Kaya dan miskin memang letaknya di hati bos, tapi toh Islam memerintahkan kita 
mengatasi kemiskinan yang didasarkan pada ukuran materi.

Kisahnya kan ada tuh, Para sahabat yang miskin iri sama para sahabat yang kaya, 
lalu mereka mengeluh sama Rasulullah ... Ah, situ pasti sudah tahu kisahkan 
kan:-)

Salam hangat

B. Samparan

--- On Mon, 2/23/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:
From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: [is-lam] Persepsi "Miskin"
To: [email protected]
Date: Monday, February 23, 2009, 9:12 AM




 
 






Rupanya “miskin” hanyalah hasil dari proses
persepsi saja dan ini tidak selalu terkait langsung dgn besaran penghasilan
keluarga. 

   

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/19/16115071/makin.tinggi.pendidikan.makin.merasa.tidak.miskin.
 

   

Jika anda masih merasa sebagai orang termiskin didunia, ingatlah
bahwa masih banyak orang yg meminta-minta kepada anda, minta bayar pajak, minta
bayar retribusi, minta pekerjaan, bahkan meminta jabatan dan kedudukan anda. 

   

Jika anda sudah merasa sebagai orang terkaya didunia,
ingatlah bahwa kekayaan2 tersebut semata diperuntukkan agar anda kembali
menjadi miskin. Lahir telanjang, pulang juga telanjang. 

   

So, siapa bilang miskin itu enak? Dan siapa juga yg bilang
miskin itu nggak enak? 

Ternyata enak dan nggak enak itu ya podo wae…. jadi harus
dihindari agar tdk selalu dlm keadaan terombang-ambing. 

   

Bagaimana pendapat anda? 

   

J 

wassalam 



 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke