||           ||  o   ||
_o_,_\ ,;:   .'_o_\ ,;:  (_|_;:  _o_,_,_,_;
(  ..  /     (_)    /            (        .
Bismillah irRahman irRaheem
In the Name of Allaah, The Most Gracious, The Most Kind
----------------------------------------------------------------------------









-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: Saturday, March 20, 1999 5:52 PM
To:
[EMAIL PROTECTED]
mit.edu; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [riska-forum] Sahid: Pilih Pemimpin Kalangan Sendiri


MUTIARA QUR'AN 

Surat al-Ma'idah: 55
Pilih Pemimpin Kalangan Sendiri

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah)"

Al-Qur'an memberi perhatian yang cukup besar terhadap masalah pemimpin dan
kepemimpinan. Tidak sedikit ayat yang menjelaskan tentang masalah ini, baik
yang secara langsung maupun melalui contoh-contoh tokoh masa lalu yang
memimpin bangsa atau kaumnya.

Dijelaskan di sana bagaimana akibatnya jika di suatu masa dalam suatu
pemerintahan tampil seorang pemimpin yang diktator. Kepemimpinan otoriter
dijelaskan secara rinci, berikut contoh-contohnya. Hal ini dimaksudkan agar
ummat yang datang kemudian dapat mengambil pelajaran. Yang baik diteladani,
yang jelek ditinggalkan.

Sayang, sangat sedikit yang bisa mengambil pelajaran dari berbagai kasus
kepemimpinan ini. Buktinya, tragedi kepemimpinan terus berulang-ulang dengan
akibat yang tidak kecil. Kegagalan suatu kepemimpinan tidak hanya berakibat
pada pemimpinnya itu sendiri, tapi merata sampai pada semua unsur dari
segala lapisan masyarakat. Bahkan akibatnya juga harus ditanggung oleh
generasi sesudahnya. Turun-temurun.

Karenanya kita maklum jika al-Qur'an memberi perhatian yang sangat besar
terhadap persoalan kepemimpinan. Selain lengkap, uraian-uraian al-Qur'an
tentang kepemimpinan itu sangat detail, mulai dari kriteria kepemimpinan
sampai pada hak dan kewajibannya.

Al-Maa-idah: 55 merupakan salah satu dari ayat kepemimpinan, yang dalam hal
ini berbicara tentang siapa yang layak dijadikan pemimpin. Jadi sebenarnya
kriteria layak-tidaknya seseorang untuk menjadi pemimpin tidak bisa
ditentukan oleh selera atau kemauan manusia, bila ingin keadaan menjadi
baik.

Allah swt telah memberi rambu-rambu, isyarat-isyarat dan patokan baku, yang
tidak sepantasnya dilanggar. Ummat Islam tidak boleh memilih pemimpin secara
serampangan, apalagi pemimpin dalam konteks negara. Nasib suatu bangsa lebih
banyak ditentukan oleh para pemimpinnya.

Sudah menjadi hukum alam bahwa golongan besar selalu ditentukan oleh
sekelompok kecil orang. Merekalah yang menentukan arah, tujuan, dan kendali
suatu negara. Sedangkan golongan besar, yaitu rakyat kebanyakan hanya
ikut-ikutan saja. Jika terjadi suatu bentrokan di wilayah tertentu,
misalnya, biasanya disulut oleh seseorang atau sekelompok orang, sedangkan
yang lainnya hanya ikut-ikutan. Mereka yang bisa mempengaruhi massa itulah
yang disebut sebagai pemimpin. 

Jika di suatu negara terjadi perang, pada dasarnya yang berperang itu adalah
elite politiknya. Rakyat hanya dilibatkan saja, meski sesungguhnya merekalah
yang akan menjadi korban.

Contoh sangat gampang, misal dalam kasus Timor-Timur. Ketika pemimpin yang
lama menghendaki integrasi, rakyat langsung menyetujuinya. Kini setelah
gagal dan mengalami masa-masa sulit, para pemimpin bangsa mencoba untuk
menawarkan kemerdekaan. Hampir bisa dipastikan rakyat kebanyakan juga
kembali akan menyetujuinya.

Meskipun yang menjadi korban selama ini adalah rakyat kebanyakan, mulai dari
anggota ABRI yang gugur, tersedotnya bertriliun anggaran, mereka tetap saja
mengikuti kemauan pemimpinnya. Itulah memang nasib rakyat di mana saja. Di
negara yang paling demokratis sekalipun, penentu akhirnya tetap golongan
sedikit yang berada di puncak kekuasaan.

Sekali lagi, karena strategisnya masalah kepemimpinan ini, maka Al-Qur'an
mengajak kita semua untuk lebih berhati-hati. Jangan asal pilih. Kita mesti
mengetahui secara pasti siapa figur yang kita pilih. Memilih pemimpin jangan
sampai seperti membeli kucing dalam karung.

Harus orang terbaik

Orang Islam wajib memilih pemimpin dari kalangan Islam. Mengangkat pemimpin
dari golongan lain sama halnya dengan menyerahkan leher untuk disembelih,
alias bunuh diri. Itu tindakan konyol yang haram hukumnya.

Selain harus muslim, yang dipilih menjadi pemimpin juga dipersyaratkan
mukmin. Artinya, komitmen keislamannya, kesetiannya kepada perjuangan, dan
pemihakannya kepada Islam sudah teruji. Di mana dan kapan pun juga ia selalu
membawa aspirasi Islam, memperjuangkan sampai tegaknya syariat Islam dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ummat Islam tidak boleh mengangkat seorang pemimpin hanya karena kedekatan
hubungannya, meskipun ia seorang yang beragama Islam. Sekali lagi
keislamannya harus terbukti. Allah memberikan peringatan kepada kita:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapakmu dan
saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih
mengutamakan kekufuran daripada keimanan. Dan barangsiapa di antara kalian
yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang
zhalim." (QS at-Taubah: 23)

Ayat di atas mengingatkan kita agar tidak mengangkat pemimpin yang mempunyai
kecenderungan kepada hal-hal yang kurang menguntungkan Islam.
Keberpihakannya kepada Islam harus jelas dalam pikiran, sikap, dan
tindakannya. Mereka yang tidak secara nyata menyatakan dukungan kepada
aspirasi Islam, tidak berkeinginan memajukan ummat Islam, dan tidak
mempunyai idealisme menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat,
sesungguhnya tidak pantas dicalonkan sebagai pemimpin Islam. Menjadi calon
saja tidak boleh, apalagi resmi menjadi pemimpin.

Rasulullah mengingatkan hal ini dalam sebuah sabdanya:

"Barangsiapa yang mengangkat seseorang untuk memimpin satu kelompok
masyarakat, padahal di kalangan mereka masih ada orang yang lebih diridhai
oleh Allah daripada orang yang diangkat itu, maka sungguh dia sudah
mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman." (HR Ahmad dan
Hakim dari Ibnu Abbas)

Amat jelaslah bahwa pemimpin ummat Islam hendaklah mereka yang paling baik
dibandingkan masyarakat yang dipimpinnya. Memilihnya tidak boleh asal-asalan
berdasarkan selera subyektif masing-masing. Memilih pemimpin secara
subyektif seperti itu dikatakan sebagai mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan
ummat Islam seluruhnya.

Di lapangan mungin saja timbul masalah. Pertama, orang yang semestinya
memenuhi kriteria terbaik tidak bersedia dijadikan sebagai pemimpin dengan
berbagai alasan. Kedua, tidak ada yang memenuhi kriteria sehingga yang
tersedia hanyalah mereka yang terbaik di antara yang kurang baik. Ketiga,
bila yang memenuhi kriteria cukup banyak sehingga tidak sulit menentukan
siapa yang benar-benar paling baik.

Kriteria terbaik

Banyak hadits yang membicarakan tentang orang terbaik. Rasulullah biasa
menjawab pertanyaan seperti ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Ketika dalam keadaan perang Rasulullah memberi gambaran bahwa orang yang
terbaik adalah mereka yang tampil di medan laga, baik membunuh atau
terbunuh. Di saat yang lain beliau menggambarkan bahwa orang terbaik adalah
mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Pada lain
kesempatan, ketika salah seorang sahabat bertanya tentang orang yang
terbaik, beliau menjawab: 'adalah mereka yang mendirikan shalat tepat pada
waktunya.'

Begitulah cara Rasulullah memberi jawaban kepada ummatnya tentang berbagai
persoalan. Beliau sangat bijaksana sehingga setiap jawaban selalu
disesuaikan dengan tuntutan, kebutuhan, situasi dan kondisi yang
melingkupinya. Siapa yang bertanya, dalam keadaan bagaimana, seperti apa
situasi dan kondisi saat itu, turut memberi andil atas jawaban yang
diberikan.

Adapun tentang orang terbaik dalam kaitannya dengan kepemimpinan, Rasulullah
memberi jawaban yang amat simpel. Jawaban itu sebagaimana tertuang dalam
sebuah haditsnya:

"Sebaik-baik orang adalah yang paling baik bacaan al-Qur'annya di antara
mereka, orang yang paing memahami agama Allah di antara mereka, orang yang
paling bertaqwa kepada Allah di antara mereka, orang yang paling sadar
menyuruh orang kepada kebaikan, orang yang paling sadar mencegah orang lain
dari kemungkaran, dan orang yang paling baik hubungan silaturrahimnya di
antara mereka." (HR Ahmad, Thabrani dan Baihaqi)

Jika disederhanakan, orang yang terbaik menurut pandangan Rasulullah adalah
orang yang paling memahami al-Qur'an, paling faqih di bidang dien, orang
yang paling konsekuen dalam beramar ma'ruf nahi mungkar, serta orang yang
luas pergaulannya.

Dalam kenyataannya, sulit ditemukan figur pemimpin yang memenuhi standar di
atas secara sempurna. Ada yang pemahaman al-Qur'an dan agamanya sangat baik,
nyaris sempurna, tapi koneksinya sedikit. Secara politis, ia tidak mempunyai
pendukung. Hubungannya kurang luas.

Ada yang semangat perjuangannya menggebu-gebu, di mana saja ada acara
keislaman dia selalu tampil di depan. Akan tetapi sayang, bacaan
al-Qur'annya kurang fasih dan pemahaman diennya sangat kurang. Masih banyak
variasi yang lain.

Untuk itu, jika ada beberapa pemimpin dengan berbagai variasi kemampuan guna
menentukan kriteria siapa yang layak memimpin, maka masing-masing item di
atas diberi bobot sesuai dengan urut-urutannya. Soal penguasaan al-Qur'an
tentu saja paling tinggi bobotnya, baru disusul yang lain.

Kenapa penguasaan al-Qur'an sangat diutamakan bagi seorang figur pemimpin
Islam? Tentang hal ini Rasulullah telah menegaskan bahwa sebaiknya pemimpin
Islam itu tidak hanya mampu memimpin masyarakat dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara, tapi juga mampu menjadi imam shalat, sedangkan imam shalat
itu setidak-tidaknya harus fasih membaca al-Qur'an. Berikut ini adalah
hadits Rasulullah mengenai syarat-syarat mengangkat seorang imam shalat.

"Yang layak mengimami suatu kaum itu adalah orang yang paling baik bacaan
al-Qur'an di antara mereka. Jika mereka sama dalam hal bacaan, maka yang
paling mengerti tentang Sunnah di antara mereka. Jika mereka adalah sama
dalam hal Sunnah, maka yang paling dahulu hijrah di antara mereka. Jika
mereka sama dalam hal hijrah, maka yang paling dahulu Islamnya di antara
mereka. Jangan sekali-kali seseorang mengimami seseorang dalam kekuasaannya,
dan jangan hendaknya dia duduk dalam kekuasaan, dan jangan hendaknya dia
duduk di rumah pada tempat kehormatannya, kecuali dengan seizinnya." (HR
Muslim dari Abu Mas'ud al-Anshari)

Dari beberapa ayat, hadits dan penjelasan panjang lebar di atas, maka
pemimpin Islam haruslah orang yang terbaik di antara mereka. sedangkan
ukuran terbaik itu diutamakan mereka yang paling menguasai al-Qur'an. Oleh
karenanya, selain para calon pemimpin dimintai berbagai rencana program yang
akan digulirkan, sebaiknya terlebih dahulu mereka diuji penguasaannya
terhadap al-Qur'an, baik bacaan, hafalan, maupun pemahamannya. Lebih-lebih
pengamalannya.

http://www.hidayatullah.com/sahid/hotihw.htm 

---------------------------------------------------
Get free personalized email at http://www.iname.com

------------------------------------------------------------------------
eGroups Spotlight:
"Loads" - A "truckstop" support group for trucker families.
http://offers.egroups.com/click/243/3

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/riska-forum-list
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com


==============================================================
Berlangganan : kirim email ke:[EMAIL PROTECTED], dengan isi surat : 
subscribe islam
Berhenti Berlangganan :kirim email ke : [EMAIL PROTECTED], dengan isi 
surat : unsubscribe islam

Kirim email ke