Assalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.
 

Saudaraku, apabila kita merasa salah memilih sekolah untuk anak kita, gampang 
sekali memecahkannya; pindahkan anak kita dari sekolah itu. Jika kita salah 
memilih pacar, juga gampang mengatasinya; putuskan dia. Jika kita salah memilih 
suami atau istri, ceraikan dia. Jika kita salah memilih partai-karena ternyata 
setelah menang pemilu, partai itu hanya jualan kecap-jangan pilih lagi di 
pemilu yang akan datang. Habis perkara.

 

Namun, saudaraku, ada satu pilihan yang resikonya sangat fatal dan tidak bisa 
kita ralat. Perkara tidak bisa habis serta penyesalan tidak berguna. Jeritan 
ampun tidak didengar dan rintihan jiwa diabaikan. Salah memilih yang satu ini 
tidak bisa diketahui sebelum ajal menjemput, setelah ruh lepas dari jasad kita. 
Kesalahan yang tidak bisa diralat itu adalah kalau kita salah memilih agama.

 

Kita akan segera tahu kalau pilihan terhadap agama yang kita anut itu salah 
apabila sudah terbaring dalam kubur. Di situ juga kita akan tahu mana agama 
yang benar itu. Dan, selama ini, tidak ada satu pun penghuni kubur yang memberi 
tahu kesalahannya memilih agama kepada orang-orang yang masih hidup. Sungguh, 
hal ini benar-benar menjadi rahasia Tuhan. 

Andai saja orang yang sudah mati bisa bercerita kepada kita bahwa dia salah 
memilih agama, tentu semua penduduk bumi akan memilih agama yang benar menurut 
pengakuan si mayat.

 

Saudaraku, bagi kita, umat Islam, sudah jelas persoalannya bahwa agama yang 
diridhai Allah hanyalah Islam. Ini sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur'an 
Surah Ali 'Imran ayat 19. Dan, Allah juga "mengancam" tidak akan menerima 
hamba-hamba-Nya yang mencari agama di luar yang Dia perintahkan. 

 

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada 
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang 
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. 
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat 
cepat hisab-Nya." (QS. Ali 'Imran [3]: 19)

 

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

"Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati 
kecuali dalam memeluk (agama) Islam." (QS. Al-Baqarah [2]: 132)

 

"Anjuran" Allah agar kita tidak mati kecuali dalam keadaan memeluk Islam 
menunjukkan seriusnya persoalan yang akan kita hadapi kalau kita mati dalam 
keadaan tidak memeluk Islam. Sebab, kita akan dimintai tanggung jawab atas 
pilihan agama yang kita anut.

 

Saudaraku, sesungguhnya, fitrah manusia adalah Islam. Hanya saja, orangtua dan 
lingkungan membuat kita lupa atau abai pada fitrah azali kita. Kepentingan 
politik dan ekonomi, gengsi, idealisme, paham ideologis, dan sebagainya, 
membuat fitrah itu semakin tertutup rapat. Kita menjadi lupa bahwa ada 
perjanjian purbawi antara kita dan Sang Maha Pencipta di alam ruh dahulu.

 

". dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Ya, betul (Engkau Tuhan kami), 
kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti 
kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang 
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

 

"Dialog" antara kita dan Tuhan diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an Surah 
Al-A'raf [7] ayat 172. Lanjutan ayat itu juga mengisyaratkan agar di mahkamah 
Allah nanti kita tidak menyalahkan orangtua-orangtua kita yang mempersekutukan 
Allah dengan sesembahan lain. Sebab, sebagai keturunannya, kita terkadang cuma 
ikut-ikutan saja.

 

Saudaraku, kalau ada yang bilang semua agama baik, kita setuju. Artinya, 
sama-sama mengajarkan kebaikan bagi para penganutnya. Namun, kalau ada yang 
mengatakan semua agama benar, nanti dulu. Kebenaran agama harus mutlak karena 
ia datang dari yang Mahabenar. Kalau ada yang mengatakan semua agama sama 
benarnya, "cuma" peribadatannya saja yang beda, itu malah rancu. Bagaimana 
mungkin yang "sama benarnya" kok berbeda peribadatannya. Itu kan, artinya jelas 
sekali berbeda.

 

Kita sering mendengar orang bilang begini, ["Memeluk agama itu ibarat kita mau 
ke Roxy Mas. Si A lewat Harmoni, si B lewat Tanah Abang, si C lewat Grogol, si 
D lewat Ketapang. Akhirnya, kita akan sampai juga ke Roxy Mas. Nah, Roxy Mas 
itu adalah 'Tuhan', lewat jalan mana pun yang kita tempuh, kita akan sampai 
juga kepada Tuhan."]

Ini namanya malas berpikir, di samping menggampangkan masalah. Persoalan 
memilih agama tidak sesederhana itu. Sebab, orang yang tidak beragama tetapi 
mengakui adanya Tuhan akan sampai kepada Tuhan. Bahkan, orang yang tidak 
percaya adanya Tuhan, juga akan sampai kepada Tuhan, padahal dia tidak berniat 
"menuju" Tuhan.

 

Saudaraku, memilih memang perkara mudah, tetapi konsekuensi dari pilihan itu 
yang kadang tidak kita perhitungkan. 

 

Wallahua'lam bish-shawab

Wassalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.

 

 

== Rochim ==
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke