Assalamu'alaikum wr wb,

Sifat 20 Allah yang Wajib Kita Ketahui

Ilmu Tauhid (Aqidah/Iman) adalah hal yang paling penting yang harus dipelajari 
setiap Muslim. Bahkan harus dipelajari lebih dulu sebelum kita 
mempelajari/melakukan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan 
sebagainya. Bagaimana kita bisa tergerak untuk melakukan ibadah jika dalam hati 
kita tidak ada iman? Bagaimana kita bisa ikhlas dan khusyuk beribadah jika kita 
tidak tahu/tidak yakin akan Allah dan sifat-sifatNya?

Banyaknya ummat Islam di Indonesia yang menjadi murtad itu karena mereka nyaris 
tidak mempelajari dan meyakini ilmu Tauhid sehingga akhirnya tidak tahu 
Sifat-sifat Tuhan yang asli/sejati. Akhirnya mereka menyembah Tuhan yang 
sifatnya berlawanan dari sifat Allah seperti menyembah 3 Tuhan dan sebagainya.

Pada Ilmu Tauhid ini diasumsikan orang belum memiliki iman yang kuat kepada 
Allah, apalagi Al Qur’an. Oleh karena itu dalilnya pun yang pertama dipakai 
adalah dalil Akal/Logika (Aqli). Setelah beriman, baru dalil Naqli (Al Qur’an) 
dikemukakan. Pada ilmu tentang Iman, maka Akal harus digunakan. Ada pun jika 
sudah beriman dan mengenai fiqih misalnya kenapa kalau kentut bukan (maaf) 
pantat yang dibasuh, tapi harus mencuci anggota badan lainnya, maka dalil Naqli 
(Al Qur’an dan Hadits) yang harus dipakai. Pada Tauhid, Aqli harus dipakai. 
Pada Fiqih, Naqli yang dipakai.

Karena itulah Allah dalam Al Qur’an juga kerap menggunakan dalil Akal/Logika 
kepada kaum yang kafir atau imannya masih lemah. Hanya orang yang berakal saja 
yang dapat pelajaran.

“…Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang 
berakal.” [Ali ‘Imran 7]

Allah juga kerap memakai ilmu pengetahuan seperti penciptaan langit dan bumi 
sebagai tanda bagi orang yang berakal:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan 
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” [Ali ‘Imran 190]

“dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari 
langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada 
perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang 
berakal.” [Al Jaatsiyah 5]

Lihat ayat Al Waaqi’ah ayat 58 hingga 72. Allah menggunakan logika kepada 
manusia (termasuk kita yang membaca surat tersebut) agar menggunakan akal kita:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang 
menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah 58-59]

“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al 
Waaqi’ah 72]

Allah menggunakan logika dan perumpamaan-perumpamaan (Tamtsil/Ibarat) agar 
orang yang berakal/berilmu meski dia belum beriman jadi berfikir dan beriman 
kepada Allah.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang 
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [Al ‘Ankabuut 43]

Baca juga ayat Al Hasyr 21, Al Kahfi 45, Al Kahfi 54, Ar Ruum 58, Az Zumar 27, 
dsb. Ada 58 ayat lebih tentang perumpamaan yang dikenal sebagai logika analogi.

Contoh perumpamaan itu adalah ayat Al A’raaf 176, Al ‘Ankabuut 41, Al Baqarah 
17, Al Baqarah 171, Al Baqarah 261, Al Baqarah 264, dan sebagainya.
Keliru sekali jika ada orang yang menolak sama sekali penggunaan dalil Akal 
atau Logika apalagi jika itu ditujukan pada orang yang belum atau masih tipis 
imannya. Karena itu, banyak orang-orang yang dulunya kafir, akhirnya masuk 
Islam. Bayangkan, bagaimana mungkin orang mau mempercayai Al Qur’an (firman 
Allah) jika kepada Allah saja dia belum beriman? Karena itulah pendekatan akal 
digunakan.

