Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi'i
Assalammualaikum Wr.Wb
Pak ustad ada yang ingin saya tanyakan mengenai sesuatu yang marak terjadi di
kalangan umat Islam di indonesia.Salah satu contoh yaitu;
Mana yang harus di dahulukan antara persatuan sesama muslim dengan tatacara
beribadah. Ada satu kasus di daerah saya, mengenai shalat jum'at.ada yang
meyakini adzan jum'at satu kali dan ada yang meyakini dua kali, kemudian mereka
berselisih paham dan akhirnya yang meyakini adzan jum'at satu kali memisahkan
diri dan melaksanakan shalat jum'at di tempat lain.
Yang ingin saya tanyakan adalah;apakah benar harus memisahkan diri hanya karena
perbedaan jumlah adzan, yang akhirnya merusak persatuan dan menimbulkan
permusuhan
Yoyo Wardaya
[EMAIL PROTECTED]
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa yang anda ceritakan ini merupakan salah satu contoh dari keawaman dan
kurang luasnya cara pandang sebagian dari saudara-saudara kita sesama umat
Islam. Patut disayangkan memang, tapi ternyata itulah realitanya.
Entah apa yang salah, tapi yang jelas kalau sampai jamaah shalat Jumat terbelah
dua, masing-masing mengadakan sendiri-sendiri, hanya lantaran perbedaan jumlah
adzan, jelas-jelas telah menyalahi aturan shalat Jumat yang baku.
Sebab dalam aturan shalat Jumat yang baku, tidak boleh ada dua jamaah shalat
Jumat yang berdekatan. Kecuali karena alasan tidak muatnya daya tampung jamaah
di dalam sebuah masjid.
Sedangkan kalau hal itu hanya disebabkan oleh karena perbedaan jumlah adzan,
tentu saja tidak boleh dijadikan alasan. Bahkan kalau pemisahan jamaah itu
dilakukan juga, banyak fatwa para ulama yang menyebutkan bahwa kedua shalat
Jumat itu tidak sah.
Sikap Ulama Dalam Perbedaan Pendapat
Seharusnya para takmir masjid dan tokoh agama bisa mencontoh keulamaan seorang
Buya Hamka. Tokoh yang baru saja diperingati 100 tahunnya kemarin, boleh jadi
sosok yang paling ideal untuk dijadikan panutan dalam urusan toleransi antara
pendapat fiqih.
Di antaranya sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka,
meski beliau boleh dibilang tokoh Muhammadiyah yang anti qunut. Namun beliau
bershahabat baik dengan tokoh ulama betawi, KH. Abdullah Syafi'i, tokoh ulama
yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah.
Ada sebuah kisah yang menarik, khususnya masalah adzan dua kali. Suatu ketika
di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi'i mengunjungi Buya di masjid Al-Azhar
Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya
Hamka yang jadi khatib. Karena menghormati shahabatnya, maka Buya minta agar
KH. Abdullah Syafi'i yang naik menjadi khatib Jumat.
Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya
hanya satu kali. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa
adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat shahabatnya. Jadi bukan
hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambah jadi dua kali,
semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.
Ini luar biasa dan kisah ini perlu kita hidupkan lagi. Begitulah sikap kedua
tokoh ulama besar negeri ini. Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan
perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal. Dan siapa tidak kenal KH
Abdullah Syafi'i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafi'iyah, yang umumnya
kiyai betawi hari ini adalah murid-murid beliau.
Bahkan menurut Rusydi Hamka, ayahnya itu ketika mau mengimami shalat tarawih,
menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid
Al-Azhar kala itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih
dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami
shalat dengan 11 rakaat.
Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan wawasannya luas. Tidak
pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan khilafiyah
lahir karena memang proses yang alami, di mana dalil dan nash yang ada
menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari perhatian
orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes.
Sebaliknya, mereka yang suka meributkan masalah khilafiyah, biasanya merupakan
sosok yang kerjanya memang sekedar cari-cari perbedaan, dan umumnya mereka
memang suka sensasi. Mungkin kalau dilihat dari bakatnya, lebih tepat jadi
artis. Setidaknya jadi wartawan infotainment.
Intinya buat mereka, bagaimana caranya bisa dapat decak kagum dari orang-orang
atau tepuk tangan dari para pendukungnya. Kadang perbuatannya nekad,
sampai-sampai kalau perlu sumur zamzam pun dikencingi. Asalkan bisa
menghasilkan sensasi.
Prinsip mereka, apapun yang sekiranya bisa menarik perhatian orang, akan
dilakukan. Walau pun terkadang kepala mereka tidak ada isi apa-apa, alias jahil
bin blo'on. Apa yang keluar dari mulutnya hanya foto copy dan taqlid dari orang
lain, bukan lahir dari keluasan ilmu, kefaqihan dan kealiman, apalagi dari
kerendahan hatinya. Tapi sayangnya, sikap dan perilaku mereka, seolah mufti
tertinggi.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
www.eramuslim.com
___________________________________________________________
Rise to the challenge for Sport Relief with Yahoo! For Good
http://uk.promotions.yahoo.com/forgood/