--- In [EMAIL PROTECTED], wiwil wilson
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Kompas- Sabtu, 21 Agustus 2004  
  
 

Mencoba Memahami Soekarno sebagai "Dirinya Sendiri" 

Judul Buku: Soekarno Bapak Indonesia Merdeka; Sebuah
Biografi 1901-1945
Pengarang: Bob Hering
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun Terbit: 2003
Halaman: XXII + 496 (termasuk indeks) 

Judul Buku: Soekarno Foundings Father of Indonesia
1901-1945
Pengarang: Bob Hering
Penerbit: KITLV, Leiden
Tahun terbit: 2002
Halaman: 439 (termasuk glosarium dan indeks)

***

Seorang tokoh besar seperti Soekarno memang menjadi
bahan kajian yang tidak pernah habis dan membosankan.
Selalu ada unsur dan polemik baru yang lahir dari
tokoh ini di sepanjang karier politiknya.

Karya Bob Hering tentang Soekarno ini mencoba memahami
kembali Soekarno sebagai "Bapak Bangsa" dengan cara
melakukan rekonstruksi atas berbagai realitas yang
dialami Soekarno sendiri. Dengan begitu, ia mencoba
mengurangi "subyektivisme" dan stereotip atas Soekarno
sebagai sosok yang oleh Taufik Abdulah sering dianggap
sebagai sosok "eksotis dari Timur" oleh para peneliti
Barat. 

Edisi bahasa Indonesia karya Hering diterbitkan oleh
Hasta Mitra dengan kata pengantar dari Joesoef Isak.
Menurut Joesoef, banyak karya tentang Soekarno tidak
menggambarkan siapa itu Soekarno secara utuh,
"Obyeknya memang Soekarno, tetapi pertama-tama stempel
selera dan warna-politik penulis sendirilah yang dapat
kita detect, dapat langsung kita lihat belang
penulisnya" (hal viii). Dalam semangat ini Hering
mencoba melihat watak Soekarno menurut pengalaman
Soekarno sendiri. Dengan dukungan data yang sangat
detail, karya ini mengajak pembaca agar memahami
tentang Soekarno sebagai "dirinya sendiri". Seperti
dikatakan oleh Joesoef, "dia bebas dari kontaminasi
abstraksi-abstraksi kerekayasaan yang bermaksud
mematahkan dan menghitamkan Soekarno" (hal xxi).

Pesan penting dari buku ini adalah bahwa benang merah
paling penting dari sejarah politik Soekarno adalah
perjuangannya yang konsisten untuk mencapai Indonesia
merdeka. Untuk tujuan tersebut ia "melakukan berbagai
cara yang dimungkinkan" untuk terus membawa kapal
politik gerakan menuju satu tujuan bersama, Indonesia
merdeka. Oleh karena itu, pantas bila Soekarno
dijuluki "Bapak Indonesia Merdeka". Sebuah peran besar
yang tidak boleh "dikecilkan" oleh analisis akademis
dan penelitian tentang diri Soekarno, di balik segala
kontroversi yang mengiringinya.

Menyusuri ideologi Soekarno muda

"Masa pendidikan politik" Soekarno, menurut Hering,
dibentuk di dua kota berbeda, yang mengenalkannya pada
dua ideologi modern yaitu sosialisme dan nasionalisme.
Di kota Surabaya Soekarno mengaku pertama kali
mengenal Marxisme melalui Alimin ketika ia tinggal di
asrama. Di asrama ini ia juga mengenal Moeso, Semaun,
dan Darsono, orang- orang kiri yang kelak mendirikan
Partai Komunis Indonesia. Dari orang-orang sosialis
radikal ini Soekarno juga mulai mendengarkan berbagai
propaganda sosialis yang dilakukan oleh orang Eropa
seperti Baars, Reeser, dan Hartogh. Pengaruh kaum
sosialis ini sangat kuat pada analisis Soekarno
tentang imperialisme, kapitalisme, dan kolonialisme
sehingga kalaupun ia nanti menjadi seorang nasionalis,
ia menjadi seorang nasionalis yang cenderung
antikapitalisme.

Namun, dalam perkembangannya Soekarno tidak memilih
sosialisme radikal. Menurut Hering, ada dua orang yang
memengaruhi perubahan "sosialisme" Soekarno. Pengaruh
pertama datang dari tokoh karismatis Sarekat Islam,
Tjokroaminoto, yang mempunyai basis kuat di Surabaya
dan seorang penganjur "kapitalisme yang bermoral" dan
dasar religius bagi sosialisme. Tjokro "secara
berangsur memberikan tugas- tugas dan tanggung jawab
politik kepada Soekarno yang dengan senang
dilaksanakannya" (hal 104-105).

Pengaruh kedua datang dari Karl Kautsky melalui
karyanya Sozialismus und Kolonialpolitik Eine
Auseinandersetzung yang ia baca ringkasannya dalam Het
Vrije Woord di tahun 1919. Kaustsky membawa Soekarno
kepada pentingnya sebuah parlemen yang kuat daripada
sebuah kediktatoran proletariat. Seperti ditulis
Hering, "Hal ini memberikan pengaruh agak kuat pada
Soekarno yang telah lebih matang" (hal 107).

Kepindahan Soekarno ke Bandung pada bulan Juni 1921
untuk masuk ke Technische Hoogeschool membawa Soekarno
berkenalan dan menyerap nasionalisme radikal dari
Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Tjipto
tampaknya mendapatkan tempat khusus dalam diri
Soekarno. Menurut Hering, "Soekarno mengakui bahwa ia
mendapatkan pengaruh politik terbesar dari trio
pengurus IP (Indische Partij) kemudian SH/NIP (Sarekat
Hindia/Nationaal-Indische Partij)" (hal 128). Soekarno
menyebut Tjipto dengan "saudara Tjipto-mychief".
Kebetulan Tjipto dan Douwes Dekker tinggal tidak jauh
dari tempat tinggal Soekarno di Bandung. "Mereka itu
yang mempengaruhi pandangan politik radikal Soekarno
yang kian matang, terutama Tjipto yang sama-sama
priyayi" (hal 129). Selama di Bandung ini "Tjipto
terus-menerus mendorong Soekarno menjadi seorang
nasionalis yang meyakinkan" (hal 129).

Pergumulannya dengan sosialisme dan nasionalisme
radikal membuat Soekarno mencoba merumuskan "sebuah
ideologi nasional" yang akan ia gunakan hingga akhir
hayat, yaitu Marhaenisme. Nama ini didapat ketika ia
sedang berjalan di sebelah selatan Bandung dan bertemu
dengan seorang petani bernama Marhaen. Seorang petani
kecil, tani sieur, memiliki sepetak tanah dengan
peralatan kerja untuk bercocok tanam, sekadar bisa
bertahan hidup bersama keluarga. Konsep Marhaen ini
kemudian ia identikkan secara lebih luas dengan orang
yang miskin dan hidup kekurangan, seperti buruh
miskin, nelayan miskin, klerek miskin, pedagang
keliling miskin, tukang sado miskin, atau sopir
miskin. "Menurut Soekarno, mereka semua adalah
marhaen, dan marhaenisme adalah sosialisme Indonesia
dalam praktek" (hal 126). Dengan begitu, Soekarno muda
sudah menemukan suatu "ideologi nasional" yang
dianggap cocok dengan situasi rakyat negerinya. "Pada
waktu itu, ia memandang bahwa konsep marhaenisme lebih
cocok sebagai ideologi nasional daripada pengertian
kelas proletariat" (hal 126).

Soekarno mencoba mencari strategi realistis bahwa
tujuan ideologis atas nama Islam atau sosialisme
sebetulnya harus melewati sebuah proses yang sama,
yaitu Indonesia merdeka. Tujuan "mencapai kemerdekaan"
ini yang menurut Hering konsisten dilaksanakan oleh
Soekarno dengan taktik yang berbeda, nonkooperasi di
zaman rezim kolonial Belanda dan kooperasi di bawah
rezim fasis Jepang.

Pada tahun 1926 didirikan Comite Persatuan Indonesia
(CPI) di Bandung.

CPI mengeluarkan terbitan berkala bulanan yang bernama
Indonesia Moeda (IM). Dalam IM ini Soekarno
mengeluarkan formula politik "klasiknya" tentang
"Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme". Tulisan ini
dimuat tiga nomor berturut- turut. "Dengan begitu
Soekarno melakukan ajakan dan prakarsa dramatis kepada
tiga ideologi dominan yang menjiwai keberadaan dan
bertahannya organisasi-organisasi utama di Tanah Air"
(hal 136). Persatuan ini ditujukan pada satu muara,
yaitu "untuk melakukan perlawanan bersama terhadap
musuh bersama" (hal 136).

Perserikatan Nasional Indonesia dan represi

Pada bulan Juli 1926 Soekarno mengadakan sebuah
pertemuan dan mengambil kesepakatan tentang perlunya
mendirikan sebuah partai nasionalis baru yang "sama
sekali berlainan dengan PKI". Disepakati untuk
membentuk Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dengan
Soekarno sebagai ketua. Partai ini menolak taktik
kekerasan, tetapi memilih sikap nonkooperasi atas
penguasa kolonial. PNI juga mengambil taktik aksi
massa atau rapat umum untuk mendesakkan kebangkitan
kesadaran rakyat. Kelahiran PNI ini juga menjadi titik
awal rivalitas politik yang panjang antara Soekarno
dan Hatta dan Syahrir.

Kelahiran PNI ini telah membentuk "jiwa politik
Soekarno" untuk menjalin suatu "keterikatan emosional"
dengan "kerumunan massa" yang terpukau oleh orasinya.
Kehadirannya menjadi kunci dari mobilisasi politik
yang diikuti oleh ribuan orang di berbagai tempat di
Pulau Jawa. Rezim kolonial mulai khawatir dengan
perkembangan ini. Akibatnya, ruang gerak PNI mulai
dibatasi dengan berbagai pembatalan acara dan represi.
Bahkan, di Semarang pidato Soekarno dihentikan oleh
polisi ketika berbicara tentang kemerdekaan. Soekarno
mulai menjadi target utama polisi, intel rezim
kolonial. Bahkan polisi bertindak lebih jauh lagi
dengan melarang penggunaan kata "merdeka" dalam
pertemuan PNI dan pidato Soekarno. Bahkan beredar
desas-desus bahwa Soekarno sudah masuk dalam daftar
aktivis yang akan ditangkap dan dibuang.

Merespons isu tersebut Hatta sudah menyiapkan sebuah
perjalanan bagi Soekarno untuk tinggal sementara di
negeri Belanda. Namun, menurut Hering, selain motif
untuk menghindari represi atas PNI dan Soekarno, Hatta
tampaknya juga berambisi hendak mengambil alih
kepemimpinan politik. "Ketika PNI ditinggalkan
sendirian, maka Hatta akan mendapatkan peluang nyata
bagi peran dirinya sendiri" (hal 185). Dan langkah
selanjutnya adalah "mendapatkan kesempatan agar
kepemimpinan PNI jatuh ke tangan mereka yang kurang
flamboyan dan lebih berhati- hati yang kemudian lebih
menerima arahan dan gagasannya sendiri" (hal 185).
Anjuran ini ditolak oleh Soekarno, yang menurut
Hering, "Hatta tidak memahami suatu fakta penting
bahwa Soekarno mendapatkan kepuasan luar biasa dengan
menggunturkan protes dan klaimnya di depan kerumunan
besar massa rakyat pribumi yang mendengarkan
pidatonya" (hal 186).

Tanggal 29 Desember 1929 Soekarno ditangkap dengan
tuduhan akan adanya pemberontakan, "agar ada alasan
memukul PNI sekali dan untuk selamanya" (hal 203).
Selanjutnya, Soekarno ditahan di Penjara Bantjeuj.
Ketika Soekarno di penjara, rezim kolonial terus
melakukan represi atas PNI dengan melakukan
penggeledahan dan pelarangan berbagai kegiatan.
Akhirnya para pimpinan PNI membekukan organisasi ini
pada 11 November 1930.

Pengadilan atas Seokarno dilangsungkan sepanjang tahun
1930 dan ia dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Soekarno lalu ditahan di Penjara Soekamiskin di
Bandung bersama dua pemimpin PNI lainnya, Gatot dan
Maskoen. Proses persidangan Soekarno menjadi media
propaganda dan pendidikan politik yang menarik
perhatian luas, seperti dikatakan Hering, "Dengan
segala keterampilannya sebagai orator, ia menyampaikan
pembelaan maraton yang piawai, penuh dengan data resmi
tak terbantah dalam membeberkan pesannya dengan
istilah-istilah yang penuh tenaga" (hal 213-214).

Dipenjarakannya Soekarno tetap tidak dapat
menghasilkan "kepemimpinan politik baru". Hatta dan
Syahrir yang mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia
(PNI Baru) pada tahun 1932 gagal menggantikan peran
Soekarno dan PNI lamanya. Menurut Hering, akhirnya
Syahrir bersikap jauh lebih realistis atas Soekarno.
"Kami tak dapat menyingkirkan dia (Soekarno). Telah
beberapa tahun lamanya rakyat terpesona olehnya sampai
kini" (hal 237-238). Akibatnya, menurut Hering,
"secara mendasar mereka gagal untuk dapat melaksanakan
cetak biru pandangan Barat secara lengkap" (hal 240).

Bebasnya Soekarno pada Januari 1932 membuat Partindo
yang didirikan untuk menggantikan PNI dengan cepat
mendorong kembali radikalisme kaum pergerakan.
Cabangnya berkembang hingga 43 cabang dengan anggota
mencapai 20.000 anggota. Untuk memberikan panduan
politik, Soekarno menerbitkan pamflet Menuju Indonesia
Merdeka (MIM). Hering tidak melihat keluarnya pamflet
MIM sebagai reaksi dari pamflet Hatta yang keluar
sebelumnya dengan judul Ke arah Indonesia Merdeka
(KIM) seperti ditulis Mavis Rose dalam Biografi
Politik Mohammad Hatta (Jakarta, Gramedia 1991, hal
111).

Pada 31 Juli 1933 Soekarno kembali ditangkap karena
pamfletnya tersebut. Dalam proses interogasi inilah
dunia pergerakan kembali dibuat geger oleh Soekarno
dengan dipublikasikannya empat surat Soekarno yang
mengungkapkan penyesalan politiknya dan berjanji akan
keluar dari politik dan selanjutnya mengabdikan diri
sepenuhnya dalam kehidupan sebagai warga biasa sesuai
dengan kemampuan akademiknya.

Hering sendiri tampaknya mencoba keluar dari polemik
sensitif di sekitar surat ini dengan melihat konteks
mengapa bisa keluar surat semacam ini. Pertama, ia
menduga ada tekanan atas Soekarno selama diinterogasi
dan ditahan, "Kunci masalahnya mungkin sekali berada
di tangan Jongmans yang menekan Soekarno dengan
memaksanya menulis surat kepada Jaksa Agung" (hal
258). Kedua, ia hendak mengatakan bahwa Soekarno
adalah juga manusia biasa, apalagi saat itu ibunya
sedang sakit, "Di sini ia dalam keadaan pantas
dikasihani, memohon dirinya dibebaskan, serta menerima
usul yang bermaksud baik untuk memperbaiki jalan
hidupnya" (hal 258-259). Terakhir, rezim kolonial
melanggar kesepakatan yang telah dibuat untuk tidak
mengumumkan surat-surat tersebut. Rezim kolonial
tampaknya sadar, "Diterbitkannya surat itu akan
merupakan 'pernyataan kematian sosialnya yang pasti'
dan menyebabkan 'masyarakat Indonesia akan mengutuk
dan meludahi dirinya'" (hal 259).

Selanjutnya, Soekarno harus menjalani hukuman panjang
dalam "sewindu semadi dan refleksi" di Ende dan
Bengkulu. Dari pembuangannya di Bengkulu Soekarno
terus mengikuti perkembangan dunia dan mulai menulis
serangkaian artikel tentang bahaya fasisme, "Semangat
kita adalah semangat demokrasi, sedang semangat fasis
adalah tirani". Perkembangan ini disadari Soekarno
"akan mempunyai kaitan langsung atau tidak dengan
kepentingan Indonesia sendiri" (hal 295).

Pada 1941 Soekarno dibebaskan dan diminta untuk
membentuk Penolong Korban Perang. Seperti ditulis
Hering, "Bagi Soekarno ini merupakan pertanda bahwa
serangan Jepang sudah mendekat" (hal 301). Analisis
Soekarno itu terbukti benar. Bulan Maret 1942 tentara
fasis Jepang sudah behasil mengambil alih Hindia
Belanda dari rezim kolonial Belanda.

Zaman Jepang dan proklamasi kemerdekaan

Tidak banyak yang memahami bahwa taktik kolaborasi
dalam zaman pendudukan militer Jepang dilakukan
Soekarno dalam kerangka "mencari segala cara" untuk
membawa Indonesia merdeka. Tampaknya penulis ingin
membuktikan bahwa dalam ruang politik yang begitu
sempit, Soekarno berhasil memaksakan berbagai konsesi
politik kepada rezim Fasis Jepang. Dalam "penafsiran
seperti ini" Hering ingin menunjukan bahwa Soekarno
tidak berubah dengan cita-citanya, hanya taktiknya
yang berubah. Oleh karena itu, strategi Soekarno
tersebut tidak bisa disamakan dengan kolaborasi
terhadap naziisme atau fasisme di Eropa.

Pada bulan Juni 1942 Soekarno kembali ke Jawa dari
pembuangannya. Ia lalu terlibat dalam pertemuan
politik dengan Asmara Hadi, Hatta, dan Syahrir untuk
merespons situasi terbaru di bawah pendudukan militer
Jepang. "Mereka berempat merundingkan kesempatan kerja
sama dengan pihak Jepang dalam usaha untuk membangun
kembali gerakan" (hal 338). Dengan alasan strategis
itu Soekarno menerima penunjukannya untuk
berkolaborasi guna mengurangi dampak politik
penindasan pemerintah terhadap rakyat.

Dengan taktik itu Soekarno menerima tawaran Jenderal
Imamura, penguasa militer Jepang, untuk duduk sebagai
penasihat dalam Departemen Urusan Dalam Negeri. Posisi
ini memberikan "ruang dan kesempatan" kepada Soekarno
untuk kembali bicara di hadapan ribuan rakyat, "tempat
ia selalu mendapatkan ilham kekuatan" (hal 341),
setelah sembilan tahun diasingkan. Pada tanggal 8
Desember 1942 Soekarno mengumumkan berdirinya Pusat
Tenaga Rakyat (Putera).

Soekarno memanfaatkan Putera untuk melakukan berbagai
rapat umum di berbagai tempat dan mendesakkan berbagai
konsesi politik. Sebuah rapat umum Putera yang
dihadiri lebih dari 100.000 orang di Bandung akhirnya
membuat "Pemerintah Jepang memberikan sejumlah
konsesi" (hal 356) dengan "mengizinkan penduduk Jawa
melakukan partisipasi politik" (hal 356). Realisasi
perluasan partisipasi politik itu adalah dengan
pembentukan Chuo Sangiin (Dewan Penasihat Pusat), Shu
Sangikai di tingkat karesidenan dan Tokubetsushi
Sangikai khusus di Jakarta.

Dalam Chuo Sangiin Soekarno terus menuntut konsesi
politik yang lebih luas bahkan sudah berani menuntut
kemerdekaan dalam pidato pertama pembukaan dewan.
Menurut Hering, "Chuo Sangiin yang diketuai oleh
Soekarno telah berkembang ke arah lain daripada yang
dimaksudkan oleh pihak Jepang" (hal 359-360).

Kebutuhan akan mobilisasi perang membuat pihak Jepang
membentuk Pembela Tanah Air (Peta) yang diketuai oleh
tokoh PNI, Gatot Mangkoepradja. Namun, organisasi ini
berhasil digerakkan ke arah tujuan lain. Hering
menulis, "Kaum nasionalis Indonesia memandang Peta
berbeda karena tujuan berkelanjutan Soekarno, Hatta,
dan para pemimpin Putera lain yang terus menerus
mengindoktrinasi para anggota Peta dengan arah
pandangan pro Indonesia, hanya keluar terlihat pro
Jepang dan antisekutu" (hal 365).

Tanda-tanda Jepang mulai kelelahan dengan perang mulai
tampak dari janji PM Koiso untuk memberikan masa depan
kemerdekaan bagi Indonesia pada bulan Juli 1944. Pada
tanggal 1 Maret 1945 secara mengejutkan pemerintah
Jepang membentuk Badan Untuk Menyelidiki Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan yang dipimpin oleh Dr Radjiman.

Setelah Nazi takluk pada sekutu pada bulan Mei 1945,
Mayjen Yamamoto Moichiro secara mengejutkan mulai
berbicara tentang "membangun Indonesia merdeka". Badan
Untuk Menyelidiki Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
mengadakan sidang 1 Juni 1945 "untuk bersama-sama
mencari dasar filosofis bersama" (hal 401). Dalam
sidang ini Soekarno merumuskan konsepnya yang dikenal
sampai sekarang dengan Pancasila.

Pada tanggal 10 Agustus 1945 Syahrir menyebarkan kabar
peledakan bom atom di Jepang dan ultimatum sekutu agar
bala tentara Jepang menyerah. Ia menyebarkan kabar ini
kepada berbagai kelompok pemuda dan menemui Hatta
"untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia"
(hal 413).

Polemik yang muncul kemudian adalah, apakah proklamasi
dilakukan karena "penculikan" yang dilakukan oleh
kelompok yang didorong oleh "scenario mereka sendiri,
atau setidaknya scenario Syahrir" (hal 415) ataukah
memang karena inisiatif Soekarno-Hatta sendiri? Adam
Malik menganggap telah terjadi kesepakatan antara
pemuda dan keduanya setelah dipaksa. Hatta menganggap
kesepakatan itu cuma mitos belaka. Kenyataannya adalah
bahwa naskah proklamasi dikerjakan di Jalan Imam
Bonjol, di rumah Laksamana Maeda, di mana Hatta
berperan besar dalam menuliskan naskah proklamasi.
Pada jam 10 pagi di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan
56, "Soekarno dengan didampingi Hatta di depan ratusan
hadirin membacakan proklamasi" (hal 423). Berita ini
lalu disebarluaskan dengan menggunakan fasilitas
kantor berita Domei ke seluruh pelosok Indonesia dan
dunia.

Selanjutnya PPKI diubah menjadi Komite Nasional
Indonesia "untuk menghindarkan kesan sebagai bikinan
Jepang". Dan Soekarno menjadi presiden bersama
wakilnya Hatta dengan dewan penasihat sementara Komite
Nasional Indonesia Pusat. Pada tanggal 7 Oktober
Syahrir dan 40 orang anggota KNIP membuat petisi yang
menuntut kabinet bertanggung jawab pada legislatif
(KNIP), bukan pada presiden.

Petisi ini menunjukkan terbukanya kembali rivalitas
perebutan kepemimpinan politik di antara Syahrir-Hatta
versus Soekarno. Petisi tesebut adalah alat dari
Syahrir-Hatta untuk "memangkas peran politik
Soekarno". Kejadian ini adalah "kudeta diam-diam dalam
arti dilakukan dengan pintar, tenang dan damai" (hal
429). Dan Soekarno diletakan perannya tak lebih
sebagai "simbol".

Penutup

Buku ini adalah upaya seorang "peneliti Barat" yang
mencoba memahami Soekarno dari pengalaman dan fakta
yang mengitarinya. Upaya ini tampak dari kerja keras
penulis untuk menelusuri berbagai dokumen yang
mengikuti karier politik Soekarno muda secara detail.

Tentu saja subyektivisme "seorang pengagum Soekarno"
juga terasa, khususnya dalam perseteruan politik
Soekarno dengan Hatta dan Syahrir. Membaca karya
Hering, kita justru menjadi "realistis" bahwa
"dwi-tunggal Soekarno-Hatta" sebenarnya lebih tepat
sebuah mitos, bukan kenyataan.

Karya "akbar" ini menurut Bob Hering akan dilanjutkan
dengan penerbitan jilid II, yaitu masa perjalanan
politik Soekarno antara tahun 1945 hingga 1965. Kita
patut menunggunya karena rivalitas antara Hatta-
Sjahrir dan Soekarno akan mencapai puncaknya dengan
penangkapan Syahrir dan mundurnya Hatta sebagai
Wapres. Namun, rivalitas itu tampaknya hanya sekunder
karena munculnya rivalitas baru antara dua pendatang
politik baru yang sangat penting yaitu PKI dan
Angkatan Darat (baca: ABRI). Dua kekuatan politik yang
nantinya akan coba diimbangi oleh Soekarno dengan
menggunakan berbagai konsep "soekarno muda", yang
akhirnya gagal karena Angkatan Darat bergerak dengan
motif politik yang lain yaitu motif ideologis Perang
Dingin.

WILSON, Alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia,
Peneliti di Litbang Lembaga Kajian PRAXIS.
 

--- la_luta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> --- In [EMAIL PROTECTED], "Asvi Warman
> Adam" <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> Menurut saya, usaha yang dilakukan oleh Kerstin
> sangat serius
> 
> Pengantar untuk buku Kerstin Beise, "Apakah Soekarno
> Terlibat 
> peristiwa G30S ?", Yogyakarta,Ombak, bakal terbit
> Agustus 2004, 530 
> halaman.
> 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! 
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, 
gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang 
membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di 
[EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan 
kirim email kosong ke :
 [EMAIL PROTECTED] (langganan)
 
website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
 ( underconstructions) 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke