email saya yg lain) termasuk bebas PPn bagi mereka. 3. kalau bicara tarif, itu boleh & sah saja utk pendidikan orientasi industri selain pendidikan baku (SD sampai PT). misalnya pendidikan utk pelatihan/kursus karyawan, kursus privat, bimbel ... dlsbgnya. toh realitanya, sebagus apa perguruan tinggi tak ada alumninya yg siap bekerja. maka tanggungan perusahaanlah yg biayai karyawannya agar dpt bekerja sesuai goal perusahaan itu. 4. mahal murahnya pendidikan baku hingga puluhan/ratusan juta itu tergantung kelengkapan pra-sarana gedung/fasilitas/lab-nya. kalo semua itu dibiayai negara, harusnya tetap murah. nah biaya agar bisa tembus pt itu yg mahal. itu tidak boleh salahkan pemerintah. tapi rupanya ada faktor lain yg bikin mahal biaya pendidikan baku yaitu standard buku pegangan yg berubah2 pdhl dari dulu ilmu yg diajarkan ya itu2 saja. utk hindari ini, tidak boleh ada monopoli penetapan buku pegangan tapi harus byk pilihan. mau foto copy saja text2 asing ... ya monggo & itu bukan urusan pemerintah. embuhlah ini sengaco kawan itu gak ya ??? salam, Fahru ________________________________ From: hamami <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, February 20, 2009 5:07:03 PM Subject: Re: [is-lam] [***SPAM*** Score/Req: 05.00/05.00] Re: Bls: FiqihTasauf Biaya Pendidikan Indonesa Yg Mahal Ikutan nimbrung dikit, ah…. Mas Fahru, Pernyataan sampeyan kalau guru itu bukan pekerjaan melainkan panggilan jiwa, itu nampaknya sangat2 klise. Dijaman dulu, he…he…he…meskipun tidak dulu sekali pernyataan itu mungkin ada “sedikit” benarnya. Karena pada kenyataannya, dijaman saya dulu paling tidak (karena saya bagian dari guru) profesi sebagai guru itu sering dijadikan sandaran “pekerjaan” paling akhir manakala tidak dapat bekerja disektor lain. Sehingga benar manakala ada orang yang berkeinginan jadi guru saat itu, lebih pada panggilan jiwa. Namun sekarang hal itu sudah jauh berubah, karena profesi guru saat ini banyak sudah menjadi incaran. Sehingga yang ada pekerjaan/profesi sebagai guru statusnya sudah hampir sama dengan jenis pekerjaan lainnya. Yang menuntut professionalme, dan kalau sudah bicara pfofesionalisme tidak terlepas dari masalah “bayaran”. Wassalam Hmm ________________________________ From:AFR [mailto:[email protected]] Sent: Friday, February 20, 2009 4:24 PM To: [email protected]; [email protected] Subject: [***SPAM*** Score/Req: 05.00/05.00] Re: [is-lam] Bls: FiqihTasauf Biaya Pendidikan Indonesa Yg Mahal menjadi guru itu sebenarnya bukan pekerjaan tapi lebih pd panggilan jiwa. tidak semua org cerdik pandai bisa jadi guru, menghantarkan ilmu dgn sabar pd org yg mulanya tidak tahu sama sekali hingga pakar. ilmu itu mahal ..?? kalimat itu cocok buat industri dgn orientasi yg sangat spesifik. tapi kalo utk pendidikan kolektif, tidak seharusnya mahal. kalo org Islam 'mengimani' ilmu itu mahal, percayalah org itu akan kikir ilmu. lurus dengan apa yg disebut dlm Qur'an, bhw bagi siapa saja yg berilmu akan cenderung kikir. a'udzubillahi min asyaithaani rajiim, Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan adalah manusia itu sangat kikir. (al-Israa': 100) salam, Fahru ________________________________ From:Agus Safudi <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, February 20, 2009 3:45:25 PM Subject: [is-lam] Bls: FiqihTasauf Biaya Pendidikan Indonesa Yg Mahal Penjelasan sampeyan ini luarrrrr biasa bang Qhori,...maksud saya rancunya.... "Guru bukanlah pekerjaan, tapi guru dilahirkan..". Beda profesi dan pekerjaan kira2gimana seh?...Semestinya membedakan antara keadaan dan kedudukan adalah tidak seperti itu. Yang namanya dilahirkan (keadaan) adalah misalkan seseorang dilahirkan sebagai anak kongloimerat/anak president maka itu keadaaan(dilahirkan)sedangkan seseorang menjadi Guru/Dosen adalah ada unsur usaha dari ybs.dan itu ketika dicapai maka disebut kedudukan. Yang namanya kedudukan ketika dicapai itu bisa dibilang profesi/pekerjaan dan bukan dilahirkan langsung menjadi Guru..ini saja lah dulu yang kecil, gak muter2ngawur terlalu luas..... Warm regard, a.s. --- Pada Jum, 20/2/09, Alkhori M <[email protected]> menulis: Dari: Alkhori M <[email protected]> Topik: [is-lam] FiqihTasauf Biaya Pendidikan Indonesa Yg Mahal Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 20 Februari, 2009, 11:54 AM Biaya Pendidikan Memang Mahal, Kalau Perlu Uang Pangkal 100 Juta dan Kuliah 50 Juta Pertahun. Supaya profesi Pendidik/ Dosen/ Guru dihargai dan yang menjadi “Guru” bukan karena terpaksa karena tidak diterima ditempat lain akhirnya jadi “Guru” sajalah. Phenomena ini sudah selayaknya diakhiri di Indonesia sehingga orang menjadi bangga jika profesinya adalah “Guru”. Agar ini bisa dicapai maka selayaknya Uang Masuk adalah 100 juta dan Uang Kuliah 50 juta pertahun. Tapi jangan kaget dulu, makanya makna biaya pendidikan 20% dari APBN janganlah semu. Walau uang pangkal 100 juta dan uang kuliah 50 juta tapi yang dilemparkan atau yang di-offer ke rakyat adalah… maaf cut dulu ada panggilan, nanti disambung lagi, harap sabar !!! Alkhori M Alkhor Community Qatar Maaf tulisan diatas terputus, sekarang baru bisa dilanjutkan, tapi judulnya saya ganti biar lebih menggigit tentu dengan diganti judul ada cakupan yang lebih “Objective” yang ingin disharing bagaimana agar pendidikan Indonesia tidak mempunyai dilema seperti judulnya yaitu: FiqihTasauf Biaya Pendidikan Indonesa Yg Mahal Tentu semua setuju kalau dituliskan bahwa“Profesi Guru/ Tenaga Pendidik adalah profesi yang Sangat Sangat Mulia” tapi di Indonesia profesi guru hanya dilihat sebelah mata. Untuk ini haruslah dibenahi, tapi“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (guru) kalau guru sendiri tidak mau mengubah nasibnya” Guru bukanlah pekerjaan, tapi guru dilahirkan. Tidak ada lagi istilah klasik, karena tidak dapat kerja ditempat lain terpaksalah jadi guru. Begitu lulus University yg pintar pintar bekerja di perusahaan yang terkenal dengan gaji dan benefit yang super, sementara yg lulus pas-pas-an tinggal di University untuk selanjutnya mengabdi di almamater due to no alternative instead of dapur tak ber-asap okay-lah terima saja jadi tenaga pengajar. Buktinya IKIP atau FKIP terpaksa dibubarkan. Bagaimana hal tersebut tidak boleh dan harus tidak ter-ulang lagi, “PROFESI GURU DILAHIRKAN Dan guru harus SIAP mengubah nasib sendiri” Lihat lagi“Tuhan Tidak Mengubah Nasib Suatu Bangsa Kalau Bangsa Itu Tidak Mengubah Nasibnya Sendiri.”Apa saja faktor untuk mengubah nasib guru? yang sangat penting dan tidak termasuk didalamnyaJANGAN DEMO masak guruDEMO, lucu orang yang jadi panutan sptPGRI DEMOjadi dibawah ini bbrp bullet antara lain agar bisa mengubah nasib GURU: 1. Sapu bersih/ say no to koruptor, berantas habis korupsi 2. Peraturan harus Transparant, bukan jebakan dan tidak ada celah membuat orang lain jadi bisa dipersulit 3. Murahkan pendidikan yang mahal di Indonesia 4. Sederhanakan Kurikulum (ini yang dimaksud dg FiqhTasauf Pendidikan Indonesia ) 5. 20% APBN untuk pendidikan jangan SEMU 6. Orang orang tua diharapkan mundur dari membuat kebijakan pendidikan nasional, tapi mereka bisa sebagai pengajar 7. UN ditiadakan dan Methode belajar mengajar diperbaiki ??? 8. Dll dll AD.1: SAPU BERSIH/ SAY NO TO KORUPTOR, BERANTAS HABIS KORUPSI Pemilu sdh dekat, pilihlah(CALEG/ CAPRES/ CAWAPRES)yang bersih NO KKN dan mau memperhatikan pendidikan, tentu Guru bisa memilih dengan tepat. Contoh kasus: BCA ketika menjadi pasien BPPNkarena tidak mampu melunasi BLBI untuk menyehatkan BCA maka disuntik dana Rp. 60 Triliun, tapi sewaktu dijual ke asing hanya dihargai Rp. 10 triliun, menguap sebanyak Rp. 50 triliun, siapa yang menikmati dana Rp. 50 triliun, tentu para koruptor. Banayk kasus kasus korupsi lainya yang fantastik, yang mana kalau duit ini dialokasikan untuk pendidikan nasional maka tidak saja pendidikan 12 tahun bisa gratis diseluruh Indonesia tapi malahan unag masuk dan uang kuliah bisa sangat murah di Indonesia. Insya Allah bersambung, salam kompak selalu dari Qatar . Alkhori M Alkhor Community Qatar _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam ________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! __________ NOD32 3787 (20090121) Information __________ This message was checked by NOD32 antivirus system. http://www.eset.com
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
