Minggu, 20/12/2009 07:24 WIB
Laporan dari Arab Saudi
Thaif Kota Nan Sejuk dan Ujian Berat Sang Rasul Allah 
M. Rizal Maslan - detikNews


Jalan di Thaif/M RIzal Maslan (detikcom)

Jakarta - Thaif merupakan salah satu kota yang memiliki hawa sejuk, karena
berada di lembah pegunungan Asir dan penunungan Al Hada. Kota yang terletak
sekitar 67 kilometer atau 1 jam 45 menit dari Kota Makkah Al Mukarramah ini
terkenal dengan perkebunan Delima, Kurma, sayuran lainnya, termasuk juga
banyak tumbuh pohon Zaqqum, pohon berduri.
Hawa sejuk, layaknya seperti udara di Puncak Pas, Bogor, Jawa Barat ini,
mulai terasa ketika detikcom bersama sejumlah wartawan yang tergabung dalam
Media Center Haji PPIH Daerah Kerja Makkah melakukan perjalanan ke Thaif,
Sabtu (19/12/2009) siang waktu Arab Saudi. Diperkirakan suhu udara di
kawasan ini mencapai 20 derajat celsius, sehingga membuat nyes di kulit.
Jalan menuju Thaif, khususnya ketika melewati Pegunungan Asir dan Pegunungan
Al Hada berkelok-kelok, panjang dan menanjak mengelilingi pinggiran
pegunungan hingga puncaknya. Puncak pegunungan yang berbeda dengan Puncak,
Bogor atau tempat lainnya di Indonesia. Pegunungan di sini relatif tidak ada
pepohonan, tandus, berbatu dan berpasir.
Namun, ketika memasuki kota Al Hada sebelum Thaif, sepanjang jalan baru
ditemukan sejumlah pepohonan dan perkebunan kurma. Beberapa rumah
tradisional juga berdiri di tengah-tengah perkebunan itu. Di sepanjang
kawasan ini juga dipenuhi sejumlah tempat wisata bagi penduduk Arab Saudi.
Di tempat ini juga terdapat kawasan yang dijadikan tempat ber-Miqot atau
untuk berihrom haji atau umrah, yaitu di Wadi Sair Kabir.
Kesejukan kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan
pariwisata di musim panas. Bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun
tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini. Sehingga Thaif juga mendapat
julukan Qaryah Al Mulk atau Desa Para Raja. Di kota ini juga sering
diselenggarakan pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian bilateral,
regional dan internasional.
Menurut informasi yang diperoleh para mukmin dan sejumlah literatur,
sebenarnya di kota ini sering diselenggarakan perlombaan balap onta. Namun,
menjelang musim dingin di antara bulan Oktober hingga Januari, di kawasan
ini juga di kawasan Al Safa, adalah musim Delima dan Bunga Anggrek.
Yang menarik, dalam perjalanan rombongan yang disopiri Hamdan Bakri atau
Syamsul Nawawi menunjukan sejumlah Pohon Zaqqum yang tumbuh di antara
perbukitan dari Thaif menuju Al Safa. Akhirnya, kami menghentikan sejenak
perjalanan, memperhatikan pohon yang ditumbuhi duri-duri yang besar dan
tajam, dan tidak ketinggalan berfoto ria, sebelum bubar karena mobil patroli
polisi (askar baladiyah) datang.
Maklum, rombongan was-was juga memasuki kota Thaif, karena tidak memiliki
Tasrih (surat izin) atau visa mengunjungi kota ini. Sebab selama musim haji,
jamaah haji tidak diperkenankan masuk ke wilayah itu, karena hanya
mengantungi visa haji, bukan wisata atau visa bekerja. Namun, rombongan
memberanikan diri masuk, dan memang tiga pos Check Point yang dilewati tidak
pernah menghentikan kendaraan MCH Daker Makkah ini.
Pohon Zaqqum, memang tidak ada di Indonesia atau negara lainnya. Ini
menarik, ditambah lagi di dalam Al Quran Surah Al Waqi'ah ayat 52-56 tentang
keberadaan Pohon Zaqqum. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa para penghuni
neraka kelak akan diberikan makanan dari Pohon Zaqqum. Para penghuni neraka
akan diberi makanan yang luar biasa pahitnya. 
Pengalaman Pahit Rasulullah SAW di Thaif
Thaif dalam sejarah awal perjuangan Rasulullah Muhammad SAW memang sangat
pahit. Terhitung tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah SAW melakukan
perjalanan ke Thaif untuk melakukan dakwah dan mengajak Kabilah Tsaqif masuk
Islam. Perjalanan ini dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti Khadijah
pada 619 Masehi dan wafatnya Abu Thalib, pelindung utama yang juga paman
Rasulullah SAW pada 620 Masehi.
Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah ini yang disegani oleh kaum
musyrik Qurais, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, jika warga kota Thaif mau menerima Islam, kota ini akan
dijadikan tempat berlindung bagi warga muslimin dari kekejaman kaum
musyrikin Makkah.
Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat secara diam-diam dan dengan
berjalan kaki, Rasulullah mencoba pergi ke Thaif untuk meminta pertolongan
dan perlindungan. Rasulullah tinggal di Thaif selama sepuluh hari untuk
berdakwah dan meminta perlindungan. Namun, ternyata penduduk Thaif melakukan
penolakan dan memperlakukan Rasulullah dengan kasar.
Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya terluka.
Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membelanya dan
melindunginya, tapi kepalanya juga terluka akibat terkena lemparan batu.
Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik 'Utbah bin Rabi'ah. 
Saat itu, Rasulullah SAW berdoa, "Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan
kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan
manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah
Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku
hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku,
ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena
sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung
pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan
kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan
dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan
apa pun selain atas perkenan-Mu."
Dari do'a ini tentu semua begitu memahami betapa beratnya cobaan Rasulullah
SAW saat itu dalam menghadapi penganiayaan dengan penuh ridho, ikhlas dan
sabar, serta tidak pernah berputus asa. Seperti sejumlah cerita yang
diriwayatkan kembali Ulama Hadist terkenal, Imam Bukhori dan Muslim dari
Asiyah RA (istri kedua Rasulullah SAW).
Ia (Aisyah) berkata, "Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami
peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?" Jawab Nabi saw, "Aku telah
mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat
yang pernah aku rasakan ialah pada hari 'Aqabah di mana aku datang dan
berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan
tersadar ketika sampai di Qarnu'ts-Tsa'alib.
Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril
memanggilku seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan
dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga
gunung untuk engkau perintahkan sesukamu," Rasulullah SAM melanjutkan.
"Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku
lalu berkata, " Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan
kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah
mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku
bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka." Jawab Rasulullah SAW,
"Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak
keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak
menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun." Subhanallah..!!

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke