Hallo kawan2 berikut ini (dalam attachment) adalah hasil Lomba Menulis "CERITA HAK 
ANAK-ANAK" yang diselenggarakan Plan Indonesia Surabaya.
--

--------- Original Message ---------

DATE: Tue, 02 Mar 2004 22:54:30
From: "herilatief" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], puisi, [EMAIL 
PROTECTED]
Cc: 

>saut bilang gini:
>
>"Bukankah keseragaman pandangan merupakan utopianisme konseptual dari
>semua fascisme, mulai dari Shi Huang Ti, Hitler, sampai Suharto?".
>
>aku tanya ini: kerna ingin punya seragam "etika", apakah yms itu juga
>bisa dibilang fasis? atau rasis? intoleransi? 
>
>hehehehe..., ketika perbedaan pendapat tentang etika dijadikan alasan
>untuk memecat, apa bedanya mereka dengan para pemuja fascisme? 
>
>salam, heri latief
>
>--- In [EMAIL PROTECTED], "sautsitumorang"
><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>"Estetika", atau Fetishisme?
>(Tanggapan Terhadap Agus Dermawan T)
>oleh Saut Situmorang*
>
>
>Apakah "keindahan" dalam seni itu? Bagaimanakah seni yang 
>memiliki "keindahan" itu? Di manakah "keindahan" dalam seni itu? 
>Siapakah yang melihat/menentukan "keindahan" dalam seni itu? Apakah 
>seni itu? Demikianlah antologi pertanyaan yang spontan muncul di 
>benak saya waktu membaca tulisan "Kritikus seni" Agus Dermawan T 
>(ADT) berjudul "Refleksi `Instalasi Obong' Tisna Sanjaya: Nilai yang 
>Kacau Menyenikan Sampah" (Kompas Minggu, 29/2/04). Bunga rampai 
>pertanyaan tersebut muncul karena ADT tidak memberikan 
>penjelasan/kejelasan kenapa dia menganggap instalasi Tisna Sanjaya 
>yang berjudul "Special Prayer for the Dead", atau "Perahu Doa", cuma 
>sebuah "nilai yang kacau menyenikan sampah", padahal karya Tisna 
>dimaksud telah menjadi sebuah simbol kekerasan atas kesenian oleh 
>kekuasaan fascis, karena dibakar oleh tangan-tangan yang 
>merepresentasikan kekuasaan politik dan militer hanya dengan 
>alasan "tidak dianggap karya seni, tapi sampah" dan "menghina TNI". 
>Konteks sejarah inilah -- sebuah karya seni yang dipamerkan "sebagai" 
>karya seni oleh seorang seniman internasional dianggap "sampah" 
>yang "menghina TNI" lalu "dibakar" tapi bukan oleh senimannya sendiri 
>-- yang luput dari perhatian, atau mungkin dengan sengaja diluputkan 
>dari perhatian, ADT dalam tulisannya yang seolah-olah tentang apa 
>yang disebutnya sebagai "estetika" dalam seni itu.
>
>"Estetika atau keindahan adalah ruh kesenian," seru ADT, "Keindahan 
>dalam seni rupa jelas muncul dalam wujud atau perupaan." Kemudian dia 
>memberikan contoh-contoh seni yang dianggapnya "indah" atau "estetis" 
>itu: Guernica Picasso, Pembunuhan 3 Mei 1808 Francisco de Goya, aneka 
>instalasi Christo-Jean Claude, dan keris "luk limo" Sinarasah. Dua 
>pendapat dari dua konteks budaya berbeda diambilnya sebagai penguat 
>atas pernyataannya tersebut; dari penyair Inggris Herbert Read: "Seni 
>adalah formasi harmonis dari elemen-elemen yang berhasil menawarkan 
>sensasi-sensasi yang menyenangkan", dan dari Bagoes P Wiryomartono 
>bahwa dalam kosmologi Jawa, seni itu berangkat dari konsep apik, yang 
>di dalamnya diisi oleh segala yang indah, atau endah.
>
>Kalau kita mempelajari dua "teori" tentang "estetika" yang dipakai 
>oleh ADT untuk membenarkan asersinya bahwa instalasi Tisna Sanjaya 
>merupakan "presentasi seni rupa buruk rupa", atau seni rupa "tidak 
>estetis/indah", maka pertanyaan yang dapat diajukan kepada ADT 
>adalah: apakah pendapat Herbert Read itu mewakili "kosmologi" 
>Inggris, seperti halnya pendapat Bagoes P Wiryomartono berasal dari 
>pemikiran kosmologis budaya Jawa, atau hanya sebuah teori sekuler 
>yang tak ada kaitannya dengan asal-usul kosmos? Kalau tidak, bisakah 
>sekulerisme pemikiran Herbert Read dalam membicarakan seni rupa 
>modern Barat disandingkan begitu saja dengan spritualisme kosmologi 
>Jawa seperti yang direpresentasikan "keris luk limo Sinarasah"? 
>Universalkah berlaku masing-masing "teori estetika" di atas terhadap 
>produk seni bukan-budayanya; relevankah teori Herbert Read untuk 
>memahami keris Jawa, dan teori keris Jawa untuk Goya misalnya? 
>Terakhir, relevankah atau bisa diterimakah sebuah "pembahasan" yang 
>berdasarkan pemikiran "seni adalah formasi harmonis" atau "seni itu 
>diisi oleh segala yang endah secara kosmologis" atas karya, meminjam 
>kata-kata ADT sendiri, "Kontemporer... yang diformulasi dari 
>pemahaman postmodernisme [sic]... yang mengajak siapa pun boleh 
>sebebasnya mengeksplorasi dan mengeksploitasi, atau menjumput, 
>menggali, memanfaatkan, dan memakan apa saja, tanpa batas konvensi 
>ketabuan seni"? Atas karya yang merupakan "produk kebudayaan yang 
>keluar dari sejarah dan menari-nari sendiri di luar sejarah [di mana] 
>seniman bekerja semau-maunya dan menggubah karya sejadi-jadinya 
>pula"? Dalam kata lain, apakah ADT telah tidak salah 
>menerapkan "teori keindahan/estetika", tidak kontekstual, waktu 
>mencoba memahami instalasi Tisna Sanjaya yang disebut ADT "seni rupa 
>buruk rupa" itu, yaitu karya seni yang tidak lagi peduli 
>pada "keindahan/estetika" ala Herbert Read atau kosmologi Jawa? 
>Juga, "sejarah" (si)apakah yang dimaksudkannya di atas?
>
>Sebagai karya seni tentu saja "seni rupa buruk rupa" punya kaidah-
>kaidah artistiknya sendiri, "estetika"nya yang khas, yang tidak sama 
>dengan "estetika" "seni rupa indah rupa" Herbert Read/kosmologi Jawa, 
>atau ADT dan TNI. Dan perbedaan "estetika" ini tidaklah lantas bisa 
>dijadikan alasan teoritis, ataupun politis, untuk "menyampahkannya", 
>apalagi membakarnya. Seandainya "penyampahan" (dan diikuti oleh 
>pembakaran) atas "seni rupa buruk rupa" terjadi, seperti pada kasus 
>instalasi Tisna Sanjaya, maka alasannya pastilah bukan alasan 
>artistik, atau "estetis". Pastilah sesuatu yang berada di luar karya, 
>realitas intertekstualnya dengan konteksnya, yang menjadi faktor 
>pemicu. Biasanya, dalam kasus-kasus kekerasan terhadap karya seni, 
>unsur-unsur tertentu karyalah yang dianggap telah 
>melakukan "pelecehan/penghinaan" terhadap kepentingan kelompok 
>tertentu (bukankah unsur "tulisan" pada instalasi Tisna yang diklaim 
>telah "menghina TNI" itu, bukan "bentuk" dari karya itu sendiri? 
>Bagaimana seandainya "tulisan" tersebut tidak ada, apa karya tersebut 
>tetap dianggap "sampah" oleh Satpol dan TNI sekalipun?), bukan 
>keseluruhan karya sebagai sebuah kesatuan utuh. Justru karena alasan 
>inilah maka kekerasan terhadap karya seni sangat jarang dilakukan 
>atas dasar "estetika/keindahan", bahkan pada kasus-kasus yang 
>dilakukan oleh sebuah gerakan avantgardisme seni sendiri, seperti apa 
>yang dilakukan Marcel Duchamp atas Mona Lisa Leonardo da Vinci.
>
>Menganggap bahwa "estetika/keindahan" merupakan penyebab dalam 
>peristiwa penyampahan dan pembakaran instalasi Tisna Sanjaya, seperti 
>yang bisa dibaca pada tulisan ADT, adalah sebuah anggapan "enggak 
>karuan", malah bisa disebut sebagai "kurang sekolahan". Tapi tentu 
>saja kalau yang membuat anggapan tersebut seseorang yang memang 
>bukan "kritikus seni". Bagaimana kalau seseorang itu justru mengklaim 
>dirinya sebagai seorang "kritikus seni"!
>
>Satu istilah yang sangat dominan dipakai ADT dalam tulisannya 
>adalah "keindahan", yang diimprovisasinya dengan istilah "estetika". 
>Saya pikir, lewat istilah "keindahan", atau "estetika", seperti yang 
>dipahami ADT itulah kita bisa mengungkapkan kerancuan, yang akhirnya 
>melahirkan kekacauan yang menuju dekadensi pemikiran, dalam caranya 
>meresepsi peristiwa kekerasan terhadap karya seni instalasi Tisna 
>Sanjaya.
>
>Seperti apa yang saya katakan di atas, kerancuan ADT dalam 
>melakukan "refleksi" atas kekerasan yang terjadi terhadap 
>instalasi "Perahu Doa" Tisna Sanjaya -- seperti yang bisa kita baca 
>pada pernyataannya bahwa adalah "logis ketika satuan polisi 
>(satpol) ... membakar karya itu lantaran mereka tak bisa membedakan 
>antara sampah dan seni" -- terjadi karena dia memakai "teori" 
>tentang "keindahan/estetika" seni yang tidak relevan, tidak ada 
>hubungan logikanya, dengan karya seni sejenis instalasi Tisna 
>Sanjaya. Dia berangkat dari kerangka pemikiran yang dia sendiri 
>katakan "mungkin" sudah kuno, klasik, ketinggalan sepur. Kekunoan 
>pandangan estetiknya itu terefleksi pada anggapan romantiknya bahwa 
>seniman adalah Sang Pencipta Agung, "artium magister" (istilah 
>ADT), "bukan manusia umum", "manusia yang berpotensi menggubah 
>estetika atau keindahan". Dalam pandangan ini, hanya "seniman"lah 
>yang bisa/mampu menciptakan sesuatu yang disebut "seni" itu, dan 
>karena itulah "seni" itu "agung", budaya tinggi atau "high culture". 
>Seniman dikatakan memiliki "aura", semacam keunikan yang khas yang 
>tidak dimiliki mereka yang bukan-seniman, makanya karyanya disebut 
>karya "auratik", berbeda dari yang sekedar kerajinan tangan misalnya. 
>Nilai-lebih yang dianggap ada secara tersirat oleh keunikan auratik 
>(karya) seni(man) dalam pandangan ini paling dominan bisa ditemukan 
>dalam "realm" seni lukis (kebetulan dunia tempat ADT mencari nafkah 
>hidupnya?), di mana fenomena kultus individu seniman (cult of 
>personality) dan kultus keindahan (cult of beauty) terjadi 
>begitu "enggak karuan" seperti yang bisa kita lihat pada sosok 
>kolektor dan tingkah lakunya. Kedua bentuk kultus yang tak lebih dari 
>sekadar "fetishisme orisinalitas" inilah sebenarnya yang menjadi 
>ideologi artistik dari apa yang disebut sebagai Modernisme itu dan 
>yang tidak dianggap penting lagi makanya ditinggalkan oleh para 
>seniman Posmo/Kontemporer. (Bukankah fetishisme ini yang sebenarnya 
>merupakan "sextasi" yang ingin dipuaskan di balik politik-ekonomi 
>dari apa yang disebut sebagai "'boom' seni lukis Indonesia" itu?)
>
>Kalau bagi ADT, dan TNI tentunya, "penampakan" adalah segalanya, maka 
>bagi Tisna Sanjaya, dan Basquiat, Richard Long, Nam June Paik, 
>Christo-Jeanne Claude, konsep adalah "keindahan" bagi karya-
>karya "seni rupa buruk rupa" mereka, merupakan "estetika"nya. 
>Karena "message" adalah segalanya, maka "message is the aesthetics" 
>bagi para perupa konseptual ini. Karena "isi" lebih penting 
>ketimbang "bentuk", maka gagaplah ADT memahaminya dengan "teori 
>keindahan/estetika"nya yang beraroma "art for art's sake"  itu.
>Konsep "keindahan" tidaklah statis dan universal seperti yang ADT 
>yakini, dan usahakan untuk kita yakini juga. "Keindahan" adalah 
>relatif dan kontekstual, makanya dinamis. Bukankah dinamisme 
>relativisme konseptual yang dapat kita lihat pada peristiwa 
>terjadinya gerakan-gerakan kesenian pada sejarah seni terutama di 
>Barat? Kalau "keindahan" itu memang universal seperti yang diyakini 
>ADT, bukankah akan sangat menarik untuk mengkhayalkan bagaimana 
>resepsi atas Guernica Picasso di zaman yang menghasilkan lukisan-
>lukisan anti-perang May 1808 Goya -- akan dianggap "indah" 
>dan "estetis"kah "masterpiece" anti-perang Cubisme itu? Hal yang 
>sama, tentu saja, bisa juga dibayangkan pada "seni rupa buruk rupa" 
>keris luk limo Sinarasah pada konteks zaman samurai Musashi di Jepang 
>misalnya.
>
>Sebuah karya seni tidaklah serta-merta secara otomatis menjadi sebuah 
>kanon. Sejarah pertarungan antara kanonisasi dan "apokripaisasi" 
>karya seni adalah refleksi relasi kekuasaan kepentingan politik-
>ekonomi antara teks dan konteks, antara kekuasaan hegemonik dan yang 
>didominasi, antara "the Self" dan "the Other", dengan 
>mengatasnamakan "keindahan/estetika". "Keindahan/estetika" seperti 
>yang terus menerus dicoba dijual kepada komunitas seni rupa Indonesia 
>dalam tulisan-tulisan "kritik-seni koran" ADT adalah sebuah 
>propaganda politik seni yang menabukan keberagaman pluralitas 
>konsep "keindahan" itu sendiri, makanya menjadi fascistik. Bukankah 
>keseragaman pandangan merupakan utopianisme konseptual dari semua 
>fascisme, mulai dari Shi Huang Ti, Hitler, sampai Suharto?
>
>Ketidakadilan interpretasi yang selalu dilakukan a priori oleh ADT 
>atas karya seni rupa kontemporer non-lukisan Indonesia, seperti 
>instalasi "Perahu Doa" Tisna Sanjaya, saya curiga, berangkat dari 
>sebuah kekecewaan, sebuah ketakberdayaan, untuk mengembalikan status 
>lukisan, demi bermacam alasan, sebagai primadona seni rupa khususnya 
>di Indonesia seperti di zaman Modernisme yang sudah hampir satu abad 
>jadi "sejarah" tempo doeloe itu. Sebuah usaha heroik yang dari 
>awalnya sudah sia-sia belaka justru karena ahistorisismenya itu. 
>
>*Saut Situmorang, penyair, tinggal di Jogjakarta.
>
>
>
>
>
>Kunjungi situs sastra Bumi Manusia di www.bumimanusia.or.id untuk info dan karya 
>sastra terbaru!
>Untuk keluar dari keanggotaan mailing list ini, kirim email ke:
>[EMAIL PROTECTED] 
>Yahoo! Groups Links
>
>
>
> 
>
>



Need a new email address that people can remember
Check out the new EudoraMail at
http://www.eudoramail.com



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! 
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, 
gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang 
membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di 
[EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan 
kirim email kosong ke :
 [EMAIL PROTECTED] (langganan)
 
website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
 ( underconstructions) 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke