Assalamu'alaikum wr wb,

Berbagai bencana/musibah/bahaya menerpa Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, 
gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, hingga perang antar suku atau 
tawuran antar anak sekolah/preman/penduduk.

Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak kemungkaran terjadi. Korupsi 
merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat kedatangan bintang porno Miyabi, 
terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang porno Tera Patrick, terjadi 
letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai. Minuman keras dan 
narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran antar pelajar/penduduk.  Aliran 
sesat bermunculan. Selain Ahmadiyah dan Liberal yang tak kunjung selesai, 
banyak pula orang yang mengaku sebagai Nabi dari Tukang Cukur hingga Mantan 
Pelatih Badminton. Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris 
berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada 
kita?
Umumnya orang di Indonesia menganggap itu sekedar ujian dari Allah sebagaimana 
ayat di bawah:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, 
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita 
gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna 
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Al Baqarah 155-156]
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; 
dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk 
kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Ath Thagaabun 11]
Kita harus menerima cobaan itu dengan sabar dan mengucapkan kalimat istirja’ 
bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Insya Allah korban yang semasa 
hidupnya rajin beribadah kepada Allah, Saleh, dan sabar akan mendapatkan 
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagai contoh Mbah Maridjan yang tewas 
karena awan panas gunung Merapi, dikabarkan masih shalat dan tewas dalam 
keadaan sujud. Insya Allah beliau meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah.
Meski demikian, dari berbagai ayat-ayat Allah di bawah, Allah menyatakan bahwa 
segala bencana/musibah/bahaya yang menimpa kita itu adalah karena perbuatan 
tangan kita sendiri. Mungkin ini menyakitkan bagi kita terutama yang terkena 
bencana. Tapi coba kita kaji firman Allah/ayat-ayat berikut:
“Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah 
sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya” [Al Anfaal 51]
“Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan 
bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Ali ‘Imran 182]
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan 
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari 
kesalahan-kesalahanmu).” [Asy Syuura 30]
Ayat-ayat di atas cukup jelas. Bahwa segala musibah/bencana yang menimpa kita 
tak lepas dari perbuatan kita sendiri.
Sebagai contoh, banjir Jakarta. Kita bisa saja menganggap itu cobaan dari Allah 
dan berhenti berpikir sampai di situ. Tapi jika kita tak mau belajar, bencana 
banjir akan terus berulang.
Banjir di Jakarta tak lepas dari ulah manusia. Berbagai rawa yang merupakan 
tempat lari dan meresapnya genangan air hujan atau dari hulu seperti Rawa 
Badak, Rawa Mangun, Rawa Sari, dan sebagainya dirubah manusia jadi bangunan dan 
jalan. Bagi yang biasa melewati jalan Tol Sediyatmo Cengkareng tahun 1980-an 
tentu masih melihat banyak hamparan rawa yang luas di kiri kanan jalan 
sepanjang puluhan kilometer. Namun sekarang 95% sudah berubah jadi pabrik, 
perumahan, dan jalan.
Jadi begitu hujan beberapa jam saja, Jakarta langsung tergenang banjir karena 
air tidak bisa meresap ke tanah atau terbuang ke rawa.
Tak jarang orang membangun rumah-rumah di pinggir kali. Bahkan ada pula yang 
menguruk kali untuk dijadikan rumah sehingga sebagai contoh Kali Ciliwung yang 
dulu lebarnya sekitar 65 meter lebih bisa susut tinggal 10 meter saja! Bahkan 
kurang. Sampah-sampah yang dibuang ke Kali Ciliwung mengakibatkan Kali yang 
dulunya dalam menjadi dangkal sehingga bisa terlihat dasar sungainya di musim 
kemarau. Hal ini mengakibatkan volume air hujan yang seharusnya muat ditampung 
Kali Ciliwung jadi tidak muat dan luber membanjiri perumahan warga.
Tak jarang petugas penyapu jalanan membuang sampah hasil sapuannya ke dalam 
gorong-gorong saluran air yang ada di pinggir jalan. Akibatnya begitu banjir, 
saluran tersumbat dan timbul genangan air banjir.
Mungkin tidak semua begitu. Tapi karena perbuatan segelintir orang, semua bisa 
terkena banjir. Allah memperingatkan kita akan adanya siksa/bencana yang tidak 
khusus menimpa orang-orang yang zalim saja. Tapi juga bisa menimpa orang-orang 
yang beriman:
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang 
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras 
siksaan-Nya.” [Al Anfaal 25]
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan 
orang-orang tertentu, hingga masyarakat umum melihat kemunkaran di hadapan 
mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tapi mereka tidak mengingkarinya. 
Jika mereka berbuat demikian, maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan 
orang-orang tertentu itu.” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani, dalam Al-Awsath].
Diriwayatkan, ada shahabat yang bertanya ;
“Wahai Rasulullah apakah kami akan binasa, sedang di tengah kami ada 
orang-orang saleh?’ Nabi menjawab, ‘Ya, jika keburukan telah meluas.” [HR. 
Muslim].
Coba kita lihat Indonesia. Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak 
kemungkaran terjadi. Korupsi merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat 
kedatangan bintang porno Miyabi, terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang 
porno Tera Patrick, terjadi letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan 
Mentawai. Minuman keras dan narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran 
antar pelajar/penduduk.  Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris 
berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada 
kita?

Belum lagi dengan ketidak-adilan hukum. Para koruptor trilyunan proses hukumnya 
begitu panjang dan bisa bebas. Sementara pencuri buah semangka, 2 buah pisang, 
atau pun 3 biji kopi hukumannya begitu cepat. Ada pula ulama yang ditangkap 
dengan tuduhan/stigma teroris. Padahal belum tentu dia teroris. Jika orang awam 
yang dizalimi saja doanya akan dikabulkan Allah tanpa tabir, apalagi jika 
ulama/ahli zikir yang dizalimi.

Para ahli mungkin berpendapat tsunami terjadi karena pergeseran lempeng bumi 
atau Gunung api meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar 
oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan 
tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur 
dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Para ahli 
paling berhenti pada makhluk/ciptaan Allah. Pikiran mereka tidak sampai kepada 
penciptanya: Allah.
Bukankah Allah yang menciptakan lempeng bumi dan juga gunung berapi? Bukankah 
lempeng dan gunung berapi itu sejak dulu ada? Kenapa tidak meledak dari dulu, 
tahun kemarin, atau tahun sebelumnya?
Hendaknya kita sebagai orang yang beriman dan berpikir menganggap segala 
bencana yang terjadi merupakan teguran bagi kita untuk memperbaiki diri.
Bagi yang merasa beriman, jangan tersinggung. Sebab Nabi Nuh saja serta 
segelintir pengikutnya yang beriman, tetap kampung halamannya ditimpa azab oleh 
Allah karena mayoritas penduduknya durhaka terhadap Allah. Begitu pula dengan 
Nabi Luth dan pengikutnya saat mayoritas kaumnya durhaka.
Namun ada pelajaran di situ. Untuk menghadapi banjir, Nabi Nuh membangun perahu 
besar bersama pengikutnya. Saat banjir melanda, mereka naik perahu dan selamat. 
Cuma orang yang tak mau naik perahu yang celaka. Bisakah kita mengambil 
pelajaran dari sini? Adakah daerah yang saban 5-10 tahun kebanjiran menyediakan 
1-2 perahu karet sehingga warganya bisa menyelamatkan diri dari banjir.
Ada pun Nabi Luth, saat akan terjadi bencana bersama pengikutnya melarikan diri 
dari kampung halamannya sehingga mereka selamat. Hanya orang yang tinggal saja 
yang kena azab berupa batu yang jatuh dari langit.
Nah 3 hari sebelum Gunung Merapi meletus, kera-kera sudah turun gunung. Esok 
harinya rusa-rusa menyusul. Jadi Allah sebetulnya sudah memperingatkan para 
penghuni gunung Merapi agar segera mengungsi sehingga mereka bisa selamat.
Sebetulnya Allah member Gunung api yang sewaktu-waktu bisa meletus agar manusia 
tidak menjadikan gunung tersebut sebagai perumahan/jalan. Jika gunung tersebut 
akhirnya padat oleh perumahan seperti Jakarta, maka air hujan tidak bisa 
menyerap di situ. Akibatnya mata air dan sungai-sungai akan kering sehingga 
warga Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali dan tempat lain yang dekat gunung 
Merapi akan kesulitan air tawar yang bersih.
Sebagai contoh mata air Umbul Wadon (di dasar Kali Kuning), yang menjadi 
andalan warga lereng Gunung Merapi dan Perusahaan Air Minum Daerah Kabupaten 
Sleman dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Wilayah Gunung Merapi merupakan 
sumber bagi tiga DAS (daerah aliran sungai), yakni DAS Progo di bagian barat; 
DAS Opak di bagian selatan dan DAS Bengawan Solo di sebelah timur. Keseluruhan, 
terdapat sekitar 27 sungai di seputar Gunung Merapi yang mengalir ke tiga DAS 
tersebut (Wikipedia). Belum lagi eko sistem lainnya seperti hutan serta 
binatang-binatang yang ada di sana.
Begitu pula dengan gunung-gunung lainnya. Allah meminta kita agar tidak merusak:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) 
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) 
dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada 
orang-orang yang berbuat baik.” [Al A’raaf 56]
“…janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. 
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang 
beriman.”   [Al A’raaf 85
“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka 
bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan 
perbaikan." [Al Baqarah 11]
“…Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu 
berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al Baqarah 60]
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan 
kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah 
tidak menyukai kebinasaan” [Al Baqarah 205]
Jadi jika kita merusak alam atau sengaja tinggal di tempat yang berbahaya 
misalnya rawan banjir, rawan longsor, rawan tsunami, rawan letusan gunung 
berapi seandainya terjadi bencana, siapakah yang salah?
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira 
dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan 
kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka 
itu berputus asa.” [Ar Ruum 36]
Di antara kesalahan itu adalah korupsi yang merajalela. Sehingga Indonesia yang 
merupakan Negara yang kaya penuh dengan minyak, gas, emas, perak, tembaga, 
tanah yang subur, laut yang luas dan penuh ikan, akhirnya justru tidak memiliki 
kekayaan itu karena para pejabat yang korup menyerahkannya kepada pihak asing 
yang mayoritas non Muslim. Akhirnya mayoritas rakyat Indonesia miskin sehingga 
mereka tidak bisa membangun rumah yang bebas banjir atau tahan gempa.
Jika seluruh rakyat Indonesia mencoba menghentikan korupsi sehingga rakyat 
Indonesia makmur dan bisa membangun rumah yang kuat di tempat yang  aman, 
niscaya meski ada bencana, mayoritas rakyat Indonesia tetap selamat. Sebagai 
contoh Jepang yang negerinya jauh lebih rawan gempa, namun karena penduduknya 
makmur dan mampu membuat bangunan tahan gempa, dalam 20 tahun terakhir ini 
korban jiwa akibat gempa justru lebih sedikit daripada di Indonesia.
Oleh karena itu kita harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar seperti melawan 
korupsi, pornografi, dan kejahatan lainnya. Dan hendaknya kita berdoa agar 
lepas dari hukuman Allah;
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia 
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari 
kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah 
Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah 
Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada 
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami 
apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan 
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum 
yang kafir.” [Al Baqarah 286]
Cobaan bukan Cuma bencana alam, tapi juga perang antar pelajar, preman, dan 
penduduk. Tawuran antar pelajar kerap kita saksikan di mana banyak yang 
berakhir dengan korban jiwa. Begitu pula perang antar preman/mafia dengan 
pedang dan pistol. Belum lagi konflik Ambon, Poso, Sampit, dan sebagainya:
“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas 
kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan 
(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan 
sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda 
kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” [Al An’aam 65]
Banyaknya bencana dan cobaan yang berulang-kali terjadi, sebagai contoh dalam 
minggu yang bersamaan saja ada di Minggu Terakhir Oktober 2010 ini selain 
Gunung Merapi yang meletus, Tsunami di Mentawai juga terjadi. Hendaknya kita 
(terutama penulis) bertobat dan mengambil pelajaran:
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji 
sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak 
(pula) mengambil pelajaran? [At Taubah 126]

Nabi Nuh dan Nabi Luth kampungnya dimusnahkan Allah karena meski ada Nabi, 
namun mayoritas rakyatnya maksiat kepada Allah.
Di Indonesia korupsi, perzinahan, pornografi, aliran sesat merajalela. Bahkan 
banyak yang mengaku sebagai Nabi. Bagaimana Allah ridho?

Bagi yang ingin menyumbang korban bencana, kirimlah ke Lembaga Amal Zakat 
terpercaya yang juga aktif berdakwah. Jadi mereka bukan cuma memberi materi, 
tapi juga bisa memantapkan Aqidah Islam dan juga memberikan Konseling Islami 
bagi korban yang menderita goncangan kejiwaan.

Ini perlu mengingat ada lembaga2 bantuan lain yang justru mencoba memurtadkan 
ummat Islam sebagaimana yang terjadi saat gempa di Padang. Silahkan lihat 
videonya di sini:
http://media-islam.or.id/mi-tv

Di antaranya Lembaga Penyalur Bantuan yang insya Allah amanah dan aktif 
berdakwah adalah:

Baitul Maal Hidayatullah

BCA Otista 553.0212.205

BNI 000.8924.923 An . Yayasan Baitul Maal Hidayatullah

Referensi:

http://www.suara-islam.com/news/nafsiyah/peningkatan-nafsiyah/70-siksaan-tidak-hanya-menimpa-orang-zalim

http://www.jpnn.com/read/2010/09/27/73104/Pemprov-DKI-Minta-Pusat-Ikut-Keruk-Kali

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/23/177226/124/101/Kera-Merapi-Mulai-Turun-Gunung

http://video.vivanews.com/read/11475-monyet-merapi-mulai-turun-gunung_1

http://regional.kompas.com/read/2010/10/28/19584379/Letusan.Merapi.Tidak.Mengganggu.Mata.Air

http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Merapi

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/TN_GnMerapi.htm

Ceramah Ustad Dayat dalam kajian Minhajul Muslim di Masjid At Taubah

Sumber:
http://media-islam.or.id/2010/10/31/korupsi-dan-kemaksiatan-merajalela-bencana-alam-cobaan-atau-perbuatan-tangan-kita-sendiri/

===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Milis Ekonomi Nasional: [email protected]
Haji ONH Plus 2010 Mulai dari US$ 6.500:
http://media-islam.or.id/2010/05/09/paket-haji-onh-plus-2010-mulai-dari-us-6-000/


_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke