Gini Software original harga nya 100 masuk ke indonesia di bandara dan sampe keluar bandara nilainya udah 140 begitu nyampe toko udah 400
rakyat mampu belinya 150 karena ga mampu ya terpaksa beli bajakan dan ngurangi import dengan kurangnya import ( apa pun itu ) negara ( apa pejabatnya ntah deh ) dirugikan karena ga ada bea masuk lagi sebetulnya itu yang salah NARASUMBERnya yang terlalu dirugikan coba ajah pikir lagi kalau ga mau dirugikan dukung lah produk dalam negeri bukan dukung proyek impor susah sih dengan mendukung proyek dalam negeri dapetnya Rp. kalau proyek luar negeri dapetnya USD dan lebih gede juga percuma ngarepin negara jadi maju dapet pemasukan dari import ajah bangga BANGGA tuh karena dapet pemasukan dari EXPORT dan perputaran uang di dalam negeri bukan dari MONEYLAUNDRY On 6/11/06, Iwan Awaludin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Apakah mas memikirkan programmer pemula yang masih > > belajar? mau belajar VB harus beli ratusan USD, mau > > pake alternatif bhs pemrograman yang free, eh waktu > > mau jualan, OS di Customernya beda gak bisa > > diimplementasikan, itu hanya salah satu kendala, masih > > banyak lagi yang lainnya. > > Kalau mau murah, mungkin harus mengajukan pada institusi agar ikutan > Academic Agreement. Dulu saya lihat di ITB, software XP, Office, Visual > Studio, encarta, dan beberapa software lainnya cuma harus bayar 150 ribu > setahun. Cukup murah koq. Apalagi sekarang ada yang versi gratisnya. > Nah, kalau mau jualan lagi, mungkin harus mikirkan persoalan keetisan. > > > > Mengenai kreatifitas, sory saya cuma mau diskusi, no > > offense, apa sih yang membedakan software asli dan > > bajakan untuk menunjang kreatifitas? menurut saya > > tidak ada mas, apakah kalo kita menggunakan OS asli > > lalu kita akan punya ide lebih cemerlang daripada OS > > yang kita beli di Glodok? Masalah kenapa kita memiliki > > lebih banyak toko hardware daripada software > > developer, bukan karena asli atau tidaknya software > > yang kita gunakan untuk belajar, tapi kurikulum > > pendidikan IT kita yang kurang "mendukung", belum > > kurang pedulinya pemerintah pada programmer2 > > Indonesia. > Mungkin maksudnya, orang jadi malas membuat segala macam software kalo > udah cape-cape buat ternyata softwarenya dibajak. Tapi itu kan kalo > orangnya berharap dapet uang dari softwarenya. Kalo ngga berharap dapat > uang dari software, misalnya senang bisa menemukan bugs atau senang bisa > membuat software yang bisa dipakai orang banyak, ya tentu ngga akan malas. > > Kalau berharap bisa jualan software ke orang Indonesia, mungkin belum > terlalu besar harapannya. Tapi kalau jualan softwarenya ke perusahaan, ya > masih ada lah dikit-dikit harapannya. > > > > Dan mas Rony, saya mengerti bahwa software bajakan > > sudah seharusnya dilarang, tapi kondisi ekonomi kita > > belum mencapai kearah situ, saya bicara sesuai > > kenyataannya, karena saya mengalami sendiri, seperti > > yang saya bilang sebelumnya, saya pakai software > > bajakan, buku copyan sebelum saya mampu menjual > > software saya overseas. Kalo waktu itu tidak ada > > software bajakan, wah, boro2 berkreatifitas, saya ini > > cuma anak orang miskin, yang pertama kali datang ke > > Jakarta, ngelamar jadi Pelayan di Sincere Store Bungur > > aja ditolak mas, dan sekarang berkat software bajakan > > saya sudah jualan ke "luar", tapi sekarang pake > > original dong hehehehe... thanks Microsoft. > > Ini mungkin sama seperti pajak. Bahwa pajak adalah kewajiban, termasuk di > dalamnya harus melaporkan. Tapi memang ngga semua orang merasa pajak itu > adalah kewajiban, melaporkan itu adalah kewajiban. Sampai-sampai Siti > Nurhaliza aja heran koq ada penghargaan pembayar pajak yang taat. > Memakai barang milik orang lain tanpa izin adalah hal yang dilarang. Tapi > ngga semua orang mau melaksanakan itu. Dan malah ada lagi sudah > menggunakan tanpa izin, nyari duit lagi dari barang itu. Di Indonesia > banyak, ngga cuma masalah software. Misalnya orang yang make badan jalan > untuk jualan. Orang yang make lahan untuk bercocok tanam. > Untung ada yang sadar, setelah punya uang, pake yang asli untuk buat > jualan. Beli kios, atau beli lahannya. Tapi memang ngga semua orang punya > pikiran seperti itu. Malah saya yakin banyaknya orang berpikiran > sebaliknya. > > > > > > Menurut saya, untuk melarang software bajakan kita > > butuh waktu dan butuh dukungan pemerintah. Dan orang2 > > yang peduli seperti Mas Ronny inilah yang kita > > harapkan untuk membantu programmer2 "kere" melakukan > > pendekatan ke pemerintah, jangan hanya bilang stop > > pembajakan, tapi nggak bantu apa2. > > Butuh waktu dan harus sudah dimulai. Belajar software sekarang sudah jauh > lebih mudah. Sudah banyak yang gratis. Harusnya kalau cuma mau belajar VB > aja mah, ngga masalah lagi ya. Oracle juga sudah ada yang gratis. Enaknya > belajar jaman sekarang. Harusnya sudah ngga ada alasan lagi beli CD > bajakan untuk belajar. > > > [Non-text portions of this message have been removed] -- www.itcenter.or.id - Komunitas Teknologi Informasi Indonesia Info, Gabung, Keluar, Mode Kirim : [EMAIL PROTECTED] :: Hapus bagian yang tidak perlu (footer, dst) saat reply! :: ## Jobs: itcenter.or.id/jobs ## Bursa: itcenter.or.id/bursa ## $$ Iklan/promosi : www.itcenter.or.id/sponsorship $$ [@@] Jaket ITCENTER tersedia di http://shop.itcenter.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
