screenDocs! Sex, Youth, and Videotape merupakan pemutaran film dokumenter yang diproduksi oleh para remaja usia 15-18 tahun setelah mengikuti workshop Audio Visual �Kesehatan Reproduksi dari Perspektif Remaja� yang diselenggarakan oleh YLKI, Agustus lalu. Remaja-remaja yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter ini berasal dari SMU 13, SMU 78, SMU PERCIK, SMU 90, SMU YP IPPI, SMKN 45, SMU 31 dan Yayasan KAKI. Dipastikan karya-karya mereka tidak kalah dari para seniornya yang telah bergelut lama di bidang film dokumenter. Datang dan saksikan karya mereka pada:
16 Oktober 2004/ 14.30 �17.30 wib. Di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat. Selain itu, akan ada diskusi dengan para film maker remaja tadi bersama Indah Sukmaningsih (YLKI), dimoderatori oleh Abduh Azis (produser film dokumenter). Diskusi ini akan mengangkat tema seputar peran media film/ video dalam melakukan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Kris-screenDocs!Jkt 2004 NB: Sinopsis film. Film 1 : Hak Informasi Kesehatan Reproduksi bagi Remaja (Durasi 7min) Informasi mengenai kesehatan reproduksi (seksualitas) masih dianggap tabu oleh berbagai kalangan. Alhasil banyak remaja yang bingung ketika mengalami permasalahan seksualitas untuk pertama kalinya. Potret pengalaman remaja menghadapi menstruasi, perubahan hormon, onani dan masalah seks lainnya, coba diungkap dalam film ini. Termasuk juga pendapat para pakar dan orangtua mengenai hak informasi kesehatan reproduksi sedini mungkin. Film 2 : Sorot Sani�ah (Durasi 9 min) Saniah adalah sosok remaja putri yang biasa hidup mengamen di jalan. Di balik tampangnya yang lugu, ternyata Saniah mengalami permasalahan kesehatan reproduksi yang cukup serius. Saniah menikah pada usia yang amat muda (13 thn) dan dimalam pertama mengalami pendarahan yang cukup parah; sampai pingsan. Sayang, pengetahuan, informasi dan kesadaran yang kurang memadai mengenai masalah ini membuat Saniah cuek. Apalagi pelayanan kesehatan yang cenderung �menghakimi� remaja jalanan yang mengalami permasalahan seks membuat remaja jalanan juga enggan untuk terbuka mengenai penyakitnya. Film 3 : Yani dan Sarman (Durasi 10 min) Yani, remaja putri cantik yang menikah pada usia 11 tahun dengan Sarman. Menurut mereka, pernikahan dini ini merupakan hal yang wajar, sesuai dengan tradisi daerahnya. Pasangan ini berjuang hidup di Jakarta, mengandalkan pendapatan Sarman sebagai pemulung. Pengalaman pernikahan pasangan muda ini, termasuk mengenai alat kontrasepsi, lika-liku kehamilan dan pandangan mengenai kesehatan reproduksi lainnya terungkap dari penuturan Yani dan Sarman yang lugu. �

