'Nabi' Pelayan Imperialis, 'Islam' tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad

Nazarudin Umar : Kita tak mau didikte negara lain
  [image] Februari lalu, sebuah surat mampir ke meja Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar.
Pengirimnya empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika
Serikat, dan Kanada. Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan. ''Suratnya
ditujukan kepada Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya,'' ungkap
Nasarudin kepada Republika, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Lantas, apa
yang akan dilakukan Depag? ''Itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Kita
tak mau didikte negara lain.''

Saat surat itu datang. Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan (Bakorpakem)
memang sedang memantau 12 poin penjelasan Pengurus Besar Jemaat
Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) di seluruh Indonesia. Bila 12 poin tak
sesuai kenyataan, Bakorpakem berjanji bertindak tegas.

Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta
sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza
Ghulam Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. 'Nabi' MGA berjasa
menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.

Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya
hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima
kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.

Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ''Tidak samar lagi, atas
pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya,
para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di
setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.''

Di Ruhain Khazain hlm 155, MGA menulis: ''Sungguh aku telah menghabiskan
kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu pemerintahan Inggris.
Dan dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada pemerintah (Inggris), aku
telah mengarang buku-buku, pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang
apabila dikumpulkan tentu akan memenuhi 50 lemari.''

Tengok pula Ruhani Khazain hlm 28: ''Sungguh telah dibatalkan pada hari
ini hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini.
Barang siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah
menentang Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang
ditunggu-tunggu. Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku
ini.''

MGA yang mengaku nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar,
krishna, dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu
Victoria. Audah dalam bukunya Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman : ''Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam 'sang
nabi' merendahkan diri depan Ratu Victoria... tak bisa saya terima,
bahkan saat saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.''

Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun
1830-an. Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua
kekuatan: Inggris dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua
kekuatan itu, keluarga Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.




General Nicholson, True Master of Mirza Ghulam Ahmad
Fakta tersebut diungkap Bashiruddin Mahmud Ahmad, anak MGA yang juga
khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad.
Leluhur MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja Ranjit
Singh, Jenderal Nicholson, dan Jenderal Ventura.

Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan
itu. Dia mengungkapkannya layaknya sebuah kehormatan besar bagi
keluarganya. Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang
diserang Ranjit Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam.

''Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam
Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak
bisa dielakkan lagi,'' demikian kesimpulan Abdullah Hasan Alhadar dalam
bukunya Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah.

Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di Pakistan
dan konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa penganut Ahmadiyah
merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan. Buntutnya, kekhalifahan
Ahmadiyah yang mirip 'dinasti' itu hengkang dari Pakistan.

Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London, Inggris.
Di sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong untuk
menyebarkan ajarannya, yaitu Muslim Television Ahmadiyyah (MTA). Perlu
dana luar biasa besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu.

Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah,
berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari
sumbangan orang-orang Ahmadiyah. ''Kami tidak mendapat informasi akurat
mengenai identitas orang yang memberi dana proyek itu.'' osa/run/RioL

- http://www.aaiil.org/gfx/pic/mga/mgastand.jpg
<http://www.aaiil.org/gfx/pic/mga/mgastand.jpg>
- http://www.alislam.org/gallery/khalifa2
<http://www.alislam.org/gallery/khalifa2>
- http://www.irshad.org/exposed/service.php
<http://www.irshad.org/exposed/service.php>

MIRZA GHULAM AHMAD sang 'Nabi' Pelayan Imperialis


'Islam tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad'
  [image] Sebut saja namanya Budi. Pria paruh baya yang tinggal di Desa
Manis Lor, Kec Jalaksana, Kab Kuningan, Jawa Barat, ini menjadi anggota
Jemaat Ahmadiyah pada 1983. Selama menjadi pengikut Mirza Ghulam Ahmad
(MGA), dia mengaku selalu mengalami pergolakan batin.

Sekitar 25 tahun lalu, orang-orang Ahmadiyah mendatanginya, menawarkan
bantuan materi. Budi yang sedang terlilit masalah ekonomi tentu saja
senang.

Tapi, si pemberi bantuan mensyaratkan masuk Ahmadiyah. Tak begitu
memahami hakikat Ahmadiyah, Budi mau saja dibaiat. Tapi, setelah resmi
menjadi penganut Ahmadiyah, Budi mulai merasakan kejanggalan. Antara
lain, soal adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Budi juga tak bisa
lagi shalat di sembarang masjid, karena penganut Ahmadiyah dilarang
shalat di belakang imam non-Ahmadi.

Selain itu, Budi juga diharuskan menyetorkan uang pengorbanan sebesar 10
persen dari total penghasilan setiap bulan. Sesuatu yang dinilainya
memberatkan. ''Karena miskin, mereka suka 'tidak menganggap' dan
sepertinya memandang sebelah mata ke saya,'' kata Budi dengan logat
Sunda.

Budi juga minder karena tak mampu membeli 'kavling surga'. Padahal,
hanya bila dikubur di tempat itulah, mereka mendapat jaminan masuk
surga. Sudah 20 orang yang dikuburkan di sana, setelah membayar jutaan
rupiah. Adanya doktrin-doktrin yang tak lazim yang berlawan dengan yang
didapatnya selama ini, dan tak leluasa lagi bergaul dengan masyarakat,
membuat batin Budi bergolak. 'Hidup saya terasa mengambang, jauh dari
ketenangan,'' kata Budi kepada Republika di Manis Lor, beberapa waktu
lalu.

Selama bertahun-tahun, Budi mengabaikan pergolakan batinnya, sampai
akhirnya dia tak tahan lagi. Awal 2008, dia memutuskan keluar. ''Saya
sekarang lebih tenang, tidak dikejar-kejar pengurus Ahmadiyah yang
menagih uang pengorbanan. Saya juga bisa shalat Jumat di mana saja.''
Orang seperti Budi tak sedikit. Hasan Mahmud Audah, direktur umum seksi
bahasa Arab Jemaat Ahmadiyah yang berpusat di London, juga keluar dari
ajaran Mirzaiyah itu pada 17 Juli 1989.

Padahal, sebelumnya dia adalah seorang mubaligh Ahmadiyah dan pernah
menetap lama di Qadian. ''Menurut pendapat saya, Islam itu telah tampak
dalam keadaan sempurna dengan Nabi Muhammad SAW dan tidak membutuhkan
Mirza Ghulam Ahmad untuk menyempurnakannya,'' katanya dalam bukunya,
Al-Ahmadiyyah, Aqa'id Wa Ahdats.

Di buku yang telah diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
(LPPI) dengan judul Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman itu, Audah memburaikan isi perut Ahmadiyah. Mulai
dari doktrin-doktrinnya, administrasi, sanpai keuangannya.

Soal doktrin-doktrinnya, dia mencantumkan banyaknya wahyu MGA yang
kontradiktif. Dia juga menyoroti wahyu-wahyu MGA yang sangat mendukung
Inggris--yang saat itu menjajah India, soal kengototan MGA mengawini
gadis 17 tahun, dan MGA yang menggunakan ucapan-ucapan berisi caci maki
dalam 'wahyu-wahyunya'--termasuk saat merendahkan Nabi Isa.

Selain itu, dia menulis bahwa menjadi penganut Ahmadiyah sangat banyak
dituntut mengeluarkan uang. Mulai dari setoran bulanan sebesar enam
persen penghasilan, 10-13 persen penghasilan untuk memesan kavling
surga, serta sumbangan untuk kegiatan tahunan seperti jalsah salanah.
Total ada sekitar 10 item sumbangan yang harus disetorkan kepada
pimpinan Ahmadiyah, yang berakhir di Jemaat Ahmadiyah Pusat di London.
Audah mengatakan dana itu dalam pengawasan langsung khalifah, dan tak
seorang pun mengetahui dikemanakan dana-dana itu.

Jumlah pengikut
  [image] Saat ini, pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengklaim
penganut Ahmadiyah telah mencapai 150 juta, tersebar di 120 negara.
Adapun di Indonesia, jumlah penganutnya 500 ribu. Soal klaim-klaim,
Audah menilainya banyak yang kebesaran. Mirza Thahir yang merupakan
khalifatul masih IV, dalam wawancaranya dengan Sunday Times, Desember
1989 lalu, kata Audah, menyatakan pengikut Ahmadiyah hanya sekitar 10
juta, tersebar di 80 negara. Jumlah 10 juta itu pun dinilai Audah
meragukan.

Dari 80 negara atau 120 negara, Audah menyatakan sebenarnya kebanyakan
hanya 1-1.000 orang Ahmadiyah di setiap negara. Di Cina, bisa dihitung
dengan jari. Di Mesir, hanya 30-40 orang. Di Inggris yang merupakan
pusatnya, hanya 8.000-an orang. Itu pun imigran Pakistan. Negara-negara
yang penganut Ahmadiyahnya besar, hanya di Pakistan, Ghana, dan Nigeria.
''Padahal, ajaran ini telah berumur hampir 100 tahun,'' kata Audah.
Propaganda-propaganda lewat Muslim Television Ahmadiyyah (MTA) soal
besarnya jumlah penganut Ahmadiyah, kata Audah, sebenarnya hanya menipu
diri.

Di Indonesia, penganut Ahmadiyah tak diketahui pasti. Yang terbesar
terkonsentrasi di dua tempat, yaitu Manis Lor dan Pancor, Lombok Tengah,
NTB. Di Manis Lor, Ahmadiyah yang masuk tahun 1954, kini dianut 70
persen dari 4.200 jiwa. Di NTB, jumlah mereka disinyalir hanya beberapa
ribu. Di Kampus Mubarak, Parung, Bogor, yang merupakan markas pusat JAI,
juga tak banyak orang Ahmadiyah. Saat Republika mengunjungi tempat itu,
Ketua RT 03/04, Ismat, mengatakan hanya ada 12 kepala keluarga (KK) di
RT 03. Belasan KK lainnya di RT 01. ''Tapi, rumah-rumah mereka sering
kosong,'' katanya.

Alhasil, klaim 500 ribu penganut Ahmadiyah di Indonesia memang tanda
tanya besar. Seperti markas pusatnya di London, yang ditonjolkan JAI
adalah jumlah cabang. Pada 2005, misalnya, JAI mengklaim memiliki 305
cabang di seluruh Indonesia. Saat datang ke Indonesia, Khalifah Mirza
Tahir, juga mendatangi Manis Lor, Juni 2000 lalu. Pulang dari Indonesia,
Mirza Tahir berkata kepada majalah Al Fadhl International edisi Juli
2000: ''Saya tegaskan kepada kalian bahwa Indonesia pada akhir abad baru
ini, akan menjadi negara Ahmadiyah terbesar di dunia ....''

Kata-kata seorang khalifah, bagi warga Ahmadiyah, tak ubahnya separuh
wahyu, bahkan wahyu--karena mereka meyakini wahyu tak terputus. Tapi,
yang terjadi dalam kenyataan malah sebaliknya. Warga Muslim NTB marah
atas adanya penganut ajaran itu dan membuat warga Ahmadiyah terusir. Di
Bogor, warga yang gerah telah menutup Kampus Mubarak. Di Manis Lor,
sampai saat ini suasananya seperti bara dalam sekam. Di berbagai sudut
jalan, tergantung pengumuman anti-Ahmadiyah.

Junaidi, ketua Remaja Masjid Al Huda, Manis Lor, mengatakan warga telah
berupaya mengembalikan warga Ahmadiyah kepada Islam. ''Kami sayang
kepada mereka karena mereka adalah saudara kami. Kami hanya ingin mereka
kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Itu saja,'' katanya.

Sejumlah ulama sebelumnya juga mengajak penganut Ahmadiyah untuk
ruju'ilal haq atau kembali kepada kebenaran. Sebelumnya, MUI dan
ormas-ormas Islam bersedia membuka pintu untuk membimbing warga
Ahmadiyah. Bangsa ini memang tak membutuhkan Ahmadiyah dan Mirza Ghulam
Ahmad yang mengaku nabi dan memperjualbelikan kavling surga.
lis/osa/run/RioL

Kirim email ke