al-Qahhar itu salah satu asma' al-Husna, yaitu nama-nama baik milik Allah SWT.
ada 99 nama,
dan itu ke adlh yag ke-15, setelah al-Ghaffur, sebelum al-Wahhab. al-Qahhar
maha pemaksa.
bgmana Allah SWT yg Rahmaan, Rahiim itu memiliki sifat yg sptnya kontradiktif?
memaksakan
segala kehendakNya Sendiri agar semua makhluq mau bersujud dgn sukarela ataw
terpaksa.
a'udzubillahimin asyiathaani rajiim,
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri
ini,
negeri yang aman sentosa,
dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada
penduduknya yang beriman diantara mereka kepada
Allah dan hari kemudian. Allah
berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan
sementara, kemudian Aku paksaia menjalani siksa neraka dan itulah
seburuk-buruk tempat kembali".
(al-Baqarah:126)
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami
paksamereka (masuk) ke
dalam
siksa yang keras. (Luqman:24)
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di
bumi,
baik dengan kemauan
sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu
pagi dan petang hari. (ar-Ra'd:15)
---
Subhanallah,
mudah sekali diterangkan bhw ternyata sifat al-Qahhar itu hanya mengena para
kafirin/dhalimin dan dalil itu
sangat kuat. tidak bisa ssorg disebut sbg hamba yg ikhlas (mukhlis) kalau
bawaannya kecut terus ngedepin
masalah hidup, apalagi kedapatan musibah yg berat.
umumnya bayangan org itu
pandang jelek sifat memaksa karena ada pengekangan kehendak pd objek yg
dipaksa. padahal tidaklah selalu begitu. itu tergantung siapa yg mengekang, dan
siapa yg dikekang. kalau yg
mengekang adlh Sang ar-Rahmaan, tentu pemaksaanNya itu atas rasa sayang yg
teramat sangat. betapapun
yg dipaksa tidak suka, tapi sifat sayang ar-Rahmaan melebihi deritanya org yg
dipaksa. perhatikan saja kisah
nabi Ayyub as yg tahan derita sakit kulit tahunan. betapapun sulitnya, beliau
ridha dgn itu hingga akhirnya
disembuhkan, dan menjadi beliau hamba terhormat di sisi Allah SWT. demikian
nabi-nabi yg lain.
lagi, kebanyakan org itu menjodohkan kata paksa itu hanya kalo berhadapan dgn
hal2 yg buruk pdhl tidak begitu.
org yg dapat kenikmatan dari Allah SWT, terlepas itu diawali dgn
kesulitan/kemudahan mencapainya, org ini pun
pada hakikatnya juga dipaksa menerima karunia itu. yg beda malah mental pelaku.
jika ni'mat diraih dgn susah,
org yg shalih akan tangis haru dgn syukur. tapi ni'mat yg diraih dgn mudah,
kebykan tepuk dadanya kuat.
---
skrg dgn taqdir, apa benar itu bisa 'dilawan' dgn usaha atw harus diterima? ada
yg tidak konsisten dan terlalu
angkuh & sombong terhadap kehendak pd Allah SWT.
>>
Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua usaha sudah dilakukan tapi
masih
>> gagal juga barulah terakhir dikatakan itu Sudah Taqdir.
yg tertangkap dr kalimat itu bahwa taqdir tepat diyakini hanya ketika kegagalan
saja. seolah berkata "kegagalanku
itu taqdir-Nya, keberhasilan itu karena akalku". cukup lantang mensikapi
taqdir namun angkuh dgn ke-aku-annya.
gaya berpikirnya persis seperti Qarun yg dlm al-Qur'an, org yg beri
perbendaharaan yg kunci2nya saja org2 kuat
tak sanggup memikulnya. --> tukang becak org gak berakal?
tamsil,
'aqal itu bagian dari kunci yg amat berharga bagi hidup manusia di bumi.
memiliki sdkit ilmu duniawi, yg dgnnya
dpt meraih harta berlimpah ruah, bgmanapun juga itu makhluq yg bisa rusak.
>>
... disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para
>> Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan, ...
apakah betul keintelektualan dpt 'mengalahkan' taqdir yg sdh tertulis?
bbrp tahun lalu Aceh dihempas tsunami yg sangat dahsyat ratusan ribu tewas.
sblmnya
ada bbrp ilmuwan cerdik
sempat peringatkan utk hati2 karena menurut ilmu mereka ada indikasi
pengulangan kejadian sblmnya.
taqdirkah atw ilmu yg menang?
salam,
Fahru
________________________________
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]
Sent: Tue, March 30, 2010 12:44:25 AM
Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnahtullah
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnahtullah
Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR,
tapi bagi mereka yang sudah diberikan AQAL yang
lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua usaha sudah dilakukan
tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu Sudah Taqdir. Memang cara
termudah dan tidak menanggung resiko
adalah dengan mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi
dikala setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai
maka disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan,
maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu MEMILIH dan
MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN
SUNNAHTULLAH. Salam cool selalu dari Qatar . Insya Allah bersambung.
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam