CAHAYA DI ATAS CAHAYA(bag II)
Proses fotosintesa ini terjadi pada
hijau daun dan hasil dari proses tersebut di alirkan ke seluruh bagian dari
tumbuhan tersebut mulai dari daun hingga ke akar sehingga tumbuhan tersebut
dapat tetap bertahan dan berkembang biak. Makhluk lain yang termasuk kecil
dalam hal ukuran juga  memanfaatkan
cahaya matahari untuk mengurai zat-zat yang ada dalam air untuk makanannya
yaitu plankton. Ternyata begitu penting dan banyak manfaat cahaya yang
dirasakan oleh makhluk dibumi baik yang secara langsung maupun tidak langsung. 
Lantas
ada apa dengan cahaya?, apakah cahaya merupakan ruh kehidupan dari jagat
semesta ini, layaknya nafas pada tubuh manusia?.

Cahaya di atas cahaya, dalam
pengertian lain cahaya dipahami sebagai hidayah atau petunjuk dimana
kendaraannya adalah Ilmu dan atau pengetahuan, maka dalam hal ini dipahami
bahwa manusia yang mendapatkan cahayanya adalah manusia yang mendapatkan
hidayah-Nya dan prosesnya bisa saja melalui pencarian yang dilakukan oleh yang
bersangkutan melalui serangkaian pemikiran, penelitian, pengamatan, dan
penentuan serta penetapan postulat-postulat sehingga sampailah pada suatu
kesimpulan. Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim A.S dia melakukan
hal-hal tersebut di atas untuk mencari Tuhannya, dan Allah pun memberinya
hikmah dan petunjuk kepadanya sehingga beliau sampai kepada-Nya dan Allah SWT 
memuliakannya
dalam firman-Nya sebagai berikut: Kami abadikan untuk Ibrahim
itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 
(As-Saaffaat:
108).
2. Al-Hadits

Dalam sebuah hadits dari Rasulullah
SAW di sebutkan bahwa “ Al’Ilmu nuurun”,  Ilmu diibaratkan sebagai cahaya, 
begitu
pentingnya ilmu sehingga rasul SAW pun menyatakan dalam haditsnya bahkan dalam
atsar-atsar Ilahi begitu banyak menyebutkan tentang keutamaan Ilmu sehingga
orang yang berilmu diumpamakan bagaikan sebuah pelita yang bercahaya yang dapat
menerangi dalam kegelapan tanpa harus terbakar dirinya oleh cahaya tersebut.
Dalam konteks hadits di atas maka ilmu adalah sebagai penerang, sebagai
penunjuk jalan, atau sebagai hidayah sehingga manusia tidak tersesat melangkah
di dunia ini sebaimana ayat tersebut di atas ” “..Cahaya di atas cahaya,
Allah memberikan cahaya-Nya (petunjuk) kepada siapa saja yang Dia kehendaki..”
 dan Allah pun memuliakan dan meninggikan
derajat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berilmu sebagiamana dinyatakan
dalam firman-Nya yang mulia QS al-Mujadilah ayat 11 sebagai berikut: “Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang
yang memiliki Ilmu beberapa derajat”.

Pada ayat di atas ada keterkaitan
antara Ilmu dan Iman dan kata Iman mendahului serta berkaitan langsung dengan
kata meninggikan ‘arf, dari pada kata Ilmu sebagaimana dapat
dibandingkan pada ayat berikut “ Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu.(An-Nisa)

 Singkatnya bahwa, ketaatan kepada Allah
dan kepada Rosul adalah mutlak, sedangkan ketaatan kepada pemimpin adalah
relative.

Berkaitan dengan Qs-Al-Mujadilah
diatas, tanpa harus mempersoalkan mana yang lebih utama dan didahulukan, Iman
atau Ilmu dan mana yang menjadi sebab atau akibat karena apa gunanya ilmu bila
tidak dilandasi iman dan apakah mungkin seseorang akan sampai pada derajat
Mukmin dan Muttaqin yang Mukhlis tanpa dilandasi dengan keilmuan yang benar. 
Walaupun
masalah ilmu tidak dimasukkan dalam pondasi keislaman dan keimanan tetapi Ilmu
adalah alat bantu yang paling utama sebab Ilmu layaknya sebuah kendaraan (alat
bantu) yang akan mengantarkan sampai ke tujuan yaitu Tuhan semesta alam.

Bila ilmu dianggap sebagai salah
satu penafsiran dari cahaya, maka ilmu apakah yang dimaksudkan tersebut sebab
sedimikian banyaknya ilmu-ilmu saat ini. Pembahasan mengenai Ilmu tidak mungkin
tidak akan berkaitan dengan aspek-aspek Ontology, Epistemology, dan Aksiology,
karena suatu ilmu singkatnya akan berkaitan dengan apa bagaimana
dan untuk apa .

Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin Imam
Ghazali mengatakan bahwa Ilmu di bagi kedalam dua (2) kelompok besar, pertama
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kewajiban seorang hamba pada Tuhan, maka
menuntutnya menjadi kewajiban pribadi/individu seperti ilmu-ilmu tentang ibadah
ritual. Dan kedua adalah ilmu-ilmu  yang
masuk kategori menuntutnya adalah kewajiban umat manusia secara estafet yaitu
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sebab akibat, kebutuhan mengharuskan
keberadaanya seperti ilmu kedokteran atau medis, ilmu fisika, dan ilmu
pengetahuan lainnya yang kewajiban menuntutnya akan gugur manakala ada orang 
lain
yang telah menuntutnya tetapi harus selalu ada dan inipun akhirnya bisa masuk
pada kaidah yang pertama tadi. Dalam kesempatan ini tidak akan dijelaskan 
mengenai
Ilmu dari sisi Ontology, Epistemology, dan Aksiology tetapi hanya
selintas saja mengenai keterkaitan ilmu dengan pengertian cahaya tersebut di
atas dimana ilmu sebagai pilar didapatkannya hidayah dari-Nya yang bersifat dua
(2) arah. 
3.Al-Kaun

Seringkali kita mendengar kata-kata
al-kaun, atau kauniyyah ini tidak lain adalah dipahami sebagai alam semesta
atau jagat raya karena berkaitan dengan kata “KUN” seperti firman-Nya
pada QS: Yasin ayat 82 dimana Dia mengatakan Kun Fa Yakun maka terjadi
lah alam semesta ini yang di awali dengan peristiwa ledakan maha agung (Big 
Bang)
seperti yang terdapat pada Qs:Ar-Rahmaan ayat 37 di atas,
dimana telur kosmik pecah menjadi partikel-partikel
yang lebih kecil dan menyebar karena meningkatnya intensitas cahaya terhadapnya
 dan semburat cahayanya bagaikan mawar
merah inilah yang menurut para scientist sebagai awal mula terbentuknya alam
semesta dan kehidupan ini serta titik awal berlakunya hitungan ruang dan waktu.
Perkataan-Nya “Jadilah maka terjadi” adalah mengharuskannya terbentuk suatu
wujud materi sebagai akibat dari perbuatan-Nya dari salah satu sifat-Nya yaitu
al-Khalik melalui sebuah proses yang tentu saja ada hikmah dan pembelajaran
yang bisa di ambil khususnya oleh manusia meskipun Allah mampu hanya mengatakan
“KUN” saja. Dinisbatkannya kata kaun kepada alam karena alam adalah tempat
terjadi dan keberadaan dari wujud materi dan segala sesuatu yang terjadi di
alam semesta ini sejatinya ada dalam pengetahuan, kehendak, dan perintah-Nya
walaupun tidak semuanya ada dalam ridho-Nya.          

Dari sisi ilmu pengetahuan cahaya adalah sebuah definisi, bukan sebuah
benda seperti menurut Isaac Newton (partikel-partikel ringan berukuran
kecil/tipis) maupun Thomas Young (gelombang), (Quantum Physic Series). Cahaya 
dapat bergerak (menyinari) dari sumber cahaya itu sendiri sampai jarak
tertentu tergantung dari intensitas cahaya tersebut. Karena cahaya bergerak 
dengan jarak tertentu maka cahaya memiliki kecepatan untuk sampai pada jarak
yang di tempuh oleh cahaya tersebut. 

Bila cahaya memiliki kecepatan tertentu, ada sebuah pertanyaan: adakah
produk teknologi dari hasil rekayasa ilmu pengetahuan yang memiliki
kecepatan yang sama dengan cahaya?,

InsyaAllah berlanjut.

Wassalam.

a.s.


      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke