Bunda, Kapan Ayah Pulang?

Sabtu, 6 Maret 2010 | 08:58 WIB



 

Cerpen Dodiek Adyttya Dwiwanto

Suara deru motor terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali kecil
langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
"Ayah datang!  Ayah datang!"

Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang
tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang
datang melainkan Pak Salim, tetangga depan rumah yang akan berangkat ke
kantornya pagi ini.  Seperti biasanya, Pak Salim yang bekerja sebagai
pegawai Departemen Keuangan itu berangkat saat waktu menunjukkan pukul 06.30
WIB.  Pak Salim berangkat pagi agar tidak terlambat sampai kantor.

Dengan langkah gontai, bocah empat setengah tahun ini kembali ke ruang
tengah sambil memegang mobil-mobilan kesayangannya.  Sebuah replika mobil
Formula One berwarna merah dengan nama Michael Schumacher di salah satu
sisinya.

"Bukan Ayah yang datang!  Tapi Pak Salim berangkat kerja!"

Bunda hanya tersenyum melihat celoteh putra tunggalnya.  Ali memang baru
berumur empat setengah tahun tetapi ia cerdas dan kritis dibandingkan bocah
sebayanya.  Sayang, bunda tidak bisa menyekolahkannya di playgroup.

Biayanya kelewat mahal.  Bunda hanya bisa memasukkan Ali ke taman
kanak-kanak lalu mungkin akan melanjutkan ke sekolah dasar.  Namun, Ali
belum berumur lima tahun.  Ali hanya bisa belajar dari bunda.  Belajar
mengeja, belajar berhitung, dan juga belajar menggambar.

Ali kembali melanjutkan permainannya seorang diri.  Di kompleks ini, jarang
sekali ada bocah sebayanya.  Kebanyakan yang tinggal di sini adalah
pasangan-pasangan muda yang baru menikah, yang sudah tentu belum memiliki
anak.  Atau pasangan-pasangan paruh baya yang sudah pensiun dan sengaja
membeli rumah di kompleks yang cukup jauh dari keramaian untuk menghabiskan
masa pensiun dan masa tuanya.

Sementara Ali bermain dengan mobil-mobilannya, Bunda pun melanjutkan
pekerjaannya.  Menyiapkan sarapan pagi bagi dirinya dan juga Ali kecil.

Suara deru motor kembali terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali
kecil lagi-lagi langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
"Ayah datang!  Ayah datang!"

Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang
tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang
datang melainkan Pak Suryo, tetangga sebelah kanan rumahnya yang juga mau
berangkat ke kantornya.  Seperti juga Pak Salim, Pak Suryo yang seorang staf
keuangan di sebuah perusahaan swasta, harus berangkat pagi agar tidak
terjebak kemacetan.

Dengan langkah gontai, bocah berambut ikal ini kembali ke ruang tengah
sambil memegang mobil-mobilan kesayangannya.  Sebuah replika mobil Formula
One berwarna merah dengan nama Michael Schumacher di salah satu sisinya.
"Bukan Ayah yang datang!  Tapi Pak Suryo berangkat kerja!"

Bunda hanya tersenyum miris melihat celoteh putra tunggalnya.  Sebelum
melanjutkan pekerjaannya menyiapkan sarapan, Bunda mengelus kepala Ali
dengan penuh kasih sayang.

Ali kembali melanjutkan permainannya seorang diri.  Memainkan kembali
mobil-mobilan kesayangannya.  Sebuah replika mobil Formula One berwarna
merah dengan nama Michael Schumacher di salah satu sisinya.

Ali membayangkan kalau dirinya adalah Schumacher, juara dunia tujuh kali
Formula One.  Ali membayangkan kalau dirinya akan memacu mobil dengan
kecepatan tinggi seperti yang selalu ia saksikan di televisi.  Ali
membayangkan bisa memacu mobilnya, mengalahkan semua lawan-lawannya dan
melewati garis finish pertama kali.

Suara deru motor kembali terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali
kecil lagi-lagi langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
"Ayah datang!  Ayah datang!"

Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang
tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang
datang melainkan Mas Prasetya, tetangga yang tinggal dua rumah di sebelah
kanan.  Mas Pras begitu biasa dipanggil, baru saja pulang dari kantornya.
Mas Pras bekerja sebagai seorang editor di sebuah stasiun televisi swasta.
Ia selalu bekerja malam, makanya baru pada pagi hari pulang.
"Bukan Ayah yang datang!  Tapi Mas Pras baru pulang!"

Bunda tidak menjawab.  Bunda makin tersenyum miris melihat celoteh putra
tunggalnya.
Ali kembali melanjutkan permainannya seorang diri.  Memainkan kembali
mobil-mobilan kesayangannya.  Sebuah replika mobil Formula One berwarna
merah dengan nama Michael Schumacher di salah satu sisinya.
Bunda kembali melanjutkan pekerjaannya menyiapkan sarapan bagi dirinya dan
juga bagi Ali kecil.

Kini waktu telah menunjukkan pukul 09.45 WIB.  Sudah sejam yang lalu, Bunda
dan Ali sarapan.  Kini, Bunda tengah sibuk menjahit pesanan Bu Mira.  Sebuah
kain kebaya yang akan dipakai saat putra sulungnya wisuda pekan depan.
Selain pesanan Bu Mira, masih ada pesanan dari Mbak Sita yang minta
dibuatkan blazer untuk busana kantornya.  Juga ada pesanan dari Bu Lina
berupa baju muslim.  Menjahit dan menjahit.  Hanya itulah yang bisa
dilakukan Bunda untuk menghidupi dirinya dan Ali kecil.  Hanya dari sinilah,
Bunda bisa mendapatkan uang.  Tidak ada pemasukan lain.  Tidak juga dari
ayah Ali.  Seorang laki-laki yang hanya bisa menanamkan benih dalam rahim
Bunda, tanpa pernah memberikan nafkah lahir batin kepada Bunda dan juga Ali.

Ali kecil, kini sedang sibuk dengan kertas gambar.  Sibuk mencoret-coret
kertas putih dengan krayon warna warninya.  Menggambar apa saja yang ada
dalam benaknya.

Suara deru motor kembali terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali
kecil lagi-lagi langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
Meninggalkan kerta gambarnya.
"Ayah datang!  Ayah datang!"

Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang
tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang
datang melainkan kurir yang mengantarkan paket untuk Mbak Icha yang kost di
rumah sebelah kiri rumah Ali.  Sebuah paket yang mungkin datang dari pacar
Mbak Icha yang katanya bermukim di Australia.
"Bukan Ayah yang datang!  Tapi Pak Pos yang datang!"
Bunda kembali tersenyum mendengar celoteh Ali.

Ali kecil belum bisa membedakan mana Pak Pos, mana bapak pengantar paket.
Bagi Ali, semuanya sama.  Sama-sama mengantarkan barang, paket atau surat.

Ali kecil juga belum bisa membedakan suara motor Pak Salim, Pak Suryo, Mas
Pras, Pak Pos atau kurir paket.  Bagi Ali, suara motor Yamaha, Honda atau
Suzuki sama saja.  Sama-sama bunyi motor, tidak peduli dua tak, empat tak,
baginya suara motor ya seragam.

Ali kecil kembali melanjutkan kesibukannya menggambar.  Ali kecil mulai
menggambar Ayah sedang naik motor bersama dirinya dan Bunda.

Suara deru motor kembali terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali
kecil pun lagi-lagi langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
Meninggalkan kerta gambarnya.
"Ayah datang!  Ayah datang!"

Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang
tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang
datang melainkan kurir pengantar tagihan kartu kreditnya Pak Bambang,
tetangga yang mengontrak tidak jauh dari rumah Ali.  Setiap tanggal 15
setiap bulannya, Pak Bambang selalu mendapatkan surat tagihan kartu
kreditnya.
"Bukan Ayah yang datang!  Tapi Pak Pos yang datang!"

Bunda kembali tersenyum mendengar celoteh Ali.  Tersenyum teramat sangat
miris.

Ali kecil belum bisa membedakan mana Pak Pos, mana bapak pengantar paket
atau pengantar tagihan kartu kredit.  Bagi Ali, semuanya sama saja.
Sama-sama mengantarkan barang, paket atau surat.  Sama-sama mengirimkan
barang yang harus didapatkan si penerima tepat waktu.

Ali kecil juga belum bisa membedakan suara motor Pak Salim, Pak Suryo, Mas
Pras, Pak Pos, kurir paket atau pengantar tagihan kartu kredit.  Bagi Ali,
suara motor Yamaha, Honda atau Suzuki sama saja.  Sama-sama bunyi motor,
tidak peduli dua tak, empat tak, baginya suara motor ya seragam.

Dengan langkah gontai, Ali kecil menghampiri Bunda yang sedang menjahit
kebaya pesanan Bu Mira.  Ali memeluk Bunda.  Mencari belaian kasih sayang
Bunda.
"Bunda, kapan ayah pulang?"

Bunda tidak bisa menjawabnya.  Tanpa disadari, airmata Bunda meleleh di
pipinya.  Hati Bunda semakin tidak kuasa melihat tatapan Ali, putra semata
wayangnya yang tengah menanti jawaban.
"Bunda, kapan ayah pulang?"

Kembali Bunda tidak menjawabnya.  Hatinya semakin perih apalagi melihat
gambar Ali.  Ayah, Bunda dan Ali sedang naik sepeda motor.
"Bunda, kapan ayah pulang?"
Lagi-lagi Bunda tidak bisa menjawab.  Bunda hanya bisa mengelus kepala bocah
empat setengah tahun ini dengan penuh kasih sayang.  Ali kecil mungkin tidak
pernah tahu kalau Ayah tidak akan pernah datang.  Ayah lebih senang tinggal
bersama istri tuanya dan juga anak-anaknya, yang tidak lain adalah
kakak-kakak tiri Ali. 
"Bunda, kapan ayah pulang?"

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke