DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:
 

"SERATUS KATA YANG PERLU DISELAMATKAN"
 
"Seratus Kata Yang Perlu Diselamatkan" [Cent Mots A Sauver] adalah judul sebuah buku karya ahli bahasa dan budayawan terkemuka Perancis, Bernard Pivot yang baru saja diterbitkan bulan April ini oleh Dicos d'Or, Paris 2004, setebal 128 halaman.
 

Di Perancis, Bernard Pivot dikenal terutama sebagai pengawal kesempurnaan berbahasa Perancis dan sekaligus mengembangkannya. Dialah yang mengorganisasi lomba internasional otograf Perancis yang diikuti selain oleh negeri-negeri Francophone [negeri-negeri yang menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar utamanya], tetapi juga diikuti oleh peserta-peserta yang berminat dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia.Kalau ingatan saya benar, ada dua peserta dari Indonesia yang mengikuti lomba. Perlombaan otograf ini dibantu oleh UNESCO dan pemerintah Perancis. Oleh jasanya dalam mengembangkan, menyempurnakan dan mengawal perkembangan bahasa Perancis ini, Bernard Pivot dianugerahi oleh pemerintah bintang jasa "Legion d'Honneur" yang juga pernah diberikan kepada Pramoedya A.Toer sebagai sastrawan pembela kemanusiaan ketika Pram berkunjung ke negeri ini.
 

Dalam mengembangkan dan menyempurnakan bahasa nasionalnya, Perancis memang melakukan banyak usaha, antara lain melalui Acad�mie Fran�aise, sebuah lembaga resmi yang mencakup berbagai cabang ilmu [terutama dari segi kebahasaan], terdiri dari para pakar paling terkemuka. Masuknya seseorang ke dalam Acad�mie Fran�aise ini sendiri sudah merupakan petunjuk akan tingkat keahlian orang tersebut. Lembaga yang sangat terpandang. Penyair Leopold Senghor, mantan Presiden Senegal dan aktivis gerakan sastrawan Asia-Afrika  yang juga pelopor gerakan budaya "Black Is Beautiful" , termasuk salah seorang Afrika Francophone yang telah diterima sebagai anggota Acad�mie. Ketetapan Acad�mie merupakan ketetapan baku bagi bahasa Perancis. Acad�mie ini pulalah yang menetapkan apakah kata-kata baru yang diangkat dari kehidupan keseharian [sering disebut l'argot atau slang], dari media massa yang sering digunakan, menjadi kosakata Perancis atau tidak. Saban tahun kata-kata baru yang telah disahkan, diumumkan oleh Acad�mie Fran�aise dan dimasukkan ke dalam kamus-kamus standar seperti "Petit Robert" atau "Larouse".
 

Untuk mengkonsolidasi apa yang sudah ditetapkan oleh Acad�mie, berbagai terusan tivi menyelenggarakan program-program khusus berhadiah tentang bahasa seperti Motus dan Pyramide di terusan Antenne-2, pembahasan buku di semua terusan. Sedangkan Bernard Pivot mempunyai "Apostrophe" dan "Bruillon de la Culture" sebagai ruang khusus-periodik di Antenne2. Melalui forum-forum ini dilakukan perdebatan budaya dan bahasan serta ,proses kreatif seorang pengarang, yang sangat meningkatkan apresiasi sastra-seni serta budaya umumnya di kalangan masyarakat Perancis. Menurut tabloid mingguan berwarna Jawatan Kereta Api Perancis [SNCF], "Paris A Nous", mayoritas rakyat Perancis berkeinginan untuk menjadi penulis. Penulis dipandang sebagai profesi yang mulia, dilihat dengan penuh hormat dan kekaguman. Perobahan masyarakat Perancis, termasuk Revolusi Perancis 1789, tidak bisa dipisahkan dari sumbangan para penulisnya. Dari para penulis inilah lahir ide-ide terobosan yang kemudian ketika menjadi milik massa, ia mendorong lahir dan berkembangnya gerakan massa terorganisasi untuk perobahan. Tentu saja, pada awal pelontaran ide terobosan itu, tidak sedikit dari para penulis yang harus meninggalkan tanahairnya, Perancis, untuk mengungsi ke negeri-negeri tetangga seperti yang dialami oleh Zola dan Victor Hugo. Dibimbing oleh ide-ide terobosannya pula maka tidak sedikti para saastrawan yang langsung aktif dalam gerakan anti fasis pada Perang Dunia II. Sikap yang menunjukkan bahwa bagi para sastrawan ini, ide, kata tidak terpisahkan dari perbuatan.Barangkali latar sejarah beginilah yang menempatkan para penulis berada pada kedudukan terhormat. Tidak sedikit dari para pemimpin Perancis yang selain sebagai pimpinan politik adalah budayawan-budayawan terkemuka seperti mantan Presiden George Pompidou [penyair], Fran�ois Mitterrand [essais], Andr� Malraux [penulis roman, romancier], menteri dalam negeri [dulu menteri luar negeri] Villepin [esais], Jack Lang [esais], Luc Ferry [filosof]. Orang-orang pertama negeri ini umumnya selalu mencoba merangkul dan dekat dengan para penulis. Mitterrand misalnya adalah sahabat dekat dari Gabriel Garcia Marquez, sutradara Costa Gravas, penerima hadiah Nobel Ellie Wissel [bahkan Mitterrand dan Ellie pernah bersama-sama menulis sebuah buku!]. Melihat praktek dan sejarah begini, saya hanya bisa tersenyum jika mendengar ada penulis atgau calon penulis mengatakan bahwa politik tidak ada sangkut-pautnya dengan sastra, sementara politik terus mempengaruhi kehidupan di mana sang sastrawan hidup. Sikap a-politik yang hanya mengasingkan diri dan menjadi manusia extra-terreste [ET] di bumi.
 

Dari apa yang saya amati, saya melihat Perancis menggunakan bahasa sebagai salah satu sarana untuk membentuk manusia Perancis yang mereka inginkan.Pelajaran bahasa dan sastra dijadikan sebagai alat pendidikan pembentuk pola pikir dan mentalitas. Dengan latar sejarah ini pulalah kiranya bisa dipahami mengapa orang Perancis begitu bangga akan bahasanya sampai-sampai terjadi ekses mengabaikan bahasa asing lainnya, terutama bahasa Inggris yang pengaruhnya tidak bisa diabaikan. Hanya saja jika orang Perancis pada mulanya enggan berbahasa Inggeris, hal inipun punya latar belakang sejarah tersendiri yang bisa dipahami jika kita mempelajari sejarah Eropa Barat di mana konflik antara Inggris-Perancis cukup tajam. Inggris bahkan sempat menyerbu Perancis yang kemudian melahirkan tokoh pahlawan Jean d'Arc [Joan of Arc].Artinya, apa yang kita lihat hari ini tidak lain dari suatu hasil proses sejarah. Bukan hasil satu dua ketika. Untuk memahami gejala hari ini kita diminta untuk melihat dan membaca sejarah. Tidakkah di sini lalu nampak bagaimana arti memahami sejarah dan jangan sekali-kali lupa sejarah seperti yang dianjurkan oleh almarhum Bung Karno?! Puncak ekses nasionalisme dalam bidang bahasa ini terjadi waktu Jacques Toubon menjadi menteri kebudayaan pada kabinet Jacques Chirac. Toubon melarang penggunaan istilah-istilah asing dalam  bahasa Perancis, terutama yang berasal dari bahasa Inggris sehingga oleh media massa asing Toubon disindir sebagai menteri "tout bon" [semua baik], yang berpandangan bahwa yanhg Perancis adalah "tout bon". 
 

Ketika situasi berkembang, bahasa Inggris makin memainkan peranan tak terabaikan, termasuk di Masyarakat Persatuan Eropa, Perancis makin merasa bahwa jika bertahan pada keangkuhan nasionalisme ekstrim begini, ia akan terkucil, maka Perancis [cq. Pemerintah] segera melakukan koreksi dan mewajibkan sekolah-sekolah sejak dini belajar bahasa Inggris. Taun 2004 ini bagi Perancis merupakan Tahun Tiongkok bagi Perancis. Menurut berita media massa pada tahun mendatang bahasa Tionghoa diwajibkan di sekolah-sekolah. Ini adalah pandangan dan sikap baru bagi Perancis. Pandangan dan sikap berdasarkan analisanya ke depan tentang peranan Republik Rakyat Tiongkok. Dengan politik budaya ini nampak bahwa Perancis makin menjauh dari nasionalisme sempit dalam bidang bahasa.
 

Sekalipun dari segi bahasa, sekarang Perancis makin membuka diri, tapi mereka tetap tidak mengabaikan perawatan dan pengembangan bahasa nasionalnya. Apa yang dilakukan oleh Bernard Pivot yang juga dikenal sebagai kroniker di Mingguan Journal du Dimanche, Paris, dengan menerbitkan karyanya "Seratus Kata Yang Perlu Diselamatkan" [Cent Mots A Sauver], tidak lain daripada usaha mengawal perkembangan kehidupan bahasa Perancis.  Dari apa yang dilakukan oleh Bernard, nampak bagaimana Perancis menghargai segala kosakata sebagai alat ungkapan pikir dan rasa. Jika kosakata itu hilang, dirasakannya kita akan kehilangan alat ekspresi. Hanya memiskin diri sebagai manusia berbudaya. Atas dasar ini pulalah melalui karyanya ini Bernard menghimbau agar bahasa-bahasa minoritas di bagian manapun di dunia, perlu dipelihara dan diselamatkan, jangan sampai hilang atau punah. Pivot menyebut bahasa Aborigin Australia dan bahasa-bahasa Amerindian di Amerika Latin sebagai contoh untuk diperhatikan. Kalau kita mencoba melindung margasatwa, tumbuhan-tumbuhan atau binatang lainnya dari kepunahan dengan mengerahkan sekian macam alasan, mengapa kita tidak berlaku demikian terhadap kosakata bahasa manapun di dunia? tanya Pivot. Secara kongkret untuk Perancis, Pivot meminta perhatian jangan sampai 100 kosakata langka yang diketengahkannya dalam karyanya ini, punah dan dilupakan.
 

Untuk Perancis, biasanya yang saya lihat, karena Bernard Pivot yang berkata, maka apa yang dihimbaunya akan mendapat perhatian dan berdampak segera. Dari buku ini, saya kembali melihat bagaimana Pivot menggunakan kedudukannya yang berpengaruh agar rakyat Perancis tidak lalai dan jangan melupakan kesadaran berbahasa. Perkembangan pikiran manusia tidak bisa dilepaskan dari kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini bahasa Perancis termasuk sebuah bahasa yang teliti dan rinci. Sikap Pivot ini mengingatkan saya kepada sikap Pram ketika saya datang ke rumahnya 30 tahun lalu. Kurang lebih Pram mengatakan kepada saya sebelum kembali ke Yogya bahwa bahasa Indonesia dari segi kosakatapun masih sangat perlu dilengkapkan. Banyak hal yang tidak kita dapatkan istilahnya. Dalam hubungan ini kenangan saya  kembali melayang ke daerah Pacinan Yogyakarta, di mana Lembaga Sastra Indonesia [Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat] menyelenggarakan sarasehan tentang "hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia". Mengenai masalah ini sarasehan berkesimpulan bahwa antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia ada hubungan saling mendekat, saling mengisi dan menyempurnakan. Keduanya saling susup-menyusup. Bertolak dari pendapat ini maka sarasehan menghimbau agar sastra daerah,termasuk sastra etnhik Tionghoa, digalakkan yang kemudian berwujud dengan munculnya koran-koran daerah berbahasa lokal di berbagai pulau tanahair, termasuk di Jawa. Ketika membaca "Seratus Kata Yang Perlu Diselamatkan" karya Pivot ini, secara serta-merta saya mengkaitkannya dengan hasil sarasehan tersebut sambil memandang keadaan hari ini dan kesadaran berbahasa kita. Terkesan pada saya bahwa hari ini untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan sesuatu yang mewah. Kalau di negeri ini banyak dibicarakan oleh para antropolog tentang "sejarah identitas dan mentalitas", saya bertanya-tanya apakah sebagai bangsa kita sudah dan bisa menghargai diri sendiri? Pertanyaan inilah yang kembali menggelitik diri saya ketika membaca Pivot. Kalau Pivot berseru agar "Seratus Kata" diselamatkan, sebagai orang Indonesia pemakai bahasa Indonesia, berapa kata kita buang ke keranjang sampah, bagaimana sikap kita memelihara, mengawal dan mengembakan bahasa Indonesia? Saya masih memandang bahasa Indonesia sebagai suatu kekayaan berharga dan tanggap zaman apapun kelak nasib negeri bernama Indonesia ini! Kembali saya melihat bahwa menghancurkan sesuatu memang jauh lebih gampang daripada membangun, melakukan sesuatu yang kronstruktif. Karena bahasa tidak lepas dari sastra, bagaimana kesadaran Pivot ini di kalangan sastrawan Indonesia?
 

Paris, April 2004.
-----------------
JJ.KUSNI


Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke