Catatan A. Umar Said
(tulisan ini juga disajikan dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak/ )
SEANDAINYA (!!!) WIRANTO JADI PRESIDEN
Sekadar
pengantar : Sesudah �beistirahat� agak lama (sebulan setengah ) maka dengan
tulisan mengenai pencalonan mantan jenderal Wiranto sebagai Presiden oleh
Golkar, yang berikut di bawah ini, akan diusahakan dimulai lagi penyajian
tulisan-tulisan, yang akan dikirimkan secara langsung ke berbagai alamat dan
lewat sejumlah milis. Seperti biasanya, tulisan ini juga dapat dibaca di website
http://perso.club-internet.fr/kontak/ .
***
Tulisan
kali ini tidak mengajak para pembaca untuk menelaah kembali pelaksanaan dan
hasil pemilu legislatif tanggal 5 April yang lalu, yang hasilnya sudah sama-sama
kita ketahui. Walaupun di sana-sini masalah pemilu legislatif masih akan
disinggung dalam tulisan ini, tetapi titik-berat akan diletakkan pada masalah
pencalonan (oleh Golkar) mantan jenderal Wiranto sebagai satu-satunya calon
presiden. Sebab, masalah ini mencakup berbagai aspek serius yang amat penting
bagi kehidupan negara dan bangsa kita dewasa ini, dan juga untuk masa depan dan
generasi kita yang akan datang.
Masalah
pencalonan Wiranto sebagai presiden Republik Indonesia, meskipun
kelihatannya -sepintas lalu �
memang urusan orang-orang Golkar saja, tetapi pada hakekatnya dan pada akhirnya
juga menyangkut seluruh bangsa atau rakyat banyak. Kedudukan presiden dari
negara yang berpenduduk 220 juta orang
- nomor empat di dunia - dan terdiri dari 17.000 sampai 18.000 pulau ini
(yang mencakup ratusan suku-bangsa dan bahasa daerah) adalah amat penting.
Karena itu, mempersoalkan pencalonan Wiranto oleh Golkar sebagai presiden
merupakan hak setiap orang, termasuk orang-orang yang tidak mendukung
Golkar.
Seperti
diketahui oleh banyak orang, �kemenangan� Golkar dalam pemilu legislatif (22%
suara, dan mengungguli PDI-P) dan berhasilnya Wiranto dicalonkan sebagai
presiden menunjukkan bahwa sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih besar sekali, baik
di bidang pendanaan (uang), maupun sumberdaya manusia, organisasi, dan
pengalaman. Ini tidak mengherankan, karena rezim militer Suharto dkk telah
mengangkangi negara secara menyeluruh selama 32 tahun, dengan cara-cara
�luarbiasa�, yang sudah banyak sama-sama kita ketahui dan rasakan sendiri selama
ini.
GOLKAR
YANG SEKARANG MASIH GOLKAR YANG DULU
Berhasilnya
Wiranto merebut pencalonan sebagai presiden, dengan mengalahkan Akbar Tanjung
atau tokoh-tokoh Golkar lainnya, menandakan bahwa pengaruh golongan militer yang
pro-Orde Baru (dan sipil) masih
tetap besar di kalangan Golkar, dan masih bisa �main di belakang layar�. Jadi,
sejak jatuhnya Suharto 6 tahun yang lalu, sebenarnya Golkar (yang sekarang) pada
hakekatnya - atau pada intinya -
masih seperti Golkar yang menjadi tulang-punggung utama rezim militer Orde Baru
selama puluhan tahun.
Golkar
yang demikian inilah yang melalui berbagai siasat dan cara telah berhasil
menjagokan Wiranto sebagai calon presiden. Jadi, pemilihan Wiranto adalah
sebagian dari realisasi rencana kekuatan Orde Baru untuk �come back�. dan bukan
untuk mengadakan reformasi atau memperbaiki kerusakan atau pembusukan di banyak
bidang yang diwariskan oleh rezim militer dan diteruskan oleh
pemerintahan-pemerintahan berikutnya. Kerusakan atau pembusukan yang dibikin
oleh rezim militer Suharto dkk adalah demikian besarnya, demikian luasnya, dan
demikian dalamnya, sehingga tidak mungkin diperbaiki oleh pemerintahan yang
manapun juga dalam waktu yang begitu singkat.
Sekarang
sudah muncul suara-suara yang menentang pencalonan Wiranto oleh Golkar sebagai
presiden, baik dari sebagian
kalangan intelektuil, LSM, organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa,
maupun partai politik. Sebagian lainnya masih diam saja, dan mengambil sikap
�wait and see�. Sebagian lainnya lagi kelihatan �bingung� mengikuti kompleksnya
atau �ruwet�nya percaturan politik di negara kita dengan munculnya persoalan
Wiranto ini. Umpamanya, banyak orang menjadi heran mengapa sejumlah tokoh-tokoh
PKB sekarang mendukung Wiranto sebagai presiden, termasuk adik Gus Dur sendiri
(Salahuddin Wahid) ?
WIRANTO
ADALAH PRODUK DAN PERWAKILAN ORDE BARU
Rupanya, ada orang-orang yang mendukung Wiranto karena perhitungan hanya untuk keuntungan pribadi atau golongan (partai) saja, dan tidak mempertimbangkan masak-masak apa konsekwensinya bagi negara dan bangsa kalau mantan jenderal Wiranto jadi kepala negara. Ada juga orang-orang yang menaruh ilusi bahwa dengan Wiranto sebagai presiden keadaan politik, ekonomi dan sosial negara kita akan menjadi lebih baik dari pada sekarang.
Orang-orang
yang mengimpikan adanya perbaikan-perbaikan besar atau perubahan mendasar dengan
mencalonkan Wiranto sebagai presiden ini lupa kepada satu kenyataan bahwa
sebagian besar dari poblem-problem parah dewasa ini di bidang politik, ekonomi,
sosial dan kebudayaan justru bersumber pada sistem Orde Baru yang baru saja 6
tahun yang lalu telah dicampakkan dari hati sebagian besar rakyat Indonesia.
Wiranto
adalah produk kebudayaan, pendidikan, indoktrinasi, singkatnya sistem Orde Baru, seperti banyak tokoh-tokoh
Golkar lainnya. Dan, ia merupakan produk yang termasuk �istimewa�, karena
kenaikan pangkatnya yang cepat sebagai jenderal difasilitasi oleh kedekatan dan
pengabdiannya kepada Suharto. Selama bertahun-tahun ia melayani Suharto sebagai
ajudan. Karena itu, ketika Suharto dipaksa oleh gerakan mahasiswa untuk turun
dari jabatannya, Wiranto sebagai pimpinan tinggi TNI menyatakan secara
terang-terangan bahwa ia akan �melindungi� Suharto dan keluarganya. Dan ketika
ia sudah dipilih oleh Golkar jadi calon presiden, ia juga terang-terangan akan
�minta restu� dari Suharto. Jadi kedekatannya dengan keluarga Cendana adalah
jelas sekali.
Pencalonan
Wiranto sebagai calon presiden oleh Golkar dan kedekatannya dengan Suharto,
ditambah dengan dukungan para perwira TNI (baik yang sudah purnawirawan maupun
yang masih aktif) menunjukkan
dengan jelas bahwa Wiranto pada dewasa ini adalah �perwakilan� Orde Baru. Bagi
kita semua, soal ini harus jelas dalam memandang situasi dan persoalan-persoalan
politik dewasa ini. Termasuk masalah pencalonan Wiranto sebagai presiden, dan
pemilihan presiden pada tanggal 5 Juli yang akan datang.
SEANDAINYA
(!!!) WIRANTO DIPILIH SEBAGAI PRESIDEN
Sebab,
seandainya (sekali lagi : seandainya !!!)
Wiranto dipilih sebagai presiden RI, maka negara dan bangsa kita akan
dibawa memasuki periode yang lebih suram, lebih tidak menentu, lebih tidak
karuan, daripada dewasa ini. Ada orang-orang yang mengira bahwa sebagai seorang mantan
jenderal sebagai presiden, Wiranto akan bisa membawa negara kita segera ke arah
kestabilan, kemakmuran dan keadilan
yang lebih dari pada sekarang. Bahkan, ada pula orang-orang yang mengharapkan
Wiranto bisa �mengembalikan� keamanan, tata-tertib, disiplin, kepatuhan, seperti
yang terdapat selama puluhan tahun Orde Baru. Sebab, orang-orang yang macam ini
sekarang merasa bahwa �kebebasan� sudah kebablasan dalam banyak hal, umpamanya,
antara lain, baik dalam pers
dan media massa, dalam menyatakan pendapat, maupun dalam
berorganisasi.
Sebaliknya,
cukup banyak orang yang berpendapat bahwa kalau seandainya Wiranto jadi presiden
maka berarti bahwa banyak pembusukan dan masalah-masalah parah di bidang
politik, ekonomi dan sosial (dan mental !!!) yang dihadapi bangsa dan rakyat
kita dewasa ini akan menjadi lebih parah lagi.
Sejak
sekarang sudah bisa diramalkan bahwa jika Wiranto jadi presiden, maka akan �good
bye� dengan perjuangan untuk refomasi. Sebab, perlu difahami bahwa inti hakekat reformasi adalah
pembongkaran, pengubahan, atau penolakan segala hal negatif yang dibuat selama
rezim militer Orde Baru. Dan hal negatif yang dibikin Orde Baru ini banyak
sekali dan di berbagai bidang pula.
Selama
pemerintahan Habibi, Gus Dur-Mega, dan kemudian Mega-Hamzah, reformasi ini tidak
bisa dijalankan, karena kokohnya pengaruh sisa-sisa kekuatan Orde Baru, yang
tidak mau atau tidak rela menjalankan reformasi secara sungguh-sungguh. Kalau
berbagai pemerintahan itu saja tidak mampu menjalankan reformasi, lebih-lebih
lagi pemerintahan Wiranto (seandainya dipilih !!! ). Wiranto pasti tidak mau,
dan tidak bisa, menjalankan reformasi, yang berarti merugikan kepentingan
pendukung-pendukung Orde Baru dan bisa membahayakan kepentingannya
sendiri.
Ini
berarti bahwa korupsi, yaitu penyakit parah yang dilahirkan secara besar-besaran
selama Orde Baru dan diteruskan dalam berbagai pemerintahan sesudahnya (sampai
sekarang) akan terus berlangsung. Kesenjangan sosial, jurang antara si kaya dan
si miskin, yang sudah sangat menyolok sejak Orde Baru, akan lebih lebar
menganga. Pelecehan hukum dan hak-hak manusia, yang banyak dilakukan rezim
militer selama puluhan, akan berlanjut terus dalam bebagai bentuk. Kebobrokan
mental, yang menjadi ciri utama tokoh-tokoh Golkar, akan lebih berkembang di
mana-mana dalam masyarakat. Rasa pengabdian kepada rakyat, yang sudah
ditumpulkan oleh kebudayaan Orde Baru, akan menjadi lebih tumpul lagi. Banyak
praktek buruk kebiasaan di jaman rezim militer Suharto bisa dihidupkan kembali atau
diteruskan.
Kalau
Wiranto jadi presiden, maka tuntutan untuk mengadili Suharto akan dimasukkan
dalam kotak saja, demikian juga pengadilan begitu banyak masalah-masalah korupsi
yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang dekat Golkar atau bersimpati kepada Orde Baru. Konglomerat
hitam yang pernah �berjaya� selama Orde Baru dan pernah memporak-porandakan perbankan,
atau melakukan kongkalikong dengan para pejabat akan bisa mengulangi
praktek-praktek busuknya. Wiranto
tidak akan berhasil melawan korupsi, yang sudah subur sejak pemerintahan Orde
Baru. Karena Wiranto sendiri adalah bagian dari masalah besar
ini.
ANGKA
BURUK DAN BEBAN BERAT WIRANTO
Wiranto
tidak bisa menjadi presiden RI yang baik, karena sudah cacat moral dan cacat
politik secara berat, karena harus mempertanggungjawabkan berbagai pelanggaran
HAM, antara lain yang berkaitan
dengan peristiwa pembunuhan mahasiswa di Semanggi, peristiwa �kerusuhan� Mei
1998 yang menyebabkan kematian dan kerugian harta-benda yang besar sekali, kasus
Timor-Timur yang menjadi sorotan internasional. Wiranto masih harus berhadapan dengan opini internasional
dan gugatan di dalamnegeri karena
berbagai kasus ini, Tanggungjawabnya sebagai pimpinan tinggi TNI dalam masalah
pelanggaran HAM adalah termasuk angka buruk dan beban berat (atau dosa)
Wiranto.
Mereka
yang mengharapkan Wiranto sebagai presiden akan bisa memberesi masalah-masalah
besar dengan gampang, dan dalam waktu singkat (beberapa tahun), adalah seperti
�mimpi di siang hari bolong�. Pengangguran dan kemiskinan yang menimpa kurang
lebih 40 juta orang tidak mudah diberantas, apalagi dalam waktu yang singkat.
Hutang dalamnegeri dan luarnegeri (sekitar 140 miliar US$) yang merupakan akibat
salah urus Orde Baru (dan diteruskan oleh pemerintahan-pemerintahan berikutnya)
akan tetap merupakan beban yang
berat. KKN yang merupakan penyakit kangker ganas di tubuh bangsa akan tetap
merajalela.
Wiranto
tidak akan bisa semudah Suharto dalam menguasai negara dan pemerintahan, sebab
berbagai faktor dalamnegeri dan luarnegeri sudah banyak berobah. Di jaman Orde
Baru dapat digunakan tangan besi secara sewenang-wenang oleh rezim militernya,
dan selama puluhan tahun mulut rakyat bisa dibungkam. Tetapi sekarang
orang-orang berani bicara dan lantang bersuara tentang apa saja. Sebagian besar pers dan media massa bisa
menjalankan peran dan missinya secara bebas (relatif). Ratusan partai atau
organisasi politik dan berbagai macam LSM atau ornop (yang jumlahnya ribuan)
merupakan kekuatan yang tidak kecil di bidang moral dan opini umum, dan bisa
menjadi saluran dari aspirasi rakyat.
MELAWAN
PEMILIHAN WIRANTO ADALAH BENAR DAN MULIA
Kalau
rezim militer Suharto pernah lama sekali ditopang oleh dukungan kuat AS dan
sekutu-sekutunya dalam rangka menggulingkan Sukarno dan membasmi kekuatan kiri
dalam suasana �perang dingin�, maka situasi atau faktor internasional pun
sekarang tidak akan begitu
menguntungkan Wiranto yang mantan jenderal TNI. PBB yang sejak lama ada komitmen
di Timor-Timur akan tetap mempunyai persoalan yang berkaitan dengan masalah
Wiranto. Sekarang, ketika AS sibuk dengan politik anti-terorismenya dan terjepit
karena masalah Irak, belum tentu akan memberikan dukungannya kepada Wiranto
seperti dulu mendukung Suharto.
Mantan
jenderal Wiranto sekarang secara resminya (atau luarnya) adalah orang sipil.
Tetapi sebagai mantan Pangab ia masih mempunyai banyak pengaruh dan jalur-jalur
hubungan (tidak terbuka) dengan kalangan militer. Memang, diktatur militer
seperti yang dimanifestasikan selama Suharto berkuasa 32 tahun sulitlah terjadi
sekarang ini, karena berbagai faktor dalamnegeri (dan luarnegeri) kurang
menunjangnya. Tetapi, militerisme dalam bentuknya yang baru bisa saja masih diusahakan dibangun
oleh oknum-oknum yang mengidamkan era Orde Baru. Dan, kalau ada gejala-gejala
semacam itu pastilah akan mendapat perlawanan dari banyak kalangan masyarakat.
Suara-suara yang sudah terdengar menggugat pencalonan Wiranto dan menentang
militerisme selama ini dapat ditelaah dari sudut ini.
Singkatnya,
mereka yang mendukung Wiranto
sebagai calon presiden patutlah merenungkan itu semuanya. Kalau (sekali lagi :
kalau!) Wiranto dipilih sebagai presiden, hal ini tidak membawa kebaikan bagi
bangsa dan negara. Segi-segi negatifnya akan jauh lebih besar dan lebih banyak
dari pada segi positifnya. Republik Indonesia tidak boleh dipimpin lagi oleh
seorang presiden yang mempunyai banyak masalah parah. Pengalaman pahit dan
penderitaan panjang selama 32 tahun Orde Baru di bawah Suharto sudah cukup
dirasakan oleh banyak orang. Jaman
yang suram ini tidak boleh terulang lagi, tidak peduli apakah di bawah Wiranto
atau di bawah orang-orang lainnya.
Karena
itu, menentang Wiranto pemilihan Wiranto sebagai presiden adalah sikap politik
yang benar dan tindakan yang mulia, demi kepentingan Republik Indonesia, demi
bangsa dan generasi yang akan datang.
Paris, 22 Mei 2004
* * *
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

