http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=154
Perbuatan tidak tahu syukur merupakan satu sebab wanita menjadi mayoritas
penghuni neraka, sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
seselesainya beliau dari Shalat Kusuf (Shalat Gerhana):
أُرِيْتُ
النَّارُ
فَإِذَا
أَكْثَرُ
أَهْلِهَا
النِّسَاءُ
يَكْفُرْنَ.
قِيْلَ: أَ
يَكْفُرْنَ
بِاللهِ؟
قَالَ:
يَكْفُرْنَ
الْعَشِيْرَ
وَيَكْفُرْنَ
الإِحْسَانَ,
لَوْ
أَََحْسَنْتَ
إِلىَ
إِحْدَاهُنَّ
الدَّهْرَ
ثُمَ رَأَتْ
مِنْكَ
شَيْئًا
قَالَتْ: مَا
رَأَيْتُ
مِنْكَ
خَيْرًا
قَطُّ
"Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuninya adalah para
wanita yang kufur ." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah para wanita itu
kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada
suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada
salah seorang dari mereka satu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada
sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata: Aku sama
sekali belum pernah melihat kebaikan darimu." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim
no. 907)
Al-Qadhi Ibnul 'Arabi rahimahullah berkata: "Dalam hadits ini disebutkan secara
khusus dosa kufur/ingkar terhadap suami di antara sekian dosa lainnya karena
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menyatakan: Seandainya aku boleh
memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sesama makluk) niscaya
aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggandengkan hak suami terhadap istri dengan hak Allah, maka
bila seorang istri mengkufuri/mengingkari hak suaminya, sementara hak suami
terhadapnya telah mencapai puncak yang sedemikian besar, hal itu sebagai bukti
istri tersebut meremehkan hak Allah. Karena itulah diberikan istilah kufur
terhadap perbuatannya akan tetapi kufurnya tidak sampai mengeluarkan dari
agama." (Fathul Bari, 1/106)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengisahkan:
قُمْتُ عَلَى
بَابِ
الْجَنَّةِ
فَكَانَ
عَامَّةُ
مَنْ
دَخَلَهَا
الْمَسَاكِيْنُ
وَأَصْحَابُ
الْجَدِّ
مَحْبُوْسُوْنَ
غَيْرَ أَنَّ
أَصْحَابَ
النَّارِ
قَدْ
أُمِرَ
بِهِمْ إِلَى
النَّارِ
فَإِذَا
عَامَّةُ
مَنْ
دَخَلَهَا
النِّسَاءُ
"Aku berdiri di depan pintu surga, ternyata kebanyakan yang masuk ke dalamnya
adalah orang-orang miskin, sementara orang kaya lagi terpandang masih tertahan
(untuk dihisab) namun penghuni neraka telah diperintah untuk masuk ke dalam
neraka , ternyata mayoritas yang masuk ke dalam neraka adalah kaum wanita."
(HR. Al-Bukhari no. 5196 dan Muslim no. 2736)
Pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat. Setelahnya beliau berkhutbah
dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: "Wahai sekalian wanita,
bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun) karena sungguh
diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka." Berkata salah
seorang wanita yang cerdas: "Apa sebabnya kami menjadi mayoritas penghuni
neraka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan
mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan
agamanya namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna
daripada kalian." Wanita itu bertanya lagi: "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud
dengan kurang akal dan kurang agama?". "Adapun kurangnya akal wanita
ditunjukkan dengan persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang
lelaki. Sementara kurangnya agama wanita ditunjukkan dengan ia tidak
mengerjakan shalat dan meninggalkan puasa di bulan Ramadhan selama beberapa
malam (yakni saat ditimpa haidh)." (HR. Al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)
Karena mayoritas kaum wanita adalah ahlun nar (penghuni neraka) maka mereka
menjadi jumlah yang minoritas dari ahlul jannah. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam nyatakan hal ini dalam sabdanya:
إِنَّ
أَقَلُّ
سَاكِنِي
الْجَنَّة
النِّسَاءُ
"Minoritas penghuni surga adalah kaum wanita." (HR. Muslim no. 2738)
Bila demikian adanya tidak pantas bagi seorang wanita yang mencari keselamatan
dari adzab untuk menyelisihi suaminya dengan mengkufuri kenikmatan dan kebaikan
yang telah banyak ia curahkan ataupun banyak mengeluh hanya karena sebab sepele
yang tak sebanding dengan apa yang telah ia persembahkan untuk anak dan
istrinya. Sepatutnya bila seorang istri melihat dari suaminya sesuatu yang
tidak ia sukai atau tidak pantas dilakukan maka ia jangan mengkufuri dan
melupakan seluruh kebaikannya. Sungguh, bila seorang istri tidak mau bersyukur
kepada suami, sementara suaminya adalah orang yang paling banyak dan paling
sering berbuat kebaikan kepadanya, maka ia pun tidak akan pandai bersyukur
kepada Allah ta`ala, Dzat yang terus mencurahkan kenikmatan dan menetapkan
sebab-sebab tersampaikannya kenikmatan pada setiap hamba.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyampaikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam:
مَنْ لاَ
يَشْكُرِ
النَّاسَ لاَ
يَشْكُرِ
اللهَ
"Siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia maka ia tidak akan
bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud no. 4177 dan At-Tirmidzi no. 2020,
dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di atas syarat Muslim, dalam Ash-Shahihul
Musnad, 2/338)
Al-Khaththabi berkata: "Hadits ini dapat dipahami dari dua sisi.
Pertama: orang yang tabiat dan kebiasaannya suka mengingkari kenikmatan yang
diberikan kepadanya dan enggan untuk mensyukuri kebaikan mereka maka menjadi
kebiasaannya pula mengkufuri nikmat Allah ta`ala dan tidak mau bersyukur
kepada-Nya.
Sisi kedua: Allah tidak menerima rasa syukur seorang hamba atas kebaikan yang
Dia curahkan apabila hamba tersebut tidak mau bersyukur (berterima kasih)
terhadap kebaikan manusia dan mengingkari kebaikan mereka, karena berkaitannya
dua perkara ini." ('Aunul Ma'bud, 13/114)
Adapun Al-Qadhi mengatakan tentang hadits ini: "(Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menyatakan demikian) bisa jadi karena mensyukuri Allah ta`ala hanya
bisa sempurna dengan patuh kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sementara
di antara perkara yang Dia perintahkan adalah berterima kasih kepada manusia
yang menjadi perantara tersampaikannya nikmat-nikmat Allah kepadanya. Maka
orang yang tidak patuh kepada Allah dalam hal ini, ia tidak menunaikan
kesyukuran atas kenikmatan-Nya. Atau bisa pula maknanya, orang yang tidak
berterima kasih kepada manusia yang telah memberikan dan menyampaikan
kenikmatan kepadanya, padahal ia tahu sifat manusia itu sangat senang
mendapatkan pujian, ia menyakiti si pemberi kebaikan dengan berpaling dan
mengingkari apa yang telah diberikan, maka orang seperti ini akan lebih berani
meremehkan sikap syukur kepada Allah, yang sebenarnya sama saja bagi-Nya antara
kesyukuran dan kekufuran ." (Tuhfatul Ahwadzi, 6/74).
----- Original Message ----- From: TeMaN
To: raffizmy
Sent: Tuesday, March 14, 2006 9:45 AM
Subject: [islah-net] Renungan buat Suami dan Isteri
Suami saya adalah serorang jurutera, saya mencintai
sifatnya yang semulajadi dan saya menyukai perasaan
hangat yang muncul dihati saya ketika bersandar
dibahunya.
3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa
pernikahan, saya harus akui, bahawa saya mulai merasa
letih...lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya
seorang wanita yang sentimental dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui
saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang
sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi,
semua itu tidak pernah saya perolehi. Suami saya jauh
berbeza dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya
kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan
suasana yang romantis dalam perkahwinan kami telah
mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang
ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahawa saya inginkan
penceraian.
"Mengapa?"Dia bertanya dengan nada terkejut.
"Siti letih, Abang tidak pernah cuba memberikan cinta
yang saya inginkan." Dia diam dan termenung sepanjang
malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang
mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang lelaki yang
tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang
boleh saya harapkan daripadanya? Dan akhirnya dia
bertanya.
"Apa yang Abang boleh lakukan untuk mengubah fikiran
Siti?" Saya merenung matanya dalam-dalam dan menjawab
dengan perlahan.
"Siti ada 1 soalan, kalau Abang temui jawapannya
didalam hati Siti, Siti akan mengubah fikiran Siti;
Seandainya, Siti menyukai sekuntum bunga cantik yang
ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang
memanjat gunung-gunung itu, Abang akan mati. Apakah
yang Abang akan lakukan untuk Siti?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Abang akan
memberikan jawapannya esok." Hati saya terus gundah
mendengar responnya itu.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menenui selembar kertas dengan coretan tangannya
dibawah sebiji gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan...
'Sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu
untukmu, tetapi izinkan Abang untuk menjelaskan
alasannya." Kalimah pertama itu menghancurkan hati
saya. Namun, saya masih terus ingin membacanya.
"Siti boleh mengetik dikomputer dan selalu mengusik
program didalamnya dan akhirnya menangis di depan
monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang supaya
boleh membantu Siti untuk memperbaiki program
tersebut."
"Siti selalu lupa membawa kunci rumah ketika Siti
keluar, dan Abang harus memberikan kaki Abang supaya
boleh menendang pintu, dan membuka pintu untuk Siti
ketika pulang."
"Siti suka jalan-jalan di shopping complexs tetapi
selalu tersasar dan ada ketikanya sesat di
tempat-tempat baru yang Siti kunjungi, Abang harus
mencari Siti dari satu lot kedai ke satu lot kedai
yang lain mencarimu dan membawa Siti pulang ke rumah."
"Siti selalu sengal-sengal badan sewaktu 'teman baik'
Siti datang setiap bulan, dan Abang harus memberikan
tangan Abang untuk memicit dan mengurut kaki Siti yang
sengal itu."
"Siti lebih suka duduk di rumah, dan Abang selalu
risau Siti akan menjadi 'pelik'. Dan Abang harus
membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan Siti
dirumah atau meminjamkan lidah Abang untuk
menceritakan hal-hal kelakar yang Abang alami."
"Siti selalu menatap komputer, membaca buku dan itu
tidak baik untuk kesihatan mata Siti, Abang harus
menjaga mata Abang agar ketika kita tua nanti, abang
dapat menolong mengguntingkan kukumu dan
memandikanmu."
"Tangan Abang akan memegang tangan Siti, membimbing
menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir
yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang
bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu."
"Tetapi sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu
untuk mati. Kerana, Abang tidak sanggup melihat
airmatamu mengalir menangisi kematian Abang."
"Sayangku, Abang tahu, ada ramai orang yang boleh
mencintaimu lebih daripada Abang mencintai Siti."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
oleh tangan, kaki, mata Abang tidak cukup bagi Siti.
Abang tidak akan menahan diri Siti mencari tangan,
kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan Siti."
Airmata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuatkan
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha
untuk terus membacanya lagi.
"Dan sekarang, Siti telah selesai membaca jawapan
Abang. Jika Siti puashati dengan semua jawapan ini,
dan tetap inginkan Abang tinggal di rumah ini, tolong
bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang
berdiri di luar sana menunggu jawapan Siti." "Tetapi,
jika Siti tidak puas hati, sayangku...biarkan Abang
masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang, dan Abang
tidak akan menyulitkan hidupmu. Percayalah, bahagia
Abang bila Siti bahagia."
Saya terpegun. Segera mata memandang pintu yang
terkatup rapat. Lalu saya segera berlari membukakan
pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan
wajah gusar sambil tangannya memegang susu dan roti
kesukaan saya.
Oh! Kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah
cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
beransur-ansur hilang dari hati kita kerana kita
merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam
'kewujudan' yang kita inginkan, maka cinta itu telah
hadir dalam 'kewujudan' yang tidak pernah kita
bayangkan sebelum ini. cuba kita ambil ikhtibar dari
cerita ini..:)
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/wpWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
///// MEDIA JIM: Memurnikan Tanggapan Umum Melalui Penyebaran Ilmu dan Maklumat
//////////////////////////////////
Nota: Kandungan mel ini tidak menggambarkan pendirian rasmi Pertubuhan
Jamaah Islah Malaysia (JIM) melainkan yang dinyatakan sedemikian.
Berminat menjadi ahli JIM? Sila isi borang keahlian "online" di:
http://www.jim.org.my/forms/borang_keahlian.htm
Langganan : Hantar E-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
Unsub : Hantar E-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/islah-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/