gimana juga kewaspadaan adalah hal yang paling utama dari sekedar pencerdikan 
suatu generasi.


salam,
Fahru
---
Pahlawan Asing tanpa Tanda Jasa 
Dani, sang Suporter Sejati 

Sebagian sekolah di Surabaya punya guru-guru asing. Terbang ribuan kilometer 
dari negerinya, para guru ekspatriat itu pun memilih total di negeri ini. 
Menebar ilmu, menjadi pahlawan pendidikan, walau tanpa tanda jasa.

---

HALAMAN tengah SMA Khadijah, Kamis pagi (18/2), tampak ramai. Sepagi itu, pukul 
06.15, para pelajar sekolah tersebut mulai berdatangan. Sebagian siswi yang 
datang lebih awal tampak duduk-duduk di bangku taman. Mereka bercanda sembari 
menunggu bel masuk berbunyi.

Hampir seluruh gadis yang duduk di taman pagi itu berjilbab hijau muda. 

Namun, di antara gadis-gadis berkerudung tersebut, terlihat sesosok wanita 
berambut pirang. Kulitnya putih dan hidungnya mancung dengan hiasan anting 
berbentuk lingkaran di sisi kanan. 

Wanita yang tubuhnya lebih bongsor daripada siswa lain itu adalah Danielle 
Phillips. Dia merupakan guru ekspatriat asal Amerika Serikat yang mengajar di 
SMA Khadijah. Sejak September 2009, Dani -panggilan akrab Danielle- menjadi 
salah seorang penghuni sekolah tersebut.

Sehari-hari, Dani memang akrab dengan para pelajar SMA Khadijah. Pembawaannya 
yang ceria membuat para siswa ingin berinteraksi dengan dirinya. Meskipun, 
kadang pembicaraan itu harus dilakukan dengan bahasa tarzan karena tak semua 
siswa lancar berbahasa Inggris. ''Itulah tugas saya di sini. Membuat mereka 
nyaman dan berani bicara dalam bahasa Inggris,'' katanya.

Jika tak sedang ke luar kota, kalau para siswa ada kegiatan, Dani pasti ikut 
serta. Ketika ada siswa yang mengikuti lomba, dia pasti hadir untuk memberi 
semangat. Gadis kelahiran 14 Maret 1987 itu ibarat suporter sejati buat para 
siswa Khadijah.

''Waktu anak-anak tanding di DBL (Honda Development Basketball League, Red), 
Dani ikut datang ramai-ramai naik bemo,'' ungkap Ennik Fajarwati, pengajar 
bahasa Inggris SMA Khadijah, yang sehari-hari menjadi pendamping Dani.

Singkat kata, di sekolah itu, Dani menjadi pembawa warna baru. ''Anak-anak 
sekolah kami pernah beberapa kali diajar guru asing. Tapi, nggak ada yang 
ngajarnya lama dan tinggal di sini seperti Dani. Sebelum-sebelumnya paling 
hanya ngajar sekali atau dua kali,'' kata Suwito, kepala SMA Khadijah.

Ya, sehari-hari, Dani memang tinggal di salah satu kamar di lingkungan 
Pesantren Khadijah. Kedatangannya membuat para siswa, guru, kepala sekolah, 
serta staf administrasi sekolah itu harus siap berbicara dalam bahasa Inggris 
kapan saja.

Bagi Dani, tinggal dan berinteraksi dengan komunitas muslim seperti di sekolah 
Khadijah merupakan pengalaman yang benar-benar baru. ''Saya nggak pernah 
bertemu wanita berjilbab. Saya juga nggak pernah masuk sekolah yang menggunakan 
seragam. Di sini, semua berjilbab dan semua murid serta guru berseragam. It's 
overwhelming (bikin pusing, Red),'' paparnya sambil memegang dahi.

Bahkan, pada bulan-bulan awal berada di Khadijah, Dani sempat tidak bisa 
membedakan para siswa dan guru yang setiap hari ditemui. Sebab, hampir 
seluruhnya selalu berjilbab dan berseragam. Namun, masalah itu hilang seiring 
berjalannya waktu. Dalam bulan keempat tinggal di Surabaya, dirinya sudah 
terbiasa dengan hal tersebut.

Dia juga sudah terbiasa tinggal di kota dengan penduduk superpadat dan hawa 
superpanas seperti Surabaya. Kota asalnya, Lincoln City, Oregon, AS, adalah 
kota yang sangat luas dengan bentang alam beragam. Mulai gurun pasir, pantai, 
sampai daerah bersalju. Penduduknya hanya sekitar 5.000 orang. ''Kalau di sini, 
mungkin hanya seperti Wonokromo,'' katanya.

Dalam bulan kelimanya tinggal di Surabaya, Dani juga sudah terbiasa bepergian 
sendiri ke mana-mana. Kadang dia naik sepeda. Kadang juga berjalan kaki. Naik 
bemo sendiri juga bukan masalah untuk Dani. ''Tapi, sopir bemonya kadang serem. 
Kalau ingin benar-benar aman, saya pilih naik taksi,'' ungkapnya sambil 
bergidik. 

Di sekolah, profesi Dani adalah asisten pengajar. Saat di kelas, dia berposisi 
sebagai native speaker untuk mendampingi para guru bahasa Inggris SMA Khadijah. 
Anak pertama di antara dua bersaudara itu memang bukan lulusan pendidikan guru. 

Alumnus Pacific University, Oregon, tersebut kuliah di jurusan modern language 
dengan penekanan pada bahasa Spanyol. Dia datang ke Indonesia karena 
mendapatkan beasiswa dari American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) 
untuk mengajar bahasa Inggris di Indonesia. Bersama Dani, ada 31 warga Amerika 
Serikat lain yang dikirim ke Indonesia.

Sebelum ke Indonesia, Dani pernah berkunjung ke beberapa negara seperti Ekuador 
dan Spanyol. Gadis itu juga senang bertualang. Selama di Indonesia, hampir 
setiap weekend dia backpacking ke tempat-tempat wisata. Misalnya, Bromo, 
Bunaken, atau Pulau Gili Trawangan.

Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya ke berbagai wilayah memang hal yang 
selalu ditekankan ibunda Dani. Wanita yang pernah berprofesi sebagai guru itu 
selalu mendorong agar Dani pergi ke luar negeri. ''Sebab, ibu dan seluruh 
keluarga besar saya sejak dulu selalu tinggal di Oregon. Jadi, kalau ada 
kesempatan bagi saya untuk pergi ke luar negeri, ibu saya selalu mendorong,'' 
ungkapnya.

Indonesia merupakan negara Asia pertama yang dia kunjungi. Dani memang tertarik 
dan sengaja memilih mengajar di Indonesia. Sebab, di Amerika, dia belajar 
memainkan alat musik tradisional Indonesia. "Sejak 2006, selama tiga musim 
panas, saya ikut pentas kelompok gamelan di Portland, Oregon,'' kata gadis yang 
piawai memainkan saron itu.

Baru di Indonesia Dani tahu bahwa gamelan merupakan alat musik dari salah satu 
wilayah saja. Masih banyak alat musik tradisional lain dari berbagai provinsi 
di Indonesia. Demikian pula dengan bahasa dan bentang alamnya. Semua itu 
membuat Dani jatuh cinta dan berpikir untuk kelak kembali ke Indonesia. 

''Setelah setahun nanti, saya harus kembali ke Oregon. Tapi, saya ingin ambil 
gelar master, lalu cari kesempatan untuk kembali dan mengajar di Indonesia 
lagi,'' ujarnya. 

Rayakan Thanksgiving Pakai Doa Islami 

Hal unik terjadi ketika Dani ingin merayakan hari Thanksgiving. Sebab, warga 
sekolah Khadijah tak mengenal hari besar tradisional bagi rakyat Amerika 
Serikat itu. Para guru dan internal sekolah sampai harus mengadakan diskusi 
internal untuk membahas masalah tersebut. 

Diskusi itu memutuskan bahwa hakikat Thanksgiving sama dengan selamatan bagi 
orang Jawa dan tak ada hubungannya dengan religi. Karena itu, tak masalah bila 
Dani ingin merayakan. "Nah, karena intinya sama dengan selamatan, jadi waktu 
merayakan Thanksgiving, doanya secara Islam, haha," kata Suwito, kepala SMA 
Khadijah, lamtas tertawa.

Persiapan hari besar itu, ternyata, cukup melelahkan buat Dani. Sebab, makanan 
khas Thanksgiving, yakni kalkun panggang, tak mudah didapatkan di Surabaya. 
Ennik dan Dani harus berburu kalkun ke sejumlah hypermarket di Kota Pahlawan. 

Mereka baru mendapatkan dua ekor kalkun setelah menunggu selama tiga minggu. 
Dani kemudian memasak hidangan khas Thanksgiving itu, seperti kalkun panggang 
dan mashed potatoes, dalam tiga hari. 

Thanksgiving di Indonesia itu bukan hanya menjadi pengalaman pertama buat Dani, 
tapi juga para guru dan pelajar Khadijah. Saat malam perayaan, banyak yang 
hadir karena penasaran. Total, sekitar 70 orang datang untuk merayakan 
Thanksgiving bersama Dani. Untuk kali pertama pula, mereka makan kalkun 
panggang buatan Dani. "Rasanya uenak. Saya sampai kekenyangan, ha ha ha," 
kenang Suwito.

Malam itu juga menjadi premiere Dani sebagai koki. Sebab, biasanya dia memasak 
hidangan tersebut bersama sang ibu. Baru ketika di Indonesia, hidangan 
Thanksgiving itu dimasak sendiri. "Untung, tidak ada yang mati," kelakarnya. 
(rum/dos)



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke