WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN YAZID SUFAAT, "PENGALAMAN DI
PENJARA THAGHUT"
Siraaj - Senin, 1
Rabiul Akhir 1434 H / 26 Maret 2012 20:25
Wawancara
eksklusif dengan Yazid Sufaat, "Pengalaman di penjara thaghut"
 
(Arrahmah.com) –
Penjara seharusnya digunakan untuk menahan orang-orang yang berbuat kejahatan.
Tetapi penjara telah berubah menjadi kurungan bagi mereka yang benar-benar
tidak sepantasnya ditahan. Ditahan tanpa pengadilan dan tuduhan yang sah. Yazid
Sufaat, Mujahid asal Malaysia, yang dituduh ikut membantu serangan 9/11 dan
beberapa tuduhan lainnya, adalah salah satu saksi mata yang hidup yang ditahan
dengan tuduhan yang tidak sah dan tanpa pengadilan.
 
Berikut ini,
adalah Wawancara Malaysiakini dengan Yazid Sufaat fokus pada ISA pada
(20/3/2012) oleh Fathi Aris Omar, Aidila Razak dan Salhan K Ahmad, menjelang
pencabutannya, yang diperkirakan akan diajukan dalam sidang sedang berlangsung
Parlemen. Sebelumnya, yang kedua, telah dibahas mengenai Wawancara eksklusif
dengan Yazid Sufaat, serangan 9/11 meningkatkan pemeluk Islam. Dalam bahasan
yang ketiga ini, Yazid bercerita pengalamannya ditahan di penjara thaghut di
bawah Internal Secuirty Act (ISA).
 
***
 
“Suatu hari di
penjara, saya merasa seperti melihat bintang-bintang bersinar. Saya tidak
pernah melihatnya selama tiga tahun pada saat itu, karena saya tidak dapat
melihat langit dari sel saya. Melihat bintang-bintang adalah sebuah hadiah,”
kata Yazid.
 
“Saya berdo’a,
‘Ya Allah, biarkan saya melihat beberapa bintang’. Terkadang kita harus
menerima beberapa hal agar do’a dikabulkan,” katanya, mengingat tujuh tahun
masa tahanannya di kamp Kamunting di Perak, di bawah Internal Security Act
1968.
 
Yazid Sufaat dikirim
ke balik jeruji tanpa pengadilan karena ia terlibat dalam kegiatan jihad pada
bulan Desember 2001, termasuk dakwaan terlibat serangan 9/11 di New York, Yazid
ditahan di dalam kurungan isolasi selama lima tahun.
 
Di sana, ia biasa
menggunakan darah dari sekawanan nyamuk yang menyerangnya di sel untuk menulis
ayat-ayat Al-Quran di dinding-dinding, di mana ia merasa kepanasan pada malam
hari, membuat ia basah kuyup setelah melakukan sholat.
 
Itulah sedikit
pengalaman Yazid di Kamunting. Yazid ragu janji pemerintah mengenai pencabutan
ISA.
 
“Jika ini (ISA)
bekerja dengan baik untuk mereka (pemerintah), mengapa mereka harus
menghapuskannya? Mungkin mereka akan mengubah namanya, tetapi isi dari yang
baru (hukum pengganti) akan sama saja, atau bahkan lebih buruk,” katanya.
 
Program senjata
biologis
 
Di antara tahanan
di bawah ISA yang paling lama, Yazid, yang diberi sangsi oleh PBB telah
melakukan perjalanan, aset dan kesepakatan senjata, meyakini bahwa penahanannya
ada hubungannya dengan keahliannya.
 
Dilatih sebagai
seorang ahli biokimia dengan beasiswa pemerintah di Amerika Serikat, mahasiswa
top dari Royal Military College ini yang sekaligus pensiunan kapten Angkatan
Darat pernah jadi bagian dari program senjata biologis Departemen Pertahanan.
 
Berbeda ketika
menceritakan pengalamannya bersama Syaikh Usamah bin Laden (rahimahullah),
Yazid ragu-ragu untuk mengungkapkan rincian tentang “program rahasia
pemerintah”, dan menggambarkannya sebagai “cerita yang panjang”.
 
“Ketika mereka
(polisi) pertama membawa saya, saya tidak memberitahu mereka tentang program
pemerintah. Saya tidak ingin mereka tahu, saya tidak ingin pertanggungjawaban
jatuh ke pemerintah, untuk mengeluarkan uang untuk orang lain.”
 
“Akhirnya mereka
berhasil mendapatkan laporan dari ‘teman’ mereka dan mereka menginginkan saya
untuk memperjelas segala sesuatu. Saya tidak ingin memperjelas apapun, maka
mereka membawa istri saya,” ujar Yazid.
 
Istrinya,
Sejahratul Dursina, ditahan dibahwa ISA selama dua bulan dan setelah itu ia
dipindahkan dibawah pengawasan gerak-gerik yang ketat selama enam tahun.
 
“Jika kalian
ingin bebas dari ISA, ikuti saja apa yang mereka katakan dan mengakui semua
tuduhan, saya menolak untuk melakukan itu dan mereka menahan saya selama tujuh
tahun, karena saya tidak ingin bernyanyi (Negara-ku).
 
“Saya tidak ingin
bernyanyi. Mengapa saya harus bernyanyi ketika negara ini mengkhianati saya?”
kata Yazid.
 
Para pembantu
Thaghut (Setan)
 
Yazid bangun pada
jam 4 pagi setiap hari untuk membaca Al-Quran, dan tentu saja dengan cahaya
yang sangat minim, hanya 15 watt bohlam lampu yang kemudian hanya diganti
dengan sebuah lampu neon di luar sel, setelah para tahanan banyak yang
mengeluh.
 
Ketika sel-sel
penjara dibuka pada jam 8 pagi, Yazid mengatakan bahwa ia berlari di daerah
kurungan, yang ia katakan hanya boleh di antara 80 hingga 90 langkah selama
satu jam sebelum melihat tanaman sayurannya di sebuah bidang kecil tanah.
 
“Pada jam 11
pagi, kami akan dikunci di sel lagi, jadi saya membaca koran, yang penuh lubang
karena semua ‘isu sensitif’ dipotong,” katanya.
 
Yazid tidak hanya
diinterogasi oleh para penyelidik Malaysia, tetapi ia berkata bahwa ia menerima
kunjungan dari polisi Indonesia dan FBI (Federal Bureau of Investigation), dan
ia tetap menutup mulutnya.
 
“Saya akan pergi
ke sana, setor muka, dan saya tidak akan mengatakan apa-apa. Saya katakan,
‘jika kalian ingin mengetahui apapun, kalian tanya saja ke cabang khusus’,”
katanya.
 
Yazid bercerita
bahwa beberapa tahanan disiksa ketika diinterogasi, namun Yazid mengatakan
dirinya tidak menderita penyiksaan seperti itu.
 
“Al-Quran
mengatakan bahwa siapa yang beriman harus berjihad di jalan Allah, sementara
orang-orang kafir di jalan thaghut (setan), jadi melakukan perang melawan
mereka yang membantu setan. Saya menganggap semua yang memiliki andil dalam
penahanan saya sebagai para pembantu thaghut (setan),” katanya.
 
Yazid tidak
mengerti bagaimana para Ulama yang mengunjungi Kamunting dapat menggunakan
Al-Quran untuk membenarkan ISA.
 
“Di dalam Islam,
jika kalian berniat akan melakukan hal yang baik, Allah memberikan kalian satu
pahala. Bahkan jika kalian tidak melakukannya, tetapi jika kalian berniat
melakukan hal yang buruk, Allah tidak akan menghukum kalian jika kalian tidak
melakukannya,” kata Yazid.
 
“Jadi bagaimana
ISA dapat dibenarkan? ini menghukum orang-orang bahkan karena niat mereka
melakukan hal yang buruk. Menggunakan Al-Quran untuk membenarkan ISA, tidakkah
ini bahlul (bodoh)? Seorang mufti, yang masih hidup, telah menulis buku yang
membenarkan ISA,” katanya.
 
