21 Januari 2010, 08:04

Sri Mulyani Bukan Tumbal SBY yang Empuk


 <http://www.serambinews.com/news/author/174/t-taufiqulhadi> T Taufiqulhadi
-  <http://www.serambinews.com/columns/view/13/opini> Opini

SETELAH hampir setengah bulan sejumlah tokoh penting di republik ini
diperiksa oleh Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century di depan
publik, muncul pertanyaan; di mana ujung  “drama” politik ini: apakah Sby
akan tumbang, atau  cukup Menteri Keuangan Sri Mulyani saja yang dikorban?
Masyarakat mendapat suguhan menarik ketika figur-figur seperti Wapres
Boediono, mantan Wapres Muhammad Jusuf Kalla (JK) , Sri Mulyania,  mantan
Deputi Gubernur BI Aulia Pohan dan lainnya datang dan tampil bergiliran di
depan Pansus untuk “diinterogasi”. Tokoh-tokoh yang menyangdang nama besar
ini, karena disiarkan langsung oleh hampir semua stasiun TV, terlihat dibuat
menyedihkan di depan publik.
Sekali pun wapres, pansus tidak menaruh hormat apa pun terhadap Boediono.
Mereka memeriksa wapres ini layaknya seorang pesakitan. Ketika Wapres
Boediono berbicara, mereka memotongnya, menaikkan nada suara, mendelik dan
sebagainya. Alhasil, Boediono terlihat agak putus asa dan tidak berdaya.
Kali lain, mereka menghadirkan Sri Mulyani. Dalam penampilan yang kedua,
Menkeu yang smart dan tangkas ini, tampil penuh percaya diri. Ia mampu
mematahkan berbagai argumentasi para anggota Pansus dengan argumennya yang
kuat dan mengalir dengan tajam. Namun celakanya, keesokan hari, mereka
menghadirkan JK, yang mereka tampilkan ibarat seorang saksi mahkota bagi
Pansus.
Benar saja, JK yang terkenal blak-blakan dan selalu tidak terduga,
mematahkan semua argumentasi Sri Mulyani dengan santai. Misalnya, Sri
Mulyani mengatakan, keputusan penalangaan (bailout) Bank Century segera
telah dilaporkan kepada JK, sebagai pelaksana Presiden, pada tangaal 24
Desember melalui jasa pesan pendek (SMS) saat itu. Tapi JK mengatakan tidak
pernah membaca “laporan” melalui sms itu, dan diketahui juga, dari arsip
Kementerian Keuangan, laporan itu dikirim pada tgl 25 Desember. Mungkin JK
ingin mengatakan, persoalan negara yang demikian besar, mana bisa hanya
dilaporkan dengan sms. Berikutnya, JK menyatakan, Sri Mulyani pernah
mengeluhkan kepadanya bahwa ia merasa tertipu dengan data dari BI, yang saat
itu dipimpin Boediono.
Penjelasan JK yang terlihat seperti tidak ada beban ini, kontan membuat
cerah kembali anggota Pansus dari Golkar, Gerindra, Hanura, PKS, dan
terutama PDIP, yang sempat keteter karena argumentasi Sri Mulyani sehari
sebelumnya. Sebagai ganti, karena penamapilan JK kali ini membuat anggota
Pansus dari partainya Sby, Demokrat, kehilangan kontrol. Anggota Pansus dari
Demokrat ini biasanya terlihat lebih tenang dan mengajukan pertanyaan
sekenanya ketika berhadapan dengan saksi-saksi kunci yang diduga berada di
balik kasus bailout Century ini. 
Namun ketika JK tampil, anggota Demokrat terlihat salah tingkah. Ruhut
Sitompul, yang temperamental dan kontroversial karena
pernyataan-pernyataannya yang kontroproduktif, menuduh JK telah melakukan
intervensi karena mantan Wapres ini telah memerintahkan polisi menahan
pemilik Bank Century, Robert Tantular. Alasannya, sekali lagi terlihat naïf,
karena intervensi ini, Tantular dihukum ringan. JK membalasnya, ia tidak
mengintervensinya. Tapi ia, yang saat itu menjadi acting Presiden,
memerintahkan polisi. Jika tidak diperintahkan, Tantular yang sedang
berkemas-kemas untuk kabur saat itu, kini mungkin hidup tenang dengan hasil
bailout triliunan itu di luar negeri.
Kesaksian JK ini membuat posisi kubu Sby terlihat rentan dan menganga.
Perkembangan terakhir, Buyung Nasution, yang pernah menjabat sebagai Ketua
Dewan Pertimbangan Presiden, meminta Sby harus mengambil-alih pesoalan ini,
dan berani menjelaskan kepada masyarakat duduk persoalannya. Tapi pihak
istana kepresidenan dengan cepat menepisnya dengan mengatakan, penjelasan
Presiden belum perlu.
Dari perkembangan-perkembangan itu mustahil untuk mengatakan bahwa pihak
kubu Sby dapat bersikap tenang. Dukungan terhadap pandangan yang menghendaki
agar Sby memberi penjelasan makin besar. Jika tidak melihat bagaimana
tingkah laku para anggota Pansus yang tidak memiliki etika dan terkesan
arogan itu, tekanan terhadap Sby lebih kuat lagi.
Di Jakarta kini orang mulai berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang
harus menjadi tumbal. Tumbal utama, jika kita membaca sasaran Pansus, adalah
Sby sendiri. Tapi jika yang dituju adalah Sby, maka ini pasti menjadi hard
target. Target yang paling mudah  adalah Sri Mulyani.
Jakarta Post, surat kabar bahasa Inggris ibukota, dua pekan lalu mengungkap.
Ketika akhirnya Idrus Marham, kader Golkar, disepakati jadi ketua Pansus,
kesepakatan telah dibuat antara Golkar dan Demokrat. Partai Sby ini, menurut
Jakarta Post, meminta tidak menjadikan Presiden dan Wakil Presiden sebagai
target. Namun keduanya, tidak menyebut-nyebut nama Sri Mulyani. Jakarta Post
menyimpulkan, dengan tidak menyebut nama Sri Mulyani, maka dapat
diperkirakan, Sri Mulyani dapat dikorbankan.
Awal pekan ini, beberapa surat kabar ibukota mengutip sejumlah sumber yang
tidak bersedia disebut namanya, Sri Mulyani akan diganti bulan depan dengan
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Anggito Abimanyu, yang dekat dengan Ketua
Umum Golkar Aburizal Bakrie dan Mensesneg Hatta Rajasa. Jika ini benar,
dengan demikian dapat dipastikan bahwa Aburizal telah mencapai kesepakatan
dengan Sby.
Aburizal adalah salah seorang yang sangat menghendaki penyingkiran Sri
Mulyani sebagai menteri keuangan. Dalam wawancara dengan The  Wall Street
Journal, Sri Mulyani mengatakan, tindakannya sebelumnya membuat Aburizal
sama sekali tidak senang kepadanya. Pada akhir 2008, Sri Mulyani yang tidak
pernah tunduk kepada tekanan orang kuat manapun, menentang permintaan
Aburizal untuk menutup Bursa Saham Indonesia guna mencegah terjun bebas
saham Bumi Resources, yang sebagian besar sahamnya milik Aburizal. Pada
2008, Sri Mulyani juga memberlakukan larangan perjalanan kepada sejumlah
eksekutif pertambangan batubara, termasuk eksekutif perusahaan milik
Aburizal. Tindakan ini dilakukan oleh Sri Mulyani karena mereka tidak mau
membayar pajak.
Sejumlah pengamat yakin, perseteruannya dengan Aburizal inilah yang membuat
Golkar berjanji mendukung  pembentukan Pansus itu. Tujuan awal pembentukan
Pansus, yang digagas oleh para politisi PDIP, untuk menyibak kemana mengalir
uang bailout tersebut. Kubu oposisi meyakini, uang bailout tersebut mengalir
ke rekening Partai Demokrat dan untuk tim kampanye Sby.
Tapi kini Pansus tersebut telah menggeser fokus dengan mempersolkan
kebijakan bailout dan menginvestigasi merger yang menghasilkan pembentukan
Bank Century pada 2004. Bagaimana dengan aliran dana bailout itu? Tidak
penting lagi. Lebih penting bagaimana semua persoalan itu harus dilekatkan
pada Sri Mulyani, yang bersama dengan Boediono memutuskan melakukan bailout
terhadap Bank Century.
Tapi apakah Sri Mulyani mau dengan mudah dikorbankan? Jika melihat sikapnya
yang tegar dan punya integritas, Sri Mulyani bukan tumbal Sby yang mudah. Ia
akan memberi perlawanan yang sengit. Pada dasarnya, perlawanan ini telah
dimulai ketika ia menemui JK dan mengatakan, ia merasa tertipu dengan  data
dari BI. Dengan pengakuan ini, Sri Mulyani ingin mengatakan, bukan dia tapi
Boediono yang harus bertanggung jawab karena saat itu, Wapres ini menjadi
Gebernur BI yang telah menyuguhkannya data yang menipu.
Zainal Bintang, salah seorang anggota DPP Golkar mengutip sebuah sumber yang
mengatakan, baru-baru ini, Sri Mulyani mengumpulkan sejumlah teman-teman
dekatnya, anggota-anggota keluarganya, dan para pembantu dekatnya dalam
sebuah pertemuan tertutup. Dalam pertemuan itu, Sri Mulyani mengatakan, jika
ia harus jatuh, maka ia tidak mau jatuh sendiri.
Jika ia tidak mau jatuh sendiri, maka yang paling mungkin ia seret  adalah
Boediono, yang disebut sebelumnya telah memberikannya data yang menipu..
Sekiranya  Boediono terseret,  maka itu artinya, figur yang terpilih dalam
pemilihan presiden, dijatuhkan. Jika,  ini terjadi, maka menimbulkan heboh
politik yang sangat besar, yang pada gilirannya bisa-bisa akan menyeret Sby
pula.
 * Penulis adalah mahasiswa S3, program Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke