Hmm, Ngomong-ngomong, kang Bango kampungnya dimana? Kok, mirip kampung saya,, hihihihi, aya-aya wae. Btw, dulu saya yang paling keras menentang budaya-budaya layak gitu di kampung saya. Dan saya dikucilkan para tokoh masyarakat kampung. Tapi sekarang saya sudah tidak lagi dikucilkan oleh mereka. Karna mereka sekarang sudah meninggalkan dunia ini. Hihihi. Sekarang mulai regenerasi. Kaum muda di kampung tidak lagi melakukan ritual-ritual gituan. Tapi sayang mereka menggantinya dengan budaya sekuler dan pergaulan bebas, blas, blas.
-- pesan orisinal -- Subyek: Re: [is-lam] oleh-oleh dari mbah Gusdurhttp://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html Dari: Bango Samparan <[email protected]> Tanggal: 22-05-2009 05.09 Ini saya kutipkan: "Ritual seperti maulid Nabi, tahlil, isra mi'raj hingga upacara kematian (haul), belakangan mulai memudar, perlu dikuatkan kembali, karena ia sudah mengakar dengan budaya masyarakat Indonesia" (hal. 295) Saya kok jadi ingat pada sekaten (syahadatain?). Kalau sekarang wali songo melihat sekaten, kira-kira sama-sama beliau itu akan dilestarikan atau dibubarkan ya. Sekaten, seumur-umur saya tinggal di Yogyakarta dan Solo, yang paling terkenal ya dangdut sama pasar malamnya. Dangdut lebih terkenal, tentu saja, karena goyang erotis dari penyanyi perempuannya. Konon, para muda berlomba merangsek ke depan, tepat di bawah panggung, biar bisa ngeker (meneropong) celana dalam para penyanyi tersebut. Di seumur-umur itu saya lihat sekaten ya baru 1 kali, itu karena pramuka dan kami ditugaskan untuk mengawal pawai tumpengan ke masjid agung (?). Sampai di masjid, pengunjung tiba-tiba pada histeris berebut tumpengan tersebut. Nah, temen-temen putri kami juga jadi histeris, takut terinjak mereka yang berebutan itu. Akhirnya kami yang laki-laki berbalik harus melindungi temen-temen putri kami, dengan membentuk pagar betis. Nah, berkenaan dengan haul kematian, para tetangga kami juga suka mengadakan. Tapi yang rame ya main judi kartunya. Setiap yang giliran menang, menyisihkan sebagian kemenangannya ke piring yang disediakan tuan rumah, ya itu untuk menutup biaya haul. Mereka ya mengaku Islam (aswaja?), tapi solatnya kebanyakan berantakan, ke masjid, seminggu sekali saja kadang tidak. Nih, belum masalah setelah haul ternyata mereka-mereka jadi punya hutang sana-sini, apalagi kalau haul-nya di hari yang ke seribu. Eee, masak yang ginian mau dilestarikan. Salam hangat B. Samparan <<Attachment.html>> _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
