Hi ... hi, hayo mana argumentasi yang pakai fikih dan mana yang pakai tasauf?
Salam hangat B. Samparan --- On Sat, 2/28/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] The Economy of Enough > To: [email protected] > Date: Saturday, February 28, 2009, 2:45 PM > Oh iya betul sampeyan… kalo kondisi emergency ya memang > gak cocok. > > Tulisan2 semacam ini biasanya lebih tepat ditujukan kepada > pengambil > kebijakan saja sebetulnya, entah itu sebagai kritik ataupun > refleksi. > Biasalah… prinsip kesetimbangan, agar jalannya kapal tdk > terlalu melenceng > katanya (meskipun sudah tersesat). JJ > > > > Kalo saya dimasukan dalam situasi boat sampeyan itu…. > Saya cuma dieeem ajah > & tutup mata... gak mau ikutan gradak-gruduk ato panik, > dan pas buka mata > tau-tau dah balik didepan komputer dan bales email sampeyan > ini. He-he-he… > > > > J > > Salam hangat > > > > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Alkhori M > Sent: Saturday, February 28, 2009 2:19 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] The Economy of Enough > > > > Mas Dewa, > > Kebetulan waktu mau shopping ke Doha, saya lihat > komentarnya, ini hanya > sekedar komentar dari saya, dan saya coba balas lagi > sekedar adu > argumentasi: > > TEE itu benarnya baik dan bagus, tapi timingnya salah, atau > mas Dewa yg > kedinian mempostingnya, maksud saya sbb, contoh kasus: > > Ø Sebuah rumah lagi kebakaran, tentu yang diharapkan, apa > tindakan yg tepat > untuk menyelamatkan dan jika ada korban yg masih didalam > rumah. Juga apa > tindakan yang cepat dan tepat dilakukan agar api cepat > padam dan tidak > merambat kerumah lainya. Tapi sebaliknya TEE malah > bercerita lain yaitu: > Rumah ini salah design, jalan untuk masuk mobil kebakaran > tidak ada, bla. > bla. bla. malahan rumah itu akan dibiarkan kebakaran dan > korban harus rela > rumahnya habis dimakan api. > > Ø Kita didalam boat yang sama yang bakal karam, tapi TEE > berbicara, ini > boat tidak memenuhi standard Safety, penumpang 100 orang > tapi pelampung > hanya 25 buah dan kapal ini sewaktu mau berangkat tidak > melihat dulu weather > fore cast bla. bla. bla. tapi TEE tidak berbicara > bagaimana kita yg bakal > mati tenggelam ini diselamatkan. > > > > Berdasarkan kedua contoh diatas, TEE tidak layak > dibicarakan sekarang, tapi > TEE itu layak digunakan setelah krisis berlalu dan > dijadikan sebagai Lesson > Learnt untuk future need atau TEE dipublished sebelum > krisis terjadi dan > bisa digunakan sebagai Preventive Action untuk menghindari > krisis yg sedang > melanda sekarang, salam kompak selalu dari Qatar. > > > > Alkhori M > > Alkhor Community > > Qatar > > _____ > > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Dewa Gede Permana > Sent: Saturday, February 28, 2009 10:00 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] The Economy of Enough > > > > He..he..he.. ya mungkin ada benarnya apa kata orang, bacaan > bisa sama namun > penangkapan bisa beragam. Dulu sewaktu SMA kami satu kelas > diajar guru > fisika yg sama, buku juga sama, latihan2 soal juga sama, > tetapi ternyata > nilai ujian utk teori relativitas lha kog lain-lain, ada yg > dapat nilai 9 > ada yg 8, 7, 3, dst… ya gak pa-pa, mungkin memang ada > beda penangkapan, beda > minat individual, tak cocok dgn metode guru, atau pas ujian > lagi bete > barangkali, dlsb. > > > > Hal yg saya tangkap dari paparan Subagijo sejauh ini adalah > kritik beliau > terhadap kenyataan buruknya sistem kapitalisme yg berakibat > terjadinya > perilaku konsumerisme global yg nyaris sulit dihentikan. > Kasarnya : > kapitalisme berdiri diatas pondasi konsumerisme. Ketika > terjadi kehancuran > maka blunder pun tetap harus dipertahankan, yg artinya > konsumerisme harus > tetap dilanjutkan demi tegaknya kapitalisme tsb, > seolah-olah kapitalisme ini > bagaikan agama bagi penganutnya; dan inilah yg disinggung > oleh beliau > terhadap stimulus2 ekonomi yg coba diterapkan pemerintahan > kapitalis selama > ini. > > > > Jika saya sudah kadung terbiasa makan pizza setiap hari > (sampai-sampai rasa > nasi + ikan teri sudah “terasa” pahit dilidah), kenapa > harus memaksakan diri > utk kredit motor agar mudah membeli pizza yg letaknya jauh > di ujung desa > sana? Kenapa tidak melatih lidah utk kenal kangkung, bayam, > yg relatif mudah > dijangkau kalo toh itu sekedar urusan isi perut dan tdk > merepotkan diri > dengan kredit ini-itu? Tetapi akan menjadi lain > pertimbangannya jika kredit > motor tsb akan dipakai utk kegiatan produktif yg > menghasilkan, misalnya > sebagai alat transportasi mengirim hasil tanaman kangkung > utk dijual ke > pasar. > > > > Kira-kira yg saya tangkap begitu boss, dan memang betul > kini dunia masuk > dalam fase blunder…. JJ > > > > J > > Salam hangat > > > > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Alkhori M > Sent: Saturday, February 28, 2009 11:27 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] The Economy of Enough > > > > Mas Dewa, resending setelah error corection. > > Saya baca sampai habis “The Economy of Enough” dengan > sangat menyesal saya > katakan tulisan itu “RUBISH”, wah tentu saya akan/telah > dianggap “SOK PINTAR > & SOMBONG BANGET”. Tentu yang bijak akan bertanya > mengapa saya seolah-olah > emosi mengatakan TEE adalah rubish, kalau TEE rubish, tentu > ada yg lebih > emosi lagi akan teriak “kalau TEE rubish maka tulisan > anda (maksudnya nuding > saya) adalah Txxx Kxcixg” Sekarang kembali ke TEE yg saya > katakan rubish > WHY??? > > TEE hanyalah berteori secara statis, biarkanlah krisis itu > terjadi, dan > terimalah akibatnya TITIK (itulah kesimpulan saya ttg TEE, > apakah benar > demikian?) dan tidak perlu dilakukan rangsangan/ stimulus > apapun. > > Tapi dalam keadaan Dynamis, akan ada reaksi secara > otomatis, karena ada > manusia yg hidup didalam krisis tsb. > > Tapi dalam kehidupan nyata, pemodal yg akan bangkrut, itu > punya power > > Tapi pemerintah bisa melihat, kalau dibiarkan, mereka juga > akan terpental > dari jabatan > > Tapi kalau dibiarkan, krisis ekonomi ibarat tsunami, bisa > hari negara jaya, > mungkin besok mati > > > > Nah kesemua itu mereka tidak rela terjadi, maka stimulus/ > rangsangan sangat > perlu dan harus dilakukan dan mereka menuntut itu harus > segera dilakukan. > Tidak ada atau jarang sekali di Dunia ini ada orang yang > mau mati bunuh > diri, kalau masih bisa hidup berlimpah harta. Jadi TEE itu > adalah teori utk > hal-hal statis, tapi krisis ekonomi adalah keadaan dynamis, > maka rumus-rumus > statis tidak berlaku untuk hal hal yg dynamis. Sayang > Subagijo tidak bisa > membeda teori Statis dan Dynamis. Makanya sering hal hal yg > terjadi di > Indonesia adalah salah resep, salah obat. Salam kompak > selalu dari Qatar. > > > > Alkhori M > > Alkhor Community > > Qatar > > _____ > > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Dewa Gede Permana > Sent: Saturday, February 28, 2009 6:54 AM > To: [email protected] > Subject: [is-lam] The Economy of Enough > > > > Tulisan ini tentunya mengingatkan kita pada anjuran Rasul > untuk berhenti > "makan" sebelum kenyang... > > > > > > "The Economy of Enough" > > > > Oleh > > Subagijo > > Peneliti pada Center for National Urgency Studies, Jakarta > > > > Dalam memahami lesunya ekonomi global yang melanda seluruh > dunia, lagi-lagi > paradigma pertumbuhan tetap dijadikan pijakan solusi. > Padahal, dikotomi > ekonomi pertumbuhan versus perlambatan (stagnasi, > kemunduran) tidak > menyelesaikan masalah. Ia hanya mencarikan solusi semu. Hal > mengingkari > substansi ekonomi pertumbuhan itu sendiri yang memang telah > mencapai > batasnya. Pemantik krisis global memang disebabkan praktik > ekonomi (kasus > subprime mortgage), tetapi di balik kasus itu, pertumbuhan > kredit properti > telah menyentuh titik kritisnya, titik jenuh atau batas > pertumbuhan yang > berakibat sebaliknya yakni perlambatan, penurunan. Inilah > yang oleh dunia > dalam paradigma pertumbuhan disebut krisis. Padahal, dalam > paradigma dunia > yang tidak menekankan pertumbuhan, tetapi menekankan adanya > "rasa cukup", > keseimbangan, krisis di atas justru dianggap proses > pemulihan atau mekanisme > pelepasan katup dari beban ekonomi. Krisis global dengan > begitu dimaknai > sebagai "relaksasi ekonomi" sebagai otomatisasi > dari pertumbuhan yang over, > meski tetap dijaga agar tidak anjlok drastis, tujuannya > untuk mencapai > keseimbangan baru. Meminjam istilah Ulrich Duchrow semuanya > ini menuju pada > apa yang disebut sebagai "the economy of enough". > Sayangnya, kesadaran > "ekonomi cukup" tidak laku dalam kapitalisme yang > berbasiskan modal. Tidak > ada kata cukup dalam kapitalisme, karena modal dituntut > untuk membesarkan > dirinya, dengan produksi barang dan jasa, dengan > mengkloning industri, > membangkitkan terus-menerus konsumsi dunia, dibutuhkan atau > tidak. > Sumber-sumber alam akan lebih banyak lagi dieksploitasi > untuk disedot bahan > bakunya dan tidak ada peningkatan konsumsi yang bebas dari > limbah dan > polusi. > > > > > > Keseimbangan Baru > > > > Ketika krisis global mendera-dera sampai hari ini, > pendekatan keluar dari > krisis yang disebabkan oleh kerakusan konsumsi (greed) > justru dilakukan > dengan cara yang sama dengan penyebabnya, yakni > meningkatkan konsumsi lagi. > Dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss dan > juga diikuti > kebijakan pemerintah banyak negara sepakat untuk mendorong > lebih lagi > konsumsi dunia. Ketika krisis global yang disebabkan oleh > over consumption, > mengapa solusinya meningkatkan konsumsi? Ya karena kita > telah terjebak dalam > ekonomi pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi. Kita tidak > terbiasa untuk > tidak mengonsumsi. Kita belum juga sadar bahwa krisis > global adalah sinyal > "Limits to Growth", sebuah studi yang memprediksi > krisis global akan terjadi > di tahun 2000-an (dan terbukti), studi mana dilakukan tahun > 1972 oleh Club > of Rome. Tetapi, jika paradigma ekonomi kita adalah > "ekonomi cukup", krisis > harus disambut dengan ikhlas, diterima sebagai relaksasi, > untuk mencapai > keseimbangan ekonomi baru yang berbeda dengan ekonomi > pertumbuhan. > Celakanya, pertumbuhan tanpa batas, itu menyisakan ruang > yang makin lebar > bagi masyarakat di piramida terbawah. Krisis global > sekalipun menuju > keseimbangan baru dan mestinya diarahkan untuk > "economy of enough for all", > tetap meminta korban mereka ini, di mana ketika terjadi > krisis mereka yang > paling dulu terkena PHK, kehilangan pendapatan, dan > seterusnya. Semua ini > akibat dari tarikan hasrat pertumbuhan ekonomi yang