--- On Thu, 12/18/08, khilma damayanti <[email protected]> wrote:
From: khilma damayanti <[email protected]>
Subject: Trs: "Alumni Muslim 49" Kisah cinta seorang dinda..
To: "imas septiana" <[email protected]>, "iska furi" 
<[email protected]>, "efrida tp" <[email protected]>, "aris suryo" 
<[email protected]>, "ayu nita" <[email protected]>, "syahrul ramdani" 
<[email protected]>, "anggieta umar" <[email protected]>, "bapak 
ardi" <[email protected]>, "putri sariasih" <[email protected]>, "syarifah 
choirunissa" <[email protected]>, "nurhadijah" <[email protected]>, "diana 
TP" <[email protected]>, "ejha tp" <[email protected]>, "fury sundari" 
<[email protected]>, "sri rezeky" <[email protected]>
Date: Thursday, December 18, 2008, 11:20 PM



--- Pada Sab, 13/12/08, Farizal AlBoncelli <[email protected]> menulis:
Dari: Farizal AlBoncelli <[email protected]>
Topik: "Alumni Muslim 49" Kisah cinta seorang dinda..
Kepada: [email protected], "ROHIS 49" 
<[email protected]>, "Putus" <[email protected]>
Tanggal: Sabtu, 13 Desember, 2008, 6:36 AM










    
            

Satu kisah Cinta
Biasa  

   

Suami saya adalah
seorang jurnalis, saya mencintai sifatnya yang spontan dan saya menyukai
perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika bersandar dibahunya.  

   

3 tahun dalam
masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya
mulai merasa letih...lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah
menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya  

seorang wanita
yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya
merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa
mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi, semua itu tidak  

pernah saya
peroleh. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.  

   

Rasa sensitifnya
kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
perkawinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal.  

   

Suatu hari, saya
beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya 
menginginkan
penceraian.  

   

"Mengapa?"Dia
bertanya dengan nada terkejut.  

"dinda
letih, Abang tidak pernah mencoba memberikan cinta yang dinda inginkan."
Dia diam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah
sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.  

   

Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang bisa saya harapkan darinya?  

Dan akhirnya dia
bertanya.  

   

"Apa yang
bisa Abang lakukan untuk mengubah fikiran dinda?" Saya menatap matanya
dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan.  

"dinda ada 1
pertanyaan, kalau Abang menemukan jawabannya didalam hati dinda maka dinda akan
mengubah fikiran dinda; Seandainya,dinda menyukai sekuntum bunga cantik yang
ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang memanjat gunung-gunung itu,
Abang akan mati. Apakah yang Abang akan lakukan untuk dinda?"  

   

Dia termenung dan
akhirnya berkata, "Abang akan memberikan jawapannya  

esok." Hati
saya terus gundah mendengar responnya itu.  

Keesokan paginya,
dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas
yang berisi susu hangat yang bertuliskan. ..  

   

'Sayangku, Abang
tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan  

Abang untuk
menjelaskan alasannya." Kalimat pertama itu menghancurkan hati saya.
Namun, saya masih terus ingin membacanya.  

"dinda boleh
mengetik dikomputer dan selalu mengusik program didalamnya dan akhirnya
menangis di depan monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang untuk
membantu dinda memperbaiki program tersebut."  

   

"dinda
selalu lupa membawa kunci rumah ketika dinda keluar, dan Abang harus  

memberikan kaki
Abang untuk menendang pintu, dan membuka pintu  

saat dinda
pulang."  

"dinda suka
jalan-jalan di shopping center tetapi selalu tersesat bahkan ada  

saatnya tersesat
di tempat-tempat baru yang dinda kunjungi, Abang harus  

mencari dinda
dari satu tempat ke tempat yang lain untuk membawa dinda kembali ke
rumah."  

"dinda
selalu pegal pegal sewaktu 'teman baik' dinda datang setiap  

bulan, dan Abang
harus memberikan tangan Abang untuk memijit dan mengurut kaki dinda yang pegal
itu."  

"dinda lebih
suka duduk di rumah, dan Abang selalu risau kalau kalau dinda menjadi Bosan.
Dan Abang harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan hati dinda dirumah
atau meminjamkan lidah Abang untuk menceritakan hal-hal lucu yang Abang
alami."  

"dinda
selalu menatap komputer, membaca buku dan itu tidak baik untuk  

kesehatan mata
dinda, Abang harus menjaga mata Abang agar ketika kita tua  

nanti, abang
dapat menolong mengguntingkan kuku dinda dan memandikan dinda."  

"Tangan
Abang akan memegang tangan dinda, membimbing menelusuri pantai,  

menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna  

bunga yang
bersinar dan indah seperti cantiknya wajah dinda."  

   

"Tetapi sayangku,
Abang tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena,  

Abang tidak
sanggup melihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang."  

   

"Sayangku,
Abang tahu, ada banyak orang yang mencintaimu lebih  

daripada cinta
Abang kepada dinda."  

"Untuk itu sayang,
jika semua yang telah diberikan oleh tangan, kaki, mata  

Abang tidak cukup
bagi dinda. Abang tidak akan menahan dinda mencari  

tangan, kaki dan
mata lain yang dapat membahagiakan dinda."  

   

Airmata saya
jatuh ke atas tulisannya hingga membuat tintanya menjadi  

kabur, tetapi
saya tetap berusaha untuk terus membacanya lagi.  

   

"Dan
sekarang, dinda telah selesai membaca jawaban Abang. Jika dinda  

puas dengan semua
jawaban ini, dan tetap menginginkan Abang tinggal di  

rumah ini, tolong
bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang berdiri  

di luar sana
menunggu jawaban dinda." "Tetapi, jika dinda tidak puas,  

sayangku...biarkan
Abang masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang, dan Abang tidak akan
menyulitkan hidup dinda. Percayalah, kebahagiaan Abang adalah bila dinda
bahagia."  

   

Saya tertegun.
Segera saya memandang pintu yang sedang tertutup rapat. Lalu saya segera
berlari membukakan pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah
gusar sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.  

   

Oh! Kini saya
tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari
hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam 'wujud'
yang kita inginkan, maka cinta itu telah hadir dalam 'wujud' yang tidak pernah
kita bayangkan sebelumnya 

   

( berbagai sumber
) 

   



FARIZAL ALBONCELLI In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum
  Executive Secretary MGe-Event, www.mge-event. com
Blog: alboncelli.multiply .com, FS: farizal.info@ yahoo.com
mobile: 021 950 42948


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

        Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! 
 Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah


      

Kirim email ke