----- Original Message ----- 
From: DR Kurniawan 
Sent: Friday, March 19, 2010 8:08 AM
Subject: Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada 
Obama


Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada Obama
SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas 
kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla 
dalam acara “Debat Kontroversi kedatangan Obama” di studio TVOne, Jakarta, Rabu 
(17/3/2010).

Dalam debat bertema “Obama Disayang Obama Ditentang” itu dihadiri dua kubu yang 
saling berseberangan. Dari pihak yang mendukung kedatangan Obama ke Indonesia, 
tampil dua narasumber: Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan Effendy Choirie 
(Partai Kebangkitan Bangsa), sedangkan dari pihak yang menolak Obama diwakili 
oleh dua narasumber: Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir Indonesia), Ali Mocthar 
Ngabalin (Partai Bulan Bintang).

Debat yang disiarkan secara langsung mulai pukul pukul 19.30 WIB itu dibagi 
dalam dua sesi yang diselingi dengan berbagai iklan. Pada sesi pertama, Ismail 
Yusanto berdebat dengan Ulil Abshar, disusul dengan debat sesi kedua antara Ali 
Mochtar Ngabalin dengan Effendy Choirie.

Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan Obama 
ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab “ahlan wa sahlan bihuduri Obama.“

Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji 
Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang dipersembahkan 
kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister di Universitas 
Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern Languages and 
Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil -yang lama hidup di negara Amerika- itu menjadi sangat tidak wajar 
jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, Ulil 
memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam supaya 
belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah diskriminasi.

“Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.

Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi 
diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali,” kata 
Ulil.

Tak puas menyebut kaum Muslimin sebagai negara yang kaya diskriminasi, menantu 
Kiyai Mustafa Bisri ini bahkan menyebut dunia Islam paling banyak mengoleksi 
pelanggaran HAM.

…Pelanggaran HAM paling banyak di dunia Islam. Umat Islam harus belajar kepada 
Amerika, tegas Ulil…

“Pelanggaran HAM paling banyak itu di dunia Islam. Umat Islam harus belajar. 
Ada hal positif yang bisa diambil dari Amerika,” tegasnya.

Menanggapi tudingan Ulil terhadap umat Islam, Ismail Yusanto menjawab dengan 
santai. Juru bicara HTI ini tidak membantah langsung, tapi membandingkan 
pendapat Ulil yang bertolak belakang dengan data Amnesti Internasional.

“Itu tadi menurut Ulil. Bahwa pelanggaran HAM itu paling banyak di negeri 
Islam. Tapi menurut Amnesti Internasional, pelanggaran HAM terbesar di dunia 
itu Amerika, yang sekarang presidennya Barrack Obama,” jelas dia.

“Mana yang lebih kredibel, Saudara Ulil atau Amnesti Internasional?” tanya dia.

Ulil nampak kaget dan tidak percaya dengan pernyataan jubir HTI itu. Ulil 
rupanya belum pernah membaca data Amnesti Internasional bahwa Amerika adalah 
pelaku pelanggaran HAM terbesar di dunia. Ulil pun tidak terima jika bapak 
asuhnya disebut sebagai pelanggar HAM terbesar di dunia.

“Saya minta dibuktikan kalau data itu ada,” protes dia.

“Silakan, itu sudah berulangkali dilansir di media,” jawab Ismail.

Ulil yang belum membaca data itu, spontan berkata, “Saya sih nggak percaya!”

Pada debat sesi kedua,  meski yang dihadapinya bukan Ulil, tapi Ali Mukhtar 
Ngabalin masih menyempatkan untuk menyindir Ulil. Tidak terima umat Islam 
disuruh belajar kepada Amerika untuk mengatasi diskriminasi dan pelanggaran 
HAM, salah satu pendiri Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menyemprot Ulil agar 
jangan menjadi “jongos” Amerika, sembari mengutip petuah Bung Karno.

“Ingat pesan Soekarno, kita boleh berteman dengan Amerika, tapi jangan 
mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos 
Amerika!” tegasnya.

…Jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos 
Amerika!” tegas Ali Mochtar…

Ia juga mengingatkan agar para intelektual tidak berpikir picik menjadi boneka 
Amerika hanya karena dapat beasiswa dari Amerika.

“Jangan mentang-mentang belajar di Amerika kemudian menjadi corong Amerika, 
menjadi boneka,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI dari PBB ini juga memperingatkan bahwa sejak dulu 
kedatangan presiden Amerika ke Indonesia tidak pernah membawa manfaat bagi 
Indonesia, malah memperluas jajahannya. Antara lain Obama datang ke Indonesia 
dalam rangka evaluasi terhadap kontrak kerja Freeport, Chievron, ExxonMobil, 
dll. Kembali, ia mengingatkan petuah Bung Karno.

“Soekarno pernah mengajarkan kepada kita, Amerika itu tidak pernah menawarkan 
sesuatu yang baik kepada negara-negara berkembang atau dunia ketiga. Itu 
sebabnya, Amerika harus kita setrika, Inggris kita linggis! Masak kita 
intelektual masak berpikir sepicik itu?” pungkasnya.

Amnesti Internasional: AS Terbanyak Langgar HAM dalam 50 tahun terakhir

Dalam konferensi pers di London (26/5/2004), Amnesti Internasional, sebuah LSM 
HAM internasional yang berbasis di London ini melaporkan bahwa Amerika Serikat 
(AS) adalah pelaku pelanggaran HAM terburuk di seluruh dunia, selama 50 tahun 
terakhir, sejak negara adidaya itu mengeluarkan kebijakan perang terhadap 
terorisme dan invasinya ke Iraq. Berita ini dilansir berbagai media 
internasional semisal AFB, BBC, dan lain-lain.

Sekjen Amnesti International, Irene Khan mengatakan, negara-negara berkuasa 
yang menyumbangkan pasukan tentara untuk Iraq telah mengabaikan hukum 
internasional dengan mengorbankan HAM secara `membabi-buta’ atas nama keamanan.

“Agenda keamanan dunia yang diperjuangkan oleh AS tidak mempunyai visi dan 
prinsip yang jelas,” kata Irena.

“Perbuatannya melanggar HAM di negara sendiri, sikapnya menutup mata terhadap 
insiden-insiden dan penyiksaan di luar negeri serta penggunaan kekerasan 
pasukan dengan sewenang-wenang telah menggugat keadilan serta menjadikan dunia 
ini lebih berbahaya,” katanya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan butir-butir terperinci mengenai pembunuhan 
warga sipil oleh pasukan penjajah AS di Iraq dan juga mengenai siksaan yang 
pasukannya atas tahanan Iraq.

…Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses 
hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. AS juga menahan sejumlah tawanannya di 
beberapa lokasi yang tidak diketahui…

Invasi dan penguasaan wilayah Iraq oleh otoritas yang dibentuk negara-negara 
koalisi, menyebabkan ribuan orang di Iraq ditahan. Laporan itu juga 
menyebutkan, ratusan orang dari sekitar 40 negara, dipenjarakan AS tanpa proses 
hukum di Afghanistan.

Laporan Amnesti International itu juga menyentil sikap AS terhadap ratusan 
orang dari berbagai belahan dunia yang terus ditahan oleh AS tanpa dakwaan di 
Guantanamo, Kuba.

“Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses 
hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. Mereka tidak diberi akses ke keluarga atau 
ke penasihat hukum. Orang-orang ini ditahan atas dugaan terkait dengan 
Al-Qaeda. Selain di Guantanamo, diduga AS menahan sejumlah tawanannya di 
beberapa lokasi yang tidak diketahui,” papar laporan tersebut.

Irene menyatakan, perang terhadap terorisme seharusnya dibarengi dengan upaya 
melindungi hak asasi manusia, tapi pada kenyataannya, kampanye antiterorisme 
dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, saling bertentangan.

Irena mengatakan, dunia telah melihat kenyataan yang sebenarnya, setelah 
foto-foto penyiksaan dan pelecehan di penjara Abu Guraib tersebar di masyarakat 
luas. Ini adalah konsekuensi logis, dari perburuan yang membabi buta yang 
dilakukan AS sejak peristiwa 11 September. AS telah mengabaikan dan menempatkan 
dirinya diluar sistem hukum yang ada.

…AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara 
yang damai, kata Irene…

“AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara 
yang damai,” kata Irene dalam keterangan persnya di London.

Amnesti Internasional menyatakan, pihak Departemen Kehakiman AS telah mengakui 
ada problem besar dalam menangani ratusan tahanan warga negara asing sejak 
peristiwa 11 September.

Selain tidak memberikan akses pada keluarganya, AS juga tidak memberi akses 
agar para tahanan bisa didampingi pengacara agar proses hukumnya bisa segera 
dilakukan. Selain itu, bukti-bukti menunjukkan adanya pola penyiksaan fisik 
maupun verbal yang dilakukan oleh para penyidik.

Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan 
AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan 
melakukan kenakalan remaja. Anak-anak ini ditahan sampai berbulan-bulan.

Disamping itu, polisi dan penjaga penjara di AS, telah menyalahgunakan senjata 
dan menggunakan bahan kimia terhadap para tahanannya, yang menyebabkan kasus 
tewasnya sejumlah tahanan di penjara AS.

…Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan 
AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan 
kenakalan remaja, sampai berbulan-bulan…

Amnesti Internasional juga mengkritisi penerapan hukuman mati di AS. Sepanjang 
tahun 2003, sudah 65 orang yang menjalani hukuman mati di AS. Total, sudah ada 
885 orang yang menjalani hukuman mati sejak AS menerapkan kembali hukuman itu 
pada tahun 1976. AS dinilai juga telah melanggar aturan internasional dalam 
menerapkan hukuman mati ini, karena telah mengenakkannya pada anak dibawah umur 
18 tahun.

Yang paling hangat, Amnesti Internasional, mengkritik AS karena berupaya 
mendapatkan kekebalan hukum dari pengadilan internasional bagi tentaranya yang 
melakukan kejahatan perang. [taz/dari berbagai sumber]

Sumber: 
http://www.voa-islam.com/trivia/liberalism/2010/03/18/4019/ulil-jildunia-islam-paling-banyak-melanggar-hamharus-berguru-pada-obama/
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke