Presiden Indonesia menegaskan supaya tidak ada amalan (Kongkalikong/Komisyen) 
serta lobi melobi apabila membeli peralatan persenjataan atau kelengkapan 
pertahanan negara tersebut. Beliau mahukan rakyat diberi penjelasan yang 
sebenarnya mengenai setiap pembelian peralatan pertahanan. Amalan mark up 
(Kongkalikong/Komisyen) serta lobi melobi tersebut akan hanya merugikan negara, 
tegas beliau lagi.
 
**************** 
Presiden ingatkan jangan ada mark up (Kongkalikong) belanja alutsista
 
Kamis, 2 Februari 2012 ; Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono memperingatkan semua jajaran pemerintahan untuk tidak tergoda 
melakukan kecurangan dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) 
karena pemerintah menginginkan anggaran yang disediakan sesuai dengan kualitas 
dan jenis persenjataan yang dibutuhkan.
 
"Saya sudah lama menengarai adanya kultur mark up (penggelembungan harga,red), 
kongkalikong dengan perusahaan tertentu sehingga merugikan negara. Kita 
bertekad tidak ada lagi itu," tegas Presiden saat sidang kabinet bidang 
Polhukam di Kantor Presiden Jakarta, Kamis siang.
 
Presiden mengatakan pemerintah tidak menutup peluang pengusaha yang memang 
bergerak di bidang pengadaan kebutuhan persenjataan atau peralatan pertahanan. 
Namun bisnis yang dilakukan hendaknya sesuai dengan etika dan norma.
 
"Jalankan bisnis dengan baik, jangan lobi sana dan sini sehingga mengakibatkan 
harga lebih tinggi dan negara dirugikan," tegasnya.
 
Presiden menambahkan,"Saya tahu mungkin ada yang tidak nyaman dengan policy 
seperti ini, berkurang penghasilannya, tapi (kebijakan-red)ini harus dilakukan".
 
Karena itu Kepala Negara meminta kepada semua pejabat terkait untuk menjelaskan 
masalah pengadaan dalam rangka modernisasi alat pertahanan ini secara 
transparan, gamblang dan juga melakukan perencanaan pengadaan dengan baik dan 
terarah.
 
"Hentikan betul praktik tidak benar. Saya masih mencium adanya godaan ke arah 
itu, bila terjadi akan dilakukan tindakan yang tegas. Saya sudah ingatkan. Mari 
kita pertanggungjawabkan anggaran yang tidak sedikit," katanya.
 
Ditambahkannya,"semua harus aktif, menhan, semuanya harus aktif menjelaskan, 
jangan sampai isu digeser ke sana dan kemari".
 
Presiden mengatakan keingintahuan rakyat mengenai apa yang dilakukan 
pemerintahnya adalah hal yang sangat wajar termasuk juga kalangan parlemen yang 
menelaah rencana pemerintah tersebut.
 
"Yang penting para menteri terkait dan jajaran pimpinan TNI menjelaskan 
segamblang-gamblangnya program yang kita lakukan sehingga dipahami oleh 
rakyat," katanya.
 
Penjelasan yang harus diberikan,kata Presiden adalah alasan mengapa dilakukan 
modernisasi alat pertahanan.
 
Hadir dalam sidang kabinet tersebut Wakil Presiden Boediono dan menteri-menteri 
di jajaran Polhukam antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menhan Purnomo 
Yusgiantoro, Mendagri Gamawan Fauzi, Mendikbud Muhammad Nuh, Kepala BNPB 
Syamsul Maarif, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal (Pol) 
Timur Pradopo, para kepala staf tiga angkatan, Menkeu Agus Martowardojo dan 
sejumlah pejabat lainnya. 
 
http://www.antaranews.com/berita/295652/presiden-ingatkan-jangan-ada-mark-up-belanja-alutsista
 
Jangan Ada Kongkalikong dalam Pengadaan Alutsista
Kamis, 2 Februari 2012
 
Jakarta: Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) merupakan 
keharusan untuk dapat menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Namun, Presiden 
mengingatkan, jangan ada penggelembungan (mark up) dan kongkalikong dalam 
pengadaannya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan hal ini dalam 
pembukaan rapat terbatas kabinet bidang polhukam, di Kantor Presiden, Kamis 
(2/2) siang.
 
"Kita memberi ruang dan kesempatan kepada siapapun yang berbisnis di bidang 
pengadaan alutsista sebagaimana yang dulu terjadi, tetapi jalankan bisnis itu 
dengan baik. Jangan ada mark up, jangan lobi sana lobi sini, menggalang sana- 
menggalang sini, akhirnya harganya jadi berlebihan, negara dirugikan, jumlahnya 
berkurang sehingga kemampuan negara, kemampuan prajurit kita untuk bertempur 
berperang menjadi berkurang," Presiden SBY menegaskan. 
 
Presiden meminta jajaran kabinet dan pimpinan TNI menjelaskan soal modernisasi 
alutsista ini secara gamblang kepada masyarakat. "Tidak keliru kalau masyarakat 
atau publik kita ingin tahu apa yang tengah dilakukan oleh negaranya, oleh 
pemerintahnya. Saya juga menganggap wajar dan perlu kalau kalangan parlemen 
atau DPR juga memandang perlu untuk melakukan pembahasan secara mendalam 
ataupun pihak-pihak yang lain," ujar Presiden. 
 
Penjelasan soal modernisasi alutsista ini perlu disampaikan seterang-terangnya 
sehingga rakyat mengerti dan program tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. 
SBY memberikan contoh dengan mengatakan bahwa untuk menghadapi ancaman keamanan 
di negeri sendiri, negara tidak boleh lemah, dan tidak boleh jauh tertinggal.
 
"Sampaikan pula sudah lama kita tidak melakukan modernisasi dan pembangunan 
kekuatan yang memadai," Presiden SBY menambahkan. "Dengan demikian kekuatan 
bersenjata kita dalam hal modernisasi aludsista, perlengkapan dan peralatan 
yang lain memang tertinggal dibanding negara-negara lain." (arc) 
 
http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2012/02/02/7634.html 

Kirim email ke