terima kasih sekali postingannya mas harry. jujur pertama dapat postingan 
artikel dari teman yang kemarin, saya sempat kecewa sekali. untunglah ada 
jawaban ini. terima kasih juga untuk koreksinya, saya tidak mencantumkan karena 
kekurangkritisan saya ketika menerima postingan dari teman. 

wassalam - 
echy pamungkas



________________________________
Dari: Harry Sufehmi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kam, 22 April, 2010 07:56:51
Judul: Re: [Is-lam] RA Kartini dan Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan  
Pluralisme

Sayang artikel terlampir tidak ada referensinya -- tadi saya search,
asalnya adalah dari
http://www.voa-islam.com/islamia/liberalism/2010/04/20/5268/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahuditheosofi-dan-pluralisme/
Sebaiknya kita hargai jerih payah orang lain dengan selalu
mencantumkan penulis asli / asal tulisan tsb, terimakasih.

Anyway, tulisan ini sangat kental dengan nuansa su'uzhon, prasangka buruk.
Beberapa contoh:

”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah
Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini,
haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi,
Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang
murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902)"

Setahu saya ini adalah protes dari Kartini terhadap Ny Abendanon yang
beranggapan bahwa hanya Kristen yang dapat memberikan keselamatan
dunia-akhirat. Dan ini selaras dengan hadits Nabi saw, “Amalan
terberat dalam timbangan hari kiamat adalah akhlak yang baik” (Hadits
HR Ibn Hibban dari Abu Darda; HR At Tirmidzi dan Baihaqi).
Coba kita cek lagi konteks dari kutipan tsb.

”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan
kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih.
Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi
tanpa makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

Ini adalah "curhat" Kartini. Kartini mengeluhkan kondisi umat Islam
pada saat tersebut.
Coba cek lagi konteks kutipan tsb.

Lalu, kalau kita membaca kutipan berikut ini secara harfiah :

”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk
baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari
1903).

Terkesan jelas bahwa Kartini adalah pengikut kebatinan.

Namun, jika kita membaca juga artikel seperti :

http://mtamim.wordpress.com/2007/09/17/kartini-dan-islam/

Maka, gambarnya menjadi lebih jelas --- Kartini adalah seorang wanita
muda, yang terbelenggu oleh tradisi-tradisi nenek moyang & kejumudan,
sehingga pada awalnya berada dalam kegelapan & ketidak tahuan. Namun,
dia berusaha keras untuk menemukan jalan menuju kebenaran.
Sementara orang-orang lain di sekitarnya tidak peduli, dan merasa
nyaman dalam kegelapan tersebut.

Dengan muslim lain di sekitarnya masih terbenam dalam kebodohan,
Kartini tidak mendapat bantuan dalam usahanya tersebut. (*)
Maka wajar jika dia jadi tersandung berkali-kali dalam perjalanannya tersebut.

Alhamdulillah, Tuhan kita adalah Allah swt, yang menilai kita dari
usaha yang kita lakukan. Bukan dari hasil / pencapaian yang
didapatkan.
InsyaAllah jika Kartini telah berusaha semampunya, maka dia akan
mendapatkan tempat yang sangat layak di sisi Nya. Dan terhadap yang
telah wafat, saya usulkan sebaiknya kita lebih dahulukan prasangka
baik. Terimakasih.



Salam, HS

(*) Perkecualian mungkin adalah Kyai Sholeh Darat - dan beliau sendiri
juga mendapatkan manfaat dari Kartini; tafsir Quran dalam bahasa Jawa
yang beliau buat adalah berkat ide & masukan dari Kartini. Sehingga,
Quran menjadi bisa dipahami oleh orang awam sekalipun.
Berbeda dengan beberapa kitab suci lainnya, seperti Taurat, yang hanya
bisa dipahami oleh para pendetanya.




On 4/22/10, Echy Pamungkas <[email protected]> wrote:
> RA Kartini dan Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme
>
> Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan
> Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau
> Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa
> dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam
> wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini.
>
> TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di
> Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari
> tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa
> sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana
> corak pemikirannya?
>
> Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan
> emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan
> lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam
> persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi
> kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai
> Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.
>
> Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara.
> Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan.
> Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese
> Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak
> bergaul dengan anak-anak Eropa.
>
> Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di
> lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang
> telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan.
> Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara
> itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara
> utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.
>
> Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang
> Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon
> Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk
> mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran
> Puerto Rico dan berdarah Yahudi.
>
> …Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang
> Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk
> mendekati Kartini…
>
> Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang
> berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda),
> Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F
> Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang
> juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H
> Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan
> nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang
> bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif
> sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).
>
> Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara
> iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan
> dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan
> Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan
> sosialisme.
>
> Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella
> mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini
> mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini
> dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang
> Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”
>
> Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”
> menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon
> Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini
> dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa,
> surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan
> kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis
> Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap
> okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan
> keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh
> jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan
> mereka.
>
> Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H
> Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H
> Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai
> evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan
> tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal
> zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.
>
> Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut
> humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan
> Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini?
> Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan,
> sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan
> mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan
> kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh
> orang-orang Belanda saat itu.
>
> …maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga
> banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu...
>
> Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini
> berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke
> dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine
> Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.
>
> Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit
> Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H
> Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara.
> Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti
> soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon
> memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan
> Kartini di Jepara.
>
> Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat
> pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada
> kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan
> mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan
> Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.
>
> Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan
> Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang
> menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh
> beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi
> anggota Theosofi dan Freemasonry.
>
> Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini
>
> Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya
> sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini
> lainya para humanis  Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental
> nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui
> ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam
> pemikiran Theosofi.
>
> Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan
> ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi.
> Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun
> dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian,
> banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik
> kepada sosok perempuan ini.
>
> …Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual
> memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…
>
> Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di
> antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan
> Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming
> der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern
> Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme
> (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang
> sosialis bernama Cornelie Huygens.
>
> Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin
> Theosofi:
> ”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih
> Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang
> mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang
> kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny
> Abendanon, 14 Desember 1902).
>
> ”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami
> adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan,
> Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna..."
> (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).
>
> ”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik
> sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).
>
> ”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada
> mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat,
> baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat
> kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).
>
> ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita.
> Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).
>
> ”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju
> kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada
> Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat
> kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).
>
> …Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini
> sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan
> pluralisme…
>
> Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat
> Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan
> pluralisme.
>
> Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:
>
> ”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak
> penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai
> segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak
> kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut
> Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).
>
> Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang
> bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak
> yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September
> 1902).
>
> Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran
> Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula
> gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan
> sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah
> ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin
> dalam surat-suratnya berikut ini:
>
> ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan
> melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan
> kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C
> Abendanon, 15 Agustus 1902).
>
> ”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20
> Agustus 1902).
> …Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis
> Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…
> Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis
> Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok
> Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah
> upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah
> terbaratkan secara pemikiran.
>
> Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama,
> Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan
> ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan
> antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau
> kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme
> agama.
> …Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School
> (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…
> Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School
> (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof
> bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat
> ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara
> (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan
> Indramayu (1918).
>
> Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan,
> sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga
> tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di
> sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah
> oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai
> pendidikan yang sama dengan Kartini School.
>
> Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan
> ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?
>
> Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini
> yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum
> hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di
> Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi
> Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang
> belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada
> Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang
> berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School
> (1916).
>
> Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah
> sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran
> Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau
> setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda
> yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses
> melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat
>
> …Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa
> pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia
> Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat
> jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti
> Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa,
> tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.
>
> Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan
> oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia
> menulis:
>
> ”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat
> menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya.
> Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah
> ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti
> membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan
> selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia
> sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah
> kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”
>
> Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan
> pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor
> Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan
> tentang perjuangan Kartini:
>
> ”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan
> oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya
> merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa
> bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua
> agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian
> perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa
> kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus
> menjadi kekuatan pemersatu”.
>
> …Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan
> pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…
>
> Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox
> menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East,
> sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima
> perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East
> (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge
> Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden,
> yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.
>
> Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]
>
> * Artikel ini disarikan dari buku Gerakan Theosofi di Indonesia
>
>
> Giok Lan
> HP 0815 8610 5248
> HP (021) - 92800568
>
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke