Dari milist tetangga,...


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu,

Turut prihatin atas musibah yang dialami empat mahasiswa Indonesia di Al 
Azhar-Kairo. Kelihatannya seperti pada era Orba saja, dimana lebih dari 
empat orang berkumpul akan diawasi oleh para intel melayu, bahkan tidak 
mungkin nasibnya sama seperti "Penculikan aktivis, 23 orang hilang. 
Kerusuhan mei disejumlah kota. Dijakarta saja, setidaknya 1.300 orang 
tewas".

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= 
========= =========

http://www.eramusli m.com/berita/ dunia/kronologi- lengkap-penangka 
pan-dan-pengania yaan-4-mahasiswa -indonesia- di-mesir. htm

Berikut kisah penangkap dan penyiksaan oleh intelejen Mesir yang dituturkan 
langsung oleh salah satu korban: Peristiwa terjadi pada hari Sabtu, tanggal 
27 juni 2009 lalu, saat itu kami di rumah ada lima orang; saya 
(Fathurrahman- red), Muhammad Yunus, Arzil, Tasri Sugandi dan Jakfar-teman 
yang sedang bersilaturahmi ke rumah-. Adapun Ismail-seorang rekan rumah kami 
yang lain-sedang berlibur bersama teman-teman sedaerahnya asal Tapanuli 
Selatan ke bukit Sinai.
Sekamir pukul 02.30 dini hari waktu Cairo, rumah kami di datangi 12 orang 
Mabahist (polisi intelejen Mesir). Lima diantaranya berseragam lengkap 
dengan senjata laras panjang serta pistol. Sementara tujuh orang lainya 
berpakaian biasa. Salah seorang diantara mereka membawa linggis dengan 
panjang lebih kurang satu meter, seorang lain membawa alat penggunting 
kawat.
Setelah membunyikan bel rumah dengan cara yang tidak sopan sama sekali, 
akhirnya pintu kami buka dengan perasaan takut dan menegangkan. Ketika masuk 
salah seorang diantara mereka menanyakan pasport, sementara yang lainya 
langsung menggeledah rumah mencari sesuatu. Pistol dan senjata laras panjang 
langsung ditodongkan ke kepala kami.
Setelah lebih kurang 15 menit menggeledah, mereka tidak menemukan sesuatu 
yang dicari. Saya sempat menangkap pembicaraan salah seorang pimpinan mereka 
melalui telepon, bahwa, apa yang mereka cari tidak di temukan. Sebagian 
mabahis dimarahi komandannya dan diminta untuk mencari kembali apa yang 
mereka inginkan, kata pimpinan mereka "sudah kamu periksa apa-apa yang bisa 
dijadikan bukti dan bisa diambil?". Tak lama kemudian kami diminta untuk 
menghidupkan semua komputer yang ada. Kebetulan terdapat tiga komputer di 
rumah. Komputer pertama di periksa, namun mereka tetap tidak menemukan 
apa-apa. Ketika hendak memeriksa yang kedua, mereka melihat ada bebarapa 
poster di dinding kamar. Diantaranya poster Syeikh Ahmad Yasin (pejuang 
palestina), silsilah Pemimpin Hamas.
Melihat itu ekspresi mereka seketika berubah, dan memerintahkan kami untuk 
mengambil gambar tersebut. Teman saya sempat diminta untuk melakukan hal 
itu, namun berhubung dia orangnya kurang gesit, langsung saja tiga pukulan 
keras dari Mabahits mendarat di punggungnya. Sepuluh menit berlangsung, 
mereka kembali menggeledah rumah dengan brutal dan mengambil beberapa buku 
karangan DR.Yusuf Qordhowi dan buku-buku lainya yang mereka anggap 
berbahaya.
Beberapa saat kemudian kami diperintahkan untuk bersiap-siap dan memakai 
sandal. Selanjutnya kami digiring ke lantai bawah. Disana kami disuruh 
membentuk barisan, jarak antara kami dan mobil tahanan saat itu kira-kira 
sekamir 30 meter. Ketika melangkah menuju mobil, satu persatu bagian 
belakang kepala kami tiba-tiba dihantam pukulan keras, saya tak tahu 
maksudnya apa dan hampir saja saya terjatuh, begitu juga dengan ketiga teman 
saya yang lain.
Ternyata di dalam mobil sudah ada seorang tahanan asal Kazakistan yang 
menunggu dengan mata di tutup kain. Alhamdulillah secara kebetulan saudara 
kami Jakfar yang masih berumur 16 tahun dibebaskan, dengan alasan belum 
cukup umur. Saya sempat berpesan kepada Jakfar untuk segera menghubungi Bang 
Fajar - seorang aktivis di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir-red) yang 
tinggalnya tak jauh dari rumah kami.
Tepat ketika azan subuh di kumandangkan, kami tiba didekat masjid Nurul 
Khitab Awal hay sabi'. Di sana kami diturunkan dan digiring ke sebuah 
kantor. Saya kemudian minta izin untuk wudhu dan sholat, para mabahits itu 
semula tidak mengizinkan, namun akhirnya dibolehkan. Sepuluh menit menunggu, 
akhirnya dua orang anggota polisi berpakaian preman datang, satu-persatu 
mata kami diikat menggunakan kain sambil membentuk satu barisan.
Selang beberapa saat kami digiring ke sebuah ruangan berukuran 4x4 meter. 
Tempatnya sangat kotor dan pengap, disitulah kami tidur sambil duduk dan 
tidak boleh melonjorkan kaki hingga pukul delapan pagi. Pada jam diatas kami 
diberi makan berupa roti 'isy ( makanan pokok orang Mesir yang terbuat dari 
gandum) serta sedikit manisan dengan mata tetap tertutup kain.
Setelah sarapan pagi, proses introgasi dimulai. Satu-persatu kami dipanggil. 
Saat itu kami berjumlah sembilan belas orang. Kami berempat; saya 
(Fathurahman- red) Yunus, Arzil dan Tasri Sugandi, dua orang berkebangsaan 
Prancis, seorang dari Kanada, lima orang dari Aljazair dan sisanya dari 
warga Rusia.
Berselang satu jam setelah azan Zuhur, giliran saya di panggil ke ruangan 
introgasi. Dengan mata tertutup saya dituntun salah seorang polisi ke suatu 
ruangan. Saat tiba di ruangan introgasi kemaluan saya langsung disetrum. 
Kemudian penutup mata saya dibuka sedikit, lalu dihadapkan ke sebuah meja, 
disana terdapat poster Syeikh Ahmad Yasin. Mereka bertanya, ini milik 
siapa...? saya jawab, "milik Ismail, orangnya sedang liburan ke bukit 
Sinai".
Seketika itu juga pantat saya disetrum beberapa kali, kemudian baju saya 
dilepas paksa oleh salah seorang polisi dan penutup mata saya di ganti 
dengan baju tersebut. Sementara itu celana saya dilepas dan dipaksa duduk di 
lantai dalam kondisi tanpa pakaian sehelaipun. Kaki saya di selonjorkan 
sedikit lalu diikat oleh salah satu polisi dengan tali sabut hingga 
membekaskan luka, sebab, saya selalu meronta menahan sakit saat disetrum. 
Masih dalam kondisi duduk, tangan saya ditarik kebelakang, kemudian diikat 
dengan celana yang yang tadinya dilepas paksa.
Saya dibaringkan dengan tangan terikat. Tepat di paha kiri saya di letakkan 
sebuah kursi. Mata saya yang sudah di tutup menggunakan baju, ditutup lagi 
dengan tangan oleh salah seorang polisi. Tangannya yang menggenggam kuat 
agak mengenai hidung, hingga beberapa kali saya menepisnya karena agak 
mempersulit saya bernafas.
Sesaat kemudian introgasi kembali dimulai dengan bermacam-macam pertanyaan, 
diantaranya sebagai berikut :
- Dimana kamu sholat, di rumah atau di masjid?, "sebelum sempat menjawab 
ujung kemaluan saya disetrum, tak ayal lagi saya menjerit sekuat-kuatnya 
menahan sakit.
- Apakah kamu sholat di awal waktu...? Kalau saya mood dan lagi enak badan 
,jawab saya, namun belum sempat saya meneruskan jawaban, kembali kemaluan 
saya disetrum. Saya berusaha menutupi kemaluan dengan tangan walaupun 
terikat, namun seketika itu pula beberapa kali setruman mendarat di tangan 
kanan saya hingga menyebabkan luka.
- Apakah kamu sering hadir ke kuliah...? Saya kuliah pada waktu tertentu, 
ketika... cress...setruman itu kembali bersarang ke buah kemaluan saya, 
hingga beberapa kali pertanyaan yang tidak masuk akal dilontarkan, sebanyak 
itu pula buah kemaluan saya disetrum.
Sesi berikutnya, alat setruman diambil alih oleh polisi yang lain dengan 
pertayaan- pertanyaan konyol lainnya:
- Apakah kamu main bola bersama Ikhwan (Nama salah satu kelompok oposisi di 
Mesir)...?, kamu main bola dengan siapa...? Habib, Jaid atau kamal 
Mesir...?, tidak...! jawab saya. Kembali setruman mendarat, kali ini di 
bagian paha kiri saya.
- Kamu punya teman orang Mesir ya.? Tidak.!, Bohong kamu.!, setruman tetap 
dihujamkan ke paha kiri, hingga menyisakan luka parah sampai saat ini.
- Kamu kenal dengan Osama Bin Laden? Tidak.(setruman dialihkan ke perut 
kiri).
- Gimana kabar jihadnya sekarang? Saya tidak tahu, saya di Mesir ini hanya 
main bola, jalan- jalan, chating dan lain-lain.
- Kenapa kamu tidak main bola sama orang mesir? mereka main bolanya 
bagus-bagus dan badan mereka besar-besar, sementara badan saya kecil.
- Kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...! kamu Ikhwanul Muslimin kan...? 
Tidak.! kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...! Tidak...! kamu Ikhwanul 
Muslimin kan...? Tidak...! kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...!
Begitulah setiap kali pertanyaan saya jawab, seketika itu pula mereka 
memberikan setruman satukali, duakali, tigakali bahkan lebih, tepatnya di 
paha kiri, perut bagian kiri, serta di kedua puting susu saya. Setelah di 
setrum berkali-kali seperti itu, saya merasa sudah tidak kuat lagi, 
sedemikian sakitnya saya sempat memanggil, "Ibu..., Ibu., Ibu..." hingga 
beberapa kali.
Setelah penyiksaan berlangsung lebih kurang 15-20 menit, ikatan saya di 
lepaskan sementara kondisi badan saya sangat lemah, dihantui rasa takut, 
cemas dan juga trauma. Celana saya dipasangkan kembali tanpa baju. 
Selanjutnya mereka membuat berita acara kira-kira selama lima menit. Saya di 
kembalikan ke tempat tahanan awal, saat itu masih di penjara depan Masjid 
Nurul Khitab, Bersebelahan dengan Universitas Al Azhar putri, di kawasan 7th 
district. Penjaranya itu terletak di bawah tanah, tepatnya di bawah hadiqah 
'asyir Ramadhan-sebuah taman rekreasi yang berada di tengah kota.
Masih di ruang tahanan saya berdo'a semoga tidak di introgasi untuk kesekian 
kalinya. Sambil menangis dan merenungi dosa selama ini, saya hanya mampu 
terkulai lemah. Selang dua puluh menit kemudian, kembali saya dipanggil 
bersama dua teman satu rumah, Yunus dan Tasri Sugandi. Di introgasi kali ini 
punggung saya kembali di pukul dengan sebuah papan triplek tipis. Kali ini 
mereka cuma mencatat data pribadi kami. Sepuluh menit kemudian kami di 
kembalikan ke ruang tahanan.
Tiga puluh menit selanjutnya saya kembali dipanggil dan diancam akan di 
setrum seperti sebelumnya jika tidak menjawab dengan jujur. Satu pertanyaan 
saja yang mereka lontarkan :
- Apa hubungan Osama Bin Laden dan pengaruhnya di indonesai? Sambil setengah 
menangis saya menjawab, "saya tidak kenal Osama Bin Laden...!"
Detik berikutnya sang polisi tersebut menelpon entah kemana. Yang saya 
tangkap dari pembicaraannya, si penelepon meminta data dan menyebutkan 
ciri-ciri tentang saya. Selang beberapa saat, saya kemudian di bawa kembali 
ke ruang tahanan dengan mata tetap tertutup.
Dua jam berikutnya, kami diberi nasi berpiringkan 'isy, masakan daging serta 
sedikit buah anggur merah. Saya makan sekedarnya walaupun sempat di 
tambahkan nasi. Setalah azan Isya, kami ketiduran namun mendadak dibangunkan 
dan di paksa makan 'isy, selai dan keju. Beberapa teman yang satu tahanan 
kebanyakan mogok makan, namun di paksa menghabiskan dengan alasan biar kuat. 
Saya sempat terpikir jika dikasih makan banyak seperti ini, berarti 
persiapan untuk besok agar kuat di introgasi lagi.
Pemindahan dari penjara Nurul Khitob ke penjara Hay Assadis (6th District))
Diperkirakan pukul 11.00 malam waktu Cairo hari itu, kami semua di pindahkan 
ke penjara Hay Assadis. Saat hendak di pindahkan saya masih tidur, lalu 
sontak saja dibangunkan. Kami diperintahkan untuk berbaris satu deretan 
dengan tangan saling memegang pundak teman yang ada di depannya. Kami 
digiring ke mobil khusus tahanan dengan mata masih dalam keadaan tertutup 
dari pagi.
Di dalam mobil, penutup mata kami dibuka dan ternyata di sana sudah terdapat 
salah satu perwira polisi yang menunggu lengkap dengan senjata laras 
panjang. Lima belas menit perjalanan kami tiba di kantor polisi Hay Assadis, 
lalu dipaksa turun dengan membuat dua barisan.
Setelah pendataan usai, kami dijebloskan ke sebuah tahanan yang berukaran 
3,5 x 4 meter, lalu di isi sembilan belas orang tahanan. Di dalamnya 
terdapat WC, sebuah lampu penerang 5 watt serta satu lobang udara tanpa 
jendela, sehingga kami tidak bisa membedakan antara malam dan siang. Selama 
dalam tahanan ini kami tidak disediakan makanan ataupun minuman, hanya ada 
air di kamar mandi yang bisa di gunakan untuk bertahan hidup. Selama dua 
hari dalam tahanan tersebut kami harus beli makanan sendiri melalui polisi 
penjaga tahanan.
Dengan sisa uang yang kebetulan terdapat dalam kantong kami berusaha membeli 
makakanan (kami berhutang dengan jaminan ada uang saudara Tasri Sugandi yang 
disita lebih kurang 700 le). Selama dua hari hanya dua mangkok kusyari 
(sejenis makan mesir terbuat dari mie) yang kami dapatkan sekedar untuk 
mengisi perut. Alhamdulillah selama dalam penjara sholat lima waktu selalu 
kami lakukan berjamaah.
Pada hari rabu tanggal 1 Juli dini hari, tepatnya pukul 02.00 malam waktu 
Cairo, kami di bebaskan dengan beberapa pesan :
. Jangan belajar dan kumpul-kumpul bersama Ikhwan al -Muslimin.
. Kalian cukup belajar saja selama di Mesir.
. Jika sempat ditangkap kembali kalian akan dipulangkan.
Keluar penjara kami langsung menyetop taksi bersama satu orang lainya yang 
berkebangsaan Rusia, kebetulan beliau tinggal di Tub Romli, tempat kediaman 
kami. Tepatnya Pukul 03.00 dini hari waktu Cairo, kami tiba di rumah dengan 
selamat berkat pertolongan dari Allah SWT serta do'a dari teman-teman 
semuanya.
Demikianlah kisah penangkapan dan penyiksaan yang kami alami selama berada 
di penjara, kisah penyiksaan yang dialami rekan saya, Muhammad Yunus belum 
sempat saya tuturkan di sini. Dan memang tidak semua rekan saya yang 
ditangkap turut mengalami penyiksaan serupa, hanya saya saja yang mengalami 
penyiksaan melampaui batas dan melanggar HAM serta tidak manusiawi.
Saya hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa 
atas kezholiman yang mereka lakukan kepada kami semua. Doakan kami, agar 
tetap tabah dan sabar dengan trauma penyiksaan yang sering menghantui. 
Semoga ada tindak lanjut dari perwakilan pemerintah kita, KBRI di sini 
terhadap kasus yang kami alami, sehingga mahasiswa kita khususnya di Mesir 
tidak lagi ditindas dan dilecehkan.
NB : Kisah ini disampaikan langsung oleh saudara Fathurrahman dan Muhammad 
Yunus (mahasiswa tingkat akhir) serta Arzil dan Tasri Sugandi (Mahasiswa 
baru yang datang dari tanah air pada tanggal 5 Mei 2009). Penulis 
menyaksikan dan melihat langsung kondisi korban di tempat kediaman mereka di 
kawasan Tub Romli, bersama beberapa anggota KSMR (Kelompok Study Mahasiswa 
Riau) dan beberapa orang KPTS (Keluarga Pelajar Tapanuli Selatan) yang hari 
itu turut datang menjenguk. Wasallam. Cairo, 2 Juli 2009.
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= 
========= =========

http://mediaislam. myblogrepublika. com/?s=Penangkap an+dan+Penganiay 
aan+4+Mahasiswa+ Indonesia+ di+Mesir

http://www.tempoint eraktif.com/ hg/nusa/2009/ 07/04/brk, 20090704- 
185257,id. html

http://waspada. co.id/index. php?option= 
com_content&view=article&id=33377:keluarga- korban-penganiay aan-aparat- 
mesir-desak- ketegasan- deplu&catid=17:nasional&Itemid=30

http://hizbut- tahrir.or. id/?s=Penangkapa n+dan+Penganiaya an+4+Mahasiswa+ 
Indonesia+ di+Mesir

http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/05/ 10482891/ Deplu.Akan. 
Meminta.Penjelas an.Mesir. soal.Penangkapan .Mahasiswa



 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke