terimakasih atas perhatiannya, saya senang dengan pertanyaan "Apa 
saja sih yang di omongkan oleh Pak Dubes maupun Atdikbud dalam 
pertemuan tersebut?" Dan saya pun setuju bahwa KBRI adalah berupa 
instansi pemerintah yang mempunyai karakter pengabdiannya terhadap 
kepentingan pemerintah/penguasa. 

Dalam hal ini di periode paska "Soeharto", pengaruh ideologi 
Soehartoisme masih tetap mendominasi kehidupan masyarakat lingkungan 
KBRI. Ini sangat dirasakan pada pertemuan Sarasehan di Brussels yang 
mana Pak Dubesnya di bulan November mendatang akan menjalani masa 
pensiun. Biarpun kelihatannya beberapa dari para personel stafnya 
telah mengalami pergantian generasi yang terdiri dari kalangan 
generasi kelahiran tahun 1960 sampai 1967, mulai menunjukan 
sikap `kemandirian'nya.  Kalangan generasi inilah, yang menjabat 
pegawai staf di bidang politik dan budaya, yang kabarnya baru 
dijalaninya selama 4 bulan. Merekalah  yang berinisiatif untuk 
mengadakan Sarasehan dengan mengundang antara lain dari pembicaranya 
berasal dari luar jaringan pemerintah/penguasa.

Pertemuan di KBRI-Brussel menjadi  kontroversial, yang mana Pak 
Dubesnya yang bernama Sulaiman juga merangkap sebagai moderator. Pak 
Dubes sangat menentang dan menolak pandangan bahwa budaya kekerasan 
dan budaya kkn telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan warga negara 
Indonesia sampai sa�t ini, dengan mengatakan bahwa "Indonesia tidak 
punya budaya KEKERASAN atau KKN, dan RUU-TNI adalah berfungsi 
sebagai penempatan re-posisi Militer yang mendukung sistim kerja 
yang lebih profesional guna menghadapi tantangan persoalan dalam 
negeri". Pernyataan tersebut memancing perdebatan antara pro dan 
kontra dalam publik yang hadir sekitar 60 orang itu. Menurut 
informasi bahwa mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani S2/S3 di 
Belgia sebanyak kurang lebih ada 40 orang.

Sedangkan pertemuan di Maastricht, Pak Dubesnya bernama Moch.Yusuf 
dan seorang dari atase Pendidikan&Kebudayaan bernama M.Muhadjir 
hadir sebagai pendukung inisiator ataupun sebagai fasilisator 
program agenda pilihan PPI-Maastricht, yaitu Rekonsiliasi untuk 
pelurusan sejarah. Mereka menjajikan untuk juga siap membantu biaya 
logistik yang dibutuhkan. 

Dalam uraian pengantarnya,  Pak Ambasador menerangkan bahwa "Sistim 
pemerintahan selama 32 tahun itu menjadikan kehidupan bernegara 
bagaikan hidup dalam penjara besar, yang mana sejak  tahun 1965 
Indonesia mengalami stagnasi, kekerasan dan penghisapan. Buku "Hadis 
Soeharto" yang berisi cerita peran sang Raja yang membunuh 
rakyatnya sendiri dijadikan lejitim untuk mempertahankan kekuasaan 
serta pengakuannya sebagai pahlawan Kemerdekaan Indonesia, melalui 
cerita Janur Kuning membuat kita jadi "sakit perut". Jadi sudah 
sepantasnya Soeharto digiring ke pengadilan International 
Gerechtshof. " Demikian kata Ambasador kita yang di Den Haag.

Dia pun mengatakan bahwa"Sehubungan dengan inisiatif kegiatan PPI � 
Maastricht ini sebaiknya bisa di dokumentasikan menjadi sebuah buku, 
yang mana ini nantinya akan berguna sebagai pegangan dasar 
pengetahuan sejarah kehidupan bernegara buat anak-cucu kita di masa 
mendatang. Karena kita pun mengharapkan untuk tidak mengulangi 
kesalahan sejarah yang sama. Setiap kali ada pertemuan seperti ini 
saya pun akan usahakan untuk selalu hadir, karena ini pun juga 
berguna buat saya dan kita masing-masing untuk saling bertukar 
pengalaman, mengerti dan memahaminya atas pengalaman kita masing-
masing. Hanya dengan fase inilah kita bisa memulai, yang 
dimungkinkan bisa dilihat juga sebagai pertemuan dalam bentuk 
seperti "terapi". Karena menurut saya, kalau kita ingin merubah 
sesuatu kehidupan masyarakat yang lebih baik, sebaiknya kita memulai 
dari diri sendiri, lalu diri masing-masing kepada lingkungan 
keluarga dan berkembang pada lingkungan sekitar kita dst."

Beliau pun mengatakan bahwa "mungkin inisiatif tersebut memang telah 
dianggap terlambat tapi tetap perlu untuk adanya pelurusan sejarah 
yang fungsinya sebagai counter sejarah yang selama ini telah 
dianggap banyak mempunyai nilai mitos, seperti cerita Janur kuning 
dan mengagungkan kejayaan Nasionalisme yang dibangun sejak masa 
Majapahit sampai Sriwijaya. Sebenarnya nilai persatuan dan kesatuan 
bangsa untuk kemerdekaan dari penjajahan, adalah menurut saya 
berawal pada sumpah pemuda di tahun 1928, ketika itu dimulai dengan 
Jong Ambon, Jong Java dll. Dan setelah kemerdekaan Indonesia tahun 
1945 di proklamasikan, bangsa Indonesia pun masih dihadapi oleh 
perjanjian Renville yang sebenarnya sangat banyak pula merugikan 
bangsa kita. Tapi ini pun terpaksa di lakukan lantaran ada elemen-
elemen luar yang menekan keinginan kedaulatan kemerdekaan 
Indonesia.   Belum lagi, selama 32 tahun ini kita telah dijajah oleh 
bangsa dewe. Untuk itu kita secara bersama tetap masih punya beban 
tanggung untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita dari 
penghisapan.

Nah.., begitulah hasil catatan kecil dari Maastricht dan Brussel. 
Mohon ma�f bilamana catatan kecil ini masih belum dianggap 
Obyectif.  

La Luta Continua!


--- In [EMAIL PROTECTED], Roni wijaya 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya  mau tanya, Dubes RI di Kerajaan Belanda dan
Atase Kebudayaan ngomong apa saja dalam pertemuan itu.
  Apakah mereka berdua masih menjunjung tinggi
ideologi Soehartoisme, biar situasi telah berubah 
birokrat - birokrat tulen itu pikirannya masih sering
mengunggulkan keadaan (khususnya kenyamanan sebagai
birokrat yang disembah - sembah rakyat) semasa
Jenderal Soeharto. 
Deparlu, tempat M. Yusuf bernaung, rajin mengadakan
pembersihan, selalu curiga, selalu propaganda 
terhadap segala sesuatu yang berbau musuh Soeharto.
Dep. P dan K, tempat atase Kebudayaan Muhajir
bernaung, rajin benar membersihkan pegawai -
pegawainya, guru - guru yang terkait dengan PGRI Non
Vak Central semasa Jenderal Soeharto  bersimaharaja
lela. Malahan pekerjaan biadab itu dipakai sebagai
proyek dan hobi yang menyenangkan dari para
petingginya.


Roni Wijaya


--- la_luta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> --- In [EMAIL PROTECTED], heri
> latief
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Date:  Mon, 23 Aug 2004 01:42:07 -0700 (PDT)
> From:  "Ahmad Daryanto" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Sketsa: Diskusi informal lintas generasi
> Maastricht 2004
> 
> 
> 
> Salam PPI,
> 
> Untuk yg kedua kalinya dengan selang waktu satu
> bulan,
> diskusi lintas generasi yang diadakan PPI Maastricht
> terlaksana dengan hasil yang memuaskan dan
> menjanjikan
> suatu lembaran baru dalam penyelesaian masalah
> rekonsiliasi secara politik dan kultural untuk
> membetulkan stigma-stigma yang telah salah selama
> ini
> terhadap "Mahasiswa yang terhalang pulang akibat
> peristiwa G 30 S" . Acara ini juga sukses mencairkan
> kebekuan yang ada selama ini dengan pihak pemerintah
> yang dalam hal ini dibaca: KBRI. 
> 
> Kaum terhalang pulang adalah dulunya mahasiswa
> seperti
> kita-kita ini. Tetapi malangnya mereka dulu adalah
> mahasiswa yang hidup dalam pergolakan politik yang
> diciptakan oleh pemerintahan dengan gaya fasis yang
> dipimpin oleh Soeharto. Mereka dulunya dikirim
> sebagai
> Duta AMPERA (AMANAT PENDERITAAN RAKYAT) oleh
> presiden
> Bung Karno untuk membangun Indonesia. Karena arah
> politik waktu itu adalah ke timur, mereka dikirim
> bukannya ke Berkeley,MIT, Stanford, dll seperti
> dambaan sebagian mahasiswa sekarang, atau ke 'beste
> universiteit'di Belanda sini, tetapi ke Leningrad,
> Moscow, Hungaria, Jerman Timur. 
> 
> Ketika pecah G 30 S, kewarganegaraan mereka dicabut,
> karna tidak mau menandatangi pernyataan mengutuk
> Soekarno. Salah satu bunyi surat dari KBRI Moscow
> saat
> itu lebih kurang berbunyi: Karena tidak loyal kepada
> pemerintah RI nama-nama dibawah ini paspornya
> dicabut,
> dan dimohon kepada masyarakat untuk tidak memberikan
> dukungan moril dan materiil kepada mereka. 
> 
> Cobalah renungkan apa perasaan kita seandainya ada
> nama kita dalam surat itu.
> 
> Acara kemaren dihadiri oleh dubes RI untuk kerajaan
> Belada Moh. Yusuf,atase kebudayaan Muhajir. Selain
> itu
> yang hadir adalah para anggota PPI Maastricht
> sendiri,
> masyarakat Maastricht, sekjen MPA PPI Belanda,PPI
> Leiden, PPI Aachen, Darmstadt; 
> 
> Salam hormat dan salut saya buat para kaum terhalang
> pulang dengan semangat mereka yang masih berapi-api.
> Patut dicatat disini, salah seorang dari mereka
> adalah
> Pak Cipto (mantan dosen filsafat) yang tahun ini
> berumur 80 tahun, dan masih segar bugar untuk datang
> dari Amsterdam ke Maastricht.
> 
> Banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari
> beliau-beliau ini. Kepahitan dan kegetiran hidup
> mereka adalah bercak hitam dalam sejarah Indonesia.
> Mereka adalah 'living proofs' terhadap pengingkaran
> akan sebaris kata yang tercantum dalam pembukaan UUD
> 45 yang selama masa orde baru, tiap hari senin,
> dibaca
> dalam upacara bendera- disetiap instansi pemerintah,
> di setiap lembaga, di setiap sekolah mulai dari
> tingkat SD sampai universitas, disetiap upacara
> kenegaraan.
> 
> Kalimat diawal pembukaan UUD 45 yang diingkari itu
> adalah: "Kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa.
> Dan
> oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus
> dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan
> dan prikeadilan.." 
> 
> 
> Pelajaran bagi kita sebagai generasi penerus untuk
> tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita tengok
> masa
> lalu, sebagai upaya meluruskan sejarah; Untuk kita
> pertanggungjawabkan di depan Tuhan nantinya. Kita
> akui
> pendahulu kita pernah melakukan dosa, dan kita pun
> sebagai generasi penerus pun ikut berdosa karna
> lalai
> dan malas memperbaiki keadaan. 
> 
> Diskusi Budaya Lintas Generasi II Maastricht,
> kemaren
> sudah usai. Semoga upaya yang mulia ini diridhai
> oleh
> Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan semoga kita semua
> tergolong
> kepada kaum yang selalu ikhlas dalam  berjuang,
> masih
> mempunyai rasa malu dan jauh dari sifat-sifat yang
> merendahkan martabat manusia.
> 
> Salam PPI
> Ahmad Daryanto
> Ketua PPI Maastricht.
> 
> 
>       
>               
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
> http://promotions.yahoo.com/new_mail
> --- End forwarded message ---
> 
> 
> 



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
--- End forwarded message ---





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! 
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, 
gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang 
membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di 
[EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan 
kirim email kosong ke :
 [EMAIL PROTECTED] (langganan)
 
website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
 ( underconstructions) 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke