biar puas ngikuti kemahuan mas alkhori yg ganteng, 
bisa diperjelas, teleknya mau telek apa? 
telek sapi, telek ayam, telek bebek .. ?



FR


________________________________
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Fri, April 2, 2010 9:23:21 PM
Subject: [Is-lam] Memilih dan Memilah Taqdir Dengan Sunnatullah, lanjutan 3

 
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah, lanjutan 3
Disini KISAH NYATA yang dinarativekan,
kisah ini penulis alami sendiri, bagaimana pembaca menyimpulkan tentu terserah
pada tingkat penalaran dan pengalaman masing-masing. Kalau orang AWAM tentu 
berbeda
dengan INTELEKTUAL, makin tinggi tempat kita berdiri, maka makin jauh yang bisa
dilihat, apalagi anda berada dalam sebuah copter view, maka akan mudah terlihat
pandangan dari atas untuk melihat dareah yang dibawah.

Kisah Nyata:
Sewaktu akan haji, untuk menghilangkan
keraguan, maka KB spiral pada isteri saya minta dilepas, maka pergilah kami
menunaikan ibadah haji. Setelah pulang dari haji, KB spiral juga belum dipasang
kembali, oleh sebab itu isteripun hamil. Karena kami sudah sepakat bahwa tidak 
akan
menambah anak lagi, maka kami pergi kerumah sakit. Dirumah sakit dinyatakan
positif hami baru sekitar 2 ~ 3 minggu. Kepada kai diberikan surat pengantar 
untuk konsultasi pada dokter
ahli kandungan. Di dokter ahli kandungan dikatakan ini masih dibawah sebulan,
kalau mau digugurkan hanya perlu waktu 5 menit, tidak lama, tapi sebelum
dilakukan, pikir-pikir dahulu, maka kamipun pulang kerumah. Dirumah pada sore
harinya lagi duduk santai nonton tv, saya teringat pada suatu peristiwa sbb:
“Ada
seorang rekan, anaknya kecelakaan, segala usaha dilakukan untuk menolong
sikorban, tapi panggilan tuhan lebih mulia, innaa lillaahi wa innaa ilaihi roo
ji’uun” Dengan perasaan sedih semua itu harus diterima sebagai
taqdir”
Mengingat hal itu saya berpikir, mengapa
saya menjadi manusia sangat sombong, ketika saya boleh memilih mengapa harus
yang tidak baik. Sedangkan kawan yang tidak bisa memilih beliau harus menerima
TAQDIR dan harus menerima kenyataan bahwa panggilan Tuhan lebih mulia. Saya
bangun dan saya hampiri isteri saya, saya katakan “Kita tidak kembali lagi ke 
dokter ahli kandungan,
jika sudah ditaqdirkan memang demikian, terimalah sesuai dengan rukun iman yang
ke-6.
Sejak saat itu anak saya yang paling kecil
biasanya saya panggil ADIK, tapi sejak saat itu saya panggil KAKAK, karena saya
pikir beliau akan punya adik. Anak yang kecil tersebut yang biasa saya panggil
ADIK karena berubah saya panggil KAKAK beliau jadi sangat senang. Tapi tidak
lama mungkin sebulan berlalu, suatu hari entah kenapa, mungkin juga kecapekan,
isteri saya keguguran. Insya Allah bersambung. 
 
Jadi semua itu terserah pada penalaran
kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita 
masing-masing.
 
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
=======================================================
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah, lanjutan 2
 
Untuk sekedar pencerahan, disini
di-narative-kan sebuah contoh (ini hanyalah contoh fiktif jangan dipraktekan).
Jika kita ambil sebuah pisau yang tajam
lalu kita gorok leher kita sendiri, maka matilah kita, sekarang timbul
pertanyaan apakah kematian kita itu sebuah TAQDIR? Terserah masing-masing 
apakah itu mau dianggap taqdir boleh dan mau dianggap
bukan Taqdir juga boleh. Tapi ingat bunuh diri dilarang oleh Tuhan.
 
Selanjutnya kita ambil contoh yang lebih
mendekati FAKTA, janganlah bunuh
diri, karena bunuh diri dilarang agama. Tapi kali ini ambillah seekor ayam,
lalu sembelihlah ayam tersebut, maka matilah ayam tersebut? Sekarang juga
timbul pertanyaan apakah kematian ayam tersebut TAQDIR? Lagi terserah mau 
dianggap Taqdir juga boleh dan mau
dianggap TIDAK Taqdir juga boleh.
Tapi yang jelas ayam tersebut sudah mati dan kematian ayam tersebut dihalalkan
dalam agama jika setelah ayam tersebut disembelih lantas digunakan selayaknya
mengapa ayam tersebut harus disembelih.
 
Nah yang terakhir adalah pertanyaan yang
lebih AGAK PERLU DAYA NALAR,
ketika kita mengambil ayam tersebut, padahal didalam KANDANG ADA BANYAK AYAM, 
tapi mengapa hanya yang seekor
tersebut yang terpilih dan kita jadikan percobaan seperti yang telah diuraikan
diatas. Lagi jawabanya mau dianggap TAQDIR juga boleh dan mau dianggap BUKAN 
taqdir
juga boleh.
 
Jadi semua itu terserah pada penalaran
kita, kapankah dan sampai tingkat dimanakah TAQDIR dalam pengertian kita 
masing-masing.
 
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar
============================================
Memilih dan Memilah Taqdir
Dengan Sunnatullah
 
Sebagai orang AWAM semuanya dianggap TAQDIR,
tapi bagi mereka yang sudah diberikan AQAL yang
lebih, Taqdir itu bisa dipilih dan dipilah. Kalau semua usaha sudah dilakukan
tapi masih gagal juga barulah terakhir dikatakan itu Sudah Taqdir. Memang cara 
termudah dan tidak menanggung resiko
adalah dengan mengganggap semuanya sebagai TAQDIR persoalan jadi selesai. Tapi 
dikala setelah dianggap sebagai TAQDIR dan persoalan masih tidak selesai
maka disinilah ilmu orang AWAM tadi sudah tidak bisa diandalkan lagi, maka
disinilah para Ulama atau orang yang bukan AWAM alias intelektual diperlukan,
maka disinilah akan timbul istilah seperti judul diatas yaitu MEMILIH dan 
MEMILAH TAQDIR DENGAN MENGGUNAKAN
SUNNAHTULLAH. Salam cool selalu dari Qatar . Insya Allah bersambung.
 
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha,
State of Qatar


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke