Pemimpin ibarat sebuah mata jarum jahit. Ia kecil mengerucut, namun tajam menembus kain. Disatu sisi ia merupakan tumbal terdepan bagi seuruh badan jarum Namun di sisi lain lenggak-lenggok geraknya harus mampu menjaga keutuhan seluruh badan jarum agar tidak patah berserakan.
Liberalisme, tak perduli apakah itu Neo ataupun Jadoel... hanya menghasilkan kehancuran sebuah jarum. Badan retak tertinggal jauh dari kilat melesatnya sang mata jarum. Bagaimana pula dengan nasib benang dibelakangnya? Jarum seperti ini tak ada gunanya krn tak dapat mengawal benang yg dipakai untuk menjahit. Ekonomi kerakyatan... yg saat ini ramai kembali didengungkan. Entah itu mengambil dari sebuah dalil ataukah sekedar sebagai dalih sesaat. Tetaplah akan dipaksa mengikuti fitrah si jarum jahit. Demi teranyamnya benang-benang menembus sekian ratus juta titik. hingga membentuk anyaman bertuliskan INDONESIA. Begitulah fitrah pemimpin-pemimpin sejati. Dia muncul manakala dibutuhkan Namun kemudian lenyap batang hidungnya ketika anyaman telah terbentuk. Hanya tinggal nama yang terkenang melalui guratan anyaman itu. Benar-benar sebuah tumbal indah bagi benang rajutan. Kemanakah gerangan jarum-jarum itu pergi? Tentu saja ada tempat-tempat peristirahatan yg jauh lebih baik daripada sekedar menganyam, Terkecuali bagi jarum-jarum bermata tumpul, yang tak berguna dan menerima caci-maki di alam anyaman benang serta tersia-siakan di laci- laci mesin jahit. :) Salam hangat _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
