Senin, 15/02/2010 10:51 WIB
Surat kepada Presiden
Pak Presiden, Tolong Anda Belajar Hipnotis
 <http://arifin.blogdetik.com> AS Laksana - detikNews



Jakarta - Pak Presiden, sebenarnya saya punya satu saran yang bisa berguna
bagi anda, tetapi saya agak khawatir dianggap menyodorkan saran yang tidak
benar. Saran saya, ada baiknya anda mempelajari hipnosis. Ini penting agar
anda semakin jagoan sebagai komunikator. Bagaimanapun, hipnosis adalah
sebuah teknik berkomunikasi. Dan, jika anda mempelajarinya secara baik, anda
tidak akan kesulitan untuk menyampaikan pesan-pesan sugestif yang bisa
menjangkau bawah sadar orang banyak. Persoalan pentingnya terletak pada
sugesti apa yang anda sampaikan.
Banyak pemimpin yang memiliki daya hipnosis kuat. Bung Karno memukau di
depan khalayak. Fidel Castro demikian. Josip Broz Tito dari Yugoslavia juga
memukau. Bahkan pemimpin lucu seperti Idi Amin pun pernah memukau para
pendukungnya di Uganda sana, meskipun ia tampak tidak masuk akal bagi
orang-orang di negeri tetangga. Dan tentu saja Hitler pernah membuat Jerman
terhipnotis sehingga bisa melakukan kesalahan yang sampai sekarang membuat
mereka tak berkutik ketika orang-orang Yahudi terus-menerus mempersegar
ingatan orang tentang Holocaust.
Demikianlah, para orator selalu tahu cara menghipnotis massa dengan bahasa,
gerak tubuh, penampilan, dan apa saja yang bisa mereka manfaatkan untuk
menggerakkan publik. Tetapi, sekali lagi, yang terpenting adalah sugesti
yang disampaikan. Dan pada dasarnya hipnosis, sebagai teknik komunikasi,
akan ampuh ketika ia digunakan demi kepentingan orang lain. Jika digunakan
untuk kepentingan si hipnotisnya sendiri, sedikit banyak ia akan menjadi
sesuatu yang kriminal.
Maksud saya, jika anda menggunakan teknik komunikasi yang efektif demi
menyampaikan sesuatu yang menggugah semangat orang banyak, anda akan menjadi
pemimpin yang sanggup memotivasi seluruh warga negara. Anda akan mampu
melahirkan kebijakan yang membangkitkan harapan dan anda didukung oleh
publik karena mereka terdorong untuk menjaga agar kebijakan itu berhasil.
Dan bagaimana anda bisa melibatkan partisipasi publik? Yakni ketika semua
orang merasa melakukan hal itu untuk kebaikan diri mereka masing-masing dan
bukan sekadar untuk mendukung secara buta apa saja yang diputuskan oleh si
pemimpin. Yang terakhir ini biasa terjadi dalam sebuah sekte.
Oya, apakah anda membaca berita baru-baru ini tentang Anand Krishna diadukan
ke Komnas Perempuan karena pelecehan seksual? Saya yakin bahwa Anand Krishna
adalah orang yang berhasil memukau para anggota perkumpulannya. Mereka
memercayai Anand. Namun ketika ia menggunakan daya pukaunya untuk keuntungan
pribadi, misalnya sering-sering minta dipijit, di situlah bermula tindak
kriminal.
Secara guyon saya pernah mengatakan kepada teman-teman bahwa Partai Demokrat
adalah sekte pemuja SBY. Tetapi, Pak Presiden, sesungguhnya saya memang
mengkhawatirkan itu. Dan anda orang nomor satu yang paling bertanggung jawab
agar para pemuja anda tidak menjadikan anda sebagai kepala sekte.
Di surat saya yang terakhir, saya menceritakan tentang Iran yang melakukan
"kampanye miskin" dan negeri itu berhasil mengatasi rongrongan embargo
dengan kekuatannya sendiri. Ada sebuah komentar lucu yang menyatakan bahwa
Indonesia bukan Iran dan apa yang terjadi di sana belum tentu cocok dengan
Indonesia. Saya sangat paham Indonesia bukan Iran. Indonesia bukan Amerika
Serikat, bukan Kenya, bukan Somalia, bukan Malaysia, apalagi Uganda.
Indonesia bukan penemu teori gravitasi, bukan penemu matematika, bukan
penemu kacang polong, bukan penemu burger. Tetapi bukankah anak-anak sekolah
kita mempelajari gravitasi, matematika, dan bisa menikmati kacang polong
maupun burger?
Sekarang, tiba-tiba saya teringat kisah Khalifah Umar bin Khathab yang konon
hanya mengisi perutnya dengan minyak zaitun ketika perut itu keroncongan.
Ketika itu rakyat di negerinya sedang kelaparan. Katanya, "Sekeras apa pun
kau merengek, wahai perut, hanya itulah yang akan kaudapatkan sampai semua
rakyatku bisa kembali mendapatkan makanan."
Jadi, Pak Presiden, dari cerita itu kita bisa belajar bahwa seorang pemimpin
yang baik tidak melakukan 'kompromi politik' bahkan dengan perutnya sendiri.
Dan ia bisa memperlakukan perut sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya,
dan ia bisa menolak tuntutan perutnya sekalipun perut itu merengek manja.
Saya kira itu contoh yang baik, Pak Presiden, dan saya senang bisa
menyampaikannya meskipun nanti ada yang berkomentar bahwa anda bukan
Khalifah Umar, jadi apa yang dilakukan oleh Umar belum tentu cocok anda
lakukan. 
Salam dari saya,
A.S. Laksana

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke