--- In [EMAIL PROTECTED], "i.bramijn" <[EMAIL PROTECTED]...> wrote:
IBRAHIM ISA dari BIJLMER
------------------------
12 Januari 2005.
IBRAHIM ISA dari BIJLMER
------------------------
12 Januari 2005.
Menyongsong Terbitnya: "DAS KAPITAL", Edisi Bahasa Indonesia <HASTA MAITRA>(2)
Tulisan ini adalah sambungan dari artikel yang saya tulis kemarin, berjudul, "BREAKING NEWS - 'DAS KAPITAL'?- YA, "DAS KAPITAL" TERBIT di JAKARTA - (1). Menurut berita dari Jakarta, peluncuran "KAPITAL", Edisi Bahasa Indonesia, akan berlangsung pada tanggal 2 Februari 2005, di gedung Perpestakaan Nawsional, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dalam diskusi berkenaan dengan peluncuran buku tsb, akan tampil Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Ke-4 Republik Indonesia dan pimpinan NU, sebagai pembicara utama.
Mengapa dirasakan perlu untuk memberikan perhatian khusus terhadap peristiwa peluncuran buku Karl Marx tsb?
Pertama, karena buku ini, adalah buku hasil studi ilmiah, yang berusaha menjelaskan tentang ekonomi/masyarakat kapitalis pada zamannya. Dewasa ini masyarakat yang berdominasi di dunia, adalah masyarakat kapitalis, masyarakat yang bergerak menurut gerak kapitalisme. Termasuk masyrakat dan ekonomi Indonesia. Yang dianalisa Marx adalah masyrakat dan ekonomi kapitalis pada zamannya, dan yang sebelumnya. Sesudah Marx kapitalisme mengalami perkembangan hingga dewasa ini. Dengan sendirinya diperlukan studi tersendiri lagi bagaimana dan sampai dimana perkembangan ekonomi kapitalis dewasa ini, khususnya tentang globalisme, dsb. Dengan menstudi karya klasik Marx tsb, paling tidak ada daaar untuk membandingkan pelbagai analisis dan studi terhadap masyrakat dan ekonomi kapitalisme.
Kedua, buku "KAPITAL", karya Marx ini, adalah edisi bahasa Indonesia yang pertama. Dengan demikian pembaca yang kurang begitu menguasai bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya, memperoleh syarat untuk membaca dan mempeljarinya sendiri. Jadi, bila bicara tentang Marxisme, tentang teori Marxis, punya dasar untuk memberikan pendapat, bahkan peniliaiannya terhadap teori ekonomi Marxis, yang aslinya, yang klasik. Bisa memikirkannya sendiri, tidak melalui penafsiran penulis-penulis ekonomi orang atau akhli lain, yang tidak jarang, adalah penentang teori ekonomi Marx tsb. Dan tidak jarang pula penafsirannya sudah lain samasekali dari maksud penulisnya. Jadi ada pemelintiran terhadap teori ekonomi Marx. Dengan membaca dan memepelajarinya sendiri, ada syarat untuk memberikan penilaian yang lebih independen.
Ketiga, karena teori ekonomi Marxis yang tertuang dalam karya Marx, "KAPITAL", adalah bagian penting, kalau tidak salah satu unsur yang fundamental dari Marxisme. Di Indonesia ada suatu keputusan: TAP-MPRS No.XXV/1966, yang melarang Marxisme dan penyebarannya. Dengan terbitnya karya Marx ini, teori Marxisme ini, pasti akan ada gugatan: Bagaimana ini? Bukankah penerbitan buku ini bertentangan dengan TAP-MPRS No.XXV/1966? Bagaimana sikap pemerintah? Bagaimana sikap Kejaksaan Agung. Bagaimana saling hubungannya dengan hak-hak azasi manusia, yang menjamin kebebasan berfikir, kebebasan berpendapat, kebebasan menulis dan kebeasan menyiarkannya? Dalam proses perkembangannya, HAM telah formal menjadi bagian yang tak terpisahkan dari UUD RI.
Situasi ini merupakan tantangan terhadap pemerintah, kongkritnya terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah SBY akan bersikap jantan, menghadapi kenyataan ini dan mengakui secara terang-terangan bahwa TAP-MPRS No XXV/1966 itu bertentangan dengan UUD-RI, bertentangan dengan hak-hak demokrasi dan HAM? Ataukah bersikap "banci", semacam "didiamkan saja". Dengan alasan, tokh sudah banyak buku-buku Marxis atau tentang Karl Marx, pencipta teori Marxisme, yang terbit di Indonesia sejak jatuhnya Suharto. Buku-buku tsb sampai sekarang bebas beredar dan dicetak ulang. Yang paling baik bagi pemerintah SBY, bagi Kehjaksaan Agung, ialah mengakui bahwa TAP-MPRS No XXV/1966 bertentangan dengan UUD RI bertangan dengan HAM, maka sudah waktunya secara formal pula dibatalkan. Seperti pernah diusulkan oleh Gus Dur.
Untuk sedikit berkenalan dengan karya Karl Marx, DAS KAPITAL, akan dikutipkan disini Bab I, Barang Dagangan, sbb:
Bagian I, Barangdagangan dan Uang
Karl Marx
CAPITAL Jilid I, Encyclopedia Britanica, Inc., London, 1952
Terjemahan ini diedit berdasarkan acuan dari: Capital, oleh Karl Marx, Editor oleh F Engels, William Benton, Penerbit, Encyclopedia Britanica, Inc., London 1952. Diterbitkan dengan sumbang-saran editorial dari dosen-dosen The University of Chicago. Buku tersebut diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling dari edisi ketiga bahasa Jerman, diedit oleh F. Engels, diperbaiki berdasarkan tambahan dari terjemahan edisi keempat bahasa Jerman oleh Marie Sachey dan Herbert Lamm.
Terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan dari bahasa Hongaria dan Rusia, kemudian dicocokan dan disesuaikan dengan edisi bahasa Jerman, "Kumpulan Karya Marx-Engels, Jilid 23, Dietz Verlag Berlin, 1962.
DIPERSEMBAHKAN KEPADA KAWANKU YANG TAK TERLUPAKAN, PEJUANG PROLETARIAT YANG BERANI, SETIA DAN LUHUR, WILHELM WOLF Lahir di Tarnau tanggal 21 Juni 1809, wafat dipembuangan, Manchester, 9 Mei 1864.
Bab I: Barang-dagangan
1. Dua faktor barang-dagangan: nilai pakai dan nilai (substansi nilai dan besaran nilai)
Kekayaan masyarakat di mana cara produksi kapitalis berkuasa, tercermin dari adanya "Suatu akumulasi barang-dagangan yang sangat luas atau besar,"1) sedangkan satuannya dihitung berdasarkan per buah barang-dagangan. Oleh karena itu penelaahan kita harus mulai dengan analisa terhadap barang-dagangan.
Barang-dagangan, bila dilihat dari tempatnya, pertama-tama adalah suatu obyek/benda yang berada di luar kita, sesuatu, yang karena sifat dan caranya, dapat memuaskan kebutuhan manusia. Tidak menjadi soal2) apakah sifat kebutuhan tersebut berasal dari perut atau pun fantasi. Tidak dipersoalkan juga bagaimana caranya kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh obyek tersebut, apakah secara langsung seperti terhadap kebutuhan subsistensi, atau pun secara tidak langsung seperti oleh alat-alat produksi.
Tiap-tiap barang yang berguna, seperti besi, kertas dan sebagainya, seharusnya dipandang dari dua segi, yakni segi kualitas dan kuantitas. Barang-barang tersebut merangkum berbagai sifat, oleh karena itu barang-barang tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara. Menemukan berbagai kegunaan barang-barang tersebut merupakan kerja/karya yang bersejarah.3) Demikian juga bila menemukan standar ukuran (perhitungan kuantitas) sosial kegunaan obyek-obyek tersebut (dalam sifatnya), atau pun karena kebiasaan-kebiasaan (persetujuan sosial).
Kegunaan suatu barang menyebabkan barang tersebut memiliki nilai pakai.4) Namun pengertian kegunaan tersebut tidak bisa diterapkan pada barang seperti udara. Karena barang-dagangan ditentukan oleh sifat fisiknya, ia tidak akan memiliki eksistensi bila tanpa badan fisiknya (berujud). Oleh karena itu, barang-dagangan seperti besi, gandum, intan, dan sebagainya, sejauh sesuatu yang sifatnya material, adalah juga nilai pakai, sesuatu yang memiliki kegunaan. Sifat barang-dagangan tersebut tidak tergantung dari kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas kegunaannya. Bila berbicara tentang nilai pakai, kita selalu mengasumsikannya dengan sejumlah kuantitas tertentu, misalnya lusin untuk jam, yard untuk kain, ton untuk besi dan seterusnya. Nilai pakai-nilai pakai barang-dagangan melengkapi sifat materialnya, yang berguna bagi keperluan studi tertentu yakni guna pengetahuan tentang sifat komersil barang-dagangan.5) Nilai-pakai menjadi kenyataan hanya bila telah digunakan atau dikonsumsi; nilai-pakai merupakan tolok ukur substansi kesejahteraan, apapun bentuk sosialnya. Di dalam bentuk masyarakat yang kita amati, nilai-pakai merupakan perangkum sifat material dari nilai tukar. Nilai tukar, pada pandangan pertama, merupakan cermin dari hubungan kuantitas, sebagai proporsi di mana nilai-pakai suatu jenis barang dipertukarkan dengan nilai-pakai jenis barang lainnya,6) suatu hubungan yang selalu berubah sesuai dengan waktu dan tempatnya. Oleh karena itu, nilai-tukar muncul sebagai sesuatu yang kebetulan dan relatif semata-mata, dan akibatnya nilai yang intrinsik dan bersenyawa dengan barang-dagangan nampaknya berada dalam posisi contradictio in adjectio (contradiction in terms)7). Mari kita lihat dengan lebih mendalam.
Sejumlah barang-dagangan tertentu, misalnya, seperempat kilo gandum dipertukarkan dengan x semir sepatu, y sutra, atau z emas dan sebagainya-singkatnya dipertukarkan dengan barang-dagangan lain dalam proporsi yang sangat berbeda. Dengan demikian gandum tidak hanya memiliki satu nilai tukar, tapi banyak nilai tukar. Tetapi oleh karena x semir sepatu, demikian juga y sutra, atau z emas merupakan nilai tukar dari seperempat kilo gandum, maka x semir sepatu, y sutra, z emas haruslah memiliki nilai tukar yang dapat saling menggantikan satu atau sama lainnya. Oleh karena itu, nilai tukar yang valid (absah) bagi suatu barang-dagangan tertentu haruslah menyatakan kesamaannya; kedua, nilai tukar pada umumnya merupakan suatu cata pernyataan tertentu, bentuk perwujudan tertentu, dari apa yang terkandung di dalamnya, yang dapat saling membedakan.
Selanjutnya ambillah dua contoh barang-dagangan, gandum dan besi. Apa pun proporsi hubungan pertukarannya, ia tetap dapat digambarkan dalam suatu persamaan, di mana sejumlah gandum disamakan dengan sejumlah besi, misalnya seperempat kilo gandum = 100 pon besi. Apa yang bisa dikatakan oleh persamaan tersebut? Apa yang dapat kita pahami dari persamaan tersebut adalah, bahwa dalam dua barang yang berbeda-seperempat kilo gandum dan 100 pon besi-terdapat kesamaan kuantitas yang umum bagi keduanya. Oleh karena itu dua benda harus dapat disamakan dengan benda ketiga, simultan, bukan hanya benda-benda tertentu saja. Masing-masing dari kedua benda tersebut, selama merupakan nilai-tukar, harus dapat direduksi menjadi sama dengan benda yang ketiga.
Suatu contoh geometris yang sederhana akan memperjelas persoalan tersebut. Untuk menghitung dan membandingkan luas semua bentuk garis lurus, kita harus memilah-milahnya dalam segitiga-segitiga. Akan tetapi luas segitiga tersebut harus dinyatakan menjadi sama sekali berbeda dari bentuknya yang kelihatan, yakni, setengah dari hasil perkalian alas dengan tingginya. Demikian juga nilai tukar barang-dagangan harus dapat dinyatakan dan direduksi ke sesuatu yang umum (semuanya harus dapat mewakili masing-masingnya), mereka harus dapat menggambarkan nilai yang lebih kecil atau lebih besar.
Namun sifat umum tersebut bukanlah merupakan sifat geometris, kimia, atau sifat-sifat badaniah tersebut akan menjadi perhatian kita selama dapat memberikan kegunaan (nilai-pakai) terhadap barang-dagangan. Namun pada kenyataannya pertukaran, di segi lainnya, merupakan suatu tindakan yang memiliki karakterisasi sebagai abstraksi nilai pakai barang-dagangan. Satu nilai-pakai akan memiliki kesamaan dengan nilai-pakai lainnya selama mereka berada dalam perbandingan yang selayaknya. Atau, seperti yang dikatakan oleh si tua Barbon, "Suatu macam barang yang satu sama baik seperti yang lainnya, jika nilai-tukarnya sama. Karena tidak ada yang dapat membedakan barang-barang yang nilai-tukarnya sama."8) Sebagai nilai-pakai, barang-dagangan haruslah memiliki makna kualitas yang berbeda, oleh karena itu tidak mengandung satu atom pun nilai-pakai.
Jika kita mengabaikan nilai-pakai barang-dagangan dalam pertimbangan kita, maka hanya tinggal satu sifat yang ada padanya, yaitu hasil tenaga kerja. Namun bahkan hasil kerja tersebut telah mengalami perubahan di tangan kita. Bila kita mengabstraksi nilai-pakai barang-dagangan, pada saat yang sama juga kita mengabstraksi komponen dan bentuk badaniah yang membuatnya memiliki nilai-pakai; kita tidak lagi menyebutnya meja, rumah, benang, atau barang lainnya yang memiliki kegunaan. Semua keberadaan materialnya menghilang. Juga tidak dapat lagi dikatakan sebagai hasil kerja tukang kayu, tukang bangunan, pemintal, atau hasil kerja produktif lainnya. Bila kita melenyapkan kualitas kegunaan hasil produksi maka sekaligus kita melenyapkan pula karakter kegunaan berbagai jenis kerja yang tersimpan di dalamnya, dan juga melenyapkan bentuk konkrit bermacam-macam kerja tersebut; hasil produksi tersebut tidak lagi saling membedakan; semuanya direduksi menjadi hasil kerja yang sama, kerja manusia yang abstrak.
Marilah kita lihat apa yang tersisa dari hasil-hasil produksi tersebut; tak ada yang tersisa selain daripada realitas abstrak yang sama, suatu pembekuan belaka dari kerja manusia yang tak memiliki perbedaan, yakni tenaga kerja manusia yang dikeluarkan--dengan mengesampingkan cara bagaimana tenaga kerja itu dikeluarkan. Dalam barang-barang tersebut tersimpan tenaga kerja, yakni terdapat timbunan tenaga kerja manusia di dalamnya. Bila dilihat sebagai kristalisasi substansi sosial, maka kesamaan yang ada pada mereka adalah: nilai.
Di dalam hubungan pertukaran barang-dagangan, nilai-tukar mereka sama sekali tidak tergantung kepada nilai-pakai mereka, itu yang telah kita lihat. Jika kita sekarang mengabstraksikan dari nilai-pakai mereka, maka kita akan mendapatkan nilai mereka seperti yang telah didefinisikan di atas. Oleh karena itu, substansi umum yang terwujud dalam nilai-tukar barang-dagangan, di mana pun mereka dipertukarkan, adalah nilai mereka. Proses penyelidikan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa nilai-tukar adalah satu-satunya bentuk di mana nilai barang-dagangan dapat mewujudkan atau mengekspresikan diri. Sekarang, bagaimana pun juga, kita harus mempertimbangkan hakikat nilai yang tidak tergantung dari bendanya.
Suatu nilai-pakai, atau kegunaan benda, oleh karenanya, hanya mempunyai nilai karenanya, hanya mempunyai nilai karena kerja manusia abstrak telah dibekukan atau dimaterialkan ke dalam benda tersebut. Sekarang bagaimana kita mengukur besaran nilainya? Jawabannya, dengan jumlah "substansi pembentuk nilai" yang terkandung di dalamnya, yakni kerja. Jumlah kerja diukur dengan waktu berlangsungnya (lama kerja), dan waktu kerja tersebut memiliki standarnya, misalnya minggu, hari, jam dan seterusnya.
Orang-orang mungkin berfikir bahwa jika nilai suatu barang-dagangan itu ditentukan oleh jumlah waktu kerja yang dikeluarkan untuk memproduksinya, maka semakin malas atau tidak cakapnya seseorang, semakin bernilailah barang-dagangan tersebut, karena makin lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Kerja, bagaimanapun juga, yang membentuk substansi nilai, adalah kerja manusia yang sama, pengeluaran tenaga kerja yang seragam. Jumlah tenaga kerja keseluruhan masyarakat, yang membentuk jumlah nilai total barang-dagangan yang diproduksi oleh masyarakat, dihitung sebagai tenaga kerja massal manusia yang sama, meskipun terdiri dari tenaga kerja perseorangan yang tak terhitung. Setiap tenaga kerja perseorangan tersebut sama dengan tenaga kerja perseorangan lainnya, selama memiliki karakter sebagai tenaga kerja rata-rata masyarakat, dan berfungsi seperti itu (memiliki dampak/akibat terhadap tenaga kerja rata-rata masyarakat); yaitu, tak ada perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang-dagangan selain daripada kebutuhan waktu rata-rata, apa yang disebut waktu yang dubutuhkan secara sosial. Waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu benda dengan syarat-syarat produksi yang normal, serta dengan derajat kecakapan dan intensitas kerja yang lazim. Misalnya di Inggris, setelah digunakan mesin tenun uap untuk merubah sejumlah benang menjadi kain, maka kebutuhan waktu kerja hanyalah tinggal separuh dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sama dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sema dari yang sebelumnya; tetapi hasil per jam kerjanya kini hanya separuh dari per jam kerja sosial, oleh karenanya berkurang separuh dari nilai yang dahulu.
Jadi, hanya jumlah jam kerja yang dibutuhkan secara sosiallah (the labour time socially necessary) yang menentukan besaran nilai suatu benda, atau jam kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk memproduksi sesuatu.9) Dalam hal ini, setiap satuan barang-dagangan dinilai sebagai sampel rata-rata yang mewakili jenisnya (klasnya).10) Oleh karenanya, barang-dagangan, di mana di dalamnya mengandung jumlah kerja yang sama, atau yang dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, memiliki nilai yang sama. Nilai satu barang-dagangan lainnya dapat dikatakan sebagai hubungan di mana satu sama lainnya memiliki jam kerja yang dubutuhkan untuk memproduksinya. "Sebagai nilai-nilai, semua barang-dagangan hanyalah merupakan ukuran jam kerja yang telah dibekukan atau dimaterialkan."11)
Jadi nilai suatu barang-dagangan akan tetap bila jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya juga tetap. Akan tetapi jam kerja berubah sesuai dengan produktifitas kerja. Produktifitas tersebut ditentukan oleh berbagai situasi, di antaranya, oleh derajat kecakapan rata-rata para pekerja, perkembangan ilmu-pengetahuan dan tingkat aplikasi praktisnya, organisasi sosial produksi, luas dan kemampuan alat-alat produksi, dan kondisi alam. Sebagai contoh, dengan jam kerja yang sama, pada musim yang baik dapat dihasilkan 8 gantang gandum, namun pada yang tidak baik hanya dapat dihasilkan 4 gantang. Karena logam yang dikandungnya berbeda di dua daerah, maka jam kerja yang sama akan menghasilkan jumlah logam yang berbeda. Intan adalah benda yang jarang dipermukaan bumi ini, oleh karena itu akan lebih banyak mengeluarkan waktu kerja untuk mendapatkannya. Oleh karenanya di dalam volume yang kecil mereka menyatakan waktu kerja yang banyak. Jacob meragukan bahwa emas pada suatu saat akan dibayar dengan nilainya yang penuh. Apalagi intan, menurut Eschwege, selama 80 tahun penggaliannya (berakhir tahun 1823) intan Brazilia belum bisa mencapai harga 11/2 tahun produk rata-rata perkebunan gula atau kopi Brazilia, meskipun lebih banyak mencurahkan kerja, atau mencurahkan lebih banyak nilai. Dalam tambang yang kaya, jumlah kerja yang sama akan menghasilkan lebih banyak intan, dan nilainya akan merosot. Bila kita berhasil mengubah batu bara menjadi intan, maka nilainya akan di bawah nilai batu bara. Secara umum, makin besar produktivitas kerja maka makin sedikit waktu kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu barang, makin sedikit jumlah kerja yang membeku (dikristalkan) dalam satu barang maka makin kecil pula nilainya; sebaliknya, makin kecil produktivitas kerja maka makin besar waktu kerja yang dubutuhkan untuk menghasilkan satu barang, dan nilainya akan makin besar. Besaran nilai suatu barang demikian berubah berbanding langsung dengan jumlah kerja dan berbanding terbalik dengan produktivitas kerja yang tergabung di dalamnya.
Suatu benda bisa memiliki nilai-pakai, tanpa memiliki nilai. Hal ini bisa terjadi jika kegunaannya bagi manusia bukan dikarenakan kerja (tidak dihubungkan dengan kerja). Misalnya udara, tanah perawan, padang rumput alami, dan sebagainya. Satu benda bisa saja memiliki kegunaan, dan merupakan hasil kerja manusia, namun tidak bisa disebut barang-dagangan. Siapa saja yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan hasil kerjanya sendiri memang menciptakan nilai-pakai, namun bukan menghasilkan barang-dagangan. Untuk menghasilkan barang-dagangan, seseorang tidak saja harus menghasilkan nilai-pakai, tapi nilai-pakai untuk orang lain, nilai-pakai sosial. (Dan sama sekali bukan hanya "untuk orang lain.: Petani abad pertengahan juga menghasilkan pajak padi-padian persepuluh untuk pendeta (Zentkorn). Tetapi kedua jenis pajak tersebut tidak bisa disebut barang-dagangan persyaratannya adalah, pertama, harus dihasilkan untuk orang lain, kedua, memiliki nilai-pakai, dan ketiga, dialihkan melalui pertukaran.12) Yang terakhir, tak satu pun bisa memiliki nilai, tanpa menjadi obyek kegunaan (tanpa merupakan yang dapat dipakai). Bila sesuatu benda kehilangan gunanya, maka demikian pula kerja yang terkandung di dalamnya; kerja tersebut tidak bisa dihitung sebagai kerja yang menghasilkan nilai.
Bagian II: Watak Rangkap Kerja yang Terkandung dalam Barang-dagangan
Terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan dari bahasa Hongaria dan Rusia, kemudian dicocokan dan disesuaikan dengan edisi bahasa Jerman, "Kumpulan Karya Marx-Engels, Jilid 23, Dietz Verlag Berlin, 1962.
DIPERSEMBAHKAN KEPADA KAWANKU YANG TAK TERLUPAKAN, PEJUANG PROLETARIAT YANG BERANI, SETIA DAN LUHUR, WILHELM WOLF Lahir di Tarnau tanggal 21 Juni 1809, wafat dipembuangan, Manchester, 9 Mei 1864.
Bab I: Barang-dagangan
1. Dua faktor barang-dagangan: nilai pakai dan nilai (substansi nilai dan besaran nilai)
Kekayaan masyarakat di mana cara produksi kapitalis berkuasa, tercermin dari adanya "Suatu akumulasi barang-dagangan yang sangat luas atau besar,"1) sedangkan satuannya dihitung berdasarkan per buah barang-dagangan. Oleh karena itu penelaahan kita harus mulai dengan analisa terhadap barang-dagangan.
Barang-dagangan, bila dilihat dari tempatnya, pertama-tama adalah suatu obyek/benda yang berada di luar kita, sesuatu, yang karena sifat dan caranya, dapat memuaskan kebutuhan manusia. Tidak menjadi soal2) apakah sifat kebutuhan tersebut berasal dari perut atau pun fantasi. Tidak dipersoalkan juga bagaimana caranya kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh obyek tersebut, apakah secara langsung seperti terhadap kebutuhan subsistensi, atau pun secara tidak langsung seperti oleh alat-alat produksi.
Tiap-tiap barang yang berguna, seperti besi, kertas dan sebagainya, seharusnya dipandang dari dua segi, yakni segi kualitas dan kuantitas. Barang-barang tersebut merangkum berbagai sifat, oleh karena itu barang-barang tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara. Menemukan berbagai kegunaan barang-barang tersebut merupakan kerja/karya yang bersejarah.3) Demikian juga bila menemukan standar ukuran (perhitungan kuantitas) sosial kegunaan obyek-obyek tersebut (dalam sifatnya), atau pun karena kebiasaan-kebiasaan (persetujuan sosial).
Kegunaan suatu barang menyebabkan barang tersebut memiliki nilai pakai.4) Namun pengertian kegunaan tersebut tidak bisa diterapkan pada barang seperti udara. Karena barang-dagangan ditentukan oleh sifat fisiknya, ia tidak akan memiliki eksistensi bila tanpa badan fisiknya (berujud). Oleh karena itu, barang-dagangan seperti besi, gandum, intan, dan sebagainya, sejauh sesuatu yang sifatnya material, adalah juga nilai pakai, sesuatu yang memiliki kegunaan. Sifat barang-dagangan tersebut tidak tergantung dari kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas kegunaannya. Bila berbicara tentang nilai pakai, kita selalu mengasumsikannya dengan sejumlah kuantitas tertentu, misalnya lusin untuk jam, yard untuk kain, ton untuk besi dan seterusnya. Nilai pakai-nilai pakai barang-dagangan melengkapi sifat materialnya, yang berguna bagi keperluan studi tertentu yakni guna pengetahuan tentang sifat komersil barang-dagangan.5) Nilai-pakai menjadi kenyataan hanya bila telah digunakan atau dikonsumsi; nilai-pakai merupakan tolok ukur substansi kesejahteraan, apapun bentuk sosialnya. Di dalam bentuk masyarakat yang kita amati, nilai-pakai merupakan perangkum sifat material dari nilai tukar. Nilai tukar, pada pandangan pertama, merupakan cermin dari hubungan kuantitas, sebagai proporsi di mana nilai-pakai suatu jenis barang dipertukarkan dengan nilai-pakai jenis barang lainnya,6) suatu hubungan yang selalu berubah sesuai dengan waktu dan tempatnya. Oleh karena itu, nilai-tukar muncul sebagai sesuatu yang kebetulan dan relatif semata-mata, dan akibatnya nilai yang intrinsik dan bersenyawa dengan barang-dagangan nampaknya berada dalam posisi contradictio in adjectio (contradiction in terms)7). Mari kita lihat dengan lebih mendalam.
Sejumlah barang-dagangan tertentu, misalnya, seperempat kilo gandum dipertukarkan dengan x semir sepatu, y sutra, atau z emas dan sebagainya-singkatnya dipertukarkan dengan barang-dagangan lain dalam proporsi yang sangat berbeda. Dengan demikian gandum tidak hanya memiliki satu nilai tukar, tapi banyak nilai tukar. Tetapi oleh karena x semir sepatu, demikian juga y sutra, atau z emas merupakan nilai tukar dari seperempat kilo gandum, maka x semir sepatu, y sutra, z emas haruslah memiliki nilai tukar yang dapat saling menggantikan satu atau sama lainnya. Oleh karena itu, nilai tukar yang valid (absah) bagi suatu barang-dagangan tertentu haruslah menyatakan kesamaannya; kedua, nilai tukar pada umumnya merupakan suatu cata pernyataan tertentu, bentuk perwujudan tertentu, dari apa yang terkandung di dalamnya, yang dapat saling membedakan.
Selanjutnya ambillah dua contoh barang-dagangan, gandum dan besi. Apa pun proporsi hubungan pertukarannya, ia tetap dapat digambarkan dalam suatu persamaan, di mana sejumlah gandum disamakan dengan sejumlah besi, misalnya seperempat kilo gandum = 100 pon besi. Apa yang bisa dikatakan oleh persamaan tersebut? Apa yang dapat kita pahami dari persamaan tersebut adalah, bahwa dalam dua barang yang berbeda-seperempat kilo gandum dan 100 pon besi-terdapat kesamaan kuantitas yang umum bagi keduanya. Oleh karena itu dua benda harus dapat disamakan dengan benda ketiga, simultan, bukan hanya benda-benda tertentu saja. Masing-masing dari kedua benda tersebut, selama merupakan nilai-tukar, harus dapat direduksi menjadi sama dengan benda yang ketiga.
Suatu contoh geometris yang sederhana akan memperjelas persoalan tersebut. Untuk menghitung dan membandingkan luas semua bentuk garis lurus, kita harus memilah-milahnya dalam segitiga-segitiga. Akan tetapi luas segitiga tersebut harus dinyatakan menjadi sama sekali berbeda dari bentuknya yang kelihatan, yakni, setengah dari hasil perkalian alas dengan tingginya. Demikian juga nilai tukar barang-dagangan harus dapat dinyatakan dan direduksi ke sesuatu yang umum (semuanya harus dapat mewakili masing-masingnya), mereka harus dapat menggambarkan nilai yang lebih kecil atau lebih besar.
Namun sifat umum tersebut bukanlah merupakan sifat geometris, kimia, atau sifat-sifat badaniah tersebut akan menjadi perhatian kita selama dapat memberikan kegunaan (nilai-pakai) terhadap barang-dagangan. Namun pada kenyataannya pertukaran, di segi lainnya, merupakan suatu tindakan yang memiliki karakterisasi sebagai abstraksi nilai pakai barang-dagangan. Satu nilai-pakai akan memiliki kesamaan dengan nilai-pakai lainnya selama mereka berada dalam perbandingan yang selayaknya. Atau, seperti yang dikatakan oleh si tua Barbon, "Suatu macam barang yang satu sama baik seperti yang lainnya, jika nilai-tukarnya sama. Karena tidak ada yang dapat membedakan barang-barang yang nilai-tukarnya sama."8) Sebagai nilai-pakai, barang-dagangan haruslah memiliki makna kualitas yang berbeda, oleh karena itu tidak mengandung satu atom pun nilai-pakai.
Jika kita mengabaikan nilai-pakai barang-dagangan dalam pertimbangan kita, maka hanya tinggal satu sifat yang ada padanya, yaitu hasil tenaga kerja. Namun bahkan hasil kerja tersebut telah mengalami perubahan di tangan kita. Bila kita mengabstraksi nilai-pakai barang-dagangan, pada saat yang sama juga kita mengabstraksi komponen dan bentuk badaniah yang membuatnya memiliki nilai-pakai; kita tidak lagi menyebutnya meja, rumah, benang, atau barang lainnya yang memiliki kegunaan. Semua keberadaan materialnya menghilang. Juga tidak dapat lagi dikatakan sebagai hasil kerja tukang kayu, tukang bangunan, pemintal, atau hasil kerja produktif lainnya. Bila kita melenyapkan kualitas kegunaan hasil produksi maka sekaligus kita melenyapkan pula karakter kegunaan berbagai jenis kerja yang tersimpan di dalamnya, dan juga melenyapkan bentuk konkrit bermacam-macam kerja tersebut; hasil produksi tersebut tidak lagi saling membedakan; semuanya direduksi menjadi hasil kerja yang sama, kerja manusia yang abstrak.
Marilah kita lihat apa yang tersisa dari hasil-hasil produksi tersebut; tak ada yang tersisa selain daripada realitas abstrak yang sama, suatu pembekuan belaka dari kerja manusia yang tak memiliki perbedaan, yakni tenaga kerja manusia yang dikeluarkan--dengan mengesampingkan cara bagaimana tenaga kerja itu dikeluarkan. Dalam barang-barang tersebut tersimpan tenaga kerja, yakni terdapat timbunan tenaga kerja manusia di dalamnya. Bila dilihat sebagai kristalisasi substansi sosial, maka kesamaan yang ada pada mereka adalah: nilai.
Di dalam hubungan pertukaran barang-dagangan, nilai-tukar mereka sama sekali tidak tergantung kepada nilai-pakai mereka, itu yang telah kita lihat. Jika kita sekarang mengabstraksikan dari nilai-pakai mereka, maka kita akan mendapatkan nilai mereka seperti yang telah didefinisikan di atas. Oleh karena itu, substansi umum yang terwujud dalam nilai-tukar barang-dagangan, di mana pun mereka dipertukarkan, adalah nilai mereka. Proses penyelidikan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa nilai-tukar adalah satu-satunya bentuk di mana nilai barang-dagangan dapat mewujudkan atau mengekspresikan diri. Sekarang, bagaimana pun juga, kita harus mempertimbangkan hakikat nilai yang tidak tergantung dari bendanya.
Suatu nilai-pakai, atau kegunaan benda, oleh karenanya, hanya mempunyai nilai karenanya, hanya mempunyai nilai karena kerja manusia abstrak telah dibekukan atau dimaterialkan ke dalam benda tersebut. Sekarang bagaimana kita mengukur besaran nilainya? Jawabannya, dengan jumlah "substansi pembentuk nilai" yang terkandung di dalamnya, yakni kerja. Jumlah kerja diukur dengan waktu berlangsungnya (lama kerja), dan waktu kerja tersebut memiliki standarnya, misalnya minggu, hari, jam dan seterusnya.
Orang-orang mungkin berfikir bahwa jika nilai suatu barang-dagangan itu ditentukan oleh jumlah waktu kerja yang dikeluarkan untuk memproduksinya, maka semakin malas atau tidak cakapnya seseorang, semakin bernilailah barang-dagangan tersebut, karena makin lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Kerja, bagaimanapun juga, yang membentuk substansi nilai, adalah kerja manusia yang sama, pengeluaran tenaga kerja yang seragam. Jumlah tenaga kerja keseluruhan masyarakat, yang membentuk jumlah nilai total barang-dagangan yang diproduksi oleh masyarakat, dihitung sebagai tenaga kerja massal manusia yang sama, meskipun terdiri dari tenaga kerja perseorangan yang tak terhitung. Setiap tenaga kerja perseorangan tersebut sama dengan tenaga kerja perseorangan lainnya, selama memiliki karakter sebagai tenaga kerja rata-rata masyarakat, dan berfungsi seperti itu (memiliki dampak/akibat terhadap tenaga kerja rata-rata masyarakat); yaitu, tak ada perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang-dagangan selain daripada kebutuhan waktu rata-rata, apa yang disebut waktu yang dubutuhkan secara sosial. Waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu benda dengan syarat-syarat produksi yang normal, serta dengan derajat kecakapan dan intensitas kerja yang lazim. Misalnya di Inggris, setelah digunakan mesin tenun uap untuk merubah sejumlah benang menjadi kain, maka kebutuhan waktu kerja hanyalah tinggal separuh dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sama dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sema dari yang sebelumnya; tetapi hasil per jam kerjanya kini hanya separuh dari per jam kerja sosial, oleh karenanya berkurang separuh dari nilai yang dahulu.
Jadi, hanya jumlah jam kerja yang dibutuhkan secara sosiallah (the labour time socially necessary) yang menentukan besaran nilai suatu benda, atau jam kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk memproduksi sesuatu.9) Dalam hal ini, setiap satuan barang-dagangan dinilai sebagai sampel rata-rata yang mewakili jenisnya (klasnya).10) Oleh karenanya, barang-dagangan, di mana di dalamnya mengandung jumlah kerja yang sama, atau yang dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, memiliki nilai yang sama. Nilai satu barang-dagangan lainnya dapat dikatakan sebagai hubungan di mana satu sama lainnya memiliki jam kerja yang dubutuhkan untuk memproduksinya. "Sebagai nilai-nilai, semua barang-dagangan hanyalah merupakan ukuran jam kerja yang telah dibekukan atau dimaterialkan."11)
Jadi nilai suatu barang-dagangan akan tetap bila jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya juga tetap. Akan tetapi jam kerja berubah sesuai dengan produktifitas kerja. Produktifitas tersebut ditentukan oleh berbagai situasi, di antaranya, oleh derajat kecakapan rata-rata para pekerja, perkembangan ilmu-pengetahuan dan tingkat aplikasi praktisnya, organisasi sosial produksi, luas dan kemampuan alat-alat produksi, dan kondisi alam. Sebagai contoh, dengan jam kerja yang sama, pada musim yang baik dapat dihasilkan 8 gantang gandum, namun pada yang tidak baik hanya dapat dihasilkan 4 gantang. Karena logam yang dikandungnya berbeda di dua daerah, maka jam kerja yang sama akan menghasilkan jumlah logam yang berbeda. Intan adalah benda yang jarang dipermukaan bumi ini, oleh karena itu akan lebih banyak mengeluarkan waktu kerja untuk mendapatkannya. Oleh karenanya di dalam volume yang kecil mereka menyatakan waktu kerja yang banyak. Jacob meragukan bahwa emas pada suatu saat akan dibayar dengan nilainya yang penuh. Apalagi intan, menurut Eschwege, selama 80 tahun penggaliannya (berakhir tahun 1823) intan Brazilia belum bisa mencapai harga 11/2 tahun produk rata-rata perkebunan gula atau kopi Brazilia, meskipun lebih banyak mencurahkan kerja, atau mencurahkan lebih banyak nilai. Dalam tambang yang kaya, jumlah kerja yang sama akan menghasilkan lebih banyak intan, dan nilainya akan merosot. Bila kita berhasil mengubah batu bara menjadi intan, maka nilainya akan di bawah nilai batu bara. Secara umum, makin besar produktivitas kerja maka makin sedikit waktu kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu barang, makin sedikit jumlah kerja yang membeku (dikristalkan) dalam satu barang maka makin kecil pula nilainya; sebaliknya, makin kecil produktivitas kerja maka makin besar waktu kerja yang dubutuhkan untuk menghasilkan satu barang, dan nilainya akan makin besar. Besaran nilai suatu barang demikian berubah berbanding langsung dengan jumlah kerja dan berbanding terbalik dengan produktivitas kerja yang tergabung di dalamnya.
Suatu benda bisa memiliki nilai-pakai, tanpa memiliki nilai. Hal ini bisa terjadi jika kegunaannya bagi manusia bukan dikarenakan kerja (tidak dihubungkan dengan kerja). Misalnya udara, tanah perawan, padang rumput alami, dan sebagainya. Satu benda bisa saja memiliki kegunaan, dan merupakan hasil kerja manusia, namun tidak bisa disebut barang-dagangan. Siapa saja yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan hasil kerjanya sendiri memang menciptakan nilai-pakai, namun bukan menghasilkan barang-dagangan. Untuk menghasilkan barang-dagangan, seseorang tidak saja harus menghasilkan nilai-pakai, tapi nilai-pakai untuk orang lain, nilai-pakai sosial. (Dan sama sekali bukan hanya "untuk orang lain.: Petani abad pertengahan juga menghasilkan pajak padi-padian persepuluh untuk pendeta (Zentkorn). Tetapi kedua jenis pajak tersebut tidak bisa disebut barang-dagangan persyaratannya adalah, pertama, harus dihasilkan untuk orang lain, kedua, memiliki nilai-pakai, dan ketiga, dialihkan melalui pertukaran.12) Yang terakhir, tak satu pun bisa memiliki nilai, tanpa menjadi obyek kegunaan (tanpa merupakan yang dapat dipakai). Bila sesuatu benda kehilangan gunanya, maka demikian pula kerja yang terkandung di dalamnya; kerja tersebut tidak bisa dihitung sebagai kerja yang menghasilkan nilai.
Bagian II: Watak Rangkap Kerja yang Terkandung dalam Barang-dagangan
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tsb diatas, diambil dari http://www.geocities.com/edicahy/marx-engels/marx/. Jadi bukan dari Edisi bahasa Indonesia, terbitan HASTA MITRA, yang akan diluncurkan pada tanggal 2 Februari yad ini.
Edisi tsb belum ada ditangan. Jadi diambilkan terjemahan dalam bahasa Indonesia dari sumber lain.
Bagian II, dari KAPITAL, dan selanjutnya. Tidak akan disiarkan lagi dirubrik ini. Pembaca dipersilahkan untuk membeli buku "DAS KAPITAL", Edisi Bahasa Indonesia langsung dari Penerbit Hasta Mitra, Jakarta.
(selesai)
(selesai)
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [email protected] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