makin > melancipkan > piramida ekonomi, sehingga rentang antara kelas atas dan > bawah semakin jauh. > Ketika elastisitas pertumbuhan ekonomi mencapai batasnya, > ibarat karet putus > kita terkena jepretannya berupa krisis yang menyakitkan. > Atau ibarat karet > kehilangan daya lenturnya, kendor, di mana masyarakat di > piramida terbawah > makin sulit memperbaiki nasibnya dan tetap di situ. > Sebaliknya, mereka yang > ada di atas pun lebih mungkin turun kelas karena > elastisitas ekonomi sudah > rusak. > > > > > > Kemewahan Ekonomi untuk Segelintir > > > > Upaya keluar dari krisis yang disebabkan oleh over > consumption di atas > ditempuh dengan meningkatkan konsumsi dunia lagi. Inilah > jebakan siklus > pertumbuhan konsumsi. Iya saja karena hal itu merupakan > faktor penting bagi > jalannya industrialisasi, angkatan kerja, ekspor-impor, > lalu lintas > keuangan, eksploitasi alam dll yang menjadi pusaran > pertumbuhan. Ketika > semuanya berhenti, kita menjadi gagap dan ekonomi > kapitalistik tidak > terbiasa “berpuasa”. Tak heran jalan keluar > meningkatkan konsumsi dunia > ialah dengan meningkatkannya lebih lagi. Faktanya krisis > global ditandai > dengan lemahnya konsumsi internal baik perorangan, > korporasi atau negara > sehingga dibuatlah paket stimulus eksternal yakni dengan > berbagai paket > stimulus ekonomi (pajak, fiskal, infrastruktur, pembiayaan, > industri, proyek > padat karya, dll). Stimulus bertujuan memberikan rangsangan > agar ada > pertumbuhan, roda produksi, lapangan pekerjaan, daya beli > dan akhirnya > konsumsi yang akan memutar rantai ekonomi berikutnya. > Namun, there is no > free lunch untuk stimulus ekonomi. Itu berbicara seberapa > banyak kekuatan > dana untuk menstimulasi ekonomi adalah dana nganggur yang > jika digelontorkan > - berdampak positif atau tidak - tidak peduli sumber > pendanaannya. Namun, > jika paket stimulus ekonomi dari dana strategis, apalagi > utang, > penggunaannya harus berdampak positif, karena jika negatif, > ia akan > memengaruhi peran dana strategis yang juga akan ikut > negatif dan menambah > utang baru. Padahal, perannya bukan hanya pendanaan untuk > paket stimulus > saja. Stimulus ekonomi mungkin bisa mendongkrak, > memotivasi, menggerakkan > ekonomi, tetapi tidak ada jaminan bahwa stimulus karena > sifatnya rangsangan > dari luar bisa dipertahankan terus-menerus. Kebutuhan > ekonomi harus > didasarkan pada kebutuhan internal yang rasional dan bukan > rekayasa > eksternal seperti stimulus ekonomi untuk menciptakan > booming produksi, > konsumsi, lapangan kerja dan seterusnya yang semu dan > tentatif sebagai > pancingan agar ekonomi bergerak. Jadi, para motivator tidak > lagi bisa > menjual krisis dengan mengatakan bahwa dalam krisis ada > peluang. Karena > dalam peluang juga ada embrio krisis baru. Stimulus ekonomi > mempunyai titik > krisisnya yang mungkin belum kelihatan, meski efeknya cepat > dirasakan. Untuk > itu paket stimulus ekonomi sebaiknya digunakan untuk > mendukung motif > konsumsi primer yang bisa menggerakkan ekonomi dan bukan > motif konsumsi > sekunder yang hanya membesarkan nafsu konsumsi, yang begitu > habis terus > selesai. Stimulus ekonomi yang diperlukan yang bersifat > produktif dan > berkelanjutan (sustainable production) yang bisa memutar > roda dan rantai > ekonomi secara cukup (the economy of enough). Kebersahajaan > ekonomi untuk > semua dan bukan kemewahan ekonomi untuk segelintir….. > > > > [Dikutip dari milis Komunitas SUARA] > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
