From: razali [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, March 11, 2010 7:33 PM
To: [email protected]
Subject: Fw: Pak Presiden, Terbanglah Bersama CN 235

 

Pak Presiden, Terbanglah Bersama CN 235

 

Pesawat Boeing 737-400
<http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/users/redaksi-indonesia> 
Dibungkus kata 'mendesak', Pemerintah merengek agar DPR menggolkan anggaran
bencana yang mencapai 3,37 triliun rupiah. Di balik anggaran itu, rupanya
disisipkan anggaran untuk berbagai proyek serba mewah. Salah satunya,
pengadaaan pesawat untuk orang yang sangat sangat penting atau VVIP, yaitu
pesawat jenis Boeing 737-400 seharga 800-an miliar rupiah sebagai pesawat
kepresidenan. 

Presiden Korea Selatan

Mengapa pilih Boeing buatan Amerika daripada CN 235 produksi dalam negeri?
Padahal, Korea Selatan saja menggunakan pesawat buatan PT Dirgantara
Indonesia sebagai pesawat kepresidenan. Reporter KBR68H Suryawijayanti
mengintip ke bengkel PT DI, melihat proses pembuatan pesawat ini.

Tahukah Anda jika para kepala negara di Pakistan, Malaysia, Korea Selatan,
serta Uni Emirat Arab terbang menggunakan pesawat buatan Indonesia? Nama
pesawatnya, CN 235. Apa hebatnya pesawat CN 235 ini?  Juru bicara PT
Dirgantara Indonesia, Rakhendi  mengajak Reporter KBR68H Suryawijayanti
melihat proses pembuatan pesawat yang sudah  terjual  55 buah ini. 
 
Rakhendi menjelaskan, "CN 235 itu didesain oleh insinyur Indonesia dan
Spanyol. Yang kuning diproduksi PT DI, yang hijau Spanyol, yang merah dibuat
masing-masing. Tapi 4-5 tahun ini yang merah dibuat oleh kita semua,
rencananya 2010-2011, hijau kita yang buat. Nah nanti semua kita yang
bikin." 

Pembuatan Sayap Air Bus

Di lahan seluas 80 hektar inilah, berdiri pabrik pesawat terbang PT
Dirgantara Indonesia. Lokasinya berdekatan dengan Bandara Husein
Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.  Pabrik yang dulunya bernama Industri
Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN itu berdiri sejak 1976.   

Rakhendi lantas memperlihatkan ruang produksi sayap pesawat Jumbo Air Bus
230. Pesawat ini adalah buatan konsorsium sejumlah negara, diantaranya
Inggris. Indonesia memang belum mampu membuat pesawat berkapasitas 300-an
penumpang ini. Namun PT Dirgantara Indonesia punya kontribusi di badan
pesawat. Sayap kiri dan kanan Air Bus adalah buatan PT DI. Dari pabrik
pembuatan sayap pesawat, perjalanan berlanjut menuju ke pabrik pesawat CN
235. 

180 Miliar Rupiah

Korea Selatan hingga saat ini sudah mengoleksi delapan CN 235. Tak hanya
Korea yang ketagihan, sejumlah negara juga membeli pesawat seharga 180
milyar rupiah ini. 

Rakhendi berkata, "Kita sudah pasarkan 55 pesawat, 15 Merpati, 9 Angkatan
Udara, 8 Malaysia, 8 Korsel, 4 Pakistan, 7 UAE, 2 Thailand, 1 Filipina, 1
Brunei Darusallam. Jarak tempuhnya pesawat ini bisa terbang 6-8 jam, jadi
kalau dari Jakarta-Surabaya bolak- balik bisa.  Kalau di kawasan ASEAN bisa.
Di luar itu, harus singgah di beberapa tempat. Seperti saat kita kirim ke
Korea itu, kita singgah di beberapa tempat, bayangkan saja di Korea itu
dilapisi emas untuk pesawat Kepresidenan. Kalau di Pakistan 1, Malaysia 2,
UAE 1." Ironisnya, pemerintah justru tak melirik pesawat CN 235 sebagai
pesawat kepresidenan. Pemerintah lebih memilih mendatangkan pesawat Boeing
buatan Amerika, yang uang mukanya saja bisa untuk membeli satu pesawat CN
235. Itu pun masih sisa. 

Mensekneg

Untuk pertama kalinya sejak menjabat Menteri Sekretaris Negara, awal
Februari lalu Sudi Silalahi menggelar konferensi pers di Kantor
Kepresidenan. Pejabat irit bicara itu gerah dengan ramainya pemberitaan yang
menyerang Istana. Salah satunya soal rencana pembelian pesawat Kepresidenan
jenis Boeing 737-400. 

Sudi Silalahi berkomentar, "Indonesia itu negara besar, hanya kita yang tak
punya pesawat kepresidenan. Jadi andaikata itu terwujud, Presiden sekarang
ini hanya bisa menikmati dua tahun. Presiden yang akan datang dimudahkan." 

Tak semua negara punya pesawat kepresidenan. Perdana Menteri Singapura
memilih untuk menumpang pesawat komersil daripada membeli pesawat pribadi.
Perdana Menteri Lee Hsien Loong bahkan rela mengantri untuk check-in di
bandara, saat mengikuti pertemuan antara pemimpin ASEAN di Korea Selatan.
Alasannya sederhana. Kata Lee, sebagai pejabat pemerintah, ia harus memberi
contoh kepada rakyatnya. 

Anggaran Bencana

Di hadapan DPR November 2009, Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta agar
parlemen meloloskan usulan itu. Dananya diambil dari mata anggaran pos
bencana yang jumlahnya lebih dari 3 triliun rupiah. 

Sri Mulyani menyebutkan, "Kalau soal anggaran, itu diajukan oleh Sekneg ke
kami, lalu dibahas ke Komisi DPR. Kalau waktunya mepet, kami sampaikan di
Panggar. Lalu eksekusinya di Sekneg. Tak usah saling lepas tangan, bingung
dan ketakutan. Proses anggaran itu berdasarkan UUD. DPR menyetujui, kalau
tak setuju ya tak usah. Tapi jangan sampai disetujui lalu dipermasalahkan." 

Anggota Badan Anggaran DPR Yasonna Laoly mengakui Parlemen menyetujui
keinginan pemerintah membeli pesawat. Ia beralasan, tingginya angka
kecelakaan pesawat di Indonesia menjadi pertimbangan agar Presiden
menggunakan pesawat pribadi. 

Yasonna Laoli berkata, "Banyak sekali pesawat yang jatuh, milik domestik,
milik tentara. Bisa saja kejadian ini terjadi kepada presiden. Kalau
terjadi, ini memalukan. Ini bisa dihindari kalau presiden punya pesawat
sendiri, walaupun dengan biaya perawatan yang mahal.  Ini bisa dipahamilah."


Dalam hitungan pemerintah, membeli pesawat Kepresidenan diyakini lebih
menghemat anggaran. Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi menghitung, 100
milyar rupiah uang negara bisa diselamatkan jika Presiden memiliki burung
besi sendiri. Menurut dia, selama ini anggaran sewa pesawat untuk lawatan
dinas Presiden terus melonjak. Pada 2009, anggaran mencapai 180 miliar.
Artinya, naik 5 miliar dari tahun sebelumnya. Jika biaya sewa pesawat selama
5 tahun ditotal, itu sudah cukup untuk membeli pesawat terbang Kepresidenan
pribadi. 

Sudi Silalahi berkata, "Kami sudah hitung secara matang. Kalau sewa pesawat
setahun untuk presiden dan wapres jumlahnya Rp 180 miliar. Jadi lima tahun
Rp 900 miliar. Kalau kita beli, harga eksaknya US$ 85,4 juta, sekitar Rp 800
miliar. Jadi selisih Rp 100 miliar. Jadi kalau kita sewa maka biayanya
adalah Rp 900 miliar dan kita tetap tidak punya pesawat. Sedangkan jika
membelinya dengan mencicil selama lima tahun, maka duit akan hemat Rp 100
miliar dan pesawat milik kita." 

Hitung-hitungan Sudi Silalahi sepertinya belum mempertimbangkan biaya
perawatan pesawat dan ongkos operasional lainnya. Menteri Sekretaris Negara
periode sebelumnya, Yusril Ihza Mahendra, sudah menutup peluang pembelian
pesawat Kepresidenan. Menurut Yusril, ongkosnya terlalu besar. Sebab
pemerintah juga harus menyiapkan biaya operasional. Besarnya mencapai 8 juta
dollar Amerika, atau sekitar 80 miliar rupiah. Artinya, bukan penghematan
yang didapat, tapi justru tekor. Pengadaan pesawat besar ini juga
dipertanyakan manfaatnya. Pesawat Boeing 737-400 yang berbadan besar dan
panjang tak akan cocok jika dibawa Presiden mengunjungi wilayah-wilayah
terpencil. Karenanya, menurut Rakhendi, pilihan yang tepat justru pesawat
buatan negeri sendiri. Sayangnya, pemerintah tak tertarik membeli CN 235
sebagai pesawat kepresidenan. Padahal kata Juru Bicara, PT Dirgantara
Indonesia, Rakhendi, Presiden sudah ditawari untuk memakai produk dalam
negeri ini. 


Rakhendi berkomentar, "Kalau nanti bapak Presiden, untuk kunjungan ke
pulau-pulau bisa dipertimbangkan CN 235, karena Korea, Malaysia, Uni Emirat
Arab sudah pakai pesawat VIP ini."

Boeing tetap dibeli. Tahun depan, pesawat ini akan mulai digunakan. Harga 1
pesawat CN 235 hanya 180 miliar rupiah. Dengan uang muka 200 miliar rupiah
untuk membeli pesawat jenis Boeing 737-400, pemerintah bisa menghemat 20
miliar rupiah. Itu belum termasuk harga perawatan pesawat buatan Amerika itu
yang diperkirakan menyedot anggaran hingga 800-an miliar rupiah. Uang 800
miliar rupiah, jika dibelikan beras seharga 5 ribu rupiah per kilogram, ada
1,6 juta rakyat Indonesia yang bisa makan. (*)  

Sumber: Radio Nederland Wereldomroep
http://www.rnw.
<http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pak-presiden-terbanglah-bersama-
cn-235> nl/bahasa-indonesia/article/pak-presiden-terbanglah-bersama-cn-235

.

 
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=14184930/grpspId=1705082178/msgI
d=8126/stime=1268045880/nc1=3848640/nc2=5733768/nc3=5522124> 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke