Ini saya kutipkan:
"Ritual seperti maulid Nabi, tahlil, isra mi'raj hingga upacara kematian 
(haul), belakangan mulai memudar, perlu dikuatkan kembali, karena ia sudah 
mengakar dengan budaya masyarakat Indonesia" (hal. 295)
Saya kok jadi ingat pada sekaten (syahadatain?). Kalau sekarang wali songo 
melihat sekaten, kira-kira sama-sama beliau itu akan dilestarikan atau 
dibubarkan ya. Sekaten, seumur-umur saya tinggal di Yogyakarta dan Solo, yang 
paling terkenal ya dangdut sama pasar malamnya. Dangdut lebih terkenal, tentu 
saja, karena goyang erotis dari penyanyi perempuannya. Konon, para muda 
berlomba merangsek ke depan, tepat di bawah panggung, biar bisa ngeker 
(meneropong) celana dalam para penyanyi tersebut.
Di seumur-umur itu saya lihat sekaten ya baru 1 kali, itu karena pramuka dan 
kami ditugaskan untuk mengawal pawai tumpengan ke masjid agung (?). Sampai di 
masjid, pengunjung tiba-tiba pada histeris berebut tumpengan tersebut. Nah, 
temen-temen putri kami juga jadi histeris, takut terinjak mereka yang berebutan 
itu. Akhirnya kami yang laki-laki berbalik harus melindungi temen-temen putri 
kami, dengan membentuk pagar betis.
Nah, berkenaan dengan haul kematian, para tetangga kami juga suka mengadakan. 
Tapi yang rame ya main judi kartunya. Setiap yang giliran menang, menyisihkan 
sebagian kemenangannya ke piring yang disediakan tuan rumah, ya itu untuk 
menutup biaya haul. Mereka ya mengaku Islam (aswaja?), tapi solatnya kebanyakan 
berantakan, ke masjid, seminggu sekali saja kadang tidak. Nih, belum masalah 
setelah haul ternyata mereka-mereka jadi punya hutang sana-sini, apalagi kalau 
haul-nya di hari yang ke seribu. Eee, masak yang ginian mau dilestarikan.
Salam hangatB. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke