Pansus Century yang Merisaukan

PERJALANAN angket skandal Bank Century sampai hari ini lancar-lancar saja.
Setelah disetujui 90% anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari sembilan fraksi,
panitia angket akhirnya dibentuk. Pimpinannya pun berhasil disepakati
melalui rapat pansus yang terbilang alot. 
Akan tetapi, ketika angket mulai memasuki tahap kerja, kerisauan bukannya
semakin lenyap, melainkan meninggi. Ketidakpercayaan tetap saja menghantui. 
Ketidakpercayaan tidak semata dipicu oleh memori kolektif yang tersimpan
baik bahwa selama ini DPR tidak pernah menuntaskan angket-angket yang
dibentuknya. Angket-angket sebelum ini adalah angket transaksional yang
cepat menguap. 
Berdasarkan memori itu, siapa yang memimpin angket ini menjadi penting.
Karena itu, banyak suara yang tidak menghendaki Partai Demokrat yang
memegang komando. Alasannya sederhana sekali. Sebagai pihak yang dicurigai,
adalah tidak etis bila memimpin angket yang hendak membongkar kecurigaan
itu. 
Partai Demokrat kelihatan lihai membaca itu. Mereka melepas posisi ketua
angket, tetapi mendorong Partai Golkar untuk mengambil alih. Karena Demokrat
tahu betul bahwa Golkar biasanya rela pasang badan untuk kekuasaan. 
Ketika semua partai--termasuk Demokrat yang ikut di saat-saat
terakhir--menyetujui angket, bahayanya adalah hegemoni koalisi.
Partai-partai yang terikat dalam koalisi dipaksa untuk saling membela bila
ada yang akan dirugikan. 
Karena itu, sesungguhnya, kalau DPR ingin mengubah memori kolektif publik
yang begitu jelek terhadap kinerja dan komitmen mereka, angket Century
inilah peluang emasnya. Adalah terobosan besar jika angket ini dipimpin oleh
partai oposisi, atau mereka-mereka yang sejak awal memeloporinya--salah satu
dari anggota yang tergabung dalam Tim 9. 
Ketika angket ini dipimpin oleh salah satu dari anggota koalisi, apalagi
dari partai atau anggota yang tidak pernah mendorong angket sejak awal,
jangan heran kalau publik menilai angket telah dibajak melalui hegemoni
koalisi itu. 
Semakin angket menapaki tahap kerja, semakin publik berdebar. Semua orang
yang disebut terlibat dalam pencairan dana talangan Rp6,7 triliun untuk Bank
Century membantah. Semua otoritas yang memiliki hak untuk membongkar skandal
ini telah memerintahkan untuk membuka seluas-luasnya. 
Akan tetapi, di sinilah ironisnya. Semakin penguasa memerintahkan
keterbukaan, semakin aliran dana Century kian sulit terlacak. Semua otoritas
yang memiliki wewenang mengetahui aliran dana tiba-tiba merasa kekuasaan dan
kemampuannya tidak sehebat yang diperkirakan. 
Jadi, tantangan bagi Pansus Angket Century adalah menemukan kesalahan atau
skandal dalam diri atau lembaga-lembaga yang selama ini berteriak bahwa
mereka bersih. 
Salah satu sebab kemerosotan kredibilitas lembaga publik di mata rakyat
adalah kemunafikan yang memperoleh pembenaran prosedural semata.

 

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke