Maksud Gout,...

 

Jam satu siang, seperti biasa saya jenguk kotak pos, dan sebuah amplop besar tergeletak. Dengan perasaan pengen tahu yang besar, saya buka amplop  tersebut. Dan eh ini bukan untuk saya. Maksud saya, didalam amplop tersebut berisi: sebuah persoalan. Persoalan?

 

Nampaknya ya. Lho... di dalam surat yang dua lembar rupanya berisi: tentang pencabutan kembali rencana kerja �malam jumpa Promovendi�. Siapa pula si promovendi ini. Jangan-jangan dia ini seorang oposant kelas wahid yang bisa nongol di Belanda. Wah juga nih.

 

Tapi, lho, lho, lhoo...ketika saya baca sebundel kecil kertas yang ikut nyelip dalam amplop yang sama itu, saya jadi terperangah. Ternyata si Pro...apa itu tadi, ah susah juga mengejarnya. Ternyata nama itu adalah sebutan buat orang yang sedang berjoang untuk merebut titel enDoktorr...ooo itu toh. Wah ini dia. Rame nih.

 

Maka saya pelototin lah 7 lembar kertas. Sedemikian bersemangatnya saya membaca...hingga saya lupa akan ingus saya yang tak tau diri ini, mengakibatkan mertua saya berulang kali memperingati benda cair yang melorot, hampir mendarat kemulut saya. Bah.

 

Setelah sekian menit membaca, saya menarik napas panjang. Oh., begitu sulitkah kita mencari kegiatan. Begitu sukarkah kita bergerak? Memang membingungkan. Tapi kebingungan ini seperti mencurigakan. Hingga telah melahirkan pertanyaan yang tak mudah di jawab: sejauh mana peranan kita terhadap orang-orang yang hendak meraih gelar enDoktor?

 

Bukankah seseorang yang telah lulus dari universitas, yang bisa menyibukkan diri untuk meraih gelar pangkat enDoktor  itu? Kalau benar apa yang saya kira itu, minta ampun deh. Keliatannya ini mau mengurusi orang-orang pintar. Dan lalu ada berapa juta sih orang-orang pintar yang malang ini? Yang katanya: mengidap gejala-gejala stress seperti rasa tegang, darah tinggi, sakit maag dan usus sus, tidur susah tidur, dada sakit, depresip, perasaan dikejar-kejar(entah dikejar apa pula ini)....amboii...susah nian hidup ini ya pak?

 

Iya susah nih. Tapi jika dibandingkan kesusahan yang diderita sebagian besar rakyat Indonesia yang masih tenggelam dalam gaya hidup dibawah pas-pas an. Keluhan orang-orang pintar itu, memang tak berarti. Lihat saja, setelah Devaluasi baru-baru ini, apa tingkat hidup rakyat lebih baik? Pertanyaan ini mungkin lebih cocok buat mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Lagian bikin seminar tentang: Proses kemiskinan rakyat Indonesia akibat monopoly kerabat Istana .....adalah suatu tanggapan yang tepat atas gejala-gejala yang sedang beken di tanah air kita.

 

Contoh ya, 58 tahun yang lalu, seorang pemuda yang ikut pergerakan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya di jaman kolonial Belanda dulu, menulis sebuah seruan:...entah di negeri merdeka, entah di negeri yang sedang merebut kemerdekaannya, si student itu senantiasa mengambil bagian besar dalam pergerakan, yang dimaksudkan untuk...meninggikan derajat bangsa... (M.Tabrani).

 

Coba simak. Dikala itu semua orang tahu, bahwa dibawah ancaman tangan besi aparat kolonial, salah ngebacot bisa dapat tiket ke Boven Digul. Dan para pemuda pelajar di jaman itu masih ada yang sadar akan harga dirinya. Bukan hanya mengejar kekuasaan dan sukses.

 

Ah, saya ini apalah. Bukan seperti kalian yang telah melahap segerobak buku-buku, membaca teori ini itu. Pendek kata: yang jelas saja, dimanakah kita tempatkan pengetahuan dan kejujuran? Sementara, diluar jendela kamar kita, lebih dari 150 juta rakyat Indonesia, termangu-mangu, dikibuli dengan slogan ini, penataran itu. Dan mestikah kita menambahkan tipuan itu?

 

Heri Latief �Pandeka Ompong�

 

Sumber: 

MEKAR � PPI Amsterdam

No: 11. April �87 ; Halaman10 

Alamat dapur: Elandstraat 84 1016 SG Amsterdam

Harga Eceran: FL. 1,50

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [email protected] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke