Si Kaya dan Si Miskin
Posted on Sabtu 30 Mei 2009 Setelah mengikuti pengumuman harta kekayaan capres dan cawapres oleh Komisi Pemilihan Umum di pesawat televisi, Suto, Noyo, dan Dadap hanya dapat berpandangan. "Tuh, Yo. kalo mau njago jadi Presiden, kamu harus kaya dulu. punya modal beneran, bukan cuma modal dengkul. Paling tidak harus punya duit miliaran rupiah," kata Suto mengawali pembicaraan, sambil mencomot sepotong brownies kukus yang tampak legit itu. "Kesian SBY ya, Kang. di antara para calon presiden dan calon wakil presiden, SBY terlihat paling miskin. Kekayaannya cuma 6,8 miliar rupiah dan 246.389 dolar AS atau totalnya 10 miliar rupiah kurang dikit. Itu kurang dari separuh kekayaan calon wapresnya, Boediono, yang mencapai 22 miliar rupiah dan 15.000 dolar AS," ujar Dadap. "Wah, yang saya ndak nyangka, ternyata Boediono itu juga kaya. Selama ini kan kita tahunya bahwa dia itu penampilannya sederhana, kalem, dan tidak neko-neko. Ternyata malah lebih kaya dari SBY. Sebagai ahli ekonomi, mungkin Boediono juga jago investasi di pasar modal kali ya." Noyo menambahkan. "Emang kenapa, kok kamu kayaknya underestimate terhadap Boediono. Kamu pikir karena basic-nya hanya jadi dosen di Universitas Ndeso, Gadjah Mada, gitu. sehingga tidak bisa kaya? Ingat lho, Boediono setidaknya menjabat tiga kali di kabinet dan dua kali di Bank Indonesia. Belum lagi, mungkin, menjadi konsultan di berbagai lembaga, baik lokal maupun internasional, jadi nggak usah heran kalau dia kaya." Suto menjelaskan. "Meskipun terbilang paling miskin, ternyata nilai kekayaan SBY lipat dua dibandingkan lima tahun lalu ketika dia mau maju jadi presiden, lho Kang. Tahun 2004, kekayaan pribadi SBY yang sudah diverifikasi KPK sebesar 4,56 miliar rupiah. Jadi, selama menjadi Presiden RI, kekayaannya bertambah sekitar lima em tuh," tutur Dadap. "Lah, kalo cuman nambah segitu mah, itu biasa. Kekayaan Megawati pada awal menjabat Presiden [Maret 2001] sebesar 59.81 miliar. Ketika selesai menjabat [Agustus 2004], naik 15,24 miliar menjadi 75.06 miliar. Itu data yang diungkap KPK lho. Jadi, ya, akurat lah mestinya. Bahkan, kekayaan Megawati sekarang mencapai 256,4 miliar, dahsyat nggak tuh peningkatannya," kata Noyo sambil ngeklik data dari Internet yang diaksesnya melalui BB merek mu-takhir, yang dibelinya secara nyicil itu. "O, kalo soal peningkatan kekayaan, pasangan JK-Win juga pesat lho. Ketika mau maju untuk mencalonkan diri jadi presiden 5 tahun silam, kekayaan JK 122,65 miliar rupiah dan Wiranto sebanyak 46,21 miliar rupiah. Sekarang, kekayaan JK jadi sekitar 315 miliar rupiah dan Wiranto udah meningkat menjadi kurang lebih 82 miliar rupiah "Jadi inget lagunya Wak Haji Oma Irama ya. Yang kaya makin kaya. yang miskin makin miskin. Senang juga sih melihat para pemimpin kita tambah tajir, kian makmur. Seandainya rakyat bisa ikut bertambah kaya, wah betapa bahagianya bangsa ini ya." ujar Dadap sambil matanya menerawang entah ke mana. "Lho, kalau mau jadi lebih kaya, ada syaratnya. Harus mau bekerja keras. Lihat tuh cawapres Prabowo Subianto, yang nilai kekayaannya tak kurang dari 1,6 triliun rupiah. Kekayaan capres dan cawapres lainnya. lewat. Bahkan, kalau kekayaan para capres dan cawapres saat ini digabung, nggak sampai separuh kekayaan Prabowo," ungkap Noyo. "Kok bisa sekaya itu ya. Padahal, Prabowo kan tadinya tentara ya, tapi jenderal sih. Tapi kalau dalam tempo 11 tahun bisa sekaya raya itu, kerja keras apaan sih yang dilakukannya," Dadap bertanya sambil penasaran. "Yang gue baca di media-media sih, Prabowo bilang bisnisnya banyak, tapi gak pernah diuraikan apa saja. Dia kan punya saham di PT Kiani Kertas dan sebagainya," Suto berupaya menjelaskan. "Jangan lupa pula, harga kertas beberapa tahun terakhir ini membubung tinggi lho." "Kalau saya menduga, Prabowo mungkin juga berbisnis peralatan militer, eh siapa tahu. koneksinya di tubuh militer pastinya masih kuat dan sebagai mantan jenderal lulusan sekolah militer luar negeri, pasti punya networking kuat. Nah, itu mungkin yang bisa menjelaskan kenapa dia bisa kaya raya." Noyo mencoba menerka-nerka. "Jangan lupa juga, Kang, dia kan mantan anggota keluarga Cendana. bisa juga dapat harta gono-gini cukup besar. he he he." kata Dadap. "Hush. ngawur bicaramu itu. Kalau nggak tahu persis faktanya, nggak usah ngarang deh. Entar malah jadi fitnah," hardik Suto. "Lagian, ngapain kita ngurusin harta orang lain sih." "Bukan gitu, Kang Suto. Kita membahas ini kan perlu untuk memahami calon pemimpin kita. Terus terang, saya seneng saja kalau negeri kita dipimpin oleh orang-orang yang dari sisi kekayaan sudah berkecukupan, sehingga mereka bisa berpikir tenang demi bangsa dan negara, tidak perlu mikir untuk memperkaya diri, wong memang sudah kaya. Toh kalau mati nantinya, kekayaan itu nggak akan dibawa," ujar Noyo mencoba mengklarifikasi. "Iya sih, tapi kita nggak perlu harus mengusut dari mana kekayaan seseorang. nggak elok dan nggak etis," kata Suto. "Ngomong-ngomong, kalian sudah menimang-nimang siapa yang akan dipilih entar." "Masih bingung. Tapi, yang jelas Kang Suto, tanpa JK, SBY tidak bisa lagi memenuhi slogan LANJUTKAN," kata Dadap. "Lha kok bisa begitu, nyataya SBY dan Boediono tetap jalan tuh." sergah Suto sembari mengernyitkan kening. "Nggak bisa, Kang. Kalau tanpa JK, slogan itu cuma berbunyi LANUTAN,"Dadap "menjelaskan sambil terkekeh sendiri. "Dhapurmu, Dap. Dap." kata Suto yang tidak bisa menahan tawa. Noyo pun demikian. Alkhori M Alkhor Community Qatar
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
