<http://zulfikri-kamin.blogspot.com/2009/09/cerpen-saudara-serumpun.html> Cerpen : SAUDARA SERUMPUN Oleh : Heru Susetyo I hate Indon! Malingsia! I hate Indon! Malingsia! Begitu tukar sapa Agung dan Rashid apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok. Agung adalah mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa pemerintah Thailand untuk studi Master bidang Thai Studies. Sedang Rashid penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dari Johor, Malaysia. Agung dan Rashid ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik Tintin. Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua ke mana-mana. Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi. Tapi, itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesia digebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia. Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia. Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon.com dan www.malingsia.com yang tak jelas siapa webmaster-nya. Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi. Ia tak suka disebut 'Indon' yang konon berkonotasi budak. "Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi 'Indo' atau 'Indon'." ujar Agus penuh emosi. Rashid juga terprovokasi. "Jangan awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan," tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental. Maka 'perceraian' pun terjadi. Agung dan Rashid 'pisah ranjang'.' Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga. Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi shalat Jum'at bersama di Soi Jet Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi. Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathom Thai road. Pusat penghargaan IT dan Komputer di Panthip Plaza juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan. Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok. "Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester," ujar Ajarn Surichai pada saat awal kuliah. Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu Kyoto di Jepang. Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia, dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas. "Puji Tuhan," ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura. "Alhamdulillah," ujar Rashid. "Mantap, jalan-jalan euy!" teriak Agung pelan. Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya. Agung sudah menginterupsinya. "Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah." Rashid tak mau kalah. "Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa." "Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter," tutur Anita Chan polos. "Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Michiko-san, karena anda orang Jepang, saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, saya kirim ke Istanbul. Naufal karena asli Yaman, silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama, silakan saling bertukar tempat. Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung," Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang. Agung bagai tertimpa meteor dari Jupiter. "Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia," protes Agung. "Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia, " protes Rashid. Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis. "Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun Warapom di kantor International Students untuk pengaturan tiket dan akomodasi," jawab Ajarn Sunchai. "I hate Indon!" sungut Rashid kepada Agung. "Malingsia!" balas Agung tak mau kalah. Baca selanjutnya di : http://majalahannida.multiply.com/journal/item/39/Cerpen_Saudara_Serumpun
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