Masih berhubungan
dengan Jemaah Islamiyah
 
Saat ini, Yazid
masih mengaku masih berhubungan dan membantu kawan-kawan lama yang terhubung
dengan Jemaah Islamiyah dengan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, membantah
semua tiduhan ISA yang dilontarkan terhadapnya.
 
Ketika ditanya
apakah ia masih merupakan “ancaman”?
Yazid
menjawab,”Saya tidak berbahaya. Saya tidak pernah berbahya sejak dulu.”
 
Setelah kembali
dari California, Amerika Serikat, dimana ia dilatih sebagai seorang ahli
biokimia dengan beasiswa dari pemerintah, Yazid memulai untuk mendalami
agamanya.
 
Beberapa waktu
kemudian, ia bergabung dengan Persatuan Al-Ehsan, sebuah organisasi Islam yang
resmi terdaftar, dan mendonasikan kondomoniumnya (apartemen) di Sungai Long,
Selangor.
 
“Saya memberikan
kondomonium, kepada orang-orang ini untuk apa saja mereka ingin gunakan. Jia
seorang musafir membutuhkan penginapan, mereka dapat menggunakannya,” katanya.
 
Tiga dari
orang-orang yang tinggal di kondomonium itu, adalah mereka yang terkait
serangan 9/11, salah satunya adalah , Zakaria Mousaoui, yang kemudian
dipekerjakan oleh Yazid untuk memasarkan produk software yang dikembangkan oleh
perusahaan Yazid, Infocus Tech.
 
“Waktu itu,
komputer dan telepon tidak berbicara satu sama lain, jadi kami mengembangkan
software untuk mengintegrasikannya, kami mengembangkannya untuk call centre.
Semacam itu..”
 
“Jadi, jika
kalian bertanya apakah Saya mendanai Mousaoui untuk 9/11, saya tidak akan
mengatakan ya atau tidak. Dia adalah karyawan saya. Biarlah para pembaca
berpikir,” kata Yazid.
 
Yazid mengatakan
bahwa ia mengajak Mousaoui bekerjasama karena latar belakangnya dari teknik
komputer, Mousaoui hanya meminta bantuan dan mengatakan kepada Yazid bahwa ia
membutuhkan visa untuk ke Amerika Serikat.
 
“Dia bertanya
apakah saya dapat membantunya mendapatkan visa untuk AS. Saya katakan, ‘kenapa
tidak? Kau ambil lah software saya di sana’. Jadi saya menulis semuanya, bahwa
ia mewakili kami, dan lain-lain,” kata Yazid.
 
Dua Inividu
lainnya yang terkait 9/11, yang tinggal di kondomonium Sungai Long adalah
Khalid al-Midhar dan Nawaf al-Hazmi.
 
Keduanya,
berdasarkan PBB, telah tinggal di kondomonium Yazid pada bulan Januari 2000
untuk merencanakan serangan 9/11, apa yang PBB sebut sebagai “Konferensi
Al-Qaeda 2000″ di Kuala Lumpur.
 
“Saya tidak
berada di sana. Pada saat itu saya berada di Pakistan dan Afghanistan,
membangung sebuah rumah sakit di sana,” kata Yazid.
 
Wabah Favorit
 
Yazid dituduh
mengembangkan senjata biologis dan disebut oleh para penuduh sebagai “CEO
Anthrax”. Meski intelijen AS ragu bahwa Yazid mampu mengembangkan senjata
biologis.
 
Yazid memang
telah berhasil sukses mengembangkan beberapa wabah di Laboratatoriumnya di
Kandahar, tetapi kemudian laboratoriumnya dihancurkan oleh NATO.
 
“Saya masih bisa
menemukan Anthrax jika saya menginginkannya, tetapi buat apa? Itu tidak
memiliki nilai komersil. Anthrax hanya bagus untuk menyabotase, tidak dapat
membunuh,” kata Yazid.
 
“Lagipula ini bukan wabah Favorit saya. Saya lebih suka
menggunakan bakteri atau virus yang betul-betul menghantam kalian dan
memberikan kalian satu atau dua jam sebelum kalian meninggal”.
 
“Karya siapa menurut kalian flu burung itu? Para ilmuwan, yang kemudian tidak 
dapat
mengendalikannya,” ungkap Yazid.
 
Salah satu tuduhan terhadap Yazid adalah menyuplai amonium
nitrat untuk membangun bom utnuk sebuah serangan di Ambon, Indonesia. Yazid
mengatakan itu adalah murni transaksi bisnis antara perusahaannya, Green
Laboratory Medicine dengan sebuah perusahaan Yaman.
 
“Perusahaan Yaman
memesan 40 ton dari itu (Amonium nitrat), tetapi hanya berhasi mengirim empat
ton. Keuntungannya 1.600 RM per ton, jadi bayangkan berapa banyak saya akan
dapatkan dengan 40 ton! Bukan urusan saya untuk tahu apa yang mereka ingin
lakukan untuk itu.”
 
“Saya memeriksa
pemerintah apakah ada pembatasan untuk mengekspor item ini, tetapi tidak ada.
Sekarang, mereka lebih ‘pintar’ dan telah menetapkan pembatasan dari itu
(ammonium nitrat),” kata Yazid.
 
Dalam tuduhan
kedua, Yazid dituduh telah mendanai kerusuhan di Ambon dan mempersenjatai
perjuangan Mujahidin di selatan Philiphina. Namun, Yazid mengatakan itu
hanyalah bantuan kemanusiaan.
 
Yazid berkata
bahwa selama interogasinya, ia ditanya apakah dana yang ia kirim untuk medis,
makanan, dan pakaian dapat digunakan membeli senjata, ia mengatakan bahwa ada
kemungkinan.
 
“Mungkin,
bagaimana saya tahu?,” tanya Yazid.
 
Pernyataan resmi
yang beredar menyatakan bahwa Yazid mengakui mendanai pembelian persenjataan di
selatan Philiphina, dan bahwa senjata-senjata tersebut dibawa dibawa kembali ke
Malaysia untuk menjatuhkan pemerintah.
 
Setelah
dibebaskan ia berusaha menyesuaikan diri kembali dengan kehidupanya dahulu
bersama istrinya yang juga pernah menjadi tahanan.
 
“Mereka
memindahkan saya kembali untuk tinggal dengan tahanan lainnya. Di sana ada
sebuah kipas angin, saya sakit selama seminggu, sedang berusaha untuk
menyesuaikan diri dengan yang disebut kemewahan,” katanya.
 
Tidak ada lagi
ketakutan sekarang
 
Sebelum ia
dibebaskan, Yazid memohon dua do’a, yaitu agar Allah menghancurkan para
interogatornya jika mereka tidak bertaubat. Dan yang satunya lagi do’a untuk
dirinya sendiri.
 
“Saya berdoa, ‘Ya
Allah, berikan saya sebuah tanda untuk menunjukkan apakah apa yang saya lakukan
benar atau salah. Tunjukkanlah ketika saya bebas’. Jadi saya begitu gugup,”
katanya.
 
“Sholat pertama
yang saya laksanakan setelah saya bebas adalah sholat ashar. Saya takut. Siapa
tahu, mungkin saya benar-benar melakukan hal yang salah? Orang-orang bisa
meludahi saya atau melemparkan sepatu mereka ke arah saya,” katanya.
 
Akan tetapi
sebaliknya, ia justru menerima sebuah sambutan yang hangat dari Masjid di 
lingkungan
dan ketika ia kembali pada hari selanjutnya, ia diminta untuk memimpin sholat
maghrib. Jama’ah meminta Yazid menjadi imam mereka.
 
“Sekarang saya
hampir 50 tahun, saya telah menyia-nyiakan tujuh tahun hidup saya, tetapi
tidak, saya tidak akan mengatakan itu sia-sia. Saya menjadi dewasa di tempat
paling bodoh, Amerika Serikat, tetapi saya didewasakan di penjara, Allah
menghilangkan ketakutan saya di penjara,” kata Yazid.
 
http://m.arrahmah.com/read/2012/03/26/19012-wawancara-eksklusif-dengan-yazid-sufaat-pengalaman-di-penjara-thaghut.html
 

Kirim email ke