Berbagai firman Allah seperti Afalaa Ta’qiluun, La’allakum Tatafakkaruun, Ulil 
Albaab merupakan perintah Allah pada manusia untuk menggunakan akal atau 
fikiran termasuk dalam beragama.

Sifat Allah itu banyak/tidak terhitung. Namun seandainya ditulis 1 juta, 1 
milyar, atau 1 trilyun, tentu kita tidak akan sanggup mempelajarinya bukan? 
Seorang ulama menulis 20 sifat yang wajib (artinya harus ada) pada Tuhan/Allah. 
Jika tidak memiliki sifat itu, berarti dia bukan Tuhan atau Allah. Minimal kita 
bisa memahami dan meyakini 13 dari sifat tersebut agar tidak tersesat. Setelah 
itu kita bisa mempelajari sifat Allah lainnya dalam Ama’ul Husna (99 Nama Allah 
yang Baik)

Sifat-sifat itu adalah:

1. Wujud (ada)

Allah itu Wujud (ada). Tidak mungkin/mustahil Allah itu ‘Adam (tidak ada).
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat 
terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata 
semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi 
dunia yang jauh lebih komplek.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya 
sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 
4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam 
Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 
100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama 
sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di 
antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini 
bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan 
Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya 
sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya!

Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, 
karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh 
oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh 
selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin 
akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran 
penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, 
bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia 
menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan 
ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” 
Pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak 
bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada 
kenyataannya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan 
cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), 
sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru 
bisa melihatnya jika meletakkan benda tersebut di bawah mikroskop yang amat 
kuat).

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) 
yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada?

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak 
mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi 
tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja 
tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan 
frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada 
yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan 
ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui 
keberadaan Sang Maha Pencipta!

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. 
Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. 
Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap 
kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan 
Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, 
ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang 
mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama 
milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa 
ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau 
bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun 
pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua 
itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah 
yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda 
tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa 
Tuhan itu ada.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan 
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, 
supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak 
menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda 
(kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat 
mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan 
itu ada:

“Allah lah Yang meninggi-kan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, 
kemudian Dia berse-mayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. 
Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan 
(makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini 
pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam 
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi 
(seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan 
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali 
Imron:191]

Artikel lengkap tentang Bukti Tuhan itu Ada dapat anda lihat di 
www.media-islam.or.id

Hikmah: Kunci Iman menyembah Allah. Kalau orang tidak mempercayai Allah itu 
ada, maka dia adalah Atheist. Tidak mungkin bisa ikhlas dan khusyu’ menyembah 
Allah.

2. Qidam (Terdahulu)

Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru).

“Dialah Yang Awal …” [Al Hadiid:3]

Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, 
serta seluruh isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia.
“Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu..?” [Al 
Mu'min:62]

Oleh karena itu, Allah adalah awal. Dia sudah ada jauh sebelum langit, bumi, 
tumbuhan, binatang, dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Tuhan itu baru ada 
atau lahir setelah makhluk lainnya ada.

Sebagai contoh, tidak mungkin lukisan Monalisa ada lebih dulu sebelum pelukis 
yang melukisnya, yaitu Leonardo Da Vinci. Demikian juga Tuhan. Tidak mungkin 
makhluk ciptaannya muncul lebih dulu, kemudian baru muncul Tuhan.

3. Baqo’ (Kekal)

Allah itu Baqo’ (Kekal). Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa).
Allah sebagai Tuhan Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus 
makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya 
seperti manusia?

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al 
Furqon 58]

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang 
mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar Rahman:26-27]

Karena itu jika ada “Tuhan” yang wafat atau mati, maka itu bukan Tuhan. Tapi 
manusia biasa.

Hikmah: Jika kita mencintai Allah yang Maha Kekal dan selalu ada dan 
menjadikanNya teman serta pelindung, niscaya kita akan tetap sabar meski 
kehilangan segala yang kita cintai.

4. Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya)

Allah itu berbeda dengan makhlukNya (Mukhollafatuhu lil hawaadits). Mustahil 
Allah itu sama dengan makhlukNya (Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits). Kalau sama 
dengan makhluknya misalnya sama lemahnya dengan manusia, niscaya “Tuhan” itu 
bisa mati dikeroyok atau disalib oleh manusia. Mustahil jika “Tuhan” itu 
dilahirkan, menyusui, buang air, tidur, dan sebagainya. Itu adalah manusia. 
Bukan Tuhan!

Allah itu Maha Besar. Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha Hebat. Dan segala 
Maha-maha yang bagus lainnya.

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…” [Asy Syu’aro:11]

Misalnya sifat “Hidup” Allah beda dengan sifat “Hidup” makhluknya. Allah itu 
dari dulu, sekarang, kiamat, dan hingga hari akhirat nanti tetap hidup. 
Sebaliknya makhluknya seperti manusia dulu mati (tidak ada). Setelah itu baru 
dilahirkan dan hidup. Namun itu pun hanya sebentar. Paling lama 1000 tahun. 
Setelah itu mati lagi dan dikubur. Jadi meski sekilas sama, namun sifat “Hidup” 
Allah beda dengan makhlukNya.

Demikian juga dengan sifat lain seperti “Kuat.” Allah selalu kuat dan 
kekuatannya bisa menghancurkan alam semesta. Sementara manusia itu dulu ketika 
bayi lemah dan ketika mati juga tidak berdaya. Saat hidup pun jika kena tsunami 
atau gempa apalagi kiamat, dia akan mati.

5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)

Allah itu Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu 
Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada makhluknya.

“.. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari 
semesta alam.” [Al ‘Ankabuut:6]

“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak 
mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan 
penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al 
Israa’ 111]

Di dunia ini, semua orang saling membutuhkan. Bahkan seorang raja pun butuh 
penjahit pakaian agar dia tidak telanjang. Dia butuh pembuat bangunan agar 
istananya bisa berdiri. Dia butuh tukang masak agar bisa makan. Dia butuh 
pengawal agar tidak mati dibunuh orang. Dia butuh dokter jika dia sakit. Saat 
bayi, dia butuh susu ibunya, dan sebagainya.

Sebaliknya Allah berdiri sendiri. Dia tidak butuh makhluknya. Seandainya 
seluruh makhluk memujiNya, niscaya tidak bertambah sedikitpun kemuliaanNya. 
Sebaliknya jika seluruh makhluk menghinaNya, tidaklah berkurang sedikitpun 
kemuliaanNya.

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha 
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [ Faathir 15]
Hikmah: Tidak sombong dan memohon hanya kepada Allah. Karena Manusia ketika 
lahir butuh bantuan. Demikian pula ketika mati meski dia kaya dan berkuasa

6. Wahdaaniyah (Esa)

Allah itu Wahdaaniyah (Esa/Satu). Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud) seperti 
2, 3, 4, dan seterusnya.

Allah itu Maha Kuasa. Jika ada sekutuNya, maka Dia bukan yang Maha Kuasa lagi. 
Jika satu Tuhan Maha Pencipta, maka Tuhan yang lain kekuasaannya terbatas 
karena bukan Maha Pencipta.

”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang 
lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan 
membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan 
mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan 
itu” [Al Mu’minuun:91]

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara 
dengan Dia.” [Al Ikhlas:1-4]

Oleh karena itu, ummat Islam harus menyembah Tuhan Yang Maha Esa/Satu, yaitu 
Allah. Tidak pantas bagi ummat Islam untuk menyembah Tuhan selain Allah seperti 
Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Roh Kudus. Tidak pantas juga bagi ummat Islam untuk 
menyembah 3 Tuhan di mana satu adalah yang Menciptakan, satu lagi yang merusak, 
dan terakhir yang memelihara.

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni 
segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa 
yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An 
Nisaa’:48]

Hikmah: Tidak mempersekutukan Allah

7. Qudrat (Kuasa)

Sifat Tuhan yang lain adalah Qudrat atau Maha Kuasa. Tidak mungkin Tuhan itu 
‘Ajaz atau lemah. Jika lemah sehingga misalnya bisa ditangkap, disiksa, dan 
disalib, maka itu bukan Tuhan yang sesungguhnya. Hanya manusia biasa.

”… Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan 
penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” [Al 
Baqarah:20]

”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru 
(untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” 
[Fathiir:16-17]

Hikmah: menyadari kekuasaan Allah dan tawakal kepada Allah.

8. Iroodah (Berkehendak)

Sifat Allah adalah Iroodah (Maha Berkehendak). Allah melakukan sesuatu sesuai 
dengan kehendaknya. Mustahil Allah itu Karoohah (Melakukan sesuatu dengan 
terpaksa).

“…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” 
[Huud:107]

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan 
sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al 
Baqarah:117]

“…Katakanlah : “Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia 
menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. 
Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

Hikmah: tawakal kepada Allah dan selalu berdoa kepada Allah

9. Ilmu (Mengetahui)

Allah itu berilmu (Maha Mengetahui). Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh). Allah 
Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu.
Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, 
mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia 
tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat.

“Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya 
kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada 
sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh 
sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, 
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

“Katakanlah: Sekiranya lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, 
sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun 
Kami datangkan tambahan sebanyak itu.” [Al Kahfi:109]

“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’:176]

10. Hayaat (Hidup)

Allah itu Hayaat (Maha Hidup). Tidak mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika Tuhan 
mati, maka bubarlah dunia ini. Tidak patut lagi dia disembah. Maha Suci Allah 
dari kematian/wafat.

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup kekal Yang tidak mati…” [Al 
Furqaan:58]

11. Sama’ (Mendengar)

Allah bersifat Sama’ (Maha Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat Shomam (Tuli).

Allah Maha Mendengar. Mustahil Allah tuli.

“… Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]

12. Bashor (Melihat)

Allah bersifat Melihat. Mustahil Allah itu ‘Amaa (Buta).

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah 
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]

Hikmah: takut berbuat dosa karena Allah selalu melihat kita

13. Kalam

Allah bersifat Kalam (Berkata-kata). Mustahil Allah itu Bakam (Bisu)

“…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [An Nisaa’ 164]
Jika kita meyakini ini, tentu kita tidak akan menyembah berhala yang tidak bisa 
bicara sebagai Tuhan [Al Anbiyaa’ 63-65]

Demikianlah sifat-sifat Allah yang penting yang wajib kita ketahui agar kita 
tahu mana Tuhan yang asli dan mana yang bukan.

Jika sifat-sifat Tuhan itu kita pahami dan yakini, niscaya kita tidak akan 
menyembah 3 Tuhan atau Tuhan yang Mati atau Tuhan yang Lemah, dan sebagainya. 
Kita hanya mau menyembah Allah yang memiliki sifat-sifat di atas dengan 
sempurna.

Ada pun sifat-sifat ke 14-20 sesungguhnya merupakan bentuk Subyektif/Pelaku 
dari Sifat nomor 7-13 yaitu:

14. Qoodirun: Yang Memiliki sifat Qudrat
15. Muriidun: Yang Memiliki Sifat Iroodah
16. ‘Aalimun: Yang Mempunyai Ilmu
17. Hayyun: yang Hidup
18. Samii’un: Yang Mendengar
19. Bashiirun: Yang Melihat
20. Mutakallimun: Yang Berkata-kata

Insya Allah semua sifat-sifat Allah itu berdasarkan dalil Al Qur’an yang kuat 
jadi harus kita yakini kebenarannya. Ilmu Tauhid ini begitu penting. Sebab itu 
cetaklah dan sebarkanlah pada keluarga dan teman-teman anda untuk memperkuat 
aqidah mereka.

Sebagai manusia tentu tulisan ini tak lepas dari lupa dan salah. Insya Allah 
perbaikan dan penyempurnaan bisa anda dapatkan di www.media-islam.or.id

Sumber:
http://media-islam.or.id/2009/11/08/sifat-20-allah-yang-penting-dan-wajib-kita-ketahui/
===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Milis Ekonomi Nasional: [email protected]
Belajar Islam via SMS:
http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone



_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke