Renungan Idul Adha ala Vincent Liong untuk Anda
Selamat Hari Raya Idul Adha Kepada yang beragama Islam maupun Non Islam Kepada yang Merayakannya maupun yang Tidak Merayakannya Kepada yang Menubuatkannya maupun yang Tidak Menubuatkannya Semoga Idul Adha menjadi pengalaman Iman berkesan di mata anda. �Allah hu akhbar Allah hu akhbar Allah hu akhbar Laillahaillah huallah hu akhbar Allah huakhbar walillah hilhamd� ;Suara itu terus terdengar sepanjang malam hingga pagi keesokan harinya. Kemarin malam; Kamis, 20 Januari 2005 sekitar jam 12.45 WIB, saya pergi wudhu di toilet . Memang setiap Kamis (Malam Jumat) saya lakon mulai jam sepuluh malam sampai jam dua pagi. Duduk bersama teman-teman yang selalu sama, yang selalu bertemu muka setiap hari Kamis termasuk co-partner saya Leonardo Rimba si peramal Tarot. Ngobrol-ngobrol soal politik dari jam sepuluh malam sampai jam duabelas. Lalu kami menenangkan diri, duduk diam �seumur hio terbakar� (+/- 45 Menit). Lalu pada tepat jam dua pagi kami berangkat ke rumah masing-masing. Lakon saya agak berbeda dengan teman-teman kebanyakan. Teman-teman langsung pulang ke rumah dan tidur karena paginya pergi kerja; Tetapi saya, setiap Jumat Subuh sepulang dari lakon semalam suntuk saya pergi belanja ke pasar tradisional Kebayoran Lama seperti kebanyakan tukang sayur keliling melakukannya di jam yang sama. Pasar yang cukup luas terhampar dari seberang rel kereta api hingga dekat Binus. Malam kemarin; pasar sepi. Banyak pedagang yang biasanya berdagang non stop 24 jam, makan dan tidur di sana(yang sering kali terpaksa saya bangunkan saat ingin membeli dagangan mereka), Kemarin Malam tidak tampak berdagang. Harga beberapa jenis sayuran yang langka melambung tinggi karena ladangnya kebanjiran, sebagian lagi sama sekali tidak tampak. Tetapi jenis sayuran yang masih mudah didapat tetap murah seperti biasa, kadang-kadang malah tanpa perlu bicara harga. Saya masih mendapat perlakukan sangat baik meski saat itu saya berpakaian ala kantor, berbeda dari kebanyakan orang yang pergi ke pasar, apalagi sekitar jam tiga pagi seperti saat itu. Mungkin karena sering belanja ke sana, belanja sendirian di pasar yang besar di saat tidak ada pembeli datang kecuali saya membuat saya mudah diingat. Malam Kemarin masih ada pedangang yang berbasa-basi;�Belanja sendiri mas?� Di keheningan malam saat sebagian pedangang tidur di tempat mereka berdagang, kuli penarik gerobak tidur di gerobaknya, saya berjalan dengan santai tanpa perasaan tidak aman (karena sampai hari ini saya aman-aman saja) di gang-gang pasar yang becek karena tidak disemen. Tiba-tiba saya dengar samara-samar suara itu berbisik;�Awas mas�� Pikir saya dalam hati;:Seseorang di tengah keheningan ini masih sempat memperingatkan saya soal jalan setapak yang becek dan licin.� Saya menganggukkan kepala secara spontan dan mengucapkan terimakasih. Tetapi ketika saya melihat ke kanan dan ke kiri, tidak tampak ada orang yang memperhatikan saya, semua tampak cuek sehingga saya jadi malu sendiri. Sering kali Yang Maha Esa mengingatkan iman kita dengan caranya sendiri. Menumbuhkan kepasrahan kita sebagai makhluk yang ditakdirkan hanya bisa meminta dan menerima ; berbicara dan mendengar dari Nya itu. ---------- Hmm. Saya juga jadi ingin cerita soal sebuah pengalaman iman saya. Sebuah pertanyaan yang datang pada saya pada hari Selasa, 11 Januari 2005 jam dua belas, siang hari. Saya mendengar Ia berkata; �Vincent, Apakah yang akan kau lakukan bila malam ini atau besok malam kau akan meninggal dunia?� Sesaat setelah mendengarnya saya berpikir;�Jelas saya tidak akan bunuh diri bahkan jika disuruh mati. Ngapain saya pusing-pusing berpikir mencari tahu apakah itu benar yang Maha Esa atau itu mereka yang lain yang hanya berpura-pura menjadi Yang Maha Esa di hadapan saya. Jika Yang Maha Esa memerintahkan saya untuk mati, ia tidak perlu meminta saya untuk mati bunuh diri. Ia yang bisa dengan gampang menghidupkan saya dan begitu banyak makhluk di dunia; akan dengan sama gampangnya mencabut nyawa saya, jauh lebih gampang dibanding saya yang melakukannya pada diri saya sendiri. Jikalau ada yang berpura-pura sebagai Yang Maha Esa berharap dengan memberi saya pertanyaan atau bahkan bertindak supaya saya mati, tentu Dia yang menghidupkan saya akan menjaga saya agar tetap hidup selama saya tidak sok tahu dengan melakukan bunuh diri. Saya mencoba berpikir rasional dan positif, mengapa tidak saya mencoba mencari jawaban untuk menjawab, toh suatu hari nanti di masa depan saya harus mencari jawaban itu sesaat sebelum saya meninggal kelak. Sesuatu yang bisa dipikirkan dan dikerjakan sekarang mengapa harus ditunda, toh saya tidak rugi;�Apakah yang akan saya lakukan bila malam ini atau besok malam saya akan meninggal dunia?� Tiba-tiba bunyi Handphone menyadarkan saya dari bengong yang diam. Telephone dari teman saya Kotaro Hamada seorang sahabat beragama Katolik dan berkewarganegaraan Jepang. Kotaro mengajak saya untuk menemaninya jalan-jalan ke E-x Plaza Indonesia. Saya tidak mengatakan kepada Kotaro perihal pertanyaan yang datang kepada saya siang itu, tetapi kotaro tahu bahwa hari itu saya banyak bengong. Entah dari mana ia mendapat ide untuk bercerita kepada saya soal sahabatnya yang orang Arab mengajarinya sebuah kalimat dalam bahasa Arab untik dizikirkan dalam menjalankan hidup sehari-hari; �Robbhana atina fidunia hasanah wafil ahiroti hasanah wakina adzabanaar.� ;Kotaro adalah seorang yang berpikir positif bahwa meskipun agamanya Katolik, sesuatu kalimat yang artinya baik tentu baik, meskipun bahasa Arab hampir selalu dimaknakan bahwa pasti sesuatu yang harus Islam dan diucapkan Muslim saja, tetap tidak ada salahnya dizikirkan. Saya menjadi semakin pasrah saat itu, maka saya putuskan untuk menghabiskan uang saya yang ada di dompet hari itu untuk jalan-jalan, makan-makan, nonton 21 kelas Premier yang tiketnya paling mahal, kami BDD(Bayar Dewe-Dewe) hingga uang kami habis. Saya kira itu jawaban yang harus saya berikan kepada siapapun yang menanyakan kepada saya tentang apa yang kira-kira akan saya lakukan bilamana dalam waktu sehari atau hanya beberapa jam saya akan meninggal. Mengagumi hidup, menikmati hidup dan berbahagia karena diberi kesempatan hidup. Saya tidak merasa sedih, saya senang. Saya diberi kesempatan untuk merasa lebih menghargai hidup karena hidup adalah sebuah pemberian yang harus disyukuri. Malam sebelum tidur saya menulis surat wasiat kepada sahabat dekat saya perihal apa yang harus dilakukan orang di sekitar saya untuk saya bilamana saya meninggal. Saya juga mengirimkan SMS kepada sahabat-sahabat saya yang saya anggap cukup mengerti bidang spiritual atau dapat berpikir secara positif atas apa yang saya katakan dalam SMS tersebut. SMS tersebut berbunyi; �To:all . Saya mau pamit; ada kemungkinan; saya pulang nga balik lagi, saya dipanggilhanya beberapa jam disempurnakan lalu idup lagi dgn beberapa sifat beda untuk bisa menghadapi yg ada lebih baik, saya tdk pergi hari ini tetapi dlm minggu ini.. Reaksi di tubuh saya & pesan pribadi sudah terasa seminggu. Saya merasa plong sekali atas panggilan ini, saya malah udah makan2 merayakannya hari ini, saya bahagia.. Thx semuanya. Doakan saya untk yg terbaik, jika pergi tdk kembali ikhlaskan. Setelah membaca SMS pacar saya minta ketemuan malam itu. Maka jam 00 saya berangkat naik Taxi BlueBird yang saya order via telepon dari rumah saya. Di Taxi saya ngobrol dengan supir taxi dan membantu memintakan untuknya ilmu untuk dipakai saat sembahyang (dasar saya ini manusia dengar gossip mau dipanggil besok baru mikir beramal). Saya menjemput pacar saya di kosnya di daerah Matraman. Saya bilang kepada si supir Taxi untuk tidak membicarakan soal ilmu yang saya berikan jika pacar saya sudah masuk Taxi, berhubung pacar saya (yang sejak awal sudah tahu bahwa saya seorang praktisi) adalah jemaat di gereja Bethani yang ajarannya untuk anti pada manusia-manusia dengan kemampuan semacam saya. Saya dan pacar saya turun dari taxi di daerah Sarinah. Kami ngopi di Mc Caf� yang buka 24 jam non stop. Sebagian diri saya sudah tidak ada di badan, tetapi saya coba untuk berdoa meminta penundaan hari �H� untuk saya karena saya ingin menyenangkan pacar saya mungkin untuk terakhir kali (jikalau saya dipanggil untuk tidak kembali) Saya perlahan-lahan kembali merasa di dalam badan saya. Ngobrol secara lancar dengan pacar saya hingga jam tiga pagi, lalu berdua dengannya naik Taxi pulang ke rumah saya. Ia menemani saya semalaman di kamar hingga pagi. Pacar saya memesan Taxi untuk jam delapan pagi karena harus sudah dikantor jam sembilan-nya untuk siaran pagi tanpa istirahat tidur semalaman, maklum pacar saya penyiar berita. Memang malam keesokan harinya saya mendapat mimpi yang panjang sekali. Jika biasanya saya bermimpi hanya beberapa saat sebelum bangun dan rasanya cukup panjang, malam itu rasanya sejak saya baru mulai tidur sampai bangun mimpi itu terus berjalan. Seperti sebuah perjalanan hidup di dalam mimpi hanya semalam. Saya tidak ingat apa yang terjadi di sana, tetapi saya merasa ada yang berubah di saya. Ternyata sampai hari ini saya belum pergi untuk tidak kembali, sehingga sempat-sempatnya menulis tulisan ini. Dasarnya manusia memang hanya meminta untuk diberi. Berbicara untuk mendengar. Kita bisa meminta dengan doa dan selama itu cukup rasional akan diberi asalkan kita tidak sok tahu dan bekerja keras untuk memperolehnya� Ora Et Labora; berdoa dan bekerja pada hakekatnya ada bersama-sama. ---------- Tulisan ini ditujukan untuk menghidupkan kembali makna Idul Adha yang sesungguhnya. Bukan hanya untuk yang beragama Islam saja. Bukan soal berapa banyak jumlah hewan kurban yang dipotong, disumbangkan untuk dibagikan. Tetapi lebih pada sebuah memori akan Keyakinan dan Iman yang terlupakan diantara, pesan sosial dalam pembangian hewan kurban. Apakah anda mampu untuk berpikir pasrah pada apa yang digariskan Yang Maha Kuasa; Insya Allah anda berjalan menuju pencerahan itu. Saya tidak mengatakan memberi anda pencerahan dengan tulisan ini karena proses perjalanan menuju pencerahan baru mencapai garis finish ketika sudah mati. Vincent Liong Jakarta, 21 Januari 2005 Pk:06.00 WIB (GMT+7) ---------- LAMPIRAN Lampiran di bawah ini saya saya sengaja kutipkan khususnya untuk yang beragama Nasrani (Kristen, Katolik, Protestan) untuk sebagai sambungan lintas agama pada pesan-pesan Iman yang ingin disampaikan dengan diadakannya memori; hari Idul Adha ini. Anda yang beragama muslim saya harap juga menyempatkan waktu dan berpikir positif untuk membacanya. Nga ada salahnya khan meski nama agama yang dicantumkan oleh yang berkepentingan beda, toh pesan filosofis yang ingin disampaikan melalui ayat-ayat yang sengaja saya kutip di bawah ini maksutnya baik adanya. Ayat-ayat yang saya pilih untuk saya kutip yang memiliki pesan-pesan mendekati dengan makna Idul Adha diantaranya: Kejadian 22:1-19 ; Kepercayaan Abraham diuji Lukas 18:15-17 ; Yesus memberkati anak-anak Lukas 11:1-13 ; Hal berdoa Selamat membaca,, Vincent Liong ++++++++ Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."[1] Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."[2] Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.[3] Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandang nya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.[4] Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."[5] Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.[6] Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"[7] Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.[8] Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.[9] Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.[10] Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."[11] Lalu la berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."[12] Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.[13] Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."[14] Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,[15] kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri - demikianlah firman TUHAN -: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,[16] maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.[17] Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."[18] Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.[19] (dikutip dari Kejadian 22:1-19 ; Kepercayaan Abraham diuji) Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. [15] Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.[16] Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."[17] (dikutip dari Lukas 18:15-17 ; Yesus memberkati anak-anak) Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohannes kepada murid-muridnya."[1] Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.[2] Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya[3] dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."[4] Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,[5] sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;[6] masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.[7] Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.[8] Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.[9] Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.[10] Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?[11] Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?[12] Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."[13] (dikutip dari Lukas 11:1-13 ; Hal berdoa) ---------- Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan ! Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan ******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [email protected] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] (langganan) website http://www.geocities.com/jaker_pusat ( underconstructions) Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jaker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

