Setiap bentuk usaha yg mengarah kpd "pelecehan karakter kepribadian" harus
diselesaikan didepan pengadilan HAM internasional. Ini dpt disetarakan
dengan tindakan kejahatan perang terbesar yg hendak bertujuan meniadakan
perbedaan2 serta keunikan2 individual. Adapun hukuman yg pantas bagi Goleman
dan konco-konconya berikut pengikut setia yg takzim terhadap teori2nya tsb
adalah dlm bentuk karantina seumur hidup dan wajib melakukan penelitian
lanjutan utk menyempurnakan konklusi yg telah mereka buat selama ini. Adapun
segala biaya hidup + biaya riset harus ditanggung oleh pemerintah
masing-masing. xixiii.

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Sunday, May 30, 2010 5:14 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Kemenangan INTER MILAN dan Konyolnya Teori Kecerdasan
Emosional

 


He ... he ...

 

Kalau pendapat njenengan sendiri bagaimana kang?

Salam hangat
B. Samparan

--- On Sat, 5/29/10, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:


From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: [Is-lam] Kemenangan INTER MILAN dan Konyolnya Teori Kecerdasan
Emosional
To: [email protected]
Date: Saturday, May 29, 2010, 10:39 AM

Kemenangan INTER MILAN dan Konyolnya Teori Kecerdasan Emosional

 

May 18 at 11:37 am, seorang teman saya bernama J Kamal Farza menulis
di status facebooknya "KEBANYAKAN milyuner, ketika sekolah ia mendapat
nilai B atau C di kampusnya. Mereka membangun kekayaan bukan dari IQ
semata, melainkan kreativitas dan akal sehat. - Thomas Stanley - "

Tulisan di status Kamal ini langsung mendapat berbagai tanggapan
beragam. Satu diantara tanggapan ini mengkaitkannya dengan EQ, sebuah
dongeng yang dibuat seolah-olah Ilmiahl.

Sekedar kembali mengingatkan; DONGENG tentang EQ ini sebenarnya sudah
ada sejak lama, tapi penyebutan resmi tentang EI ini, tapi penyebutan
formal kecerdasan emosional atau EMOTIONAL INTELLIGENCE ini pertama
kalinya ada dalam artikel berbahasa jerman berjudul "Emotionale
Intelligenz and Emanzipation" dalam bahasa melayu artinya kira-kira
"Kecerdasan Emosional dan Emansipasi". Artikel ini diterbitkan dalam
jurnal Praxis und der Kinderpsychologie Kinderpsychiatrie, pada tahun
1966 oleh Leuner.

Tapi yang membuat DONGENG EQ ini menjadi heboh yang mendunia jelas
buku best seller-nya Daniel Goleman yang dia beri judul Emotional
Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ yang terbit tahun 1995.
Dalam buku ini definisi Goleman tentang kecerdasan emosional sebagian
besar kontroversial dan tidak il miah. Dalam buku ini misalnya Goleman
mendefinisikan Kecerdasan Emosional sebagai kemampuan seperti mampu
memotivasi diri dan bertahan di menghadapi frustrasi, kemampuan
mengontrol impuls dan menunda kepuasan; kemampuan mengatur suasana
hati seseorang dan kemampuan memertahankan diri agar tidak tenggelam
dalam bahaya, kemampuan berpikir, berempati dan berharap.

Di tempat buku itu diterbitkan, buku kontroversial yang berisi
fakta-fakta subjektif yang tidak bisa dibuktikan ini langsung mendapat
banyak kritikan dari para ahli. Tapi di negeri yang masyarakatnya
tidak mau bersusah payah tapi ingin dianggap hebat ini, ide
kontroversial semacam ini, karena pembuktiannya tidak memerlukan
data-data akurat, tapi cukup dengan angan-angan, langsung mendapat
tanggapan secara luas lalu diimani dengan khusuk oleh berbagai
kalangan dan mereka pun mulai latah menyebut-nyebut EQ dalam argumen
mereka tanpa mereka paham apa yang mereka omongkan. Malah belakangan
di negeri yang penduduknya sangat menggemari mitos dan segala hal
berbau gaib yang tidak bisa diverifikasi dengan panca indera ini, EQ
berhasil berevolusi dan membentuk spesies baru bernama ESQ, spesies
baru yang telah berhasil membuat seorang warga negara ini kaya raya.
Salah satu produk terbaik dari ESQ ini adalah program komputer yang
pernah diiklankan cukup lama di detik.com, program yang katanya bisa
mengaktifkan GOD SPOT, agar orang bisa khusuk dalam shalat.

Salah satu dari orang latah ini muncul di status kamal dengan
mengatakan "Ternyata menurut beberapa hasil riset dan penelitian EQ
jauh lebih penting daripada IQ dalam menentukan kesuksesan seseorang
apalagi bila ditambah dengan SQ maka akan jauh lebih sempurna."

Ketika komentar ini saya kejar dengan pertanyaan "memangnya pake apa
EQ itu mau diukur, apa yang jadi parameternya? ", si komentator ini
langsung mengider-ider dan berputar-putar.

"EQ itu mungkin juga ada parameternya dan bisa diukur, namun ia bisa
dilihat dari kestabilan dan kecerdasan seseorang dalam memenej fungsi
emosionalnya. Contohnya begini misalnya bang Kamal adalah seorang
pengacara yang ber IQ tinggi namun ia memiliki EQ yang rendah orangnya
suka meledak-ledak dan emosinya kurang terkontrol mudah terbawa
perasaan, suka marah, dilain waktu suka merasa kasihan, kadang cepat
merasa puas dan senang, tapi terkadang malah suka putus asa, tentu
sifatnya ini akan terbawa dalam pekerjaan dan hubungannya denga
kliennya sehingga menurunkan kemampuan kinerjanya walau ia ber IQ
tinggi. Karena terkadang dalam mengambil sebuah keputusan itu sangat
dipengaruhi oleh sikap emosional kita, padahal mungkin keputusan itu
bisa jadi sesuatu yang sangat menentukan dan vital artinya.", katanya
tanpa sama sekali bisa menjelaskan bagaimana EQ yang adalah DONGENG
itu bisa diukur.

Penjelasannya soal EQ yang tinggi ini jelas konyol.

Karena kalau soal EQ seperti yang dia jelaskan, bahwa EQ yang rendah
artinya orangnya suka meledak-ledak dan emosinya kurang terkontrol
mudah terbawa perasaan, suka marah, dilain waktu suka merasa kasihan,
kadang cepat merasa puas dan senang. Maka itu berarti Maradona,
Cantona, Roy Keane dan Cristiano Ronaldo yang meledak-ledak berarti
EQ-nya lebih rendah ketimbang, Messi, Zanetti, atau Michael Owen yang
kalem.

Kalau memang demikian kenyataannya, itu justru menjadi bukti kalau EQ
yang tinggi justru menghambat kesuksesan. Sebab kenyataannya, justru
karena ber EQ rendah lah Maradona, Cantona, Roy Keane mampu memimpin
dan membawa perubahan dan membawa tim-nya menjadi JUARA. Sementara
Zanetti, Messi dan Owen cuma bisa hebat untuk dirinya sendiri saja.

Dengan kategori seperti ini, Ahmad Dhani yang arogan jelas EQ-nya
lebih rendah ketimbang Andika Kangen band, tapi kenapa kalau kita ukur
kadar kesuksesan sebagai musisi, Ahmad Dhani yang ber EQ rendah justru
jauh lebih sukses ketimbang Andika?. Ahmad Dhani yang ber EQ rendah
bahkan mampu membuat seorang pecundang seperti Cinta Laura pun menjadi
juara.

Konyol dan ngawurnya DONGENG tentang EQ yang kontroversial yang
dipopulerkan oleh Goleman ini semakin jelas terkuak kalau kita membaca
kritik dari Gerald Matthews, Moshe Zeidner, and Richard D. Roberts
yang mereka tuliskan dalam buku "Emotional Intelligence Science and
Myth", dalam buku ini mereka membongkar semua kengawuran konsep EQ
Baca :  <http://www.thedivin> http://www.thedivin econspiracy. org/Z5234C.
pdf

Dalam buku ini ketiga peneliti itu menyebutkan kalau berbagai argumen
Goleman tentang kecerdasan emosional banyak merujuk ke nilai-nilai
etika Judeo Christian (Yahudi-Kristen)

Seorang pengritik lain melihat adanya kemiripan antara konsep
"Kecerdasan Emosional" dari Daniel Goleman ini dengan konsep
"kematangan emosional." yang ditulis oleh Dr. E. A. Strecker dalam
bukunya "Their Mother's Sons" yang terbit tahun 1951.

Dalam buku ini Strecker mendefinisikan kematangan emosional sebagai
kemampuan untuk tetap bekerja, kemampuan untuk memberikan lebih lanjut
mengenai pekerjaan daripada yang minta, keandalan, ketekunan untuk
melaksanakan rencana tanpa kesulitan, kemampuan untuk bekerja dengan
orang lain dalam organisasi dan otoritas , kemampuan untuk membuat
keputusan, akan hidup, fleksibilitas, kemandirian dan toleransi.

Terhadap definisi Strecker ini Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900-18
Maret 1980), seorang psikolog, psikoanalis, dan filsuf manusia asal
jerman berkomentar dalam Sane Society, yang ditulis pada tahun 1955.
Dalam koemntarnya itu Fromm mengatakan apa yang digambarkan Strecker
di sini sebagai "Kematangan Emosional" adalah kebajikan seorang
pekerja yang baik, karyawan atau prajurit dalam organisasi sosial
besar, mereka adalah kualitas yang biasanya disebutkan dalam iklan
untuk mencari seorang eksekutif junior. "

Menurut Fromm, ini terjadi karena dunia Barat, dan khususnya Amerika
Serikat, telah mencapai titik di mana masyarakat itu sendiri secara
mental tidak sehat. Sehingga orang mencari identitas melalui
negara-negara mereka, agama mereka, ras dan karir mereka bukannya
mengembangkan diri sebagai individu yang mandiri.

Definisi Strecker tentang "kematangan emosional" ini sangat mirip
dengan definisi Goleman tentang "kecerdasan emosional", terutama versi
tentang kebutuhan perusahaan. Ketika Fromm mengatakan definisi
Strecker terdengar seperti iklan untuk seorang eksekutif junior, ini
mirip seperti deskripsi Goleman yang digunakan sebagai dasar untuk
mengklaim bahwa EI dua kali lebih penting dibandingkan IQ ditambah
dengan pengetahuan teknis.

seperti definisi korporasi Goleman tentang EI, Strecker membuat banyak
daftar tentang sifat-sifat yang diinginkan untuk dimiliki oleh seorang
"eksekutif junior", atau bahkan seorang manajer senior yang bisa
melakukan semua kehendak Dewan Direksi dan pemegang saham.

Dan seperti Strecker, dalam bukunya ini pun Goleman sama sekali tidak
menyebutkan kecerdasan mana saja yang ada dalam daftarnya.

Steve Hein seorang pengkritik lain melihat kalau konsep tentang EQ dan
kaitannya dengan pengendalian diri ini, sebenarnya tidak lebih dari
cerminan masalah pribadi Goleman sendiri sehingga sifatnya jelas
subjektif dan tidak universal seperti SAINS yang kebenarannya SAMA
bagi setiap manusia. karena bersifat subjektif dan sebenarnya tidak
lain dari cerminan diri Goleman sendiri maka EQ tidak bisa
digebyah-uyah alias digeneralisasi untuk diterapkan kepada setiap
orang apalagi dipakai untuk menilai kualitas seseorang.

Dalam kritiknya ini Steve Hein menyoroti bagaimana dalam bukunya itu
Goleman berulang kali menggunakan kata "hati" ketika dia ingin
menyentuh emosi pembacanya untuk memberi kesan lebih mendalam terhadap
sebuah cerita. Pada lain waktu Goleman berbicara tentang
"spiritualitas" dan "jiwa." Ini jelas BUKAN SAINS. Ini adalah
manipulasi emosional. Di beberapa tempat Goleman terdengar sedikit
seperti seorang 'guru spiritual' semacam Deepak Chopra, yang ahli di
dalam ilmu membuat-percaya yang melakukan antara pencampuran mitos dan
logika. Para 'guru spiritual' seperti ini bermain dengan kerentanan
dan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dari penontonnya

(catatan Win Wan Nur : pola yang sama juga digunakan oleh 'guru
spiritual' semacam MARIO TEGUH).

Cara pemaparannya yang demikian, menurut Steve Hein menunjukkan kalau
Goleman sendirilah yang sebenarnya takut mengekpresikan emosi.
Sehingga ketakutan inilah yang membuatnya dalam buku ini, berkali-kali
berbicara tentang betapa berbahayanya jika kita membiarkan emosi kita
mengambil alih, tentang bahayanya emosi yang dibajak, tentang
bahayanya diperbudak nafsu.

Dalam pengamatan Steve Hein, Goleman jarang sekali menulis tentang
nilai positif perasaan manusia, atau perasaan yang kuat secara khusus.
Tampaknya dalam hal ini, tentang sifat manusia, Goleman banyak
mengambil pandangan yang agak Freudian, sehingga dia mendesak kita
semua untuk melatih kesederhanaan, taat peraturan, melatih
pengendalian dan kontrol diri.

Kata Steve Hein "Semakin saya membaca buku ini, semakin saya pikir
kontrol adalah masalah yang sangat besar untuk Goleman dan dia mungkin
bisa digambarkan sebagai seorang "control freak" alias orang yang gila
kontrol "

Lengkapnya kritik Steve Hein terhadap konsep Kecerdasan Emosional yang
dipopulerkan oleh Goleman silahkan dibaca link berikut ini
 <http://eqi.org/gole.htm> http://eqi.org/gole.htm# How%20Goleman%
20manipulates%
20his%20readers,%20and%20other% 20commentary%20on%20him

Padahal dunia nyata tidaklah demikian adanya, sikap meledak-ledak,
penuh emosi tidak selamanya menunjukkan rendahnya kecerdasan, apapun
itu namanya entah itu emosional atau spiritual.

Karena alasan-alasan di atas, maka kalau kita kembali ke pertanyaan
awal, apa PARAMETER EQ dan bagaimana cara menghitungnya? ....atau
paling tidak anda sebutkan saja, SIAPA orang atau lembaganya yang
memiliki otoritas untuk menentukan EQ seseorang lebih rendah atau
lebih tinggi ketimbang EQ orang lain. TIDAK SEORANGPUN YANG BISA
MENJAWABNYA.

Sikap meledak-ledak dan penuh emosi yang secara semena-mena
dikategorikan sebagai ciri-ciri orang ber EQ RENDAH sebenarnya sama
saja dengan sikap kalem, penuh petita-petiti dengan berbagai aturan
ala keraton Jogja yang melelahkan. Keduanya bebas nilai, tidak baik
dan tidak buruk. Nilai dari kedua sikap tersebut terletak pada di mana
kedua sikap itu digunakan.

Misalnya dalam politik, di masa Soeharto berkuasa sikap kalem, penuh
petita-petiti dengan berbagai aturan ala keraton Jogja yang menurut
Goleman adalah ciri manusia ber EQ tinggi, jelas sangat dibutuhkan,
kalau seseorang berniat berkarir bagus atau sekedar bertahan hidup
lebih lama. Tapi di masa sekarang, ketika pemimpin tidak merasa malu
bahkan saat Tahi dilemparkan ke mukanya, sikap ala manusia ber EQ
tinggi dipertahankan, ya KONYOL.

Seorang pemimpin juga demikian, seorang pemimpin yang kalem, berkata
lembut enak di dengar, dibutuhkan dalam masyarakat yang tidak sabaran,
tapi sebaliknya, dalam masyarakat yang hidup tanpa semangat, tanpa
motivasi dan tidak memiliki rasa percaya kepada diri sendiri justru
membutuhkan pemimpin yang memiliki sikap meledak-ledak dan penuh
emosi.

Contoh dari Nilai dari kedua sikap tersebut terletak pada di mana
kedua sikap itu digunakan, bisa kita lihat kemarin malam.

Saat diasuh oleh Roberto Mancini yang ber "EQ tinggi", Inter Milan
juara Italia 18 kali, tampak seperti kelinci minder yang gugup disorot
lampu, saat bertarung di kompetisi eropa. Tapi tahun ini Inter Milan
melaju ke final Liga Champion dan menjadi JUARA, dan kemenangan ini
bukanlah kemenangan biasa, Kemenangan INTER MILAN di Liga Champion ini
adalah SEMPURNA karena dalam perjalananya INTER MILAN mengalahkan
semua juara di tiga LIGA TERBAIK EROPA ( Chelsea, juara Liga Inggris,
Barcelona, Juara Liga Spanyol dan di final Bayern Muncih juara Liga
Jerman).

Dan siapa yang menjadi arsitek kemenangan Inter Milan yang terjadi
setelah 45 tahun ini?....jawabnya jelas JOSE MARIO DOS SANTOS MOURINHO
FELIX, yang lahir di Setubal, Portugal, 26 Januari 1963 silam, yang
jelas ber IQ tinggi, terbukti dengan keberhasilannya meraih Doctor
Honoris Causa dari Universitas Teknik di Lisbon, Portugal.

Tapi karena sikapnya yang arogan, banyak omong, emosional dan
meledak-ledak, oleh para penyembah teori ngawur EQ, JOSE MARIO DOS
SANTOS MOURINHO FELIX ini dikategorikan sebagai manusia ber EQ RENDAH.
Yang menurut para pemuja teori ngawur EQ tidak akan mungkin bisa
sukses meskipun IQ-nya setinggi apa.

Tapi hari ini BUKTI sudah JELAS.....bukan Roberto Mancini yang ber "EQ
tinggi" yang sukses membawa Inter Milan berjaya di kompetisi eropa,
tapi JOSE MOURINHO.

Jose Mourinho, The Special One, tidak hanya sekedar cuap-cuap, di
samping bercuap-cuap dia memiliki IQ yang tinggi, dengan modal IQ yang
tinggi itu dia bekerja keras dan membuahkan hasil. Dalam usahanya itu
orang Portugal ini harus menghadapi tudingan, serangan yang datang
yang dimusuhi pelatih, media, Coni bahkan PSSI-nya Italia. Tapi
sekarang hasilnya apa?....Jose Mourinho lah yang bisa membawa tim
juara Liga Italia ini juara di kompetisi eropa, orang yang menurut
DONGENG Kecerdasan Emosional ber- EQ rendah inilah yang akhirnya
menyelamatkan 4 jatah Italia ke liga Champion yang sempat terancam
disalip oleh jerman, karena secara koeefisien Italia sudah kalah oleh
Jerman sebelum pertandingan dimulai.

Dengan bukti sejelas ini, udah nggak tau ngomong apa lagi lah kalau
orang di negeri dongeng ini yang mengaku berpendidikan pula, masih mau
LATAH mengekor dan mempercayai DONGENG tentang EQ yang dibuat oleh
manusia pencari sensasi.

Wassalam

Win Wan Nur
Fans Inter Milan, pengagum Jose Mourinho


-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
 <http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam>
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke