||           ||  o   ||
_o_,_\ ,;:   .'_o_\ ,;:  (_|_;:  _o_,_,_,_;
(  ..  /     (_)    /            (        .
Bismillah irRahman irRaheem
In the Name of Allaah, The Most Gracious, The Most Kind
----------------------------------------------------------------------------







Sumber : http://www.halal-mui.or.id/pustaka/label.htm

Mencermati
Label Makanan
 
Dalam sebuah kemasan sop sayuran tertulis ingredient sebagai berikut:
sayuran, tepung kacang, pati, tepung terigu, garam, lemak nabati, protein
nabati terhidrolisis, emulsifier E311, E481, mie, bahan perasa (MSG), bahan
aroma, bahan pewarna E150, pengawet E220 dan antioksidan E230. Bahan-bahan
yang sudah lazim tentunya tidak perlu dipertanyakan lagi. Misalnya sayuran
segar, kacang, pati, dan tepung terigu. Namun yang menjadi masalah adalah
bahan-bahan yang belum jelas, seperti emulsifier, bahan perwarna dan
antioksidan. Apalagi dicantumkan dengan kode E yang tidak semua orang
mengerti.
Memang dalam dunia pangan modern seperti sekarang ini, seringkali makanan
olahan mencantumkan komposisi bahan-bahannya dalam bentuk kode-kode. Salah
satu kode yang populer dipakai di kawasan Eropa, namun kini juga berlaku
secara internasional adalah kode E. Kode ini ditulis dengan mencantumkan
angka tertentu di belakang huruf E kapital. Masing-masing memiliki
spesifikasi khusus yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Konsumen biasanya tidak faham makna kode-kode tersebut. Lalu apa makna
kode-kode tersebut bagi konsumen awam?
Beberapa bahan dengan kode E ini dicurigai berasal dari bahan-bahan haram.
Biasanya yang mencurigakan adalah yang berasal dari hewan. Misalnya pada
kemasan tertulis bahan dengan kode E471. Kode ini adalah kode untuk
emulsifier yang dibuat dari gliserol dan/atau asam lemak. Bisa dari mono,
di dan tri gliserida. Bahan tersebut bisa dihasilkan dari hidrolisis lemak
nabati atau lemak hewani. Nah, di sinilah diperlukan penelusuran lebih
lanjut, jika berasal dari hewani, apakah hewan yang digunakan halal atau
haram? Dan jika hewan halal, apakah disembelih secara islami atau tidak?
Berbagai pertanyaan tersebut harus dipecahkan secara tuntas sebelum
menentukan halal atau haramnya makanan. Bagi konsumen, tidak ada salahnya
mengetahui sebagian kode E yang sering dijumpai pada makanan olahan.
Tabel berikut ini menyajikan berbagai contoh kode E yang sering digunakan
dalam makanan olahan, dan dicurigai berasal dari produk hewani dan bahan
haram lainnya.
Nama dan Kode
Asal Pembuatan
Kegunaan/Fungsi
Contoh produk
Potassium Nitrat (E252)
Limbah hewan dan sayuran
Pengawet (c. Botalinum) kuring warna daging
Sosis, Ham/Shinken
L-(+)-asam tartat (E334)
Kebanyakan sebagai hasil samping industri wine
Antioksidan (pemberi rasa asam)
Susu beku, jelly, bakery, minuman, tepung flavour, wine
Turunan asam tartat (E335-E337, E353 (E334))
Dapat berasal dari hasil samping wine
Antioksidan, buffer, emulsifier
Susu beku, jelly, bakery, minuman, tepung flavour, wine
Niasin (Vit. B) (E375)
Yeast, hati, beras, daging
Pelarut flavour, menjaga kelembaban (humectant), plasticizer dan packaging
Roti, tepung, breakfast cereal
Gliserol/gliser (E422)
Hasil samping pembuatan sabun, lilin dan asam lemak dari minyak/lemak
(dapat berasal dari lemak hewani)
Emulsifier, stabilizer, anti busa
Liqueures coating for meat and chees, cake, minuman, desserts
Asam lemak dan turunannya (E430, E431, E433-E436)
Dapat berasal dari hasil turunan hidrolisis lemak hewani
Emulsifier, stabilizer, thickening agent, coating agent, plasticizer,
surface active agent
Produk roti & cake, doughnuts, produk susu: es krim, dessert beku, minuman
Emulsifier yang dibuat dari gliserol dan/atau asam lemak (E470-E495)
Dapat berasala dari hasil hidrolisis lemak hewani untuk menghasilkan
gliserol dan asam lemak
Anti cacking agent, mineral supplement
Snack, margarin, dessert, coklat, cake, pudding
Edible bone phosphate (E542)
Tulang hewan
Anti cacking agent
Makan supplement
Asam stearat E570 dan turunannya E572
Dapat dibuat dari lemak hewan, tetapi secara komersial dibuat secara sintetik
Improving agent for flour, flavour (khususnya flavour ayam)
 
L-Cysteinne E920
Dari bulu hewan (di Cina dari manusia)
Pemberi flavour)
Tepung dan produk roti, bumbu/flavour
Inosine 5-Phosphate E631 (Na-Iosinat), E635 (dari E631)
Diisolasi dari sardine/tuna
Pemberi cita rasa
Snack, ham, sosis
Wine vinegar dan malt vinegar
Masing-masing dibuat dan wine dan bir
 
Bumbu/saus/salad
Potassium nitrat (E252) merupakan bahan pengawet produk-produk daging
seperti sosis, burger, daging giling, dan aneka produk daging lainnya. Juga
berfungsi sebagai bahan pewarna daging dan berguna dalam proses kuring.
Kuring adalah pemasukan garam dan bumbu-bumbu lainnya ke dalam daging
dengan cara injeksi.
Asam tartarat adalah antioksidan dan pemberi citarasa asam pada
produk-produk susu, roti, minuman, tepung telur dan produk minuman
beralkohol. Bahan ini kebanyakan berasal dari industri minuman keras (wine)
sebagai hasil samping. Komponen yang sering ditakutkan dalam bahan ini
adalah kandungan alkohol yang mungkin masih ada dari proses pembuatan wine.
Niasin, lebih populer dengan istilah vitamin B, sering digunakan dalam
produk makanan dengan kode E375. Vitamin ini banyak dipakai pelindung warna
atau sebagai bahan tambahan untuk meningkatkan kandungan vitamin B pada
roti, tepung dan produk cereal. Sumber niasin bisa berasal dari ragi
(yeast), hati, beras, daging dan lain-lain. Perlu ditelusuri, jika berasal
dari daging atau hati , hewan apa yang menjadi asal-usulnya.
Asam lemak dan turunannya banyak dipakai dalam industri makanan. Fungsinya
antara lain sebagai emulsifier (pembentuk emulsi antara lemak dan air),
stabilizer (menstabilkan susunan fisik makanan), pelembut, pelapis,
pembentuk strukstur plastis, anti busa dan sebagainya. Bahan ini banyak
sekali jenisnya, umumnya berasal dari lemak, bisa dari lemak nabati dan
hewani.
Edible bone phosphate (fosfat yang berasal dari tulang) dengan kode E542
sering digunakan sebagai penambah mineral pada bahan makanan suplemen.
Bahan ini berasal dari tulang hewan. Kebanyakan tulang yang digunakan
adalah hasil samping dari pemotongan hewan.
Secara umum, kode-kode E yang sering digunakan dalam makanan perlu
mendapatkan penjelasan lanjutan, apakah bahan yang dipakai berasal bahan
haram ataukah tidak. Dengan demikian perlu kiranya menambah kode E yang
sudah ada dengan keterangan lain yang dapat dipercaya dan bisa memberikan
gambaran status kehalalannya, agar konsumen tidak bingung lagi.
Whd, Zn (Sumber: E for Additive)
 
Artikel Terkait


==============================================================
Berlangganan : kirim email ke:[EMAIL PROTECTED], dengan isi surat : 
subscribe islam
Berhenti Berlangganan :kirim email ke : [EMAIL PROTECTED], dengan isi 
surat : unsubscribe islam


Kirim email ke